
"Selamat ya Van. Sekarang lo sudah benar-benar mau jadi orang" Deni memberikan ucapan selamat kepada sang Adik. Tapi kata terakhirnya tersebut membuat Revan sedikit agak merasa kesal.
"Menurut lo gue selama ini bukan orang? Sembarangan aja tu mulut lemes lo ngomong" balas Revan tidak terima. Dasar Abang payah, nggak ada manis-manisnya.
"Haha, intinya kan sama. Pokoknya selamat aja deh. Ga bisa gue berkata-kata manis. Apalagi buat lo" Deni terus saja membuat bocah laki-laki yang mulai beranjak dewasa itu kesal.
"Udah deh. Nggak usah membuat hari yang bagus ini menjadi buruk" Dina menengahi perdebatan absurd tersebut. Lalu dirinya menyerahkan satu buah buket bunga yang dirangkai indah kepada Revan. "Selamat lulus ya Van. Semoga apa yang kamu dapatkan sekarang ini tidak membuat kamu lengah. Masih panjang jalan kamu ke depannya. Semangat untuk melalui hari-hari yang esok entah bagaimana perjuangannya" ujar Dina tulus.
Entah kenapa, hari ini Dina sangat senang sekali bisa mendampingi Revan di acara kelulusannya tersebut. Rasanya dirinya benar-benar sudah dianggap keluarga oleh keluarga Deni. Kehidupan yang belum pernah dirasakannya sebelumnya.
Tante Rini juga memesankan baju seragam untuk mereka berdua. Semakin komplitlah rasa bahagia yang dirasakan oleh Dina.
Dina yang memakai kebaya borkat dan rok batik, bersanding dengan Deni yang memakai kemeja batik motif yang sama dengan rok Dina, dipadukan dengan celana hitam panjang. Jelas sekali, mereka berdua terlihat tidak seperti orang tua murid, malainkan pasangan baru yang sedang melakukan resepsi tunangan.
Semua mata tertuju kepada pasangan sempurna ini. Awalnya Dina merasa sedikit risih, tapi demi Revan dirinya harus terbiasa.
"Makasih Kak. Makasih juga sudah mau datang ke sini" Revan menerima buket bunga besar tersebut. Dirinya sedikit merasa agak aneh ketika memeluk bunga yang indah itu. Kenapa harus bunga sih? Dan kenapa warnanya harus ini? Batinnya bertanya-tanya.
Turun sudah harga dirinya ketika melihat bunga yang ada dalam dekapannya yang berwarna merah muda itu. Warna yang cantik emang, tapi tidak untuk Revan.
Bunga tersebut merupakan pilihan Dina. Dina merasa bunga tersebut adalah bunga yang paling cantik dibandingkan dengan bunga-bunga yang lain, yang ada di toko ketika dirinya dan Deni membeli tadi.
Tapi kan itu bukan buat kamu Din, arggh. Dina dan seleranya benar-benar ya.
Revan, laki-laki itu memakai pakaian yang seragam dengan teman sekelasnya.
Awalnya sang Mama juga memaksa dirinya untuk memakai seragam yang sama dengan sang Kakak. Tentu saja Revan menolak usulan tersebut. Karena dirinya sudah memiliki seragam sendiri. "Tapi nanti harus dipakai ya, saat poto keluarga" titah Tante Rini yang diangguki langsung oleh Revan.
Ya, Tante Rini sudah menyiapkan segalanya untuk menyambut kelulusan si anak bungsu. Hanya saja, dirinya tidak bisa menghadiri kelulusan tersebut karena ada satu urusan yang mengharuskan dirinya ke sana. Begitu juga dengan sang suami yang tidak bisa meninggalkan urusannya. Pasangan yang sangat sibuk.
"Masih ada urusan? Atau nggak kita pulang aja. Gue ada kuliah nanti jam tiga" ujar Deni sambil melirik jam yang melingkar di lengannya. "Sekarang sudah pukul satu siang, masih ada waktu satu jam lebih lagi" lanjutnya sambil melirik ke arah Revan.
Revan tidak memberikan tanggapan. Dirinya sibuk dengan ponsel yang ada di genggamannya. Sepertinya laki-laki ini sedang menunggu seseorang.
"Lo dengar gue nggak sih?" Deni mengetuk pelan kepala Revan. Sepertinya Revan tidak mendengarkan sama sekali apa yang diucapkan oleh sang Abang.
"Apa?" tanyanya sambil menatap heran.
