
Setelah kepergian Deni yang seperti dibawa angin itu, Dina segera meraih ponselnya yang ada di nakas. Dia begitu penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Deni pada ponselnya tersebut.
"Tadi dia ngapain sih di ponselku?" gumamnya mencoba mencari hal-hal aneh apa yang ada di ponselnya. Seketika matanya terbelalak saat melihat nama kontak yang asing di sana, Deniku Sayang❤. Apaan sih alai banget. Dina kembali merubah nama kontak tersebut menjadi, Deni Bodoh😺.
Tangannya masih sibuk memeriksa hal-hal aneh lainnya, tapi tidak menemukan apa-apa di sana. "Masa iya sih cuma itu aja?" gumamnya lagi, karena tadi seingatnya Deni cukup lama menjelajahi ponselnya itu.
...
Jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Setelah salat, Dina memutuskan untuk turun ke bawah karena merasa lapar, dan langsung menuju meja makan.
Di saat sedang sibuk menyantap makanan yang dimasaknya tadi pagi, tiba-tiba Revan duduk di hadapannya. Sepertinya anak ini baru pulang sekolah, batin Dina.
"Udah makan Van?" tanya Dina basa-basi untuk mencairkan suasana. Karena seingatnya, dirinya dan Revan belum pernah sekalipun berbicara sedekat ini semenjak dia tinggal di rumah laki-laki itu. Jujur dirinya sedikit agak canggung.
"Belum Kak. Kak Dina makan apa?" tanya Revan balik, karena dia merasa heran dengan menu yang dimakan Dina berbeda dengan masakan yang dimasak oleh Bibi tadi pagi.
"Oh ini, tadi aku yang masak. Kamu mau coba?" Dina menawarkan hasil masakannya. Sebenarnya dirinya tidak yakin kalau masakannya tersebut bakalan cocok dengan lidah Revan.
"Boleh" jawab Revan antusias. Dia segera mengambil piring dan mengisinya dengan nasi beserta masakan yang dimasak oleh Dina. Hanya setengah piring tumis-tumisan saja sih. Karena itu adalah sisa masakannya tadi pagi.
Dina merasa was-was menunggu tanggapan dari Revan. Matanya terus menatap penuh harap seseorang yang sedang makan dengan lahap di depannya tersebut.
"Gimana?" tanya Dina akhirnya. Karena Revan tidak kunjung berbicara, dan Dina begitu penasaran.
Setelah menyelesaikan suapan terakhirnya dan meminum seteguk air putih, Revan akhirnya memberikan tanggapan. "Enak Kak" ujar laki-laki remaja itu sambil memperlihatkan dua jempol tangannya. "Kakak pintar sekali memasaknya" tambahnya dengan senyuman manis.
Itu bukanlah gaya Revan yang sebenarnya. Dia merupakan tipikal laki-laki remaja yang super duper cuek dan apa adanya. Tapi untuk sekarang ini dia terlihat berbeda, bahkan sangat. Jarang sekali seorang Revan bisa mengekspresikan sesuatu dengan jelas.
__ADS_1
"Masa sih?" tanya Dina lagi malu-malu sok manis. Karena dia begitu jarang mendapatkan pujian dalam hal masakan selain dari sang Kakek.
"Iya, gue serius. Nanti masakin lagi ya? Hehe" Revan sudah mulai ngelunjak aja nih. Belum sempat Dina menjawab, seseorang duduk di sampingnya.
"Dina bukan pembantu ya. Jangan lo suruh-suruh!" ujarnya dingin sambil menatap sang adik. Dia adalah Deni, yang sedari tadi memperhatikan interaksi dua orang yang berada di meja makan itu.
"Ye siapa juga yang suruh-suruh. Gue nggak ada ya nyuruh-nyuruh Kak Dina. Iya kan Kak?" Revan meminta pembelaan kepada Dina. Sedangkan Dina hanya diam dalam kebingungan menghadapi dua orang laki-laki yang berbeda usia ini.
"Nggak kok Van. Nanti aku masakin lagi ya" jawab Dina pada akhirnya. Karena dia merasa tidak masalah sama sekali jika hanya sekedar memasak saja. Dan nggak enak juga tentunya.
"Nggak boleh!" tolak Deni tegas. "Kamu jangan biasakan untuk memanjakan dia Na. Nanti ngelunjak" tunjuk Deni tepat di depan wajah Revan.
