
"Dina, kamu di mana? Kok nggak ada di rumah?" kamu nggak apa-apa kan?" Deni memburu Dina dengan berbagai macam pertanyaan setelah panggilan ke 52 yang dia lakukan akhirnya dijawab juga oleh gadis itu.
Bukan tidak ada alasan Deni melakukannya. Itu dikarenakan semenjak tadi siang Dina tidak ada kabar sama sekali. Terakhir kali mereka bertemu ketika di kantin fakultas Dina. Setelahnya Deni tidak mendapatkan kabar apa-apa dari Dina.
Deni cukup merasa cemas, sebab Dina dari tiga jam yang lalu tidak menjawab panggilan telepon dari laki-laki tersebut. Bahkan sekarang sudah pukul delapan malam.
"Aku lagi di rumah" Dina menjawab pelan dengan suara khas baru bangun tidur. Karena dirinya ketiduran di rumah lamanya setelah beres-beres dari tadi siang. Bahkan sebelumnya Dina juga mampir ke makan sang Kakek dengan berjalan kaki karena jarak rumahnya dan makam tidaklah terlalu jauh.
"Rumah mana? Kok nggak ada?" tanya Deni lagi sedikit agak tidak sabaran.
"Rumah lama. Aku ketiduran setelah beres-beres!" jawab Dina ketus setelah kesadarannya kembali. Dia kembali teringat alasan utama dirinya melakukan hal tersebut. Apalagi kalau bukan untuk menghilangkan pikiran-pikiran buruk dari kepalanya, selain juga merindukan sang Kakek tentunya.
Ya, semenjak Desi meninggalkan perkarangan rumahnya, Dina sudah mulai memikirkan hal-hal aneh mengenai Deni dan juga Shilla. Untuk menghilangkan pikiran-pikiran buruk tersebut, Dina pergi ke makam sang Kakek, lalu melakukan pekerjaan rumah. Membersihkan setiap sudut rumah yang sudah cukup lama tidak ia tempati ini. Bahkan melupakan letak telepon genggamnya sendiri. Bahkan dirinya juga ketiduran di ruang tamu, di atas sofa sederhana yang ada di sana.
"Oke. Tunggu aku. Aku akan jemput kamu!" Deni memutuskan panggilan tersebut terlebih dahulu. Dia lupa akan rasa cemas yang sedari tadi menghantuinya setelah mendengar kabar dari Dina. Sesederhana itu emang untuk menghilangkan rasa khawatir seorang Deni.
"Dia apa-apaan sih?" sungut Dina sambil menatap ponselnya. Lalu dirinya beranjak untuk mencuci muka. Jika mandi sepertinya tidak memungkinkan, karena semua pakaiannya sudah dibawa ke rumah Deni.
"Bahkan aku tidak memiliki satu baju pun di rumah ini" ujarnya setelah memastikan kembali isi lemari yang ada di kamarnya. Yang tersisa hanya beberapa helai selimut, alas kasur dan juga handuk. Selebihnya tidak ada.
Lima belas menit kemudian Deni datang menggunakan mobilnya. Sepertinya laki-laki ini benar-benar khawatir. Jarak yang biasanya ditempuh selama lebih dari tiga puluh menit itu bisa menjadi lima belas menit ketika Deni yang melakukannya. Tidak salah lagi, laki-laki ini pasti kebut-kebutan di jalan.
__ADS_1
"Kenapa nggak ngabarin aku kalau mau ke sini?" pertanyaan pertama yang ke luar dari mulut Deni setelah Dina membukakan pintu rumahnya untuk laki-laki itu. Bahkan napasnya masih terdengar memburu seperti habis olahraga. Dina tidak memberikan jawaban maupun tanggapan, dirinya berjalan ke arah sofa, lalu mendudukkan dirinya di sana. Deni menyusul duduk di sebelahnya.
"Lupa" jawabnya cuek. Karena dirinya enggan untuk memberikan penjelasan apa pun. Kalau ngabarin bukan kabur dong namanya? Batinnya. Tapi ada sedikit rasa bersalah juga ketika melihat keadaan laki-laki yang duduk di sebelahnya ini.
"Lupa? Kamu kenapa sih? Semenjak dekat dengan yang namanya Riyan Riyan itu kamu berubah tau nggak?" entah alasan kenapa, Deni pun akhirnya mengeluarkan uneg-uneg yang ada di kepalanya. Dia menghadap ke samping, ke arah Dina. "Sebenarnya aku sudah lama penasaran dengan siapa dia, tapi kamu sepertinya sengaja untuk menutupinya dari aku. Bahkan setiap kali aku bertanya tentang dia, kamu berusaha untuk mengalihkannya" lanjutnya. Laki-laki tersebut mencoba mengalihkan tatapannya ke lain arah.
Dina yang mendengar semua kata-kata itu ke luar langsung dari mulut Deni merasa cukup terkejut juga. Apalagi karena Deni membawa-bawa Pak Riyan dalam pembahasan kali ini. Laki-laki dengan rasa cemburunya ternyata cukup menakutkan juga ya.
"Atau kamu ada memiliki rasa pada pria itu?" tanya Deni lagi dengan nada dingin. Kali ini dia kembali menatap Dina. Dalam. Dia butuh kepastian. Meskipun itu agak menyakitkan nantinya, tapi tidak masalah. Setidaknya dia sudah mengetahui kebenarannya sebelum rasanya itu tumbuh membesar.