"Dahlah. Gue mau pulang. Kalau lo masih mau di sini, ya terserah" Deni segera beranjak dari sana. Tapi berbeda dengan Dina, gadis itu masih mematung di tempat yang sama. "Ayo Yang. Kamu pulang bareng aku atau Revan?" tanya Deni yang berada agak jauh dari dirinya.
"Sama kamu. Tunggu bentar!" jawabnya. Lalu Dina menghadap ke arah Revan. "Kamu nungguin Desi ya?" tanyanya kepada laki-laki yang baru lulus SMA tersebut. Tidak ada tanggapan, yang ada hanya tatapan yang tidak seperti biasa, alias salah tingkah. "Dia nggak bisa datang. Lagi ada urusan katanya" Dina memperlihatkan pesan terakhir yang dirinya terima dari Desi.
"Siapa yang nungguin dia? Nggak tuh" jawab Revan cuek. Pura-pura tidak peduli.
"Yaudah kalau gitu. Aku pulang duluan ya. Nanti jangan malam-malam pulangnya!" titah Dina yang diangguki Revan. Patuh benar wkwk.
"Hati-hati Kak" pesannya pada Dina yang sudah melangkah menjauh. "Kok nggak ngabarin gue sih?" sungutnya sambil melirik ponselnya kembali.
Revan melangkahkan kaki menuju ke arah teman-temannya. Suasana di aula tersebut masih cukup rame. Masih banyak siswa yang menghabiskan waktu di sana secara bersama. Nampak para orang tua sudah mulai beranjak, dan meninggalkan anak-anaknya yang masih ingin bertahan.
Revan duduk di sudut aula dengan lesu. Seperti seorang yang tidak ingin hidup lagi. Sambil terus menatap layar ponselnya. Benar-benar ya kelakuan bocah satu ini. Semakin nggak jelas setelah lulus sekolah.
"Ngapain lo di sini?" seseorang menghampiri Revan. Lalu duduk di sebelahnya. "Lagi nungguin kabar dari mantan?" tebaknya, dan tepat sasaran.
__ADS_1
"Apaan sih lo Dim. Siapa juga yang lagi nungguin kabar dia" tolak Revan tidak terima karena sudah tertebak duluan.
"Haha, ngaku aja kali. Kok gue nggak lihat dia datang? Nggak lo undang atau gimana?" tanya laki-laki yang bernama Dimas itu, lagi.
"Nggak bisa datang, katanya" jawab Revan tidak sengaja, dan merutuki dirinya kemudian.
"Tuhkan, lagi nungguin. Haha, semoga balikan aja deh kalian berdua" Dimas berujar sambil menepuk pelan pundak Revan. "Gue ke sana dulu ya" pamitnya sebelum beranjak dari sana. Revan tidak memberikan tanggapan, karena dirinya sibuk meng-aamiinkan doa Dimas barusan.
...
Pukul lima sore, Revan masih enggan untuk melangkahkan kakinya menuju rumah. Bahkan laki-laki itu sekarang berada di taman yang berada di sekitar lingkungan sekolah.
"Kamu di mana? sudah pulang?" sebuah pesan masuk dari Desi. Seketika raut wajah yang tadi murung berubah jadi cerah lagi. Ada apa dengan laki-laki ini?
"Masih di sekolah. Di taman" jawabnya singkat. Sebenarnya ada banyak sekali yang ingin dikatakannya kepada gadis tersebut.
Ya, hubungan mereka sudah lama membaik. Sudah tidak ada lagi kata-kata pedas yang mewarnai kebersamaan indah mereka. Sepertinya mereka berdua sudah sepakat untuk melupakan masa lalu. Masa lalu yang sangat memalukan jika untuk dikenang. Entah sejak kapan hubungan itu berubah. Yang paling penting adalah, mereka berdua bahagia selama menjalaninya, itu sudah cukup. Dan author sudah merasa senang wkwk.
"Jangan ke mana-mana. Tunggu aku!" balasan dari Desi. Seketika senyum terbit di bibir tipis Revan. Laki-laki tersebut sepertinya sudah sangat menunggu kehadiran gadis yang dulu katanya bar-bar itu.
Revan tidak membalas lagi. Dirinya mendudukkan dirinya di kepala mobil. Tangannya sibuk merapikan rambut dan juga kemejanya yang sudah mulai tampak kusut.
Seseorang yang tidak jauh dari sana melihat sambil menahan tawa. Dia adalah Desi. Sebenarnya Desi sudah sedari cukup lama berada di lingkungan sekolah Revan ini. Sebelum dirinya mengirimkan pesan kepada laki-laki itu. Awalnya Desi ingin mencari terlebih dahulu di mana laki-laki tersebut berada, tapi tak kunjung menemukan wujudnya, Desi memilih untuk menghubungi saja.
