
Hari sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Dan kebetulan sekarang ini adalah hari minggu, jadi tidak membuat siapa saja buru-buru di pagi harinya.
Begitu juga dengan empat orang yang merasa belum menjadi dewasa sama sekali itu. Mereka masih bergelung di balik selimut tebal di kamar masing-masing. Deni satu kamar dengan Revan, bahkan mereka juga berbagi selimut yang sama. Abang Adik yang kompak. Ya mereka akan selalu kompak jika itu menyangkut masalah mata, alias tidur. "Tidak perlu berdebat jika mengahadapi hal yang sederhana ini. Buat senyaman mungkin. Apalagi untuk diri sendiri" jawab salah satu dari mereka saat ditanya Desi kenapa kompak sekali jika itu berhubungan dengan memanjakan diri.
Berbeda dengan dua orang gadis yang berada di kamar lainnya. Jangankan untuk berbagi selimut yang sama, bahkan mereka memilih kamar yang tempat tidurnya terpisah antara satu dan yang lain. Double bad. "Kenapa kamar yang kasurnya harus terpisah sih?" tanya Revan sebelum menemani mantan pacarnya itu memesan kamar seperti yang dia mau tadi malam.
"Gue kalau tidur suka muter-muter gitu. Jadi takut aja nanti Dina kena tendang pas gue tidur" Desi memberikan penjelasan atas kekepoan si mantan.
"Terus kemaren ketika lo tidur di kamar Dina lo nggak nendang-nendang kan? Emang lagi main bola? Ckck" Deni berdecak tak percaya dengan kebiasaan tidur gadis bar-bar ini. Nggak salah sih, karena sesuai dengan karakter orangnya.
"Nggak dong. Gue aja tidur di bawah" Jawab Desi memberikan penjelasan. Padahal Dina sudah memaksa dirinya untuk tidur di atas saja waktu itu, tapi dengan alasan kenyamanan sang sahabat, Desi keukeuh untuk tidur di lantai beralasan karpet dan juga alas kasur yang tebal.
"Kenapa nggak bilang? Kan bisa tidur di kamar yang lain" Revan berujar seolah-olah merasa kasihan dengan apa yang dialami Desi.
"Masih perhatian ternyata" celetuk Deni yang disambut anggukan oleh Dina.
"Dahlah" laki-laki remaja tersebut merasa lelah jika terus-terusan berdebat dengan sang Abang yang julitnya melebihi pembawa berita gosip artis di tv itu.
"Sekarang lo temanin Desi deh nyari kamar untuk mereka, biar Dina yang nemanin gue sementara" Deni berujar sambil menatap ke arah Dina. Gadis itu tidak memberikan respon apa-apa.
"Jangan modus lo Bang. Awas" ancam sang adik sebelum keluar dari kamar inap Deni. Desi menyusul di belakang.
"Enggak, elah. Palingan dikit ehe" Deni mendapat pukulan sedikit agak keras di bahunya akibat celetukan nggak jelas tersebut.
"Jangan macam-macam" ujar Dina sedikit agak galak.
"Mampus" teriak Revan sebelum benar-benar menghilang dari balik pintu.
...
"Bangun woi. Bangun!"
Pagi hari keributan kecil tercipta dalam kamar inap Deni dan Revan. Dua laki-laki itu masih bergelung nyaman dalam selimut.
"Astaga, ini sudah pukul sepuluh loh. Kebo banget sih" Desi terus meneriakan suara merdunya yang mampu merusak gendang telinga itu. Bahkan tanganya sibuk menyibak gorden. Jadilah sinar matahari yang sudah sangat meninggi masuk ke dalam kamar.
"Silau anjir!" umpat Revan. Tapi bukannya bangun, laki-laki itu malah menutup mukanya dengan bantal.
"Lah, kok tidur lagi siih? BANGUN WOI!!" teriak Desi mengeluarkan suara toanya. Itu sukses membuat Deni membuka kedua matanya.
"Berisik banget sih lo Des. Masih pagi juga" sungutnya masih memejamkan mata.
"Pagi apaan. Sudah pukul sepuluh ini" sambung Dina yang sedang sibuk membereskan barang-barang milik Deni. Mereka berencana untuk meninggalkan kota ini hari ini juga, setelah mampir dulu ke rumah saudara Dina. "Bangun cepetan. Mandi. Lalu kita sarapan" lanjutnya dengan suara yang tegas.
