Dina-Deni 'Love Story'

Dina-Deni 'Love Story'
Part 22.


__ADS_3

Danau kecil yang dikelilingi bukit berwarna hijau. Air danau tersebut terlihat biru pekat. Gemercik air dan kicauan burung menjadi musik penenang yang mengalun indah. Matahari tampak malu-malu untuk menampakkan dirinya karena terhalangi oleh awan yang lumayan tebal.


Di tengah-tengah danau, tampak seorang gadis yang sedang duduk manis di atas batu. Entah bagaimana caranya untuk sampai ke tengah sana. Tampaknya gadis tersebut sangat menikmati suasana tenang ini. Dia duduk menengadahkan kepala sambil memejamkan kedua matanya. Bahkan rambutnya dibiarkan begitu saja dikibaskan oleh angin. Dirinya tidak peduli.


Dia adalah Dina. Gadis yang sedang berduka hatinya. Gadis yang selalu didatangi oleh masalah di hidupnya. Bahkan masalah tersebut datang bertubi-tubi tiada henti. Kapan Dia akan berbahagia? Kapan kebahagiaan itu benar-benar datang lalu menetap padanya? Entahlah.


"Kamu di mana?" pertanyaan pertama dari seberang sana setelah Dina memutuskan untuk menjawab panggilan masuk yang ketiga kalinya.


"Aku ingin sendiri" jawab Dina pelan. Bahkan matanya masih terpejam.


"Kamu di mana?" lagi, pertanyaan itu masih terlontar dari orang yang sama.  Karena belum mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Kali ini nada suaranya terdengar lebih dingin.


"Aku di kampung. Jangan datang!" jawab Dina cepat, dan pada detik berikutnya dia sedikit merutuki dirinya sendiri. Dikarenakan dirinya sendiri sudah berjanji untuk tidak mengatakannya kepada laki-laki itu. Ya siapa lagi kalau bukan kepada Deni.


Niatnya ingin menenangkan diri sejenak. Tapi sekarang lelaki itu sudah tahu keberadaannya. Bahkan dirinya sendiri yang mengatakannya. Dasar Dina lemah iman. Dia akan selalu lemah jika itu berhubungan dengan Deni.


"Kampung? Kenapa nggak pamit?" Deni bertanya dengan suara serak. Dirinya berusaha menahan emosi. Bahkan Dina yang jauh di seberang sana pun tahu bagaimana Deni berusaha menahan amarahnya tersebut.


"Aku sudah pamit pada Om dan Tante" apakah masalah pamit atau tidaknya itu penting untuk dibahas sekarang?


"Tapi tidak sama aku! Apakah aku sudah tidak ada artinya lagi bagi kamu?" pertanyaan yang cukup membuat hati Dina merasakan sedikit terusik. Mudah sekali bagi laki-laki ini mempertanyakan hal tersebut. Lagi-lagi Deni meragukannya.


Tidak penting apanya? Bahkan Dina sendiri melanggar janji yang sudah dibuatnya hanya karena mendengar suara laki-laki itu. Dina luluh.

__ADS_1


"Jangan menambah beban pikiranku. Aku ke sini mau menenangkan diri. Bukan untuk berdebat lagi dengan kamu" Dina menjawab cepat sambil menahan kesal tentunya. Setelahnya dia memutuskan panggilan terlebih dahulu. Tidak lupa juga untuk mematikan ponselnya. Dina benar-benar ingin tenang.


"Kan kamu bi ..." ucapan Deni terpotong ketika panggilan tersebut berakhir. "Apakah sesulit itu meminta izin padaku?" gumamnya pelan sambil menatap ponselnya nanar. Lalu melakukan panggilan lagi, tapi sayang ponsel Dina sudah tidak aktif. "Aku harus menyusul kamu" ujarnya pada ponsel yang menampilkan poto Dina pada layarnya.


...


"Kamu nggak nanya" jawaban pertama dari sang Mama ketika Deni menanyakan kenapa Mamanya kenapa tidak memberitahu tentang kepergian Dina.


"Apa salahnya sih Ma untuk bilang sama aku? Kan aku nggak tahu. Aku kira dia nggak masuk kuliah karena ada urusan lain. Kan Mama tahu sendiri bagaimana tertutupnya dia" Deni mulai berdebat dengan sang Mama.


