
#Author Pov
Setelah sampai di tempat yang ingin dituju, yaitu sebuah mal. Dina dan Desi memutuskan untuk melihat-lihat sebentar, sambil menunggu penayangan film yang ingin mereka tonton.
Tangan Desi sudah penuh dengan tas jinjingannya. Ternyata Desi tidak hanya sekedar menonton tapi juga berbelanja. Desi juga membelikan satu buah tas kecil yang cantik untuk Dina. Anggap saja sebagai PJ katanya (pajak jadian). Dan itu mau tidak mau, Dina harus menerimanya.
Saat ini mereka sudah masuk ke dalam studio, masih menunggu penayangan film yang akan dimulai. Di tangan Desi juga sudah terdapat berbagai macam makanan ringan dan juga minuman. Tas-tas belanja tadi sudah tidak ada lagi di tangan Desi, karena mereka meletakkan barang-barang tersebut terlebih dahulu ke dalam mobil. Dina hanya menatap heran dengan sahabatnya yang satu ini. Badannya saja yang kecil, tapi makannya banyak.
Tiba-tiba saja seseorang duduk di samping kiri Dina, dan itu sukses membuat Dina menoleh ke sebelahnya. Baunya kenal nih, batin Dina.
Antara senang dan kaget melihat siapa yang ada di sebelahnya saat ini. Deni. Ya, dia adalah Deni.
"Deni kamu ..." Dina tercekat bingung.
"Kenapa?" tanya lelaki itu santai. "Aku boleh gabung kan?" tanyanya lagi.
"Eh apa? Oh iyaa ..." Dina tergagap sendiri di samping Deni. Seketika dia menolah ke kanannya dan tidak menemukan Desi di sana. Kemana ni anak? Batin Dina sambil celingak-celinguk mencari sosok Desi.
"Desi di belakang bareng temanku, Billy" seolah tahu apa yang ada di pikiran Dina, Deni memberikan penjelasan sebelum Dina bertanya.
Billy?
Ya, Billy adalah teman satu jurusan Deni sekaligus pacar Desi.
Ternyata ini semua telah diatur oleh Desi sendiri tanpa sepengetahuan Dina tentunya. Desi menghubungi Billy dan mengajaknya ke sini untuk menonton bersama, dan meminta Billy untuk mengajak serta Deni juga. Karena Desi tahu ada raut kecewa dari wajah Dina di saat dia tidak bisa mengiyakan ajakan Deni tadi siang.
"Selamat bersenang-senang sayang. Muaacch 😘" pesan singkat dari Desi. Dina hanya bisa menghela nafas panjang mengingat kelakuan sahabatnya ini. Tapi dia suka.
Sepanjang penayangan film, Dina hanya fokus menatap layar lebar yang ada di depannya. Entah benar-benar menikmati film tersebut atau hanya sekedar mengalihkan dirinya dari tatapan laki-laki yang ada di sampingnya ini.
Benar sekali. Dari tadi Deni tidak melepaskan pandangannya sedikit pun dari wajah Dina. Wanita mana yang tidak risih dipandangi seperti itu? Termasuk Dina sekalipun.
Seketika fokus Dina teralihkan pada ponselnya yang tiba-tiba bergetar. Sedikit ragu Dina menerima panggilan tersebut setelah melihat siapa yang meneleponnya. Yaitu Buk Tia. Tetangga yang sekaligus seseorang yang dia percayai untuk menjaga Kakeknya ketika dia sedang kuliah.
Setelah menerima panggilan tersebut, Dina segera berdiri dari bangkunya, dan hendak berjalan keluar. Melihat itu Deni menahan langkah Dina dengan menarik pergelangan tangannya, dan membuat Dina terduduk kembali di bangkunya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya laki-laki itu pelan karena takut akan mengganggu ketenangan penonton lain.
"Ak ... Aku harus pu ... Pulang" suara Dina seketika menghilang dan bergetar. Wajahnya memucat dan juga panik. Deni berusaha membuat Dina tenang terlebih dulu dengan memeluk tubuh gadis itu.
