Dina-Deni 'Love Story'

Dina-Deni 'Love Story'
Part 44.


__ADS_3

Hai all. Aku kembali lagi nih dengan part terbaru ehe. Selamat membaca dan selamat bermalam minggu 😘


....


Tok tok tok.


Bugh bugh bugh.


Ketukan plush gebukan terdengar di luar kamar Dina. Mengusik tidur nyenyak dua orang yang sekarang posisi tidur mereka sudah sangat-sangat kacau alias berantakan. Deni mencoba menarik pelan kaki kirinya yang dipeluk erat oleh Dina. Ya, sekarang posisi Dina sudah berputar 180 derajat. Dengan kepala yang berada pada bagian kaki, dan kaki berada pada bagian kepala.


Tok tok tok.


Bugh bugh bugh.


Sekali lagi ketukan ditambah gebukan itu terdengar di depan pintu. Dan kali ini bunyinya sedikit tidak santai. Deni berusaha untuk bangun dari tempat tidur, dan dengan tubuh yang sedikit oleng berusaha menuju pintu. Melihat siapa yang ada di balik sana, yang telah mengusik tidur nyenyaknya dipagi hari.


“Iy ...” ucapannya terpotong ketika melihat sosok makhluk yang berdiri di depannya.


“Mau apa lo?” tanyanya sengit. Ganggu aja.


“Mau apa mau apa! Lo nggak lihat sekarang jam berapa? Tidur di kamar cewek lagi. Lo kalau mau buat mesum jangan di rumah orangnya langsung dong Bang. Nggak sabaran amat jadi orang!!” omel Revan dengan wajah penuh kedongkolan.


Ya, manusia yang mengetuk alias memukul pintu kamar Dina sedari tadi itu adalah Revan. Adik satu-satunya Deni yang suka membuat Deni emosi tingkat tinggi, tapi Deni tetap sayang sekali, huhu.


Pasalnya, ketika bangun tadi pagi, Revan tidak menemukan Abangnya itu di sampingnya. Padahal kan seharusnya Deni tidur dengan dirinya di kamar yang sudah disediakan oleh keluarga Dina. Tanpa banyak berpikir, Revan langsung menghampiri kamar Dina. Karena tidak mungkin juga Abangnya itu tidur di kamar yang sama dengan kedua orang tuanya, apalagi di kamar Kakek Ahmad. Dan yang lebih tidak memungkinkan lagi yaitu di kamar Angga dan istrinya.


Ternyata dugaannya benar. Setelah mengetuk, menggedor, memukul dan juga menggebuk ditambah dengan rasa kesal yang menggebu-gebu pintu berwarna putih itu, dan dengan wajah yang menandakan tidak merasa bersalah sedikit pun, Deni berdiri di depannya. Penampilannya nggak enak dipandang sama sekali.


“Dah merasa kek pengantin baru ya lo? Semalam bayar DP dulu nggak? Atau jangan-jangan langsung lunas nih?” lanjut Revan yang tiada henti merecoki Abangnya. Wajar, rasa kesalnya belum reda.


“Diam nggak! Berisik amat lo pagi-pagi. Mending lo ...”


“Kalian ngapain di depan pintu?” suara Dina memotong bacotan dua orang kakak beradik tersebut.


“Kak Dina nggak kenapa-kenapa kan? Nggak ada yang sakit kan Kak? Nggak ada yang patah? Nggak ada yang cidera? Nggak ada yang ...”

__ADS_1


“Lo pikir gue ngapain? Jangan berlebihan bisa nggak sih?” potong Deni jengah. Dirinya lelah juga menghadapi sikap Adiknya yang terbilang sangat lebay.


“Yeee, kan mana tau lo khilaf Bang. Awas aja lo macam-macam. Gue aduin lo ke Kakek Ahmad!!” ancam Revan menatap Deni sinis sambil menunjuk-nunjuk wajah bantal Deni.


“Iye iyeee. Bawel lo!” Deni menepis pelan tangan Adiknya tersebut. “Berlebihan!” sungutnya pelan. 


“Bang, gue bawel gini karena gue sayang Bang sama Lo. Gue nggak mau lo salah jalan. Terus ngelakuin sesuatu yang membuat lo menyesal nanti. Jangan sampai lo ...” tiba-tiba ucapan Revan terhenti, karena Deni mengusap kasar wajah adiknya itu.


“Nggak usah ceramah deh. Muka lo kek maling ayam” potong Deni cepat. Dirinya malu dapat ceramah dipagi hari, di depan Dina lagi. Mau ditaruh di mana mukanya? Kandang ayam? Ya nggak bisa dong. Enak aja.


“Enak aja, muka ganteng gini dikatakan kek maling ayam. Yang ada noh muka lu mirip kobokan warteg” balas Revan tak terima.


