Dina-Deni 'Love Story'

Dina-Deni 'Love Story'
Part 50.


__ADS_3

Haaaiiiii, part terbaruuuu, jreeng jreeng jreeeennggg... Selamat berakhir pekan, dan bermalam minggu 😘


"Hai, Dina! Mau ketemu Deni ya?" tanya seseorang ketika Dina melangkahkan kakinya di fakultas kedokteran. Dirinya berniat untuk menyusul Deni. Karena hari ini adalah sidang kelulusan laki-laki itu.


"Hai, Wahyu! Iya nih gue mau nyusul Deni. Tapi gue nggak tau di mana tempatnya" balas Dina setelah matanya menangkap sosok yang berdiri tidak jauh darinya. Dia adalah Wahyu, sepupu Deni. Mungkin laki-laki itu ada urusan di sini, atau mungkin memang sengaja untuk bertemu dengan Deni.


Dina sebenarnya tahu di mana ruang Deni, hanya saja dia tidak tahu tempat pastinya. Dan sialnya, mendadak ponsel Deni tidak bisa dihubungi lagi semenjak sepuluh menit yang lalu. Jadilah Dina mutar-mutar di sekitaran sana untuk mencari tempat yang Deni maksud.


"Yaudah, sini gue anterin. Gue baru balik dari sana soalnya" Wahyu menarik satu tas jinjingan yang ada di tangan kanan Dina. Sedangkan tangan kirinya mendekap satu buah buket bunga titipan dari sang Mama, alias Tante Rini.


"Nggak ngerepotin nih?" tanya Dina khawatir sambil melirik tidak enak pada tas jinjingan yang sudah beralih ke tangan Wahyu.


"Santai aja kali Din. Kaya sama siapa aja" Wahyu lalu kembali memutar arah tubuhnya, "Ayo" ajaknya pada Dina. Gadis itu mengikuti dari belakang. Lalu mensejajarkan langkahnya setelah berada di samping Wahyu.


Tidak ada lagi suara yang keluar dari mulut mereka, hanya sesekali terdengar Wahyu yang mengarahkan jalan.


"Maaf ya Din, gue nggak bisa hadir di hari pertunanganan kalian" Wahyu membuka suara, ada rasa nggak enak di saat dirinya mengatakan kalimat itu. Karena bertepatan di hari pertunanganan sepupunya dengan Dina, dirinya sedang berada di luar kota untuk menemani Shilla mengunjungi orang tua gadis itu.


"Ngapain minta maaf segala sih Yu? Santai ajalah, hehe" Dina sudah tau alasan kenapa sepupu tunangannya itu tidak menampakkan diri pada hari itu. "Btw, kok gue jarang ya liat Shilla akhir-akhir ini" Dina menatap sekilas ke arah Deni. Entah alasan apa, tiba-tiba pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutnya.


"Lo tau sendirilah Din, apa bedanya dirinya dengan Deni" Dina paham apa yang dimaksud Wahyu, sama-sama sibuk karena sama-sama mempersiapkan kelulusan. Emang apa lagi? Dina tidak memberikan tanggapan, hanya anggukan kepala saja diperlihatkannya. "Nyampe!" ujar Wahyu setelah mereka berada di depan pintu sebuah ruangan.


"Deni ada di dalam?" tanya Dina mencoba mengintip pada kaca jendela. Tapi sayang, dirinya tidak menemukan sosok Deni di dalam sana, hanya beberapa dosen saja yang menjadi objek pandangannya.


"Iya. Gue tinggal dulu ya. Nanti balik lagi" Wahyu beranjak dari sana setelah mendapatkan anggukan kepala dan juga ucapan terima kasih dari Dina. Bahkan laki-laki itu juga meletakkan tas yang dibawanya di sebuah kursi panjang terlebih dahulu.


Dina mendudukkan tubuhnya di kursi yang masih kosong, matanya melihat ke sekitaran lorong-lorong. Tidak banyak mahasiswa yang duduk di sana, hanya beberapa saja. Lalu dirinya lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan ponsel.


Lima belas menit setelahnya terdengar kegaduhan tidak jauh dari Dina duduk. Gadis itu mengangkat kepala, lalu pandangannya berserobok dengan seseorang di ujung sana yang sedang dikerumuni oleh teman-temannya. Laki-laki itu menatapnya khawatir, namun Dina membalas dengan sebuah senyuman hangat. "Nggak apa-apa. Aku tunggu di sini ya" ujar Dina tanpa suara, sambil menunjuk tempat dirinya duduk.


Dina paham sekali dengan situasi ini. Karena beberapa hari yang lalu dirinya juga merasakan hal yang sama. Karena terlalu lamanya Dina bersama teman-teman satu jurusannya, Deni yang sudah berada cukup lama di sana menjadi bete, dirinya merasa diabaikan. Lalu laki-laki itu pergi begitu saja dari sana, tanpa memedulikan Dina yang mengejarnya dari belakang. Bahkan Desi yang juga ada di sana malah dijadikan tempat sebagai penyelamat barang bawaan Dina.