"Kok malah nyalahin Mama sih? Kamu tuh yang nggak pernah peduli. Apakah kamu pernah nanyain dia sudah makan atau belumnya? Apakah kamu pernah nanyain apakah tadi malam tidurnya nyenyak atau tidaknya? Apakah kamu pernah bertanya apakah dia ada masalah? Apakah pernah Deni?" Tante Rini diam sejenak sambil menatap putra sulungnya itu. "Jangan kamu pikir karena kalian tinggal serumah lalu pertanyaan sederhana seperti itu tidak penting lagi. Jangan pernah berpikir seperti itu. Meskipun kalian tinggal satu rumah, bahkan nanti satu kamar jangan abaikan pertanyaan-pertanyaan sederhana itu. Itu sangat besar artinya Nak. Sangat!" Mama mengusap pelan lengan Deni yang duduk di sampingnya.


"Maafin aku Ma" ujarnya pelan.


"Baik Ma. Aku akan menyusul Dina. Doakan ya Ma, semoga aku berhasil membawa Dina pulang" Deni meminta doa restu kepada Mamanya supaya dipermudahkan dalam urusannya untuk mengajak Dina pulang. Wkwk, ada-ada saja lu Den.


"Haha, iya. Mama akan selalu doakan yang terbaik untuk anak-anak Mama. Jangan sampai calon mantu Mama lecet ya. Bawa dia pulang dengan keadaan baik-baik saja. Kalau nggak, awas kamu!" ancam sang Mama sambil menampakkan wajah garangnya.


"Iya Ma. Iya. Garang banget ih" Deni segera beranjak ke kamarnya. Dia harus mengemasi barang-barangnya untuk menyusul Dina yang ada di luar kota tersebut.


...


Perjalanan ditempuh selama tiga jam. Bahkan dua jam sebelum keberangkatan, Deni juga melakukan kegiatan sosial yang dilakukan oleh fakultasnya. Dirinya juga ditunjuk sebagai ketua pelaksana. Tidak terbayang bagaimana sibuk dan lelahnya dia. Mungkin karena kesibukannya ini dia jadi jarang berkomunikasi dengan Dina. Kapan terakhir kali dirinya mengajak gadis itu jalan-jalan? Sepertinya Deni sudah tidak ingat lagi.

__ADS_1


Apalagi untuk menuju ke sana dia mengendarai mobil sendiri. Padahal sang Mama sudah menawarkan untuk pakai supir pribadi saja, tapi dengan keras kepala Deni menolak.


Tok tok tok.


Deni mengetuk sebuah pintu rumah. Entah kenapa dia sedikit cemas ketika memikirkan bagaimana respon Dina setelah melihat dirinya yang tiba-tiba ada di sini.


"Siapa?" tanya seseorang di balik pintu. Tapi itu bukan suara Dina. Malainkan suara seorang laki-laki.


"Apakah benar ini rumah Pak Ahmad?" pertanyaan pertama Deni setelah pintu terbuka. Di hadapannya berdiri seorang laki-laki muda yang sepertinya lebih tua beberapa tahun dari dirinya.


"Benar. Nyari Pak Ahmad?" tanya laki-laki tersebut kembali.


"Bukan. Saya mau bertemu dengan Dina. Apakah bisa?" laki-laki muda tersebut tidak menjawab. Melainkan menatap Deni dari atas ke bawah, dan dari bawah ke atas.


"Kamu dari kota?" tanyanya lagi. Deni hanya menjawab dengan anggukan kepala. Sepertinya Dina sudah cerita mengenai diriku dan juga keluargaku, pikirnya.


"Tunggu sebentar" ujar laki-laki tersebut sebelum berlalu. Bahkan dia tidak menawari Deni untuk masuk terlebih dahulu.


Lima menit kemudian, laki-laki itu kembali ke luar menemui Deni. Tapi tidak ada Dina bersamanya. Mana gadis itu?


"Maaf. Dina-nya sudah tidur. Mungkin kamu bisa kembali lagi besok" ujar laki-laki itu. Apakah benar yang dikatakannya? Atau hanya sekedar alasan Dina untuk tidak bertemu dengan dirinya? Entahlah. Bahkan sekarang waktu baru menunjukkan pukul delapan malam. Sejak kapan gadis itu tidur lebih awal? Pertanyaan-pertanyaan terus terlontar di benak Deni.


"Baiklah. Terima kasih untuk waktunya" ujarnya agak kecewa dengan respon yang diberikan oleh Dina. Deni melangkahkan kaki meninggalkan rumah tersebut. Lalu menuju mobilnya. Dia harus mencari tempat penginapan terlebih dahulu. Dirinya butuh istirahat. Entah kenapa rasanya badannya begitu lelah hari ini. "Jangan sakit, plish" ujarnya memohon pelan kepada diri sendiri sebelum menjalankan mobil meninggalkan rumah yang menjadi tempat tujuan pulang gadis pujaan hatinya itu.

__ADS_1


__ADS_2