Dina-Deni 'Love Story'

Dina-Deni 'Love Story'
Part 29.


__ADS_3

"Mau ke mana?" tanya Dina ketika melihat Deni yang sedang memakai sepatu di dekat pintu.


"Mau jalan-jalan sore. Kenapa?" tanya laki-laki itu balik.


Sepertinya mereka berdua sudah baikan semenjak drama tangis-tangisan yang dilakukan Dina tadi usai.


Dina yang dengan patuh makan siang pada pukul empat, dan Deni yang dengan sabarnya menemani di meja makan. Awalnya laki-laki ini juga berniat untuk menyuapi Dina, tapi dengan tahu dirinya wanita itu menolak. Jangan banyak drama lagi jika itu hanya perihal makan semata.


"Hmm, aku ikut boleh nggak?" tanya Dina semangat empat lima. Dirinya ingin sekali menikmati suasana sore di lingkungan rumah Deni ini. Sudah cukup lama Dina tinggal di sini, tapi dirinya belum terlalu hapal dengan lingkungan sekitar. Bahkan Dina tidak tahu di mana rumah Pak RW dan Pak RT setempat. Wkwk, apakah itu penting?


"Boleh. Aku tunggu sepuluh menit" ujar Deni sambil melirik jam tangannya. Karena sekarang jam sudah menunjukkan hampir pukul setengah lima sore, jadi Deni merasa sedikit sekali waktunya jika harus kembali sebelum azan magrib.


"Masa iya sepuluh menit? Kan aku belum mandi" protes Dina tidak terima. Karena merasa waktu yang diberikan Deni untuk dirinya bersiap-siap sangatlah sedikit.


"Nggak usah mandi. Nanti aja setelah pulang" usul Deni. Tapi Dina nampak masih ragu ketika memperhatikan penampilannya yang kucel tersebut. "Nggak boleh cantik-cantik kalau mau ikut" tambah Deni yang merasa paham dengan apa yang ada di pikiran Dina.


"Ih, iya iya. Sepuluh menit" Dina segera beranjak ke lantai dua menuju kamarnya untuk bersiap-siap. Bahkan dirinya juga sedikit berlari supaya bisa memanfaatkan waktu yang sangat singkat itu sebaik dan sesempurna mungkin.


Cuci muka, gosok gigi, pakai bedak tipis, ganti celana jadi celana olahraga panjang. Setelahnya Dina segera ke bawah, dan memakai sepatunya dengan tergesa-gesa. Bahkan Deni sudah berdiri di tepi halaman untuk menunggu sang pacar. Dasar nggak sabaran.


"Telat lima menit!" ujar laki-laki itu setelah Dina berdiri di sampingnya.


"Lima menit doang" balas Dina acuh. "Kita jalan-jalannya lewat mana nih?" Dina bertanya dengan nada semangat sekali sambil celingak-celinguk melihat ke sekeliling. "Lah kok kamu lari sih?" teriaknya setelah melihat Deni berlari dengan santainya. Lalu dirinya mengejar laki-laki itu dari belakang.


"Kita nggak jalan-jalan. Tapi lari sore" jawab Deni setelah gadis itu mensejajarkan langkahnya. Bahkan Dina sudah tampak terengah-engah. Dasar payah.


"Tadi katanya mau jalan-jalan doang" protes Dina lagi. Dirinya curiga, sepertinya Deni sengaja mengerjainya. Ah sial. Kan dirinya nggak kuat jika harus lari-larian begini. Apa lagi lari dari kenyataan? Nggak akan pernah sanggup dirinya. Wkwk.


"Kalau jalan-jalan saja nggak ada manfaatnya Yang. Mending lari-larian, sekalian olahraga" jelas Deni sedikit menahan senyumnya.


"Kamu ngerjain aku ya? Ish, dahlah. Aku pulang aja. Kan kamu tahu, aku nggak kuat lari-larian" pasrah Dina, dan segera memutar tubuhnya.


Ketika Dina hendak memutar tubuhnya, tangannya ditahan oleh Deni cepat.


"Kok gitu? Katanya mau jalan-jalan?" Deni masih menggoda gadis tersebut. Bahkan mereka berdua terus saja melangkahkan kaki sambil berdebat di tepi jalan.


"Ini bukan jalan-jalan. Tapi lari-larian!" sungut Dina sedikit agak kesal karena telah dikerjai. "Lepas ih, aku mau pulang!" Dina berusaha melepaskan tangan Deni dari lengannya. Tapi sayang, laki-laki tersebut tidak menanggapi sama sekali. Bahkan lebih kuat menggenggam pergelangan tangan gadis tersebut.


"Yaudah deh. Aku aja yang lari. Kamu nyusul dari belakang aja gimana?" Deni mencoba memberikan usulan. Dilepasnya tangan Dina. Lalu mereka berhenti sejenak. Gadis itu tidak sadar saja, bahkan semenjak tadi dirinya juga ikutan lari-lari kecil bersama Deni.

__ADS_1


"Iya" jawab Dina pasrah. Sudah kehabisan nafas.


Benar saja, Deni meninggalkan Dina di belakangnya. Laki-laki itu berlari dengan santai, dan Dina berjalan sangat pelan dengan ogah-ogahan.


Karena masih asing dengan lingkungan sekitarnya, Dina merasa sedikit agak was-was. Meskipun sore ini lingkungan tersebut cukup rame dikunjungi oleh orang-orang yang juga melakukan hal yang sama dengan dirinya.


Banyak dari warga sekitar yang melirik dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Mungkin orang-orang tersebut merasa asing dengan Dina yang baru tinggal di sana.


"Deni, tunggu!" teriak Dina di belakang Deni. Bahkan sekarang dirinya berlari sedikit agak kencang berusaha untuk menyusul laki-laki tersebut.


