Dina-Deni 'Love Story'

Dina-Deni 'Love Story'
Part 34.


__ADS_3

Kamu tahu bagaimana hancurnya kita ketika mendapatkan kabar orang yang kita sayangi tidak baik-baik saja? Kamu tahu bagaimana sakitnya kita ketika mengetahui dia yang selalu ada menemani kita, sekarang entah di mana keberadaannya? Ya, hancur sehancurnya, sakit sesakitnya.


Itulah yang dirasakan oleh Dina. Gadis yang sudah dipaksa mandiri semenjak lahir, dan juga dituntut dewasa sebelum waktunya itu.


Setelah kehilangan yang sering kali menghampirinya, kini kehilangan itu sepertinya belum jera juga untuk tidak mendekat padanya. Lagi-lagi dirinya dipertemukan kembali dengan kehilangan untuk yang kesekian kalinya.


Deni, orang yang menjadi tumpuan harapan hidupnya. Orang yang merupakan alasan satu-satunya bahagia dirinya. Orang yang paling berharga dalam hidupnya, sekarang dikabarkan menghilang setelah dua bulan kepergiannya untuk melakukan hal baik tersebut. Keberadaannya tidak diketahui.


Deni ikut bergabung sebagai seorang relawan dari rumah sakit Papanya. Beberapa dokter yang ada di rumah sakit tersebut diutus untuk menjadi sukarelawan. Sukarelawan ini merupakan perwakilan dari perkumpulan dokter seluruh Indonesia. Dan entah karena alasan apa, Deni juga bersikeras untuk mengikuti kegiatan sosial tersebut. Padahal sang Papa sudah meminta laki-laki tersebut untuk tidak ikut andil dalam kegiatan ini. Dikarenakan dirinya yang masih kuliah.


"Apakah kamu tidak bisa untuk tidak pergi?" tanya Dina untuk terakhir kalinya ketika mengantar Deni dan beberapa orang dari rumah sakit ke bandara.


"Kamu kan tahu, aku sangat menunggu moment ini Din. Doakan aku semoga sampai dengan selamat ya. Hanya dua bulan. Nggak lama" balasnya sambil mengusap kepala Dina pelan.


Dirinya sangat paham akan kekhawatiran yang dirasakan oleh Dina tersebut. Tapi dia harus menyakinkan Dina bahwa semua akan baik-baik saja. Apalagi yang bisa diucapkannya untuk orang yang ditinggalkan selain harapan?


Setelah hampir satu bulan putus kontak, berita buruk itu datang menghampiri keluarga Deni. Deni hilang tanpa jejak bersama rombongannya di negara yang sedang dilanda musibah tersebut. Entah apa yang menjadi penyebab dari itu semua. Belum ada yang tahu.


Dina menangis sejadi-jadinya ketika mendapat kabar bahwa orang terkasihnya, orang tercintanya tidak bisa ditemukan keberadaannya. Dina hancur. Hatinya, dan juga semuanya.


Bahkan setelah hampir satu bulan lebih lamanya tidak saling berhubungan, malah kabar duka itu yang didapatkannya. Takdir memang suka bercanda. Dan itu selalu terjadi di waktu yang tidak tepat.


Dina merutuki takdir buruk yang selalu setia menghampirinya tersebut. Kapan bahagia yang kata orang-orang itu ada, akan benar-benar didapatkannya? Entahlah. Tubuhnya melemah dalam dekapan tante Rini, Mama Deni. Sama saja, wanita paruh baya itu juga sama hancurnya dengan Dina. Wanita itu juga menangis sambil memeluk erat tubuh Dina yang semakin melemah.


"Kamu bilang akan segera pulang. Kamu bilang tidak akan lama. Kamu bilang kamu merindukan aku. Tapi mana? Kamu bohong. Kamu pembohong. Kamu jahat Deni. Kamu tega sama aku. Hiks!" racau Dina dalam kekalutannya sambil berurai air mata. Tante Rini juga terisak semakin kencang ketika mendengar setiap kata-kata yang dilontarkan oleh Dina. Tangannya terus mengusap punggung Dina pelan. Mencoba memberikan ketenangan, meskipun dirinya sendiri juga sedang tidak baik-baik saja.


Revan mendekati sang Mama. Laki-laki tersebut juga tampak meneteskan air mata ketika mendengar kabar terakhir dari pihak rumah sakit. Diusapnya bahu wanita paruh baya tersebut. Matanya juga sesekali menatap ke arah calon Kakak ipar yang tampak tidak berdaya di dalam dekapan sang Mama.


"Mama yang kuat ya. Kita doakan semoga hal baik selalu menyertai Abang di mana pun dia berada. Aku yakin, Abang pasti akan baik-baik saja. Dia orang yang kuat Ma. Percaya sama aku. Hmm. Jangan terlalu cepat menyimpulkan apa yang yang belum ada buktinya. Intinya kita berdoa sama Allah, semoga hal baik selalu menyertai keluarga kita" ujar laki-laki tersebut dengan lembut. Dirinya paham sekali dengan apa yang dirasakan oleh dua orang wanita yang ada di depannya ini.


