
"Mampus-mampus. Tadi gue nggak terlalu kasar kan Din ngomong sama si Wahyu itu? Tadi gue nggak berlebihan kan?" Desi terus saja berceloteh ketika langkah mereka sudah jauh dari Wahyu si dokter muda. Alias ponakan dari calon mertua mereka. Dirinya cukup was-was juga setelah mendengar hubungan keluarga di antara laki-laki tadi dengan orang tua pacar.
"Emang kenapa sih? Udah lewat juga" jawab Dina santai. Dirinya tidak peduli sama sekali dengan apa yang telah terjadi barusan.
"Kan gue khawatir Din. Nanti pamor gue di mata keluarga calon jelek gimana? Lo sih, kenapa nggak ngasih tau gue kalau dia itu keluarganya Om Pras?" Desi menyalahkan Dina karena kekhawatiran dirinya yang nggak jelas tersebut.
"Idih. Nyalahin gue lagi lo. Gue juga nggak tau Desi sayang kalau si Wahyu itu ponakannya Om Pras. Gue belum pernah juga jumpa sebelumnya" Dina menjawab dengan nada kesal yang dibuat-buat.
"Haha. Oke-oke. Jan ngegas. Yok kita makan dulu" Desi menarik tangan Dina memasuki area kantin rumah sakit.
"Dina ya?" tanya seseorang di saat tubuh Dina dan juga Desi baru saja mendarat di sebuah kursi.
Mereka berdua serentak menoleh ke arah sumber suara. Ternyata itu merupakan seseorang yang mereka kenali.
"Eh Pak Riyan. Apa kabar Pak?" tanya Desi terlebih dahulu ketika melihat si dosen muda mantan pembimbing Dina tersebut.
"Alhamdulillah baik. Kalian apa kabar?" Riyan kembali menanyakan kabar mahasiswa yang sedang tidak baik-baik saja tersebut.
"Akhir-akhir ini kurang baik Pak" jawab Desi sedikit mengiba. Bahkan tanpa mereka persilahkan, si dosen ganteng tersebut sudah duduk di hadapan mereka.
"Skripsinya berat ya? Bagaimana bimbingannya?" setahu Riyan mereka berdua ini sedang disibukkan dengan tugas akhir. Karena itulah Desi mengatakan kurang baik. Padahal yang dimaksudkan Desi bukan itu. Tapi yang lainnya. Bahkan mereka berdua untuk saat ini sedang tidak memikirkan sama sekali tentang kelanjutan skripsi mereka. Karena bagi mereka, itu bisa dikerjakan nanti. Jangan sampai karena pikiran terbagi-bagi, jadi mengacaukan apa yang telah mereka lakukan setengah jalan itu.
"Lancar Pak. Tidak ada masalah sama sekali" jawab Dina cepat. Jangan sampai Desi menceritakan semuanya kepada Pak Riyan, batinnya.
"Bagus kalau gitu. Kalian ngapain di rumah sakit? Ada yang sakit?" lagi-lagi dosen ini mengajukan pertanyaan. Bahkan dirinya tidak peduli sama sekali dengan tanggapan si mahasiswa yang ala kadarnya itu.
"Ada urusan Pak. Bapak sendiri ngapain?" kali ini Dina yang angkat bicara. Karena merasa tidak enak juga dengan sikapnya barusan.
"Oh itu. Saya nemanin istri saya cek" jawaban dari Riyan tersebut membuat Desi tersenyum simpul.
"Sudah isi ya Pak?" tanya Desi antusias. Karena seingatnya si dosen muda ini sudah menikah hampir dua bulan.
"Alhamdulillah sudah dua minggu" Riyan menjawab sambil tersenyum merekah. Sepertinya laki-laki ini bahagia sekali dengan kabar kehamilan istrinya tersebut. Memang ada laki-laki yang tidak bahagia dengan kehamilan istrinya? Entahlah.
__ADS_1
"Waaah. Alhamduillah ya Pak. Semoga istri dan calon baby-nya sehat. Aamiin" doa Desi yang diamini oleh Dina dan juga Riyan.
"Istrinya mana ya Pak?" tanya Dina yang tidak melihat sama sekali istri dosennya tersebut.
"Tadi katanya ke toilet dulu. Saya disuruh menunggu di sini sih" ujar Riyan sambil celingak-celinguk melihat ke pintu masuk kantin. Benar saja, di sana berdiri seorang wanita muda dan juga anggun. Sepertinya wanita tersebut sedang bingung mencari keberadaan seseorang. Setelah mendapat lambaian tangan dari Riyan, wanita tersebut melangkah ke arah tempat duduk Riyan, Dina, dan Desi.
"Maaf ya Yang, aku lama" ujarnya pelan ke arah Riyan, yang dibalas senyuman oleh laki-laki tersebut. "Mereka siapa?" tanyanya kemudian setelah menyadari keberadaan Dina dan Desi yang tadi tak kasat mata.
"Duduk dulu" Riyan menyuruh istrinya tersebut untuk duduk di sebelahnya. "Kenalin, mereka berdua mahasiswa aku di kampus Yang. Ini Dina, dan ini Desi" Riyan memperkenalkan satu persatu mahasiswanya tersebut. Sesekali dirinya melirik ke arah Dina. Entah apa maksud dari lirikan tersebut.
"Hai. Kenalin aku Gina" istri Riyan yang bernama Gina tersebut mengulurkan tangannya ke arah Dina.