Sepuluh menit berlalu, Deni segera mendudukkan dirinya di samping Dina. Wajahnya tampak lelah, dan pakaiannya yang tadi pagi rapi terlihat sedikit berantakan.


"Capek banget ya?" tanya Dina pelan, lalu mengusap peluh di kening Deni dengan sebuah tisu. Tangannya juga merapikan dasi Deni yang tampak sudah tidak beraturan lagi pemasangannya.


"Maaf ya, lama" ujar Deni merasa sedikit bersalah.

__ADS_1


"Nggak apa-apa kok. Lagian aku nggak ngambek juga" sindir Dina, "Nih hadiah dari Mama" ujarnya menyerahkan satu buket bunga pada Deni. Pada buket tersebut bertuliskan 'Congratulation My Son'.


"Kamu nyindir aku Yang?" tanya Deni pelan setelah menatap bunga yang ada di pangkuannya sedikit tak berminat. Selera Mamanya aneh sekali. Masa iya dia laki-laki malah diberi bunga warna pink. Ingat, warna PINK! Astaga.


"Nggak ada tuh nyindir-nyindir" jawab Dina cuek. Dirinya berusaha menahan tawanya supaya tidak meledak ketika melihat wajah Deni yang menatapnya penuh curiga.


"Serah sih. Mana hadiah dari kamu?" Deni menampungkan tangannya di depan wajah Dina. Meletakkan bunga yang tadi di pegangnya begitu saja di lantai tanpa rasa bersalah sedikit pun.


Dina yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Lalu tangannya memungut benda tersebut, lalu di letakkannya di sebelah dirinya duduk.


"Nggak ada" Dina menggelengkan kepala sambil nyengir kuda. Deni yang mendengar jawaban Dina hanya bisa menghela napas lalu menyandarkan badan pada sandaran kursi. Menundukkan kepala dan bibirnya dimanyunkan sedikit. "Mau hadiah banget ya?" tanya Dina pelan, nggak tega juga melihat Deni yang merajuk seperti anak-anak itu. Tapi lucu. Tidak ada respon dari Deni, laki-laki itu masih menunduk.


Bukannya Dina nggak mau memberikan hadiah, hanya saja dirinya bingung mau memberikan apa untuk Deni. Karena secara pribadi, laki-laki itu sudah hampir memiliki semuanya. Jadi apa lagi yang akan diberikan oleh Dina? Bahkan dia rasa hatinya pun sudah diberikan sepenuhnya kepada Deni.


"Yaudah, sini peluk" Dina merentangkan kedua tangannya lebar-lebar bersiap menyambut tubuh Deni dalam dekapannya. Namun sebelumnya, dirinya terlebih dahulu melihat sekeliling yang ternyata tampak sudah mulai sepi.


Deni yang masih tampak merajuk itu segera mendekapkan tubuhnya pada tubuh Dina. Dirinya nggak bisa lama-lama jika itu perihal mendiami Dina.


Dina melingkarkan kedua lengannya pada tubuh Deni. Begitu juga dengan Deni, tangannya mendekap bahu Dina erat. "Nggak apa-apa deh nggak dapat hadiah, yang penting dapat pelukan" ujarnya pelan sambil tersenyum mesum di balik punggung Dina.


"Selamat ya untuk gelar dokternya" bisik Dina, mengusap pelan punggung Deni naik turun.


Dina yang mendengar itu hanya bisa terkekeh. Ada-ada saja laki-laki ini. "Kan baru tadi pagi ketemu. Jan lebai ih" sanggah Dina sambil melepaskan lingkaran tangannya dari tubuh Deni. Memundurkan sedikit tubuhnya dari laki-laki itu.


"Yang, asal kamu tau ya, aku tu setiap hari merindukan kamu, Yang. Bahkan sekarang aku masih rindu meskipun kamu ada di samping aku. Kamu nggak per ..."


"Ieewwh, jijiiikkkss. Alai bet sumpah, pen muntah gue. Hooeekk" potong Revan sebelum Deni menyelesaikan ucapannya. Entah datang dari mana laki-laki itu.


Deni hanya memutar bola mata malas ketika sang Adik sudah mendudukkan diri di sebelah kiri Dina. "Ganggu aja lo! Pergi sana" usirnya. Namun Revan tampak tidak peduli sama sekali. "Kok lo nggak kuliah di luar aja sih Van? Bosen gue liat muka lo tiap hari. Malah pakai drama-dramaan lagi ketika ngebujuk Papa supaya izinin lo kuliah di sini" cibir Deni di akhir kalimatnya setelah mengingat kejadian beberapa bulan lalu, ketika Revan yang memutuskan kuliah di Indo saja.


"Ck, nggak usah diingetin! Nanti kalau gue jauh, lo bakalan rindu Bang. Kasihan gue" ujar Revan sinis. Dirinya malu jika diingatkan kembali dengan kejadian itu.


"Nggak akan! Nggak akan rindu gue" jawab Deni. Dirinya berbohong, tentu saja dirinya akan rindu sama adik satu-satunya itu. Ya meskipun terkadang mereka lebih banyak tidak akurnya ketika lagi bersama.


