
Hallo all. Aku kembali lagi nih, setelah cukup lama menghilang huhu. Duh rindu sekali sama pembacaku yang tersayang. Sehat-sehat ya all đ
Selamat membaca đ
............
âJadi?â tanya Dina ketika semua penghuni rumah sudah mulai terlelap. Sekarang dirinya dan Deni sedang berada di dapur. Mereka memutuskan untuk memasak sesuatu karena sama-sama merasakan lapar. Bahkan sekarang ini waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari.
âApa?â Deni yang tidak paham sama sekali kemana arah pembicaraan Dina, bertanya untuk memastikan.
âKapan lamaran dadakan itu kamu rencanakan?â Dina cukup penasaran dengan apa yang ada di kepala laki-laki ini. Pulang tidak memberi kabar, lalu tiba-tiba datang membawa seluruh anggota keluarganya dengan tujuan melamar. Siapa yang tidak kaget?
âSudah lamaâ jawab Deni cuek. Dirinya sibuk menyuapkan ke dalam mulut makanan yang baru saja dihidangkan Dina di atas meja beberapa detik yang lalu. Lapar sekali sepertinya.
âMaksud aku bukan itu. Tapi setelah kepulangan kamu ini. Emang kamu pulangnya kapan sih? Kok aku nggak tahuâ Dina melirik Deni dengan pandangan menyelidik, sedikit agak sebal. Ya, bagaimana dirinya bisa tahu, kalau orang yang bersangkutan saja enggan sekali untuk menceritakannya.
âKan aku udah bilangâ Deni menjawab tanpa berpikir terlebih dahulu. Kapan dirinya memberitahu Dina?
âSudahlah. Aku malas makanâ ujar Dina ketus, lalu segera melangkahkan kaki untuk meninggalkan meja makan. Namun baru beberapa langkah, tangannya sudah ditahan oleh Deni. Sepertinya laki-laki ini menyadari perubahan suasana hati Dina.
âIya deh, iya. Aku bakal cerita semuanya. Tapi makan dulu ya. Nanti kamu sakitâ Deni menarik tubuh Dina pelan untuk kembali duduk di tempat semula. Gadis tersebut tampak menurut saja diperlakukan seperti itu. Dasar wanita lemah iman, huhu.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan makannya, Dina dan Deni segera melangkah menuju kamar Dina yang berada di lantai dua.
Jangan berpikiran yang tidak-tidak dulu. Mereka tidak akan melakukan apa-apa kok selain bercerita. Hm, sepertinya sih begitu.
Sesampainya di kamar, Dina menarik tangan Deni untuk naik ke atas tempat tidurnya. Sepertinya wanita ini sudah tidak sabar untuk segera mendengarkan setiap cerita yang mengalir dari mulut laki-laki yang sempat menghilang tanpa kabar itu. Memangnya tidak sabar untuk apa lagi?
âIya sayang, aku akan cerita kok. Sabar dikit kenapa sih?â sungut Deni ketika tangannya ditarik Dina sedikit agak kencang. Nggak sabaran sekali emang.
âKamu ih, lamaaaaâ rengek Dina menyilangkan kedua lengannya di depan dada, lalu melangkahkan kaki dengan sedikit dihentakkan menuju tempat tidur. Duduk di sana, di tengah-tengah kasur yang empuk. Muka gadis tersebut nampak sedikit agak kesal, mulutnya juga mengerucut cemberut.
Deni yang melihat setiap tingkah Dina tersebut hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Apakah semua wanita seperti ini? Batinnya bertanya-tanya. Lucu, menggemaskan dan juga aneh.
âJadi, aku harus mulai dari mana dulu nih?â tanya Deni pelan setelah mendudukkan dirinya di hadapan Dina. Sepertinya Deni harus sedikit lebih sabar mengahadapi mood wanita yang lagi dalam mode ngambek ini. Ekspresi gadis tersebut masih nampak sama.
âIya iya. Aku akan cerita. Jadi gini, sebelum aku dipindah tugaskan waktu itu ...â mengalirlah cerita panjang yang mengharu biru tersebut. Deni menceritakan semuanya kepada Dina. Tidak satu pun yang terlewatkan dari mulutnya. Dina juga sama, mendengarkan dengan serius. Tidak menyela sedikit pun cerita panjang dari mulut Deni, meskipun ada banyak sekali pertanyaan yang ingin mulutnya lontarkan. Mata gadis itu juga tampak berkaca-kaca, ikut terharu dengan cerita Deni.
âJadi kalian semua bisa dipulangkan ke Indonesia dengan selamat kan?â pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Dina ketika Deni menyudahi ceritanya. Bahkan sekarang hari sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Hampir satu jam berlalu. Kini posisi mereka juga sudah berganti, sama-sama berbaring di atas tempat tidur dengan Dina yang berada dalam dekapan hangat Deni. Sesekali tangan Dina mengusap pelan punggung Deni. Begitu juga dengan Deni, laki-laki itu juga mengusap pelan kepala bagian belakang Dina. Menghirup dalam-dalam wangi rambut Dina yang menenangkan. Dirinya rindu dengan aroma ini.
âKamu masih memakai sampo yang lama?â pertanyaan yang Deni lontarkan sama sekali tidak berhubungan dengan pertanyaan Dina sebelumnya. Merusak suasana saja.
