
"Lagi ngapain kamu?" pertanyaan Deni ketika melihat Dina yang sedang sibuk di dapur.
Saat ini hanya mereka berdua saja di rumah. Karena beberapa menit yang lalu kedua orang tua Deni baru saja berangkat ke luar kota untuk mengurus pekerjaannya. Setelah sebelumnya mereka pergi ke kuburan Kakek Dina terlebih dahulu.
Terhitung hari ini sudah hari ketiga Dina tinggal di rumah Deni.
"Menunda kematianku" jawab Dina acuh. Seketika kening Deni berkerut karena tidak mengerti dengan jawaban absurd sang pacar.
Pacar? Entahlah. Entah apa hubungan mereka saat ini. Yang jelas setelah semua berlalu hanya ada kecanggungan yang tercipta di antara mereka berdua. Apalagi setelah mereka tinggal bersama.
"Aku lapar" jawab Dina lagi, karena dia tahu jawaban yang dia beri tadi membuat laki-laki yang memakai kaos oblong dan celana pendek di sampingnya itu mengkerutkan keningnya
"Emang nggak ada makanan lagi? Kenapa harus masak sih?" tanyanya, karena merasa heran saja dengan apa yang dilakukan oleh Dina. Bukan apa, setahunya makanan di rumah ini tidak pernah kosong atau habis. Karena ART yang mereka miliki sudah diwanti-wanti oleh sang Mama untuk tidak mengosongkan stok makanan di rumah.
"Ada, tapi aku nggak bisa memakan masakan yang dimasak Bibi tadi" Dina menjawab dengan tangan yang tetap sibuk mengerjakan ini dan itu.
"Kenapa? Kamu nggak suka masakan yang dimasak Bibi?" Sepertinya jiwa kepo Deni naik ke permukaan nih.
Dina hanya merespon dengan gelengan kepala. Karena terlalu enggan untuk memberikan penjelasan.
"Kenapa?" lagi-lagi Deni mendesak Dina untuk memberikan jawaban yang jelas. Bahkan tubuhnya juga ikut-ikutan mendekat ke arah Dina.
"Aku alergi udang" jawab Dina singkat, dan mendorong tubuh Deni supaya sedikit menjauh dari dirinya. "Jangan dekat-dekat. Kamu ganggu tahu nggak" usirnya halus.
Ya, Dina memiliki alergi terhadap makanan yang berasal dari laut itu, kecuali ikan. Dia tidak ingat dari mana asal alergi itu, yang jelas setiap dia memakan makanan yang berasal dari laut -selain ikan- kulitnya akan gatal-gatal lalu membengkak. Bahkan kedua orang tuanya tidak ada yang menderita alergi yang sama dengannya. Kakek pun juga.
"Kenapa nggak minta tolong sama Bi Iyas aja sih? Kan Bibi bisa masakin untuk kamu" mendengar saran dari Deni tersebut membuat Dina menggelengkan kepalanya cepat.
"Kenapa?" tanya Deni lagi. Sepertinya pertanyaan kenapa kenapa ini sudah terlalu banyak ia lontarkan.
"Nggak tega. Tadi kan Bi Iyas udah masak banyak juga, masa iya aku suruh masak lagi. Pasti Bibi capek" Dina kembali melanjutkan kegiatannya.
"Kan minta tolong Na, bukan nyuruh-nyuruh" Deni tidak terima dengan alasan yang diberikan Dina.
"Kan konteksnya sama aja" lagi-lagi Dina menjawabnya santai. Keras kepala juga.
"Beda Dina"
"Sama Deniii"
"Beda"
"Dah ah, aku mau makan dulu. Kamu mau makan juga atau terus berdebat sama aku?" Dina akhirnya mengalah, karena perutnya yang sudah terasa sangat lapar itu meminta untuk segera diisi.
"Kan aku sudah makan tadi. Kamu aja yang makan, biar aku temanin" Deni beranjak pada meja makan sambil membawa satu buah piring untuk makan Dina. Sedangkan Dina membawa hasil masakannya.
"Makasih" ujar Dina setelah menerima piring yang disodorkan oleh Deni.
Disaat Dina sedang sibuk dengan makanannya, begitu juga dengan Deni yang sedang sibuk dengan ponsel yang ada di tangannya. Ada seseorang yang datang ke rumah mereka.
Deni segera beranjak ke arah pintu, dan ternyata yang datang adalah Shilla, teman satu kampus Deni.