Cukup lama hening. Tidak ada lagi kata-kata yang ke luar dari mulut Deni. Sepertinya semua sudah dikeluarkannya.
"Sudah?" tanya Dina pada akhirnya. Deni tidak memberikan respon apapun. Dina menegakkan duduknya sambil berpangku tangan.
"Tapi itu penting bagi aku Din. Aku butuh penjelasan yang menurut kamu tidak penting itu. Aku butuh kepastian" ujar Deni serak menatap Dina dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kepastian apa lagi? Semua sudah jelas. Tidak ada yang perlu diragukan lagi tentang kita" jawab Dina cepat. Entah kenapa hatinya merasa sakit jika Deni benar-benar meragukan dirinya. Karena Dina merasa sudah cukup jelas apa yang dilakukannya selama ini. Apalagi yang diragukan oleh laki-laki itu? Tak terasa air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Pandangannya sudah mulai buram. Sedikit lagi, air mata itu akan tumpah.
"Kamu! Kamu yang membuatku ragu!" jawaban Deni benar-benar membuat air mata yang mati-matian Dina coba tahan akhirnya jatuh ke pipi. Dina memegang dadanya menahan rasa sesak. Dia berusaha untuk menahan isakannya.
"Kamu meragukan ku? Lalu bagaimana dengan kamu? Hah?" bentak Dina tidak terima. Dia menunjuk Deni tepat di depan dada lelaki itu. Dina berusaha menghalau air mata yang tak berhenti jatuh dari pipinya dengan kasar. "Apakah kamu tahu bagaimana takutnya aku ketika melihat kamu dekat dengan wanita itu? Apakah kamu tahu bagaimana aku berusaha untuk menguatkan diri ketika melihat kamu dekat dengan orang yang sangat sempurna seperti dia? Apakah kamu tahu bagaimana rasanya jadi aku? Tidak memiliki apa-apa, tidak memiliki orang tua, tidak kaya, hiks. Apakah kamu tahu Deni? Haaah?" ujar Dina sambil berteriak di akhir kalimatnya. Dia juga terisak.
__ADS_1
Badannya membungkuk di bawah sofa. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya yang basah oleh air mata. Dirinya mengeluarkan semua yang dirasakannya. Ketidakpercayaan dirinya selama ini ketika menghadapi kenyataan yang ada di depannya. Rasanya semua itu sangatlah berat jika dipendam sendiri.
Isakan itu masih terdengar. Deni membiarkan Dina dengan tangisnya. Dia juga merasa bersalah karena telah membuat orang yang dicintainya itu menangis.
Seharusnya dia tidak menanyakan hal tersebut. Seharusnya dia tidak meragukan Dina. Seharusnya dia percaya sepenuhnya kepada perempuan itu. Bahkan masih banyak lagi kata seharusnya yang tidak patut dia lakukan.
Lihatlah sekarang. Betapa terlukanya gadis malang tersebut. Betapa berat beban yang ditanggungnya selama ini. Dia hanya butuh seseorang yang benar-benar mampu menguatkannya, bukan yang meragukannya. Dia butuh seseorang yang bisa dijadikannya sandaran, bukan yang membuatnya kembali terjatuh dan merasakan luka yang sama. Bahkan sampai berulang kali.
Kamu bodoh Deni, kamu telah membuat orang yang kamu cintai untuk kembali meneteskan air matanya. Bahkan ini bukan air mata bahagia, tapi air mata karena luka. Deni terus merutuki dirinya sendiri.
"Shuuth. Sudah ya. Jangan nangis lagi" Deni meraih tubuh Dina ke dalam dekapannya. Dina berusaha memberontak, tapi apalah daya tenaganya sudah habis terkuras. Dirinya hanya pasrah ketika Deni mendekapnya erat.
Dina masih terisak kecil di dalam dekapan hangat Deni. Bahkan air matanya masih menetes, sukar untuk dihentikan.
Deni mengusap punggung Dina pelan. "Maaf. Maafkan aku. Maafkan aku karena sempat meragukan kamu. Maafkan aku karena telah membuat kamu kembali menangis. Maafkan aku ya? Hmm" Deni bergumam pelan di samping telinga Dina. Tangannya masih sibuk mengusap-usap punggung wanita yang masih terisak tersebut. Bahkan kata maaf terus saja dilontarkannya.
"Maafkan aku Din. Maafkan aku" ujarnya bertubi-tubi. Bahkan Dina tidak memberikan tanggapan apapun.
Setelah cukup lama, akhirnya tangis Dina reda. Sepertinya wanita itu sudah lelah untuk mengeluarkan air matanya. Deni memberikan jarak di antara mereka. Dipegangnya kedua belah pundak Dina, lalu ditatapnya wanita itu lama-lama.
Wajahnya masih basah, mata sedikit bengkak, dan rambutnya yang tergerai panjang terlihat agak berantakan. Banyak helai rambut yang juga menempel di wajahnya.
__ADS_1
Deni mengangkat kedua tangannya, lalu mengusap sisa-sisa air mata yang ada di pipi Dina dengan jari-jarinya. Tidak lupa juga dia merapikan kembali rambut-rambut yang menempel di muka basah itu.
Dina hanya diam menikmati setiap perlakuan Deni. Jangan salahkan dia jika dirinya salah paham dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki tersebut. Apakah karena merasa bersalah? Atau karena merasa memiliki tanggung jawab? Entahlah.