"Ngapain di sini?" tanyanya dari arah belakang Revan. Revan seketika menoleh ke sumber suara dan langsung berdiri dari duduknya.
Tidak ada jawaban. Laki-laki itu merasa curiga dengan kehadiran Desi yang begitu cepat. Jangan-jangan dia sedari tadi ada di sini? Tanyanya dalam hati. Tadi gue ngapain aja ya? Nggak aneh-anehkan? Pertanyaan-pertanyaan konyol berkecamuk di kepalanya.
"Selamat sudah lulus dari SMA. Maaf ya, aku telat datangnya" Desi berujar sambil terus mendekat ke arah Revan. Gadis itu mengulurkan sebuah kotak yang ada di tangannya. "Buat kamu" lanjutnya setelah berada di samping Revan.
"Kenapa nggak datang?" bukannya menerima kado tersebut, Revan terlebih dahulu melontarkan pertanyaan.
"Aku ada urusan" jawab Desi pelan. Tangannya masih menggantung di udara.
"Kok nggak ngabarin aku? Apa susahnya sih buat ngabarin doang?" omel Revan. Seketika Desi terkejut menghadapi tingkah Revan. Tidak pernah dia temui Revan yang seperti ini semenjak dirinya mengenali laki-laki tersebut. Biasanya Revan sangat cuek, dan tidak peduli sama sekali. Ada apa dengan laki-laki ini? Batinnya.
"Ih, kok malah ngomel-ngomel sih. Iya aku minta maaf karena nggak ngabarin kamu. Tapi kan aku sudah ngabarin Dina Van. Kan sama aja" bela Desi, berusaha berkata dengan intonasi yang pelan. Tidak pakai emosi. Meskipun dirinya tidak terima disalahkan seperti ini.
"Bedalah. Ngabarin Kak Dina kamu bisa. Kok ngabarin aku nggak bisa?" lagi-lagi Revan memburu Desi dengan berbagai macam pertanyaan.
Sepertinya kesabaran seorang Desi sedang diuji. Dan yang membuat kesabaran Desi teruji tersebut adalah seorang laki-laki yang baru resmi lulus dari SMA beberapa jam yang lalu. Haha, parah.
"Udah belum ngomel-ngomelnya? Atau mau lanjut? Ini tangan gue pegel loh. Kalau lo nggak mau nerima hadiahnya, buang aja. Percuma juga gue datang ke sini, nggak ada harganya" seketika cara bicara Desi berubah. Oke, stok sabar yang ada pada diri Desi sudah habis ternyata. Nggak bisa pura-pura manis lagi.
Rasanya dirinya begitu lelah karena telah melakukan perjalanan yang cukup jauh, dan sekarang ditambah lagi menghadapi bocah labil yang ada di hadapannya ini.
"Maaf" ujar Revan pelan. Sepertinya dirinya sudah sangat keterlaluan. Emang dirinya siapa sih? Bisa-bisanya seorang laki-laki yang tidak ada apa-apanya ini berharap lebih kepada Desi? Gadis yang begitu sempurna. Bahkan dirinya baru beberapa jam yang lalu melepaskan status pelajarnya. Apa yang perlu dibanggakan dari dirinya? Nggak ada. Bahkan satu pun. Eh ralat, ada satu yang bisa dibanggakannya. Yaitu ketampanannya yang tiada tara, wkwk.
Lo pikir wanita akan kenyang dengan lo modal tampang doang? Elah. Van Van.
Revan meraih hadiah yang ada di tangan Desi. "Kalau nggak suka, buang aja" ujar Desi masih dengan nada dinginnya yang kentara.
"Ikhlas nggak sih ngasihnya?" Revan kembali ke sifatnya yang semula. "Kalau nggak ikhlas, nggak usah ngasih. Nggak usah datang juga sekalian. Aneh!" Revan meletakkan hadiah tersebut di kepala mobil. Lalu dirinya melangkahkan kaki sedikit menjauh dari sana.
__ADS_1
Drama apa sih ini? Apa yang terjadi di antara mereka berdua? Sepertinya belum ada yang benar-benar dewasa di antara mereka. Lebih tepatnya Revan.
"Ya ikhlas lah. Kalau aku nggak ikhlas, aku nggak akan datang ke sini. Ngejar-ngejar taksi setelah sampai di bandara hanya untuk bisa ketemu kamu. Dan hadiah ini, sudah sedari dulu aku persiapkan" nada bicara Desi sudah mulai melunak. Dirinya harus mengalah. Jika api lawan api, maka permasalahan yang nggak jelas asal mulanya ini pasti akan berlanjut.