Deni dan juga Revan dengan malas-malasan keluar dari balik selimut. Kedua laki-laki itu masih tampak enggan untuk beranjak.
"Mau apa lagi? Ayo buruan!" titah Dina tegas. Itu sukses membuat Revan segera beranjak dari atas tempat tidur.
"Ngeri amat anjir. Dah kek Ibu tiri" sungut Revan melangkahkan kaki ke kamar mandi. Desi yang melihat betapa hebatnya Dina dalam menangani hal tersebut hanya diam duduk di sofa sambil merasa kagum.
"Aku nggak mandi ya Yang. Kan masih sakit" Deni merengek pelan kepada Dina. Tapi sayang, Dina tidak mengubrisnya. "Kalau kamu diam, berarti kamu setuju" lanjut Deni, dan itu sukses membuat Dina menatapnya dengan mata tajam.
__ADS_1
"Mau sembuh nggak?" tanya Dina dingin. Dirinya berdiri lalu meletakkan koper Deni di sebelah sofa. Lalu dirinya beralih menghadap Deni. Bulu kuduk Deni merinding mendengar suara dingin tersebut. Deni hanya mampu menjawab dengan anggukan kepala. "Mandi mangkanya, biar cepat sembuh!" lanjut Dina garang. Apa hubungan coba?
"Iya mandi" jawab Deni pelan sambil menundukkan kepala. Sudah seperti bocah yang kena marah oleh emaknya saja.
Lu nggak akan rugi, nurut aja udah. Batinnya.
"Apa susahnya sih buat mandi doang? Heran" sungut Dina, lalu mendudukkan dirinya di samping Desi. "Kan demi kabaikan diri sendiri juga. Gimana mau menjaga orang lain, menjaga diri sendiri saja tidak mampu" Dina terus mengoceh tanpa memperhatikan raut wajah Deni yang tampak bete, karena terus-terusan merasa tersindir.
"Van? Lo masih lama? Gue mau MANDI nih. Buruan!!" teriak Deni sedikit agak kesal, dan sengaja mengencangkan suaranya pada kata 'mandi' sambil menatap ke arah Dina. Dina tidak memberikan respon apa-apa. Pura-pura tidak peduli. Dasar ratu tega.
"Bang, ambilin handuk. Gue lupa bawa nih!" teriak Revan dari balik pintu kamar mandi. Karena tadi terlalu terburu-buru setelah mendengar titah Dina, dia lupa membawanya.
Bagi seorang Deni dan juga Revan, titah Dina sudah menjadi titah yang sangat wajib untuk dilakukan. Sama seperti titah sang Mama. Entah pakai santet apa, Dina mampu membuat orang yang secuek dan sebodo amat seperti Deni dan Revan itu sukses bertekuk lutut padanya.
Bagi mereka berdua, titah Dina merupakan titah sang Mama. Bahkan saat pertama kali Dina datang ke rumah mereka, Revan sudah bisa melihat betapa berharganya wanita yang dibawa oleh sang Abang tersebut. Apalagi setelah melihat perlakuan Mama tercinta ketika memanjakan tamunya yang sangat istimewa itu.
Tapi itu semua membuat Dina merasa tidak pantas mendapatkannya. Siapalah dirinya? Hanya seorang gadis biasa yang menumpang hidup pada keluarga kaya tersebut. Nasib baik sedang berpihak kepadanya. Meskipun dirinya sempat meragukan arti kebaikan yang telah diberikan.
Dina tidak salah, dia berhak untuk merasa salah paham dengan segala kebaikan yang selalu tercurahkan kepadanya itu. Dia berhak untuk merasa was-was terhadap setiap perlakuan yang dilakuka oleh orang-orang yang ada di rumah mewah itu. Dia berhak untuk merasakan semuanya.
Dan setelah dia pikir-pikir lagi, dia mencoba untuk memulai memahami arti dari semua itu. Mungkin ini cara Tuhan untuk membuat dirinya lebih bisa bersyukur lagi. Lebih bisa menghargai apa yang sudah ditakdirkan untuknya.
"Des, lo yang ngasih deh buat dia" Deni meminta Desi untuk memberikan handuk yang ada di balik pintu itu kepada Revan. Tapi langsung ditolak mentah-mentah oleh Desi.
"Apa-apaan. Kok gue sih? Lo aja Den. Malas banget" entah kenapa Desi merasakan suhu tubuhnya naik seketika. Padahal cuma disuruh untuk memberikan handuk saja kepada Revan. Apakah karena laki-laki tersebut merupakan sang mantan? Haha entahlah.