Dina yang sedari tadi berdiri di samping Deni tampak senyam-senyum sendiri memperhatikan dua orang beda usia yang ribut dengan dunianya itu.


Inilah yang dirindukannya selama beberapa bulan terakhir ini. Suara ribut dan saling mengejek yang dilontarkan oleh Revan kepada Abangnya, dan juga sebaliknya.


Merasa perdebatan yang unfaedah itu entah kapan berakhirnya, Dina segera melangkahkan kaki menuju dapur untuk membuat sarapan, mengabaikan dua orang tersebut.


Sesampainya di dapur, Dina bertemu dengan Dila yang sudah mulai sibuk melakukan ini dan itu. Dan tanpa menunggu, Dina langsung melakukan apa yang bisa dilakukannya. 


“Maksud Kak Dila?” tanya Dina mengerutkan kening, tidak paham dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh istri sepupunya tersebut.


“Itu, Deni dan Revan. Sepertinya kamu fine-fine aja menghadapi mereka setiap hari” terang Dila sambil melirik sedikit ke arah Dina yang sedang memotong sayuran.


“Oh itu. Ehe, mereka menghibur kok Kak. Mungkin karena udah terbiasa juga, jadinya, ya nggak apa-apa” balas Dina jujur. Karena benar-benar itulah yang dirinya rasakan setelah hidup cukup lama dengan keluarga tersebut. Apalagi setiap hari dihadapkan dengan tingkah dua orang saudara itu. Dina seperti memiliki penghibur tersendiri.


“Bagus deh kalau kamu nyaman. Kakak lihat mereka berdua juga baik, dan tentunya juga sayang sama kamu. Semoga kamu bahagia ya Din. Nikmati saja apa yang sudah digariskan untuk kamu. Karena kita tidak tahu saja, mungkin di luaran sana banyak orang-orang yang ingin berada di posisi kamu saat ini. Jadi, intinya perbanyak bersyukur dan berbuat baik saja. Jangan melihat ke belakang lagi, tapi fokuslah untuk melangkah ke depan. Karena apa? Karena semua yang ada di masa lalu tidak akan pernah bisa kamu rubah atau pun kamu perbaiki, yang ada kamu hanya akan menyesal. Jadi, lebih baik kamu fokus untuk masa depan kamu saja, menatanya dengan baik mulai sekarang” Dila sejenak menjeda ucapannya. Memindahkan masakan yang sudah matang ke dalam piring saji.


“Aku yang sebagai Kakak kamu juga, tidak bisa memberikan apa-apa. Hanya bisa mendukung kamu dan juga mendokan semoga apa yang kamu lakukan dimudahkan. Apa pun itu lakukanlah, asal kamu suka dan melakukannya dengan sepenuh hati. Karena hanya kamu yang tahu apa yang terbaik untuk dirimu” lanjut Dila. Sesekali wanita yang tengah hamil tersebut matanya melirik ke arah Dina yang tampak mulai berkaca-kaca.


“Udah deh, nggak usah nangis. Malu tuh ada calon mertua kamu” bisik Dila sambil menepuk pelan bahu Dina.


Dina langsung mengalihkan matanya menatap kepada perempuan paruh baya yang hampir mendekati mereka.


“Ada yang bisa Tante bantu?” ujar wanita tersebut setelah memposisikan dirinya di samping Dina. Sedangkan Dila sudah kembali pada kegiatannya, yaitu memasak sayur yang tadi dipotong Dina.

__ADS_1


“Nggak usah Tan, Tante duduk aja ya” tolak Dina halus sambil mengarahkan Tante Rini untuk duduk di meja makan.


“Tapi Tante nggak enak loh Din. Masa kalian lagi masak, Tante malah jadi penonton aja” protes Tante Rini yang diminta untuk duduk memperhatikan saja. Mana enak dia.


“Nggak apa-apa Tan. Untuk sekarang biar Kak Dila saja yang masak. Kapan lagi Tante bisa merasakan masakan Kak Dila. Mantan cheff loh Tan, Kak Dilanya” Dina mencoba membujuk calon mertuanya tersebut. Sedangkan Dila sudah mencibir sedari tadi. Selain mendengar namanya yang dibawa-bawa, dirinya juga nggak tahan untuk mengomentari sesuatu.


“Duh, Dina-Dina. Kamu ini gimana sih Dek? Masa iya sama calon mertua masih manggil Tante. Manggil Mama juga dong, biar sama seperti Deni dan Revan. Kan sebentar lagi kamu resmi jadi bagian dari keluarga mereka juga. Iya nggak Tan?” Dila di akhir kalimatnya sengaja meminta persetujuan Tante Rini.