"Katakan padaku, apa yang terjadi? Hmm" bisik Deni pelan sambil mengusap pelan punggung Dina. Dina hanya menggelengkan kepalanya karena tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Bukan, bukannya dia tidak tahu, tapi dia bingung dan juga kalut mendengar kabar yang dia dapatkan barusan.
Dina melepaskan pelukan Deni. Dia harus pergi. Segera dia langkahkan kakinya keluar dari studio. Desi yang memperhatikan dari belakang juga tampak bingung dengan tingkah sahabatnya tersebut. Setelah mendapatkan respon dari Deni barulah dia sedikit agak tenang. Dia juga melihat Deni menyusul Dina di belakang.
"Dina, aku antar" Deni menarik tangan Dina yang hendak menuruni eskalator mal. Deni juga melihat kedua mata Dina tampak berair. Meskipun dia tidak tahu apa yang terjadi saat ini, tapi dia bisa merasakan bahwa suatu hal buruk pasti sudah menimpa Dina.
Tanpa membalas ucapan Deni, Dina menuruti langkah Deni yang menariknya ke arah parkiran mobil.
"Sekarang katakan padaku, kita harus ke mana?" Deni bertanya dengan suara pelan.
"Rumah sakit. Kakek kambuh lagi" ucap Dina singkat. Tanpa kata-kata lagi Deni segera melajukan mobilnya ke tempat yang di sebutkan oleh Dina. Rumah sakit.
"Suster, di mana Kakek saya?" Dina langsung menanyai suster yang pertama kali dia jumpai di saat kakinya menginjak rumah sakit. Nampaknya dia sudah mengenali suster tersebut. Karena tanpa bertanya terlebih dahulu suster itu sudah menunjukkannya kepada Dina.
Deni hanya mengekori ke mana langkah kaki wanita itu pergi. Dia tidak mau hal buruk lainnya menimpa wanita itu. Seperti saat ini. Karena terlalu panik, Dina menabrak ibu-ibu yang sedang berjalan berlawanan dengannya. Seketika tubuhnya terjatuh ke lantai. Deni segera menghampiri tubuh lemah tersebut dan memapahnya. "Pelan-pelan Na" bisiknya.
Di depan ruangan ICU, sudah tampak seorang laki-laki paruh baya. Om Pras. Yang tak lain adalah Papa Deni. Deni menghubungi Papanya setelah mengetahui apa yang terjadi setelah Dina mengatakan ingin ke rumah sakit.
"Papa sudah sampai?" Deni menanyai Papanya itu sambil mendudukkan Dina di kursi panjang. Tubuh gadis itu sangat lemah, dan tampak pucat sekali.
"Iya. Bagaimana dengan Dina?" Om Pras beralih menatap Dina.
"Dia syok Pa. Mungkin butuh istirahat dulu" Deni menggenggam erat tangan dingin itu.
"Ya sudah, kamu bawa ke ruang rawat dulu. Lalu minta dokter untuk memeriksanya. Papa akan menunggu di sini" Deni mengangguki kata Papanya tersebut. Lalu menggendong tubuh Dina untuk segera diperiksa.
...
"Kakek ... Kakek ... jangan tinggalin Dina Kek. Dina sayang sama Kakek" Dina menggigau di dalam tidurnya. "Kakeeek" Dina terbangun, dan langsung menangis sesegukan. Itu sukses membuat Deni terkejut.
"Dina. Hey. Kamu kenapa? Apakah ada yang sakit?" terlihat kepanikan yang luar biasa di wajah Deni. Segera dia memberikan segelas air putih kepada Dina. Dina meneguk air putih tersebut hingga tandas.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Kakek? Kakek baik-baik saja kan? Kakek tidak kenapa-napa kan?" tanya Dina panik.
"Sssttt tenang dulu. Kakek baik-baik saja kok. Sekarang sudah dipindahkan ke ruangan pemulihan" Deni berusaha menenangkan Dina.
"Apakah aku boleh mengunjunginya?" tampaknya Dina sudah sedikit agak tenang.
"Tentu. Tapi ada syaratnya" seketika mata Dina membola mendengar penuturan dari laki-laki itu. Bagaimana tidak, yang sakit kan Kakeknya, kenapa harus pakai syarat segala jika hanya untuk mengunjungi.