"Dina Buk" balas Dina. Karena dia juga bingung panggilan apa yang cocok untuk wanita cantik di depannya ini.
"Jangan panggil Buk dong. Panggil Kak aja" ralat Gina diakhiri dengan kekehan pelan. Bahkan ketawanya saja merdu, batin Dina. Seketika ada rasa insecure dalam dirinya ketika memperhatikan penampilan istri dosennya tersebut. Berkelas dan benar-benar cantik.
Nggak, nggak. Nggak boleh iri. Bersyukur Din. Jangan iri melihat orang lain. Kita mempunyai lelebihan masing-masing. Lagi-lagi batinnya berkata sendiri.
Tidak lama setelah itu, Riyan dan Gina pamit terlebih dahulu karena ada sesuatu yang akan diurusnya. Setelah kepergian sepasang pasutri tersebut, tawa Desi pecah. Bahkan seisi kantin melirik ke arahnya.
"Kenapa sih? Bikin malu aja lo" omel Dina yang merasa risih dengan kelakuan Desi.
"Sepertinya Pak Riyan setelah lo tolak nggak ada ruginya ya Din. Dapat yang lebih montok dan berkelas gitu. Pakai jimat apa sih tu orang?" secara tidak langsung Desi menyindir Dina. "Bahkan langsung jadi gitu. Hebat juga tuh si Pak Riyan" lanjutnya memuji si dosen muda.
"Apaan tuh maksudnya?" tanya Dina dingin. Meskipun dirinya tahu Desi hanya bercanda. Desi yang menyadari kesalahannya langsung terdiam. Mulut sialan, rutuknya dalam hati.
"Maksud gue, lo nggak rugi melepas Pak Riyan?" Desi mengalihkan ucapannya.
"Kenapa harus rugi? Nggak ada hubungannya sama gue ya. Jangan bahas Pak Riyan lagi bisa nggak? Sudah punya istri juga. Bahkan sudah hampir mempunyai anak. Ingat, lo bertengkar dengan Revan karena siapa? Ya karena Pak Riyan itu. Heran" omel Dina panjang kali lebar. Dirinya cukup sibuk memikirkan hal yang lain. Jangan ditambah dengan pemikiran baru lagi.
"Tapi entah kenapa ya Din. Tadi gue ngerasa Pak Riyan masih suka deh sama lo" Desi dengan segala opini-opini yang nggak jelasnya.
"Lo gila?" teriak Dina. Bahkan dirinya hampir tersedak oleh minuman yang sedang diminumnya.
__ADS_1
"Sembarangan" bantah Desi. "Piling Din. Piling gue mengatakan itu" tambahnya.
"Gue nggak peduli sama piling-piling aneh lo itu" Dina tidak ambil pusing dengan ucapan aneh sahabatnya itu. Meskipun dirinya sedikit membetulkan kata sahabatnya tersebut. Karena bagaimana pun juga dia juga dapat melihat sikap aneh si dosen tersebut. Bukannya Dina tidak tahu bahwa sedari mereka bertemu tadi, tatapan Riyan tampak berbeda ketika menatap ke arah Dina. Bahkan Riyan tidak sekali dua kali menatap Dina, tapi berkali-kali. Tapi Dina mencoba untuk mengabaikan. Bersikap biasa-biasa saja.
"Dina, Desi. Kalian sudah selesai?" tidak jauh dari sana terdengar suara Om Pras. Sepertinya laki-laki paruh baya tersebut sudah selesai dengan urusannya. Tapi Om Pras tidak sendirian saja, melainkan sama seseorang. Seseorang tersebut adalah Wahyu.
"Sudah Om" jawab dua wanita tersebut serentak. Lalu segera mendekat ke arah Om Pras dan juga Wahyu.
"Hai. Kita jumpa lagi" sapa Wahyu terlebih dahulu. Dina hanya memberikan senyuman sekilas. Berbeda dengan Desi yang tampak terlihat sedikit agak canggung. Tidak seberani tadi.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Om Pras melirik bergantian ke arah Dina, Desi, dan juga Wahyu.
"Sudah Om" jawab Dina dan Wahyu secara serempak. Menyadari itu Wahyu tampak tersenyum tidak jelas. Dasar gila, umpat Desi dalam hati.
"Sudah Om" Desi menjawab pelan sambil melirik tidak suka ke arah Wahyu.
"Yaudah. Mari kita pulang" Om Pras melangkahkan kakinya meninggalkan kantin. Lalu disusul oleh Dina. Desi yang berada di belakang Wahyu yang tampak hendak mensejajarkan langkahnya dengan Dina segera menghadang langkah laki-laki tersebut.
"Lo mau ngapain?" tanya Desi sedikit ketus.
"Pulanglah. Ngapain lagi emang?" balas Wahyu tak kalah ketusnya.
"Ngapain ngikutin kita?"
"Yang ngikutin lo siapa?"
"Lo"
"Gue ngikutin Om gue ya. Bukan ngikutin lo. PD amat jadi manusia"
"Au ah" Desi segera menyusul Dina yang sudah jauh di depannya.
"Kok mereka lucu-lucu sih, astaga" Wahyu tertawa sendiri menghadapi sikap pacar-pacar dari dua sepupunya tersebut. "Sialan! Bahkan si Revan yang baru lulus sekolah itu memiliki pacar seorang mahasiswi? Nggak adil sekali dunia ini Tuhan!" Wahyu terus merutuki takdir baik yang tidak berpihak kepadanya.
__ADS_1