âKok malah bahas sampo sih? Kan aku tadi nanyaâ jawab Dina sedikit jengkel. Dirinya sedikit menarik tubuh dari dekapan Deni. Namun segera ditarik lagi oleh Deni, dan didekapnya lebih erat.
__ADS_1
âJangan pergi dulu. Aku masih kangen kamuâ gumamnya dengan kepala yang tenggelam di ceruk leher Dina. Tangan Dina mengusap kepala laki-laki itu pelan. Sesekali tangannya juga menyisir rambut hitam Deni dengan jari-jarinya. Dina tidak butuh jawaban lagi, yang penting semua baik-baik saja.
âAku nggak kemana-mana. Akan tetap di samping kamu. Namun, jika nanti kamu yang memintaku untuk pergi, baru aku akan pergiâ ujar Dina pelan. Dirinya bahkan tidak sadar dengan apa yang diucapkannya. Dengan tiba-tiba saja, kata-kata tersebut meluncur dari mulutnya.
Dina merasakan dekapan Deni yang tadi erat tiba-tiba mengendur, Deni juga menjauhkan wajahnya dari leher Dina. Dina sadar, apa yang diucapkannya barusan merupakan suatu kesalahan. Dina hanya bisa memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya pelan.
Tidak ada suara dari Deni. Laki-laki itu masih diam terpaku memikirkan kata-kata Dina barusan. âKamu nggak akan pergi. Nggak ada yang pergiâ gumamnya pelan dengan suara serak.
Dina perlahan membuka matanya, menatap ke arah Deni yang sekarang tidur dengan telentang, matanya menatap langit-langit kamar. Ada rasa bersalah sekarang yang bersarang di hatinya. Dasar mulut sialan, umpatnya dalam hati.
Dina pelan-pelan mendudukkan dirinya. Diraihnya tangan kiri Deni, lalu diusapnya lembut punggung tangan yang ada dalam genggaman kedua telapak tangannya itu.
âDeni ...â gumam Dina lembut. Matanya menatap ke arah tangan Deni yang sedang digenggamnya. â... jujur, aku merasa sangat beruntung bisa ditemukan dengan laki-laki baik seperti kamu. Ditemukan dengan keluarga kamu yang menerima segala kekuranganku. Bahkan, kalian juga menanggung hidupku, dan membayar semua hutang keluargaku. Aku nggak tahu dengan cara apa supaya bisa membalas semua kebaikan yang telah kalian berikan. Bahkan untuk tetap berada di sisimu saja, rasanya itu belum cukup. Tapi aku tidak tahu, apa yang bisa aku lakukan. Itulah kenapa aku katakan, jika kamu memintaku untuk pergi sekalipun, maka aku akan pergi. Nggak ada alasanku untuk bertahan. Aku ...â ucapan Dina terpotong oleh Deni yang tiba-tiba memeluk tubuhnya erat.
âSstt! Udah. Jangan dilanjutkan lagi. Kamu sempurna dengan kekurangan yang kamu miliki. Kamu wanita hebat Dina. Kamu wanita tangguh yang sanggup bertahan dengan segala keadaan buruk yang kamu hadapi. Kamu sabar dan kuat dalam menjalani hidup kamu selama ini. Aku tahu bagaimana kamu berjuang menjalani hari-hari. Bagaimana kamu bertahan. Aku tahu semua. Jadi, sekarang biarkan aku melakukan apa yang ingin aku lakukan untuk kamu. Jangan merasa tidak enak dan berpikiran untuk membalas semuanya. Aku mohon, janganâ Deni menjeda ucapannya sebentar. Dia merasakan tubuh Dina bergetar dalam dekapannya. Gadis tersebut menangis.
âSatu lagi, jangan pernah berpikir untuk pergi dari aku Din. Meski nanti suatu saat aku meminta kamu untuk pergi, tapi percayalah, itu bukan aku. Anggap saja aku khilaf ketika mengatakan itu. Karena aku benar-benar tidak ingin kamu pergi. Tetaplah di sampingku, aku membutuhkan kamu. Aku mencintai kamu, Dina Adistyaâ lirih Deni pelan. Dirinya bersungguh-sungguh ketika mengatakan kalimat panjang tersebut. Dirinya tidak sanggup membayangkan bagaimana nanti jika Dina tidak ada di sampingnya.
Dina hanya bisa mengangguk pelan merespon setiap kata yang diucapkan Deni. Dirinya ikut terharu dengan kebaikan laki-laki tersebut. Tidak semua orang bisa melakukan hal yang sama dengan Deni. Laki-laki ini spesial dengan segala kekurangan dan banyak kelebihan yang dimilikinya.
âAku juga mencintai kamu, Deni Septia Dirnataâ bisik Dina pelan. Dirinya mengeratkan belitan tangannya yang melingkar di tubuh Deni. âDan aku sangat merindukan kamuâ lanjutnya. Deni membalas dekapan hangat Dina di tubuhnya dengan lebih erat. Melepas rasa rindu yang beberapa waktu lalu telah menyiksanya.
__ADS_1
(Btw, jangan lupa mampir di ceritaku yang lain ya gees. How Are U? 'Kak Dokter Ganteng'. Jodohku Kamu. ⤠Cimiiw â¤)