Dina-Deni 'Love Story'

Dina-Deni 'Love Story'
Part 4.


__ADS_3

Lambaian tangan di depan wajahku membuatku tersentak kaget. Aku menatap pemilik tangan tersebut, dia hanya tersenyum melihat tingkah bingungku. Bahkan senyumannya sangat manis sekali.


"Kamu mikirin apa sih? Kita sudah sampai saja kamu nggak sadar" ucapnya sambil terkekeh pelan.


Tunggu dulu, tadi dia bilang 'kamu' kan? Aku tidak salah dengar kan? Ah sial, kenapa aku harus sesenang ini coba? Aku tidak menyadari bahwa sebelumnya Deni juga menggunakan kata itu saking kagetnya karena ketahuan lagi memperhatikan dia secara terang-terangan.


"Eh apa?" tanyaku sambil menggigit bibir bawah. Jujur aku tidak terlalu mendengar apa yang dia ucapkan tadi. Eeh bukannya tidak dengar, tapi fokusku hilang ketika mendengar kata 'kamu' yang keluar dari mulutnya. Dasar aku.


"Kamu lagi mikirin apa?" tanyanya lagi.


"Ka... kamu" aku mengulang kata 'kamu' tersebut, tapi amat bahkan sangat pelan.


"Apakah ada yang salah dengan kata 'kamu'?" tanyanya lagi sambil mengangkat sebelah alisnya. Sumpah, entah kenapa aku merasa kadar ketampanannya bertambah jika dilihat sedekat ini. Bahkan bertambah berkali-kali lipat. Sadar Dina, jangan mikir yang aneh-aneh. Aku menggeleng-gelengkan kepala pelan.


Seketika aku tersentak kaget. Kok dia bisa dengar sih? Otak cantikku mulai bekerja mencari jawaban yang pas untuk pertanyaan yang dia lontarkan. Tapi aku tidak menemukan jawaban yang cocok di otakku untuk saat ini.


"Nggak kok" ucapku pelan, lalu melangkahkan kaki untuk ke luar dari mobil. Deni menyusulku di belakang setelah mengunci mobil terlebih dahulu.


Ternyata dia membawaku ke pantai. Pantai yang biasa aku datangi bersama Kakek. Dan pantai ini jugalah tempat aku mencurahkan isi hatiku ketika aku merindukan orang tuaku.


"Kok kita ke sini?" tanyaku pelan lebih tepatnya bergumam sambil menghentikan langkahku.


"Kata Kakek ini adalah tempat kesukaan kamu. Karena aku bingung mau ngajak kamu ke mana, akhirnya aku memutuskan ke sini saja. Kamu nggak suka? Atau kita cari tempat lain?" penjelasan disertai pertanyaan keluar dari bibir tipis itu. Ada raut khawatir di wajah laki-laki tampan ini.


"Aku suka. Kita di sini saja" aku mendudukkan pantat di atas pasir putih tersebut, dia melakukan hal yang sama.


"Deni. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepada kamu" aku mencoba membahas perihal perjodohan itu dengan Deni. Karena kita berdualah yang akan melakukannya. Jadi, jika ada salah satu pihak yang tidak setuju, maka perjodohan itu tidak bisa dilakukan. Bagaimana pun juga, aku harus mendengarkan keputusan Deni terlebih dahulu.


"Aku sudah tahu. Pasti mengenai perjodohan kita kan?" Ucapnya santai sambil menatap ke arah laut. Ternyata dia sudah mengetahui, jadi aku tidak perlu menjelaskannya lagi bukan?


"Hmm, kamu boleh menolaknya kok jika kamu keberatan. Karena aku tidak mau ada unsur keterpaksaan di sini. Aku juga bisa bilang sama Kakek, meskipun harus mencari alasan terlebih dahulu" aku menarik nafas dalam-dalam setelah mengeluarkan kata-kata itu. Karena aku juga takut kalau Deni benar-benar menolaknya.

__ADS_1


"Kenapa aku harus menolak? Aku tidak merasa dipaksa kok, dan juga kamu tidak perlu mencari alasan segala untuk bilang sama Kakek, karena aku menerimanya" seketika aku menatap Deni lekat-lekat, berusaha mencari kebohongan di sana. Tapi nihil. Deni jujur.


"Mak ... Maksud kamu, kamu menerima perjodohan ini?" tanyaku memastikan. Dia hanya menganggukkan kepala. "Kenapa?" tanyaku lagi.


"Karena aku mencintai kamu" jawabannya barusan membungkam mulutku. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa.


"Secepat itu?" tanyaku akhirnya setelah terdiam cukup lama.


Deni menggenggam kedua tanganku. Menatap ke arah manik mataku. Aku melakukan hal yang sama. Menatapnya.


"Bagimu ini memang terlalu cepat Na, tapi tidak untukku. Aku sudah mulai jatuh cinta padamu dari dulu. Jauh sebelum kita bertemu saat ini. Mungkin kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan, aku yakin suatu saat kamu pasti akan mengetahui dengan sendirinya. Jadi percayalah, bahwa perasaan cintaku ini tulus. Aku mencintaimu bukan karena kita dijodohkan atau apa, tapi itu tulus dari hatiku" aku hanya terdiam mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Deni. Aku juga terharu pastinya. Tapi kok bisa? Kok bisa sih? Kok kok kok.


"Aku bingung" entah kenapa kata-kata tersebut meluncur bebas dari mulutku. Mungkin akulah satu-satunya wanita di dunia ini yang mengatakan kata bodoh itu. Biasanya wanita akan merasa terharu dengan pengakuan cinta tersebut, bahkan ada yang menangis. Tapi itu tidak berlaku bagiku, nyatanya aku bingung. Bingung dengan diriku sendiri tentunya.


