Dina-Deni 'Love Story'

Dina-Deni 'Love Story'
Part 46.


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu semenjak kepulangan Deni yang terbilang sangat mengejutkan itu. Di saat orang-orang sudah ragu dengan segala kemungkinan yang terjadi, tapi nyatanya takdir berkata lain. Buktinya, seorang Deni Septia Dirnata telah kembali pulang dengan keadaan baik-baik saja, dan tidak ada yang kurang satu pun.


Karena kepulangan Deni tersebut, Tante Rini, sang Mama akan mengadakan syukuran besar-besaran di rumahnya. Mengundang ratusan anak yatim, para tetangga, rekan kerja sang suami, sanak saudara, dan juga teman-teman dari anak-anak mereka.


Sebenarnya ini tidak hanya syukuran saja, tapi juga akan diadakan pertunanganan anaknya, Deni dan Dina secara resmi. Bahkan keluarga Dina, Kakek Ahmad, Angga, dan Dila sudah datang semenjak dua hari yang lalu. Mereka juga ikut andil dalam mempersiapkan hal tersebut.


Bahkan undangan pertunanganan tersebut sempat menghebohkan sejagad kampus. Pasalnya, Deni yang tidak diketahui kapan pulangnya itu setelah dikabarkan hilang, tiba-tiba saja mengundang teman-temannya untuk datang di hari bersejarah baginya melalu media sosial, dan juga ada beberapa undangan yang dibagikan secara langsung. Siapa yang tidak heboh? Bahkan pulangnya saja tidak diketahui, eh tiba-tiba sudah mau tunangan.


"Dina, lo beneran nggak bohong kan? Lo mau tunangan ama Deni yang dingin itu kan? Bukan Deni yang lain?" pertanyaan beruntun dari Desi ketika Dina memberikan undangan kepadanya di kantin kampus tiga hari yang lalu itu memperlihatkan bagaimana reaksi teman-teman mereka yang lainnya. Tidak jauh berbeda.


Dina hanya bisa menganggukkan kepala. Lalu beralih menatap undangan yang ada di tangan Desi. "Kan di situ namanya Deni Septia Dirnata, pasti Deni yang itu dong. Emang gue mau tunangan ama siapa lagi kalau bukan sama Deni?" ujar Dina santai. Bahkan itu sangat kelewat santai jika melihat bagaimana hebohnya Desi tadi.


"Iya gue tau. Tapi kan ini gimana ceritanya? Kok dadakan gini? Emang kapan sih si Deni pulang? Kok gue nggak tau! Lo kok nggak cerita?" lagi, Desi memburu Dina dengan berbagai macam pertanyaan. Tega sekali sahabatnya ini. Bahkan Revan yang statusnya sebagai pacarnya itu, juga tidak menceritakan hal ini kepadanya? Awas saja tu anak, nanti bakal gue kasih perhitungan, batin Desi.


"Biar surprise Des. Yang tahu hanya keluarga Deni dan keluarga gue aja ..." Dina menjeda sejenak ucapannya dan menghirup napas pelan. "... Sebenarnya gue mau kasih tau lo kok, pengen cerita banyak. Tapi ya gitu, Deni larang gue" lanjut Dina berujar lesu, lalu meneguk minumannya. Dan sekarang Desi menambah satu orang lagi untuk dirutukinya dalam hati. Deni.


"Sialan si Deni, sabisanya dia menghalang-halangi sahabat gue. Awas aja kalau ketemu!" rutukan dalam hati sekaligus secara langsung dari Desi. Hati dan mulut Desi tidak bisa diajak kerja sama. Sudah terlanjur kesal.


"Emang kalau ketemu lo mau ngapain?" pertanyaan tiba-tiba dari arah belakang Desi mengalihkan dua orang gadis tersebut. Satu langkah di belakang Desi sudah berdiri Deni dengan tampang angkuhnya. Seolah-olah menantang Desi 'Mau apa lo?'


"Sejak kapan lo di situ?" tanya Desi sambil nyengir kuda. Namun gadis itu hanya mendapatkan dengusan pelan sebagai jawaban. "Dih, songong lo!" cibir Desi yang merasa dicuekin.


"Bodoh amat!" balas Deni acuh dan langsung duduk di sebelah Dina. Meminum seteguk minuman yang ada di depan gadisnya itu.


"Din, kok lo mau sih sama laki modelan gini? Mending lo pikir-pikir lagi deh untuk tunangan ama ni orang" Desi mencoba mengompori sahabatnya itu. Sesekali boleh lah ceng-cengin Deni si manusia kutub judes itu.


"Dih, apaan tuh maksudnya? Lo nyuruh Dina buat batalin pertunanganan kita gitu? Mimpi aja lo. Nggak akan!" balas Deni tak kalah sinis.


Dina yang ada di antara perdebatan yang tidak bermutu itu hanya diam sambil menikmati minumannya. Lalu dagunya ditumpukan di atas meja. Lelah. Dirinya terlalu malas mengikuti drama-drama aneh tersebut. Lagian Deni kenapa jadi kepancing sama kata-katanya Desi sih? Heran.

__ADS_1


"Iya. Kenapa? Lo nggak suka? Terserah!" Desi tak kalah sinis ketika membalas setiap kata yang dilontarkan oleh Deni.


Dina memejamkan kedua matanya, menikmati perdebatan itu dalam kebisuannya. Membiarkan dua orang tersebut sampai masing-masing mereka merasa capek, lalu berhenti dengan sendirinya.


"Modelan gini mau jadi adik ipar gue? Nggak sudi gue lahir batin. Kok Revan mau ya sama cewek bar-bar kayak lo? Mending Dina ke mana-mana, kalem dan ..."