"Apa-apaan sih lo Bang. Lo iri ya? Iya kan? Iri bilang bos. Hahaha" kekehnya sambil terus menggoda sang Abang. "Atau jangan-jangan lo cemburu lagi? Ngaku nggak lo? Anjir, seorang Deni yang berhati dingin ternyata bisa cemburu juga. Astagaaa" tambahnya sebelum ngacir ke ruang tamu setelah sang Abang mengarahkan gelas ke arahnya.
"Lo bilang apa tadi? Jangan kabur lo woi! Dasar bocah sialan" Deni mengumpat sambil terus memanggil sang Adik.
"Jadi begini ya rasanya memiliki saudara?" ujarnya pelan, dan tanpa dia sadari Deni mendengarkannya.
"Maaf ya, kamu jadi melihatnya. Jangan dimasukin hati apa yang dikatakan oleh bocah sialan itu" Deni mencoba mengalihkan apa yang ada di pikiran Dina. Karena dia tahu betul apa yang dimaksud oleh Dina.
"Nggak apa kok. Aku suka hehe. Rasanya aku memiliki dua orang saudara! Asyiiiik senangnya ya Allah. Keduanya ganteng-ganteng lagi. Aku beruntung sekali, huhu" Dina memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua belah tangannya. Sesekali matanya mencoba menatap ke arah Deni yang berada di sebelahnya.
"Sa ... Saudara?" Deni bertanya gagap. Dina apa-apaan sih? Kok jadi saudara? Batinnya berkecamuk dengan berbagai macam pertanyaan. Hilang sudah kekesalannya terhadap sang Adik. Sekarang teralihkan oleh perkataan yang dilontarkan oleh Dina. Jangan sampai rencana konyolnya tersebut jadi gagal.
"Iya. Emang kenapa? Kamu nggak mau jadi saudara aku?" Dina mencoba menggoda Deni lagi. Karena dia tahu apa yang dimaksud oleh laki-laki itu sebenarnya. Dirinya pun juga tidak mau jika hanya menjadi sebagai saudara saja bagi laki-laki itu, dia mau lebih. Dasar Dina maruk.
"Nggak!" tolak Deni tegas.
__ADS_1
"Ih kok gitu, kenapa?" Dina berusaha menahan tawanya.
"Aku mau kita menikah. Bukan jadi saudara. Menikahlah denganku Dina! Hmm" seketika Dina terdiam mendengar jawaban dari Deni. Kok terus terang sekali sih? Dasar Deni.
"Hmm, aku pikirkan dulu" Dina melangkahkan kakinya menuju lantai dua. Sedangkan Deni hanya bisa melongo ketika mendengarkan jawaban dari Dina tersebut. Ini maksudnya dia digantung gitu? Astaga, Dina.
"Deni sialan. Kok ngajak nikahnya dadakan gitu sih? Nggak ada romantis-romantisnya" omel Dina setelah menutup pintu kamar.
Kenapa dia kesal? Apa yang dia harapkan? Apakah dia sudah mulai ada rasa pada Deni? Atau hanya sekedar rasa takut kehilangan saja?
Seketika ingatannya kembali pada kejadian tadi pagi. Shilla. Ya, sepertinya gadis itu akan menjadi rivalnya mulai sekarang. Rival dalam memenangkan hati Deni.
Meskipun Dina tahu kalau Deni tidak ada rasa pada Shilla, dan entah kenapa Dina merasa senang dengan kenyataan tersebut. Tapi dia juga merasa waspada ketika melihat tatapan gadis itu tadi pagi. Dina menyingsingkan lengan bajunya sampai pundak.
"Astaga, saingan gue berat sekali Ya Allah" pekiknya sambil menghembuskan napas kasar. Dia tiba-tiba merasakan insecure ketika membayangkan bagaimana rupa Shilla, mahasiswa kedokteran tersebut.
Dina segera berdiri di depan cermin. Apa yang bisa dibanggakan dari dirinya ini? Bahkan tubuhnya pun tidak sebagus tubuh gadis itu. Wajahnya juga tidak secantik itu. "Tapi lebih cantik tentunya. Hahaha" Dina memuji wajahnya sendiri di depan cermin.
"Iya, gue lebih cantik" yakinnya pada diri sendiri.
"Wahai cermin. Siapakah wanita yang paling cantik saat ini?" ujarnya sambil menatap cermin dengan nada yang dibuat-buat serius.
"Dina. Hanya Dina" Dina pun menjawab sendiri pertanyaan yang dia lontarkan.
"Aish, jangan sampai gue gila karena ini. Amit-amit ya Allah" Dina melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dia harus menyegarkan otaknya terlebih dahulu.
Dan tanpa dia sadari, sedari tadi ada seseorang yang berusaha mati-matian untuk menahan tawanya di balik pintu.
__ADS_1
Deni.