Jika ditanya mengenai perasaannya saat ini, jawaban Desi mungkin hanya satu. Yaitu tidak jelas. Apakah dirinya masih mengharapkan laki-laki yang katanya masih bocah itu? Apakah masih ada rasa yang sama, seperti waktu pertama kali mereka mencoba untuk memulai hubungan yang pada akhirnya juga berakhir itu? Entahlah. Hanya satu jawaban yang mampu menjawab pertanyaan tersebut. Yaitu, setiap kali bersama dengan laki-laki itu jantungnya masih berdebar. Bahkan sekarang debarannya lebih kencang dari debaran sebelumnya.
"Kok lama sih Bang?" lagi-lagi Revan berteriak dari balik pintu kamar mandi.
"Sabar anjir! Nih, buka pintunya" Deni mengedor-ngesor pintu dengan kakinya.
"Mana?" Revan mengulurkan tangannya dari dalam. Setelah meraih handuk dari Deni, dirinya kembali menutup pintu tersebut.
"Cepetan. Gue juga mau mandi!" teriak Deni sebelum beralih ke arah kopernya. "Barangku mana?" tanyanya pada Dina. Setelah tidak melihat kopernya di tempat semula.
Dina hanya mengangkat dagu memberikan petunjuk kepada Deni. Entah apa yang sedang dilakukan oleh gadis itu.
"Bang, gue minjam baju lo ya!" Revan keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk saja. Seketika itu sukses membuat Desi dan juga Dina mengalihkan tatapan mereka ke arah lain. Dirinya juga ikut membongkar koper sang Abang. Dan dirinya memilih pakaian yang menurutnya cocok untuk dipakainya. Kaos polos berwarna biru, dan celana pendek hitam.
Deni tidak menghiraukan Revan sama sekali, dirinya segera melangkah masuk ke dalam kamar mandi. "Tutup lagi kopernya" teriaknya pada sang adik.
"Siap bosqu" ujar Revan kembali memasukkan barang-barang yang sempat keluar dari dalam koper Deni. Setelah itu dia tersadar akan sesuatu, "Anjir gue bakal pakai baju di mana ini?" teriaknya pada sang Abang yang baru masuk kamar mandi itu.
Deni kembali keluar, "Buruan!" ujarnya pelan.
Sedangkan Dina dan Desi hanya diam melihat tingkah dua orang Kakak Adik ini.
Lima menit, Revan keluar. Dan tanpa aba- aba Deni langsung menerobos sang Adik yang sedang berada di ambang pintu. Lalu menutup pintu dengan tiba-tiba, membuat tubuh Revan terdorong ke depan."Sialan" umpat laki-laki itu pelan karena kesal dengan apa yang dilakukan oleh sang Abang.
Sepuluh menit berikutnya, Deni juga berteriak di balik pintu. "Van, mana handuk tadi? Sinii!" teriaknya kencang.
__ADS_1
"Iya iya. Ngapain sih lo teriak-teriak segala? Kek orang rimba" balas Revan yang juga berteriak. Apa bedanya kalian berdua? Astaga. "Niih" Revan mengetuk-ngetuk pintu kuat. Alias mengedor-ngedor dengan sekuat tenaga.
"Nggak usah pakai tenaga juga kali nyet" Deni menampakkan kepalanya dari balik pintu, tangannya menjangkau handuk yang ada di tangan Revan. Lalu kembali menutup pintu sedikit agak keras.
"ASTAGA ANJIR" ujar Revan sedikit kaget. Dirinya menuju ke arah ranjang, dan meraih ponsel. "Kak, kamu udah sarapan?" Revan bertanya ke arah Dina. Tapi bukan Dina yang menjawab, melainkan Desi.
"Belum. Kalian sih lama!" sungutnya. Sedari tadi Desi sudah mulai bete karena terlalu lama menunggu dua orang laki-laki ini bersiap-siap. Berbeda jauh dengan Dina yang terlihat santai. Mungkin sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini.
"Idih. Sewot aja lo" Revan menanggapi Desi dengan raut wajah tidak suka.
"Baju kotornya sudah dimasukin kantong?" tanya Dina kepada Deni yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Sudah Yang" Deni menjawab sambil sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk yang ada di tangannya. Dia melangkah menuju ke arah Dina yang ada di sofa. "Yang, keringin rambutku" ujarnya sambil mengulurkan handuk.