Shilla merupakan seorang gadis yang sempurna kalau dilihat dari penampilannya. Dia memiliki paras yang ayu dan juga manis. Rambutnya dipotong pendek sebahu. Dia memiliki badan yang bagus bak seperti model. Shilla ini juga salah satu mahasiswa kedokteran. Dia dan Deni berada pada satu fakultas yang sama.
"Shilla? Ada apa lo ke sini?" tanya Deni sedikit terkejut dengan keberadaan gadis itu.
__ADS_1
"Hay Deni. Gue kesini mau memberikan ini" Shilla menyodorkan satu buah paper bag kepada Deni.
"Ini apa?" deni menatap paper bag yang ada di tangannya tersebut.
"Oh itu buku yang sedang lo cari. Kebetulan kemaren gue ke luar kota, dan melihat buku ini di salah satu toko" jelas Shilla sambil menampakkan senyuman manisnya. "Btw lo nggak ngajak gue masuk dulu nih?" kode dari Shilla membuat Deni tersadar kalau dari tadi mereka masih berada di depan pintu.
"Eh iya maaf, gue lupa. Yuk masuk dulu" Deni melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Shilla mengikuti dari belakang.
Sebenarnya Shilla juga sudah sering main ke rumah Deni. Mereka berteman sudah sedari awal kuliah dulu. Bahkan Shilla sudah dekat juga dengan kedua orang tua Deni.
"Om sama Tante ke mana?" tanya Shilla basa-basi. Padahal dia sendiri tahu kalau siang-siang begini orang tua Deni jarang berada di rumah.
"Keluar kota" Deni menjawab singkat, dan menyuruh Shilla duduk di ruang tamu.
"Siapa yang datang?" tanya Dina dari arah ruang makan. Rasa ingin tahunya meningkat ketika mendengar suara asing tadi. Seketika langkahnya terhenti setelah sampai di ruang tamu.
"Teman aku Na. Sini kenalin dulu" Deni menarik pelan tangan Dina, dan menyuruh gadis itu berdiri di sebelahnya. Lalu memintanya untuk Duduk.
"Dina, kenalin dia teman satu kampusku. Namanya Shilla" Deni mengenalkan kedua gadis tersebut.
Dina menjulurkan tangannya ke arah Shilla sambil tersenyum manis, "Dina" ujarnya lembut.
"Shilla" jawab gadis itu singkat dan segera melepaskan tangannya dari Dina.
"Ya udah aku ke atas dulu. Kalian lanjut saja" Dina melangkahkan kakinya untuk segera meninggalkan dua orang itu.
Seketika tangannya ditahan oleh Deni, "Kamu temanin aku di sini" ujar laki-laki itu pelan. Karena dia merasa ada yang aneh dengan sikap Dina barusan.
"Aku, hmm aku ada yang mau aku kerjakan di atas. Ah iya tugas kuliah" kilah Dina sedikit terbata-bata.
Shilla menatap heran dengan kedua orang yang ada di depannya ini. Mulutnya ingin sekali menanyakan sesuatu sedari tadi.
"Hem maaf, Dina kamu siapanya Deni ya?" akhirnya Shilla menanyakan pertanyaan itu.
Dina sedikit terkejut dengan pertanyaan Shilla barusan. Karena dia juga tidak menyangka pertanyaan itu akan ke luar dari mulut gadis manis tersebut.
Diliriknya Deni yang ada di sebelahnya. Karena dia juga bingung mau menjawab apa. Bahkan dia sendiri pun tidak tahu kalau dia ini siapanya Deni. Pacarkah? Tunangan? Atau saudara? Sepertinya tidak. Bahkan dari ketiga pilihan itu tidak ada yang bisa menjelaskan siapa dirinya bagi Deni.
"Dina tunangan gue" jawab Deni singkat sambil menatap Dina yang ada di sebelahnya.
Tampak wajah terkejut yang sangat jelas diperlihatkan oleh Shilla. Dina merasakan perubahan raut wajah itu. Karena merasa tidak enak, Dina memilih untuk segera beranjak dari ruangan tersebut. Bahkan dirinya mengabaikan panggilan Deni.
Tidak lama dirinya berada di kamar, Deni mengetuk pintu kamar Dina. Setelah mendapat jawaban dari Dina, Deni melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar Dina.
"Kenapa?" tanya Deni.
"Apanya?" tanya Dina balik.
"Ya kamu. Kamu kenapa?" Deni menarik pelan tangan Dina yang sedang sibuk atau pura-pura sibuk dengan ponsel yang ada di tangannya.
"Aku nggak kenapa-napa kok" Dina memberikan jawaban singkat.