"Gue kenapa dibawa-bawa? Nggak suka lo sama pacar gue? Ya terserah" belum sempat Deni menyelesaikan ucapannya, Revan sudah memotong terlebih dahulu. Lalu mendudukkan diri di samping Desi, dan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Deni tadi. Meminum minuman Desi yang tinggal setengah.


"Kok dihabisin sih?" protes Desi yang tidak terima Revan meneguk semua minumannya.


"Haus Beb, ehe" jawab Revan sambil nyengir kuda. Desi hanya bisa memutar bola matanya malas.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Deni sedikit tidak bersahabat kepada sang Adik.


"Kenapa? Masalah buat lo?" Revan pun menjawab dengan nada suara yang tidak bisa dibilang santai.


Ada apa sih dengan orang-orang hari ini?


Dina yang sedari tadi diam sambil bertopang kepala di meja, tiba-tiba mengangkat kepalanya. Dan itu sukses membuat Deni, Revan dan juga Desi kompak terkejut. Dina sekarang ini berpenampilan yang sedikit agak kacau. Rambut panjangnya menutupi hampir semua wajahnya. Bahkan rambutnya sedikit agak kusut.


"Sudah? Kok berhenti? Lanjutin dong. Biar sekalian satu kampus juga dengar suara merdu kalian itu" ujar Dina pelan setelah menyibakkan rambutnya di bagian muka.


Deni yang duduk di sebelah Dina membantu gadis tersebut merapikan rambutnya. Namun Dina menepis tangan tersebut pelan. Dan itu sukses membuat tangan Deni menggantung sesaat di udara, lalu menurunkannya. Ada apa dengan Dina?


Revan yang melihat gelagat yang tidak biasanya dari Dina tersebut hanya bisa membungkam mulutnya. Sepertinya calon istri Abangnya ini sedang dalam suasana hati yang tidak baik.


Begitu juga dengan Desi. Gadis itu juga tampak tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun. Dina terlihat sangat mengerikan saat ini.


"Yang, kamu marah?" tanya Deni pelan. Karena nggak enak juga dengan suasana yang tiba-tiba berubah jadi aneh itu.

__ADS_1


"Nggak! Marah kenapa emang?" Dina masih sibuk merapikan rambutnya. Pura-pura nggak peduli dengan tampang bodoh dua orang di depannya.


"Lalu tadi itu apa?" tanya Deni lagi. Lagi, tangannya berusaha membantu Dina merapikan rambutnya dibagian poni, dan Dina juga menepisnya lagi, pelan.


"Aku bisa sendiri. Nggak usah bantu" ujarnya pelan. Setelah itu menjepit rambut tersebut dengan jepitan kecil pada bagian kiri dan kanan ke belakang. Gadis itu masih pura-pura sibuk dengan kegiatannya. Melupakan tiga makhluk Tuhan lainnya yang menatap dirinya dengan tatapan yang, hmm aneh? Mungkin.


"HAHAHAHA" tawa Dina pecah. Dirinya tidak sanggup lagi berpura-pura di hadapan orang-orang yang memandangnya dengan raut wajah nelangsa itu. Kasihan. "Kalian kenapa? Kok liat akunya gitu, hahaha" tanyanya di tengah tawanya yang belum mereda.


Oke, sekarang wajah-wajah itu berganti dengan wajah-wajah kebingungan yang menatapnya. Ampuni Dina hari ini ya Allah, karena telah mengerjai teman-temannya.


"Din, ini nggak lucu sumpah!" Desi sedikit mulai kesal dengan tingkah kekanak-kanakan sahabatnya itu. Emang siapa sih sebenarnya yang lebih kekanak-kanakan di sini?


Deni dan Revan sama-sama masih terdiam mencerna apa yang telah terjadi.


"Maap Des. Habisnya kalian itu lucu banget tahu nggak sih, haha" jawab Dina yang masih terkekeh pelan.


"Lucu pala lo!" dengus Desi kesal. Lalu memukul bahu Revan sedikit agak keras untuk melampiaskan kekesalannya.


"Kok kamu mukul aku sih Beb?" Revan terkejut dengan pukulan yang tiba-tiba dilayangkan oleh Desi itu. Segera mengusap bahunya pelan.


"Terus aku harus mukul siapa lagi kalau bukan kamu? Dina? Atau Deni?" tanya Desi garang. Dirinya masih kesal.


"Iya iya. Pukul aja aku sepuas kamu. Sekalian patahkan tulang-tulangku" Revan mengalah. Tidak ada untungnya berdebat dengan yang namanya wanita. Ingat itu, NGGAK ADA UNTUNGNYA!


Desi tidak memberikan tanggapan lagi. Tangannya ikut mengusap-usap bahu Revan yang tadi dipukulnya.


"Yok pulang! Aku ngantuk" Dina menarik tangan Deni supaya ikut berdiri dengannya. Deni yang sedari tadi hanya diam itu ikut-ikut saja ketika dirinya ditarik paksa oleh Dina. "Kita pulang duluan ya, nggak baik soalnya calon pengantin baru keluyuran di luar" lanjutnya pamit kepada dua orang yang masih menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Dina dan Deni meninggalkan area kantin kampus. Juga meninggalkan berbagai macam pertanyaan di kepala Desi dan juga Revan.

__ADS_1


"Kak Dina kenapa Beb?" tanya Revan akhirnya.


"Nggak tau. Kesurupan jin mungkin. Jin kebelet kawin" jawab Desi sekenanya. Lalu detik berikutnya mereka berdua sama-sama tertawa. Hari ini benar-benar aneh.


__ADS_2