Dina meraih handuk tersebut, lalu menarik tangan Deni supaya duduk di depannya. Di atas karpet. Lalu mulai mengusap kepala Deni pelan dengan handuk.
Desi berkali-kali merasa kagum dengan sikap sabar yang dimiliki oleh Dina. Mulia sekali hati sahabatnya ini. "Kamu sudah sarapan Yang?" tanya Deni sambil melirik ke arah Dina. Dina menjawab dengen gelengan kepala. "Kenapa? Kok belum?" tanya Deni lagi.
"Jangan banyak nanya. Ini semua gara-gara kamu. Lama!" ketus Dina mengusap kasar rambut Deni. "Sudah kering. Masukin handuknya ke tempat baju kotor tadi" titah Dina yang langsung dituruti oleh Deni tanpa bantahan sedikit pun. Hahaha, benar-benar sudah seperti Ibu tiri.
"Sudah bereskan sekarang?" Desi berujar setelah cukup lama terdiam. "Deni, lo bawa mobil sendiri kan?" tanyanya yang dijawab anggukan kepala oleh Deni. "Kuat bawa mobil balik? Atau kita tinggalin aja satu mobil, nanti suruh supir gue yang jemput?" tanya Desi lagi sambil memberikan saran.
Mengingat di antara mereka berempat, hanya Dina yang tidak bisa membawa kendaraan roda empat tersebut. Karena saat ini tersedia dua mobil, jadi mereka membagi siapa yang akan satu mobil dengan siapa (ngomong apa sih lu thor?).
"Atau gini aja, gue bareng Dina, lo bareng Revan?" usul Desi lagi.
Tampak Deni sidikit berfikir terlebih dahulu. "Nggak. Biar gue aja yang bawa. Lu sama Revan aja. Biar gue sama Dina" jelasnya setelah menimbang-nimbang cukup lama.
"Lo yakin Bang?" Revan tidak yakin dengan kondisi sang Abang saat ini.
"Iya. Nanti kalau gue kenapa-kenapa, kalian yang gantiin" Desi hanya mengangguk-anggukan kepala sebagai tenggapan.
"Satu mobil aja kenapa sih. Kan kamu belum pulih benaran" ujar Dina ke arah Deni. Dia nggak tega membiarkan sang pacar membawa mobil sejauh ini dengan kondisi yang belum benar-benar pulih itu.
"Kan aku pengen sama kamu aja Yang" balas Deni tersenyum nakal kepada Dina.
"Modus lo. Sialan!" umpat Revan melihat tingkah laku sang Abang.
"Iri lo ya? Kan lo juga lagi berdua dengan Desi. Mana tahu, nanti sepulang dari sini kalian jadian lagi" Deni menatap raut Revan dan Desi bergantian. Bahkan kedua orang itu menatap kesal ke arahnya. "Jangan sia-siain kesempatan ya Dek" tambahnya sambil menyeringai nakal ketika melihat wajah sang Adik yang ditekuk itu.
"Sudah cukup ya basa-basi yang basinya ini. Sekarang mari kita pergi dari sini" ujar Desi sedikit agak keras. Itu sukses membuat Deni dan juga Dina terkekeh pelan. Sedangkan Revan masih menekuk wajahnya.
"Nggak ada yang tertinggal lagi kan?" tanya Dina memastikan sebelum menutup pintu. Karena dirinya tidak membawa apa-apa ketika datang ke sini, jadi dirinya hanya menjinjing satu kantong baju kotor Deni dan Revan beserta handuk yang digunakan oleh mereka.
Sedangkan Revan menarik koper sang abang yang lumayan besar itu. "Lo mau pindah Bang? Koper lo banyak juga isinya" tanyanya karena merasa cukup heran juga dengan barang bawaan sang Abang.
"Kalau Dina nggak mau balik, rencana gue bakalan emang mau pindah sih" jawabnya santai. Tangannya tidak membawa apa-apa selain ponsel yang ada di tangan kirinya itu. Sedangkan tangan kanannya menggenggam tangan Dina dengan erat. Seperti mau nyebrang.
"Sini aku bawa kantongnya. Nitip hp aku di tas kamu!" Deni meraih kantong yang ada di tangan Dina. Lalu menyodorkan ponselnya kepada Dina. Gadis itu memasukkan ponsel tersebut ke dalam tasnya.
Desi sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya. Cepat sekali jalan gadis itu, batin Revan. Laki-laki itu melihat ke sekeliling, tapi tidak menemukan sosok Desi.
__ADS_1