Dirinya berada tepat di belakang Revan. Laki-laki tersebut membelakanginya.
Jika dilihat dari belakang seperti ini, Revan tampak seperti seorang Dewasa yang sesungguhnya. Dirinya memiliki tubuh tegap yang cukup berisi. Bahkan tingginya sudah hampir menyamai tinggi Deni. Basketlah yang membuat tubuhnya tumbuh tidak seperti anak SMA pada umumnya. Tidak salah sih, dulu Desi sempat mengira remaja tanggung yang belum lulus sekolah tersebut merupakan seorang mahasiswa.
"Ngadep sini deh" Desi menepuk bahu Revan pelan. Untung dia memakai sepatu hak yang cukup tinggi, jadi dirinya tidak begitu pendek jika berhadapan langsung dengan Revan seperti ini.
Laki-laki tersebut menghadap ke arah Desi. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Tidak seperti tadi. Bahkan wajah tampannya tampak ditekuk. Gemesh.
Desi maju beberapa langkah, dan sialnya Revan malah mundur. Sudah seperti lirik lagu dangdut yang sempat viral saja. Karena ada pagar pembatas, jadi kaki Revan berhenti tepat setelah tubuhnya menempel pada pagar tersebut.
Tubuhnya dan tubuh Desi sudah begitu dekat. Revan merasa was-was ketika menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Emang apa yang lu fikirkan Van?
"Ke ... Kenapa?" tanyanya sedikit gugup.
Detik berikutnya Desi sudah mendekap erat pundak Revan. Seketika laki-laki tersebut tubuhnya menegang. Tidak terduga. Desi hanya tersenyum samar ketika menyadari hal tersebut.
"Rileks aja napa sih!" bisik Desi di telinga Revan. Sesekali dirinya mengusap pelan punggung laki-laki tersebut.
Revan diam, enggan memberikan tanggapan. Dirinya sibuk memikirkan kapan terakhir kali dirinya dipeluk oleh wanita selain sang Mama?
"Semoga cepat dewasa ya. Supaya aku tidak menahan emosi mulu setiap menghadapi kamu" bisik Desi lagi. Tapi itu membuat Revan merasa sedikit tersindir. Dirinya melepaskan dekapan tersebut. Lalu mundur satu langkah.
"Apaan tuh maksudnya?" tanyanya tidak terima.
"Kan emang gitu kenyataannya!" jawab Desi sambil berusaha menahan tawa.
"Dahlah. Malas" dengus Revan pelan.
"Kan, kan. Kapan sih pacar aku ini dewasanya?" ujar Desi gemesh sambil mencubit kedua belah pipi revan dengan kedua tangannya. Setelahnya dirinya tersadar, lalu segera menjauhkan tangannya dari sana.
Belum sempat tangan itu menjauh, Revan sudah meraihnya terlebih dahulu. Tatapan laki-laki itu sulit diartikan.
"Maaf, aku salah ngomong" Desi berujar sambil menggigit bibirnya pelan.
"Benaran?" Revan memastikan ucapan tersebut sambil terus menatap ke arah mata Desi.
"Hmm" gumam gadis itu pelan. Bahkan sekarang kedua tangannya masih digenggam erat oleh Revan. Ingin kabur pun tak bisa.
"Yaudah. Bagaimana kalau kita benaran pacaran aja? Biar itu nggak jadi salah ngomong lagi" Revan berujar serius sambil terus-terusan menatap Desi.
Seketika gadis itu menjadi gugup. Bukan ini yang dia inginkan. Bukan, bukannya dia tidak menginginkan hal tersebut, hanya saja ini bukan moment yang pas.
"Bagaimana?" tanya Revan lagi.
Desi tidak mampu berucap lagi. Dirinya cukup terkejut dengan keberanian laki-laki ini.
Anggukan kepala Desi menjadi bukti bahwa mereka sekarang sudah resmi menjalin hubungan kembali. Sekarang giliran Revan yang memeluk erat tubuh Desi. Jangan sampai putus lagi ya Tuhan, doanya dalam hati.
"Mari kita pulang. Sudah mau magrib" Desi berujar setelah pelukan mereka terurai. Revan hanya membalas dengan anggukan kepala. Dirinya masih tampak kikuk. Lalu kakinya melangkah ke arah mobil yang terparkir. Desi mengikuti dari belakang. "Anterin pulang tapi" lanjut Desi sebelum mereka masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Siap Bebi!" ujar Revan mantap sambil tersenyum manis. Lalu mereka sama-sama tersenyum.
Aduh, kok manis sekali sih mereka.