"Maaf jika aku ada salah" ujar Deni pelan. Inilah yang Dina suka dari lelaki ini. Meskipun dirinya tidak salah sekalipun dia akan selalu meminta maaf.
"Minta maaf untuk apa? Lagian, kamu nggak salah kok" Dina merasa tidak enak dengan sikap acuhnya tadi. Lalu segera meletakkan ponsel di sebelah dirinya duduk.
__ADS_1
"Terus kamu kenapa cuekin aku?"
"Aku nggak ada cuekin kamu ih"
"Tadi, kamu acuh sekali ketika aku bertanya"
Dina merasa heran dengan tingkah Deni yang menurutnya seperti bocah ini.
"Kamu kenapa sih? Jangan seperti bocah aja deh. Ingat umur" Dina menepuk pelan pipi Deni sambil terkekeh.
"Enak aja, aku masih muda ya" sangkal Deni yang tidak terima dengan ucapan Dina barusan.
"Iya Abang jago yang masih muda" jawab Dina lagi sambil tertawa. Deni pun juga ikut-ikutan tertawa dengan tingkah konyol mereka.
"Hm, temanmu sudah pulang?" yang Dina maksud adalah Shilla. Meskipun dia sudah yakin kalau gadis itu sudah pulang.
"Udah" jawab Deni singkat, tangannya sibuk memainkan ponsel milik Dina. Entah sejak kapan ponsel tersebut berpindah tangan.
"Hmm Deni, kamu kenapa tadi bilang ke Shilla kalau kita itu tunangan?" Dina agak ragu ketika menanyakan pertanyaan ini.
"Emang kenapa?" Deni masih sibuk dengan ponsel Dina. Apa sih yang dilakukan oleh lelaki itu?
"Ya nggak kenapa sih" Dina jadi mati kutu sendiri dengan pertanyaan yang dia lontarkan.
"Kamu masih mau kan kalau pertunangan kita dilanjutkan?" Deni meletakkan ponsel tersebut ke atas nakas yang ada di sebelahnya.
"Hah?" Dina masih belum mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Deni, atau pura-pura tidak mengerti.
"Kamu masih mau nggak bertunangan dengan aku?" Deni merasa gemes sendiri dengan sikap lemot Dina.
"Bukannya kamu lagi marah ya sama aku?" mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
"Sekarang nggak lagi!" jawab Deni cepat.
"Kenapa? Apakah karena Kakek yang sudak tiada?" Dina terkejut dengan pertanyaan yang terlontar dari mulutnya itu.
"Kok nanyanya gitu?" bahkan Deni juga terkejut dengan pertanyaan Dina barusan.
"Ya aku merasa kalau kamu kasihan aja sama aku. Apalagi karena Kakek yang sudah tiada. Aku nggak masalah kalau perjodohan itu kita batalkan saja. Kamu kan tahu sendiri kalau itu merupakan permintaan Kakek. Sekarang karena Kakek sudah tidak ada lagi, nggak masalah kan kalau kita batalkan saja perjodohannya?" sepertinya ini merupakan keputusan yang sudah mantap dipilih oleh Dina. Yaitu membatalkan perjodohan dirinya dan Deni. Karena dia tidak mau lagi menjadi beban dari keluarga tersebut.
"Nggak, tetap dilanjut!" jawab Deni tegas menahan rasa kesalnya. Entah kenapa dia merasa kesal dengan alasan yang diberikan oleh Dina. Apa-apaan karena Kakek! Perjodohan ini tercipta karena dirinya, bukan Kakek. Tapi mau bagaimana lagi, Dina sendiri pun tidak tahu. Jangan sampai tahu.
"Kenapa? Bahkan aku sendiri pun tidak tahu apa alasan kamu untuk tetap melanjutkan perjodohan ini" nada suara Dina juga sedikit meninggi. Dia tidak bermaksud untuk membentak Deni, hanya saja dia merasa sedikit frustasi dengan situasi yang dihadapinya saat ini.
"Kamu sudah tahu jawabannya Na" jawab Deni pelan sambil memegang kedua bahu Dina.
"Apa?" suara Dina seketika menghilang entah ke mana. Yang terdengar hanyalah cicitan pelan saja.
"Karena aku mencintaimu" bisik Deni pelan di depan wajah Dina. Ditatapnya wajah itu lekat-lekat dan lama.
Cup.
Satu kecupan mendarat di bibir Dina.
Gadis itu membulatkan kedua bola matanya karena terkejut. Dan di detik berikutnya dia tidak menemukan wujud Deni lagi. Lelaki itu sudah kabur seperti dibawa oleh angin. Deni sialan.
__ADS_1