Dina-Deni 'Love Story'

Dina-Deni 'Love Story'
Part 49.


__ADS_3

Setelah dari makam, Dina tidak langsung pulang. Dirinya ikut dengan Desi ke sebuah mal, dengan rasa terpaksa tentunya. Meskipun banyak drama dulu di jalan karena Desi memaksanya untuk ikut, dan akhirnya Dina pun mengiyakan ajakan sahabatnya itu. Sesekali tidak apalah untuk memanjakan diri.


"Kita mau ngapain dulu nih? Keknya banyak yang harus kita lakukan hari ini" Desi berujar senang setelah kakinya memijak di lantai mal.


"Nggak usah aneh-aneh ya lo. Tadi bilangnya cuma belanja. Ingat itu" Dina mengingatkan Desi tentang apa yang gadis itu janjikan tadi.


"Iya iya. Bawel lo" Desi segera melangkahkan kakinya untuk memulai perjalanannya menjelajahi mal. Dina yang digandeng itu tampak sangat terpaksa menyeret langkahnya. "Nggak usah cemberut gitu! Senyum Din, senyum" Desi memperlihatkan wajahnya yang sedang tersenyum ke arah Dina, seolah-olah sedang menyontohkan cara tersenyum.


Dina terpaksa memperlihatkan senyuman di bibirnya. Berusaha untuk menikmati waktu bersama sahabatnya itu. Jika diingat-ingat, sudah lama juga dirinya tidak pernah menghabiskan waktu bareng Desi lagi. Mungkin dikarenakan mereka yang sama-sama sibuk akhir-akhir ini.


"Baiklah, mari kita borong semua yang ada di sini!" ujar Dina semangat. Kapan lagi dirinya memiliki waktu yang seperti ini lagi, bisa menikmati sedikit hari-harinya tanpa skripsi.


"Lets gooo" Desi kembali menggandeng tangan Dina, dan segera masuk pada toko baju. Mereka mulai sibuk memilih-milih mana yang cocok, mana yang bagus, dan mana yang murah, wkwk.


"Beli baju samaan yuk Din" usul Desi yang sibuk memilih gaun yang cocok untuknya.


"Buat apa?" tanya Dina, berhenti sejenak dari langkahnya.


"Ya, buat ke kondangan, buat ke wisuda, buat ke ..."


"Nggak usah lo jelasin juga Des" sanggah Dina cepat. Maksudnya kan bukan itu.


"Buat ke acara wisudanya Deni aja gimana? Kan sebentar lagi Deni wisuda" Desi bersorak senang dengan usulannya tersebut.


"Itu mah gue samaannya bareng Deni lah. Ngapain juga gue samaan sama lo?" setelah mengatakan itu, Dina kembali melanjutkan langkahnya. Mengabaikan wajah bete Desi.


"Dih, iya gue tau kok lo yang udah jadi tunangan Deni" cibirnya. "Terus gue samaan sama siapa dong?" dirinya bergumam pelan sambil mengerucutkan bibirnya. Dina ternyata cukup menyebalkan juga setelah dekat dengan yang namanya Deni.


"Sama aku aja Beb" bisik seseorang yang berada di belakang tubuhnya. Desi langsung membalikkan badannya, maka tubuhnya langsung menabrak dada bidang seseorang.


"Revan? Kok kamu ada di sini?" setelah mengangkat kepala, dirinya cukup kaget dengan keberadaan Revan yang tiba-tiba ada di belakangnya itu.

__ADS_1


"Kenapa? Ini kan tempat umum Beb" Revan menjawan sambil memeluk pinggang Desi pelan.


"Nggak usah modus" Desi segera menjauhkan diri dari Revan, mundur satu langkah. Laki-laki itu hanya terkekeh pelan, lalu mengusap lembut puncak kepala Desi. Membungkuk sedikit mensejajarkan tingginya dengan gadis itu. Melihat Desi lama. "Liatin apa?" tanya Desi sedikit salah tingkah ditatap seperti itu.


"Liatin pacar aku dong. Emang liatin siapa lagi?" Revan mengedipkan sebelah matanya menggoda Desi. Dirinya nggak pernah mengira bahwa bakalan sebucin ini kepada gadis yang pernah menjadi mantannya itu.


"Nggak usah banyak ngomong. Minggir ih" Desi mendorong sedikit tubuh Revan supaya lebih berjarak lagi dengannya.


"Mesum ya kalian!" Dina datang dari arah belakang Desi. Dirinya menatap penuh curiga ke arah sahabatnya itu. Apa yang sudah dilewatkannya?


"Dih, siapa juga yang mesum sih? Nggak ada!" Desi langsung membantah pernyataan Dina itu. Enak saja dirinya dituduh demikian. Bahkan mereka nggak melakukannya juga.


"Ya terserah kalian juga sih. Bukan urusan gue" Dina berjalan mendekat ke arah Desi, dan berdiri di sebelah sahabatnya itu.


"Sejak kapan kamu di sini Va?" tanyanya pada Revan. Pasalnya setelah meninggalkan Desi tadi, dirinya cukup heran juga dengan sahabatnya itu. Biasanya setelah berbicara dengan Dina, Desi bakalan langsung menyusulnya. Tapi tadi itu nggak sama sekali, lalu Dina memutuskan untuk kembali berbalik arah. Eh tau taunya sudah ada Revan di sana. Dina menunggu sejenak, barulah dirinya mendekat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.