Dina ngos-ngosan kehabisan nafas ketika dirinya sampai di sebelah Deni. Ya laki-laki itu terpaksa berhenti sejenak untuk menunggu Dina yang terus berteriak memanggil namanya sambil berlari.


"Kenapa lari-larian sih? Kan kamu nggak kuat lari Yang" Deni cukup terkejut juga dengan apa yang telah dilakukan oleh Dina.


Dina terduduk di jalan sambil terus mengatur nafasnya. Dirinya tidak peduli dengan omelan Deni. Yang dirinya pedulikan sekarang adalah keselamatan dirinya sendiri.


Kedua kakinya diselonjorkan, dan kadua tangannya menutup wajahnya yang memerah karena lelah. Deni ikut berjongkok di depan Dina. Karena merasa cukup khawatir juga.


"Yang, kamu baik-baik aja kan?" tanya laki-laki itu cemas.


Tidak ada tanggapan dari Dina. Gadis tersebut masih berusaha untuk mengatur nafas dan detak jantungnya supaya teratur.


"Yang!" Deni mengguncang bahu Dina pelan. Fikiran buruk sudah mulai menghantuinya.


Sepuluh menit berlalu, Dina sudah mulai membaik. Tapi gadis tersebut masih terduduk di tepi jalan.


"Sudah baikan?" tanya Deni akhirnya setelah menunggu cukup lama.


"Sudah" jawab Dina pelan.


"Yaudah, ayo kita pulang aja. Sudah mau magrib" Deni menjulurkan tangannya ke arah Dina. Gadis itu meraih tangan tersebut, berusaha untuk berdiri.


"Awh" pekiknya sebelum benar-benar berdiri dengan tegap. Dirinya kembali terduduk di jalan.


"Kenapa? Ada yang sakit? Mana yang sakit?" Deni bertanya dengan nada super duper khawatir. Dirinya juga ikut berjongkok di samping Dina. Tangannya sibuk memeriksa tubuh Dina.


"Nggak kok, aku baik-baik saja" ujar Dina cepat untuk menghentikan gerakan tangan Deni. Dasar Deni, main grepe-grepe aja. Di tepi jalan lagi.


"Terus?" tanya laki-laki itu sambil mengangkat sebelah alisnya.

__ADS_1


"Kakiku kesemutan, ehe" jawab Dina sambil tertawa pelan tanpa merasa berdosa sama sekali.


"Astaga, Dinaa. Kamu, arggh" Deni berusaha menahan geramnya menghadapi tingkah tak terduga Dina.


"Terus, salah aku kalau kaki aku kesemutan?" tanya Dina konyol.


"Nggak. Salah aku. Semua salah aku" ujar Deni mati-matian menahan kekesalannya menghadapi Dina. "Ayo pulang! Sudah mau malam" Deni kembali mengulurkan tangannya ke arah Dina.


Dina menggelengkan kepalanya pelan. Entah kenapa, ada sebuah ide yang tidak patut ditiru muncul di kepalanya.


"Kenapa lagi?" tanya Deni tidak sabar. Tapi Dina tidak peduli sama sekali dengan hal tersebut.


"Gendong!" rengeknya seperti anak kecil. Kedua tangannya sudah direntangkan lebar-lebar.


"Hah? Kamu jangan percanda Yang. Kamu mau lihat aku mati muda sebelum kita nikah?" ujar Deni sedikit kaget dengan permintaan konyol Dina.


"Jangan lebay deh. Nggak bakalan mati juga pun. Ayo cepat gendong aku! Mau pulang kan?" perintah Dina yang tidak peduli sama sekali dengan alasan penolakan Deni. Dirinya harus membalaskan dendam yang tadi, ujarnya dalam hati. Dasar Dina ratu tega.


"Kamu tega sama aku?" sekali lagi Deni berusaha untuk mendapatkan keringanan.


"Kamu juga tega sama aku. Aku nggak kuat loh Yang jalannya. Tega banget sih jadi pacar" Dina berujar dengan nada mengiba sambil memanyunkan bibirnya.


"Iya iya. Aku gendong. Sini naik" Deni dengan pasrah berjongkok membelakangi Dina. Dirinya hanya ingin pulang, lalu mandi.


Dina tersenyum lebar di belakang Deni. Dirinya berdiri dari duduknya, dan langsung naik ke atas punggung Deni. Kedua tangannya melingkar di leher laki-laki tersebut dengan erat.


"Kamu mau bunuh aku Yang?" ujar Deni tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Dina.


"Haha, maaf" Dina segera melonggarkan lengannya.


"Kamu kok berat banget sih. Makan apa emang? Batu?" Deni terus saja mengoceh di sepanjang jalan menuju rumah. Dina sama sekali tidak menghiraukan ocehan laki-laki tersebut. Dirinya terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Kamu nggak dengarin aku? Jangan tidur ya. Kalau tidur, aku tinggal nih" entah sejak kapan laki-laki ini berubah jadi orang yang suka ngomong, alias cerewet ya?


Cup.


Dina menghadiahkan satu kecupan di pipi Deni. Itu sukses menutup mulutnya yang terus-terusan mengoceh itu.


"Hadiah buat kamu. Jangan ngoceh lagi ya" ujar Dina pelan sambil sesekali mengusap kepala Deni dengan sayang.

__ADS_1


Deni tidak memberikan tanggapan lagi, dirinya sibuk tersenyum nggak jelas seperti orang gila. Rasa kesal, rasa berat, dan rasa-rasa lain yang dirasakannya tadi hilang entah ke mana.


Semudah itu memang untuk mengembalikan mood seorang Deni. Hanya dengan satu kecupan sayang. Wkwk.


__ADS_2