"Aku Van yang bakalan rindu sama kamu" Dina berujar di tengah-tengan perdebatan Deni dan Revan. Posisi duduknya yang juga di tengah, semenjak tadi berusaha menahan telinganya yang sedikit sakit.


"Hanya Kak Dina yang sayang sama gue. Kak Dina mau hadiah apa dari aku?" tanya Revan pelan pada Dina. Dirinya belum memberikan apa-apa kepada calon iparnya itu. Tangan kanannya bertengger bebas di belakang bahu Dina. Membuat seorang Deni sukses memelototkan mata karena kaget. Adiknya ini sangat berani sekali.

__ADS_1


"Hmm apa ya?" Dina mencoba berpikir sejenak. "Keknya nggak ada deh Van" tolaknya kemudian. Karena dirinya emang tidak lagi membutuhkan apa-apa.


"Lo nggak nawarin gue Van?" tanya Deni cepat ketika Revan hendak membuka mulutnya. Dirinya berusaha menahan rasa kesal ketika Dina tidak menolak sedikitpun sentuhan Revan itu.


Oke, Deni mulai lebai. Sejak kapan tangan yang cuman bertengger disebut sentuhan?


"Nggak ada!" Revan tidak memedulikan pertanyaan Deni. "Gimana kalau kita jalan-jalan aja Kak? Ke pantai, vila, atau ke mana gitu? Nanti gue ajak Kak Desi juga. Pasti seru tuh" usul Revan dengan wajah berbinar. Dirinya sudah lama sekali ingin sedikit bersenang-senang.


"Boleh boleh. Nanti kabarin aja ya kapan kamu bisanya. Aku ngikut!" Dina menyetujui usulan Adik iparnya itu. Kapan lagi bisa bersenang-senang setelah hal-hal sulit yang dilaluinya? Dina nggak akan menyia-nyiakan kesempatan.


"Oke. Nanti gue kabarin lagi!" Revan tampak lebih semangat dari tadi. Sepertinya laki-laki ini sedang merencanakan sesuatu.


"Kok lo nggak ngajakin gue?" tanya Deni spontan, karena sedari tadi diabaikan oleh dua orang yang berada di sampingnya.


"Nggak perlu diajak. Pasti lo bakal minta ikut sendiri" jawab Revan cuek.


"Ck, sialan lo. Ayo pulang Yang!" Deni menghempaskan tangan Revan dari bahu Dina. Lalu menarik gadis itu untuk berdiri dari duduknya. Mengambil tas selempang Dina, dan memakaikannya kepada tubuh gadis. Dirinya juga melakukan hal yang sama dengan tas punggungnya. "Lo bawa yang lainnya ya Van" ujarnya terakhir sebelum benar-benar beranjak dari sana.


Revan hanya bisa menganga tak percaya ketika menyadari sesuatu. "Sialan, gue dijadiin babu!" umpatnya kesal sambil menendang angin. Dirinya menatap penuh amarah kepada beberapa bundelan skripsi yang tebalnya nggak nanggung-nanggung itu. Ada juga sebuah tas jinjingan yang dibawa Dina tadi, ditambah beberapa buket bunga dari Mama dan juga beberapa hadiah lainnya dari teman-teman Deni.


"Banyak banget lagi bawaannya! Argghhh" pekik Revan tertahan. Sial sekali dirinya hari ini. "Dasar Abang nggak ada akhlak, nyusahin orang aja kerjaannya. Pen ganti Abang aja boleh nggak sih?" dirinya terus mengomel ketika menumpuk bundelan skripsi menjadi satu. Lalu hadiah-hadiah yang tidak banyak di masukin ke dalam tas punggungnya.


"Gimana cara bawanya ini woi? Gue malas banget balik lagi" bahkan jiwa-jiwa pemalasnya malah menampakkan diri.


"Sini aku bantu!" ujar seseorang tidak jauh darinya.


"Beb! Kok kamu ada di sini?" tanyanya sedikit kaget.


"Disuruh ama Deni! Benar-benar ya tu orang, sama aja kelakuannya" Desi juga ikutan mengomel ketika ingatannya kembali pada beberapa hari yang lalu. Dan Revan jugalah yang membantu dirinya untuk membawa barang-barang Dina.


"Sepertinya secara nggak langsung kita malah dijadiin tim sukses mereka deh Beb" celetuk Revan setelah menumpuk beberapa bundelan skripsi di lengannya. Selebihnya Desi yang membawa.


"Tim sukses apaan? Babu mah iya!" sanggah Desi cepat. Selain kesal karena dijadikan babu, dirinya juga kesal karena Deni yang memaksanya sambil mengancam yang tidak-tidak. 'Nanti aku larang Dina supaya nggak bantu lo ngerjain skripsi, mau?' begitulah kira-kira.


"Haha, tadi aku mikirnya juga gitu Beb"


"Dahlah, ayo!"

__ADS_1


Mereka meninggalkan fakultas kedokteran dengan perasaan yang sulit diartikan.


__ADS_2