"Hah?" ucap Deni spontan. Aku melihat wajah bingung menatapku horor. Bahkan Deni pun juga ikutan bingung. Tuh kan, aku sudah merasa seperti hantu saja ditatap seperti gitu.


"Iya, aku bingung harus jawab apa" ucapku sambil menghela nafas.


"Aku tidak memintamu untuk memberikan jawaban Dina. Aku hanya mengungkapkan apa yang aku rasakan terhadapmu. Terserah jika kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan. Toh pada akhirnya kita juga bakalan bersama. Iya kan?"


"Maksud kamu?" aku bingung dengan ucapannya yang terakhir.


"Meskipun sekarang kamu belum mencintai aku, karena kamu belum terlalu mengenalku. Setelah kita menikah, aku yakin rasa itu akan tumbuh. Kita hanya menunggu saja" lagi-lagi ucapannya membuatku tersedak oleh ludahku sendiri.


"Me ... Menikah?" aku melotot kearahnya.


"Iya menikah. Aku dan kamu. Kita akan menikah dalam waktu dekat" ucapnya lagi.


"Apa? Dalam waktu dekat? Secepat itu kah?" sekarang aku tidak tahu lagi apa yang aku rasakan. Semuanya berkecamuk dalam pikiranku, hatiku, dan bahkan jantungku juga. Semuanya berantakan.


"Kalau kamu belum siap. Kita bisa menundanya" Deni berbicara seolah-seolah aku menerima perjodohan ini. Emang iya sih aku menerima, tapi tidak secepat ini juga kan?

__ADS_1


"Aku ingin kuliah dulu" ucapku pelan, mungkin terdengar seperti cicitan.


"Meskipun kita menikahnya sekarang, kamu akan tetap kuliah kok. Karena pendidikan itu penting" lagi dan lagi aku ternganga mendengar setiap kata yang keluar dari mulut calon dokter muda ini.


"Iya. Pendidikan itu penting" ucapku sambil berdiri dan menatap ke arah laut. Matahari sudah hampir terbenam semuanya. Aku menatap takjub. Segera ku keluarkan ponsel dari saku celana, dan ku potret beberapa objek yang indah menurutku. Seketika ponselku sudah berpindah ke tangan Deni.


"Deni. Balikin ponselku" rengekku padanya. Dia hanya menggeleng sambil menaikkan tangannya tinggi-tinggi.


"Kamu mau ponselmu?" tanyanya kepadaku, yang sekarang ini tepat berada di bawah dagunya. Aku hanya mengangguk beberapa kali menanggapi pertanyaan konyol tersebut. Sudah tahu masih saja nanya.


"Peluk dulu" ucapnya santai.


"Uhuuk uhuuk" aku terbatuk-batuk mendengar permintaan Deni tersebut. Segera aku menjauh darinya. "Bodoh ah" kulangkahkan kaki meninggalkannya.


"Hey, mau kemana?" tanyanya heran.


"Pulang" jawabku kesal.


Tiba-tiba saja tubuhku ditarik dan langsung berputar. Aku merasakan seseorang mendekap tubuhku erat. Seketika aku ingin berteriak tapi aku urungkan, setelah menyadari kalau seseorang tersebut sepertinya aku kenali. Dari jaket yang dia pakai dia adalah Deni. Aku bangga dengan kepintaranku yang bisa mengingat dengan mudah kali ini. Tunggu dulu, apa yang dia lakukan? Aku segera mendorong tubuh berisi tersebut.


"Deni! A ... Apa yang lo lakukan?" seketika aku berteriak ke arahnya, dan sudah mengganti panggilan dari 'kamu' menjadi 'lo'. Deni hanya menatap ke arahku. Aku tidak paham arti dari tatapan itu, apakah dia kecewa atau apa?


"Maaf" ucapnya pelan. "Aku tadi hanya merasa kalau kamu itu bakalan pergi. Pergi jauh dariku. Seperti yang kamu lakukan dulu, sehingga aku tidak bisa lagi menjangkaumu" tambahnya.


Aku hanya terdiam mendengar rangkaian kata-kata tersebut terucap darinya. Seketika tubuhku membatu, mati rasa. Deni meraih jemariku, lalu memberikan ponselku. Setelah itu dia melangkah meninggalkanku yang masih bengong dengan kejadian barusan.


Aku tersadar, dan langsung mengejarnya dari belakang. "Deni, tunggu!" teriakku yang berada lima meter di belakangnya. Entah kenapa, aku tidak mau membuat Deni kecewa. Sama seperti dirinya, aku juga tidak mau kehilangannya. Setelah mengenalnya selama beberapa hari ini, aku merasakan ada sesuatu pada diriku. Tapi aku belum bisa memastikan itu apa.


Deni menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arahku. Aku segera berlari ke arahnya, dan memeluk tubuhnya dari belakang. Aku dapat merasakan tubuhnya yang menegang sama seperti tubuhku.


Cukup lama kami terdiam dengan posisi seperti ini. Setelah itu Deni memutar tubuhnya, disaat aku melepaskan pelukan yang aku lakukan dadakan tadi. Hanya seuntai senyum yang Deni perlihatkan, lalu kembali mendekap tubuhku. Hangat. Itulah yang aku rasakan. Sama seperti pelukan Kakek.

__ADS_1


Aku tidak mau kehilangan laki-laki ini.


__ADS_2