Wanita paruh baya tersebut nampak mengangguk pertanda setuju. Sedangkan Dina tampak salah tingkah karena ujaran Kakak iparnya tersebut. Kapan lagi coba ngerjain Dina, batin Dila tertawa bahagia.


“Iya ih. Kamu betul banget sayang. Sudah lama loh Tante meminta Dina untuk memanggil Tante, Mama aja. Tapi karena Dina yang belum terbiasa, ya Tante maklumin aja” ujar Tante Rini sendu. Itu sukses membuat Dina merasa bersalah. Kak Dila kok usil banget sih, batin Dina ngedumel sendiri.


“Ehe, iya Tan, eh maksudnya Ma. Mulai sekarang Dina akan membiasakan diri untuk memanggil Tante dengan Mama” balas Dina akhirnya. Tidak salah juga untuk mencoba kan?


“Okeee. Mama senang deh Din. Akhirnya ada juga anak perempuan yang memanggil Mama dengan panggilan Mama. Dari dulu loh Mama ingin sekali dipanggil seperti itu. Dan akhirnya sekarang terwujud juga. Makasih ya Din, Mama sayang bangeettt sama kamu” ujar Tante Rini sambil memeluk Dina erat. Kedua mata perempuan baya tersebut juga tampak berkaca-kaca.


Dina yang mendapat respon berlebihan dari calon mertuanya itu tampak merasa salah tingkah. Merasa nggak enak juga. Diliriknya Dila sekilas, namun wanita hamil tersebut hanya mengedikkan bahu, lalu melanjutkan pekerjaannya. Nggak membantu sama sekali.


“Kok Mama sih yang bilang makasih? Seharusnya kan Dina yang mengucapkan kata itu. Makasih karena Mama sudah menerima Dina, segala kekurangan Dina. Makasih juga karena Mama sudah menganggap Dina sebagai anak Mama sendiri, padahal Mama tahu sendiri bagaimana keadaan keluarga Dina. Terima kasih banyak ya Ma, Dina juga sayang sama Mama” Dina membalas pelukan hangat wanita tersebut. Dirinya merasa sebagai wanita yang paling beruntung bisa dipertemukan dengan keluarga Deni, keluarga calon suaminya itu.


Selain mendapatkan calon suami yang baik, mendapatkan mertua dan saudara ipar yang baik, juga merupakan suatu berkah yang sangat diharapkan oleh semua wanita di muka bumi ini. Termasuk Dina sendiri.


“Iyaaa. Kamu jangan sungkan ya, anggap saja Mama ini seperti Ibumu sendiri. Kalau butuh apa-apa minta aja, jangan malu-malu” Rini mengusap pelan punggung calon mantunya dengan sayang.


Sedangkan Dina hanya bisa menganggukkan kepala. Entah kenapa, sekarang gantian kedua matanya yang berkaca-kaca. Bahkan Dila juga tampak sama, dirinya ikut terharu dengan kedekatan dua wanita beda usia tersebut.


“Yaudah, mari kita lanjut mem ...” ucapan Tante Rini seketika terpotong bersamaan dengan pelukannya yang juga terurai.


“Kalian lagi apa? Kok peluk-pelukan?” tanya Revan yang tiba-tiba menampakkan dirinya di dapur. Diikuti oleh Deni dengan penampilan yang sudah sedikit lebih baik dari tadi.


“Aku juga ikutan peluk-peluknya dong” lanjut Revan sambil merentangkan kedua tangannya, lalu berjalan mendekat ke arah Dina. Tinggal satu langkah lagi mencapai tubuh Dina, tiba-tiba tubuh Revan tertarik ke belakang. Kerah baju bagian belakangnya ditarik paksa oleh seseorang, siapa lagi kalau bukan Deni.


“Ganggu aja lo!” umpat Revan sambil menatap Deni tidak terima. Padahal tujuannya hanya satu, ya, untuk mengerjai Abang bucinnya itu.


“Nggak boleh! Awas aja lo peluk Dina, gue pecat lo sebagai Adik” sungut Deni sedikit kesal. Pasalnya, sedari Revan merentangkan tangan tadi, Dina juga melakukan hal yang sama. Seolah-olah menerima pelukan tersebut dengan senang hati. Apa-apaan gadis itu, bikin kesal aja.

__ADS_1


“Hahaha .... Lo kalau lagi cemburu jelek banget Bang wajahnya. Nggak cocok anjir” tawa Revan pecah ketika melihat raut wajah Deni yang sedang pura-pura merajuk. Seketika susana di dapur sana berubah. Tawa dan juga teriakan-teriakan kekesalan Deni dan Revan membahana. Sungguh, pagi yang indah. Yang diawali dengan perdebatan-perdebatan konyol ala Deni dan juga Revan.


__ADS_2