"Apa?" tanyanya pelan.
"Kamu harus makan dulu. Aku sudah membelikan makanan" Deni segera meraih makanan yang sudah dia beli di kantin rumah sakit itu.
"Tapi aku tidak lapar" Dina mencoba mengelak. Karena saat ini dia sedang tidak berselera untuk makan. Yang dia inginkan hanyalah untuk melihat langsung bagaimana keadaan Kakeknya.
"Tidak boleh kalau gitu" ucapan Deni sontak merubah raut wajah Dina. Kecewa. "Makan dulu, setelah itu aku antar ke tempat Kakek" tambah Deni lagi. Sebenarnya dia tidak tega bersikap seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi. Setelah mengetahui dari Desi kalau Dina belum makan sedikit pun dari tadi siang, dan sekarang sudah pukul sepuluh malam. Deni harus melakukan sesuatu. Terhitung sudah lima jam lebih Dina pingsan.
"Iya aku makan" Dina menjawab pelan. Senyum kecil tercetak di bibir Deni. Good girl, batinnya.
Setelah menyuapi Dina dengan sabar. Deni segera mengantarkan Dina menemui Kakeknya. Di sana sudah ada Papa dan juga Mama Deni yang menunggui Kakek Dina. Tak lama setelah itu masuk juga Revan yang membawa makanan di tangannya.
"Kamu sudah baikan Sayang?" Mama Deni mendekati Dina dan langsung memeluk tubuh gadis itu.
"Alhamdulillah sudah Tante. Bagaimana dengan Kakek Tan?" Dina beralih ke arah Kakeknya.
"Kakek kamu sudah stabil kok Nak. Kita hanya menunggu beliau sadar dulu" itu adalah jawaban dari Papa Deni, yang baru Dina ketahui ternyata beliau juga seorang dokter. Dan rumah sakit ini adalah milik keluarga Deni yang dikepalai langsung oleh Om Pras, Papa Deni. Waahh.
Selain kerja kantoran. Ternyata Papa Deni juga sesekali memantau perkembangan rumah sakitnya. Meskipun beliau jarang datang ke rumah sakit ini, tapi beliau mempunyai bawahan yang bisa dipercaya. Besar sekali harapannya kepada Deni setelah lulus nanti, dialah yang akan menggantikan posisinya. Yaitu menjadi kepala rumah sakit ini.
Berbeda dengan Deni yang lebih suka dengan dunia medis. Revan, adik Deni lebih suka dengan dunia bisnis. Papa Deni sudah menentukan penerus usahanya masing-masing. Deni akan mengurus segala hal yang bersangkutan dengan rumah sakit setelah resmi menyandang gelar dokternya kelak. Sedangkan Revan juga akan diberikan posisi sebagai direktur utama perusahan yang sedang dikelola oleh Papa mereka saat ini. Dengan syarat telah lulus kuliah juga tentunya.
Keluarga yang sempurna. Tapi semua itu tidak didapatkan dengan mudah oleh Deni dan Revan. Mereka berdua harus berusaha mati-matian dulu untuk mendapatkan posisi tersebut.
Deni harus kuliah dulu selama 5 tahun barulah dia bisa menikmati apa yang telah dia raih. Bahkan Revan yang sekarang masih SMA sudah diwanti-wanti oleh Papa mereka untuk segera kuliah di luar negeri setelah lulus nanti.
Meskipun berkali-kali juga Revan mencoba membujuk Papanya dan berharap dibolehkan untuk kuliah di Indonesia saja, tapi itu tidak ada pengaruhnya sama sekali. Untuk saat ini. Dan pada akhirnya Revan hanya bisa pasrah jika dia harus berpisah dengan sang Mama tercinta dan juga keluarganya yang tersayang. Demi masa depan. Dirinya masih berharap bahwa sang Papa berubah pikiran suatu saat dirinya sudah mau masuk kuliah nanti.
__ADS_1
***
Ges, jangan lupa mampir juga dicerita baru aku ya. Judulnya "JODOHKU KAMU", maaciw mwh 🤗❤