"Hmm, lumayan lama sih Kak. Aku ngikutin kalian" Revan nyengir kuda ketika Desi memicingkan mata curiga ke arahnya.


"Ya Allah Beb, mana ada aku mata-matain. Aku tadi kebetulan lihat mobil kamu di simpang lampu merah, jadinya aku ikutin ke sini" Revan menjelaskan secara rinci. Dirinya takut terjadi kesalahapahaman lagi.


"Beneran?" tanya Desi lagi.


"Iya Beb, sumpah!" Revan menjawab yakin. Karena memang itu kenyataannya.


Tidak ada lagi tanggapan dari Desi. Gadis itu memilih melanjutkan langkahnya untuk melihat-lihat baju yang lain.


"Kak Dina, kita nonton aja yuk?" usul Revan yang masih berdiri dekat Dina.


"Terus aku jadi nyamuknya gitu di antara kalian?" Dina tidak terima jika dirinya hanya sebagai penonton kemesraan antara sahabatnya, Desi, dan Revan, si calon adik ipar.


"Nggak juga Kak. Kan ada Bang Deni" mendengar jawaban dari Revan itu sukses membuat kepala Dina berputar ke segala arah. Seolah-olah sedang mencari sosok Deni. "Bang Deni belum nyampe Kak. Lagi di jalan dia" Revan menjawab apa yang ada di pikiran Dina. Kakak iparnya ini mudah sekali ketebak.

__ADS_1


"Aku nggak nyariin Deni kok" sanggah Dina cepat, merasa telah tertangkap basah.


"Haha, lucu kamu Kak! Yuk beli tiketnya dulu" Revan segera menyusul Desi, dan menarik tangan pacarnya itu untuk segera keluar dari toko baju ternama yang mereka kunjungi setelah membisikkan sesuatu.


Dina tampak mengikuti mereka dari belakang dengan langkah gontai. Hatinya lelah ketika matanya melihat orang-orang yang terlihat banyak berpasangan-pasangan di sana. Hanya segelintir saja yang sendirian sepertinya. Lebih parahnya lagi, dirinya berjalan tepat di belakang dua orang yang dengan tidak tahu dirinya malah bergandengan tangan. Dina ingin sekali menarik kedua tangan itu, dan melepaskannya secara paksa.


"Dua-duanya sama aja. Sama-sama nggak punya perasaan!" omelnya sambil berjalan dengan kepala menunduk. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika kepalanya menabrak sebuah dada bidang seseorang. "Maaf, saya nggak sengaja" Dina membungkukkan badan sejenak lalu melanjutkan langkahnya tanpa melihat siapa yang dirinya tabrak tadi.


"Mba, jalannya jangan nunduk dong. Ntar nabrak lagi. Untung nabrak saya, kalau nabrak orang lain gimana?" suara yang tidak asing di belakangnya itu membuat Dina segera memutar tubuhnya.


"Deni!" pekik Dina sedikit tertahan. Dirinya tidak menyangka orang yang ditabraknya tadi adalah Deni, tunangannya. Kok aku bisa nggak ngeh sih kalau itu Deni? Batinnya bertanya-tanya.


"Iya ini aku Yang. Makanya kalau jalan itu fokus! Ntar kalau kamu jatuh gimana? Atau nabrak orang lain? Orangnya cowok? Mana boleh. Nggak, nggak" Deni menggelengkan kepala pelan di akhir kalimatnya. Ada-ada saja laki-laki ini.


"Iya, aku minta maaf ya karena udah nggak fokus" Dina segera menggandeng tangan Deni, mencoba bersikap manja kepada tunangannya itu. Boleh-boleh saja kan?


Deni hanya tersenyum kecil, lalu mengusap puncak kepala Dina pelan.


"Makan dulu yuk" ajak Deni ketika langkah mereka beriringan untuk segera menyusul Revan dan Desi yang sudah tidak terlihat lagi punggungnya.


Sebenarnya Desi sudah sedari tadi menyadari keberadaan Deni yang berada di belakang mereka. Namun dirinya diam saja, mengikuti permainan apa yang sedang dimainkan oleh Deni setelah mendapatkan kode dari laki-laki itu. Ada-ada saja kelakuan calon dokter yang satu ini.


"Kok makan? Kan tadi kata Revan mau nonton!" sanggah Dina cepat. Masa iya Deni nggak diberi tau oleh adiknya itu?


"Kamu mau nonton?" tanya Deni pelan, sambil melirik ke arah Dina yang ada di sebelahnya.


"Hmm" Dina tampak ragu, antara ingin menonton atau tidak.


"Yaudah, kita makan dulu. Baru setelahnya nonton. Gimana?" usul Deni. Dirinya sengaja mengajak Dina makan terlebih dahulu, karena Deni hapal sekali dengan kebiasaan Dina yang malas makan itu.


"Baiklah" Dina menyetujui usulan Deni, lalu dirinya pasrah di bawa Deni makan di mana saja. Toh bukan dirinya juga yang bakalan membayar, wkwk. 

__ADS_1


__ADS_2