Tante Rini melepaskan dekapannya dari tubuh Dina secara perlahan. Bahkan mereka sekarang sama-sama duduk bersimpuh di atas lantai. Diusapnya wajah Revan dengan pelan, air mata  masih tampak menggenang di pelupuk matanya. Tante Rini kembali terisak sambil sesekali menganggukkan kepala. Meyakinkan dirinya bahwa apa yang terjadi barusan belum benar adanya. Masih ada waktu untuk mencari tahu hal tersebut. Masih ada harapan.


"Iya, Mama akan berusaha kuat demi kalian" ujar Tante Rini lemah. Dirinya kembali menatap Dina yang tertunduk lemah tak berdaya. Dina sangat kacau. Malang sekali gadis ini, batinnya.


"Sayang, kita pindah ke kamar yuk? Di sini terlalu dingin" Tante Rini berusaha mengajak Dina untuk kembali ke kamarnya setelah tangisnya mereda. Hanya terdengar isakan kecil dari Dina.


Karena sekarang ini tengah malam, udara terasa cukup dingin sekali. Dan posisi mereka sekarang ini ada di ruang keluarga, di dekat meja telepon rumah.

__ADS_1


Sebelumnya, Dina yang semula terjaga karena merasa haus, lalu berjalan menuju dapur. Ketika hendak kembali ke kamarnya tiba-tiba telepon yang ada di ruang keluarga berdering. Awalnya dirinya berusaha untuk mengabaikan, ketika melirik jam yang ada di dinding sudah pukul satu dini hari. Tapi entah kenapa, telepon tersebut terus berdering. Dan dengan ragu Dina menjawab panggilan tersebut. Menit berikutnya dirinya terjatuh ke lantai, dan dengan tidak sengaja juga terjatuh satu vas bunga kecil yang ikutan tertarik oleh tali telepon.


Tante Rini terbangun, dan langsung menuju ke arah Dina. Setelah melihat apa yang telah terjadi, dirinya langsung berteriak membangunkan Revan. Karena saat sekarang ini, sang suami sedang tidak berada di rumah.


Dilihatnya Dina sudah berurai air mata sambil memangku dengan erat telepon yang ada di genggamannya. Tante Rini mendekat, lalu ikut berjongkok di hadapan Dina.


"Kamu kenapa sayang? Apa yang terjadi?" tanya Tante Rini pelan. Tidak ada jawaban dari Dina, yang ada tangis gadis tersebut malah semakin pecah.


"Ada apa Ma? Apa yang terjadi?" Revan muncul dengan muka bantalnya. Tante Rini menjawab dengan gelengan kepala, karena dirinya belum mendapatkan jawaban apapun dari Dina.


Revan mendekat ke arah Dina, lalu meraih telepon tersebut. Ternyata masih tersambung. Segera Revan menanyakan apa yang telah terjadi sebenarnya. Setelah menutup telepon, dirinya diam membatu di sebelah meja. Mencerna setiap kata-kata yang disampaikan oleh seseorang yang berada di seberang sana.


"Kenapa Van? Apa yang terjadi?" tanya Tante Rini panik. Firasatnya sudah tidak enak sedari melihat Dina terisak tadi.


"Mama jangan panik dulu, oke? Janji sama aku kalau Mama akan tetap tenang. Hmm? Revan menyentuh pundak sang Mama yang berdiri di sebelahnya. Wanita tersebut menganggukkan kepala beberapa kali. Dirinya sudah cukup penasaran sekali dengan apa yang telah terjadi. "Abang dan rombongannya hilang tanpa jejak. Entah apa penyebabnya, pemerintahan kita sedang mencari tahu" Revan menjelaskan dengan satu tarikan nafas.


Tampak Tante Rini terdiam mencerna setiap kata-kata yang didengarnya. Dirinya perlahan menatap ke arah Dina yang masih terisak. "Deni yang malang!" pekiknya sebelum mendekap erat tubuh Dina yang sedang terduduk di lantai. Dirinya juga mendudukkan diri di sana. Tangisnya pecah bersama tangis Dina.


Segala macam pertanyaan berkecamuk di dalan kepalanya. Ditambah dengan pikiran-pikiran buruk lainnya. Apa yang terjadi dengan putranya tersebut? Siapa yang tega melakukan kepada mereka semua? Jangan sampai hal buruk terjadi, terutama kepada putranya. Segalanya. Segala permohonan dan segala kemungkinan yang terjadi terus saja membebani kepalanya.


"Kamu yang kuat ya sayang. Kamu harus kuat" racau Ibu dari laki-laki yang dikabarkan sedang menghilang tersebut.


Revan juga tampak meneteskan air matanya. Bohong sekali jika dirinya tidak merasakan duka tersebut. Hanya saja dirinya belum sepenuhnya percaya sebelum ada bukti yang menjelaskan semuanya.


...


"Van, sepertinya Dina tertidur karena kelamaan menangis. Tolong kamu gendong ke kamar Mama aja ya" pinta Tante Rini setelah lama tercipta keheningan di ruang tamu tersebut.


Ya, mereka masih di sana. Itu dikarenakan Dina yang enggan meninggalkan tempat tersebut, sebelum tangisnya benar-benar reda. Tante Rini yang tidak tega membiarkan Dina menangis sejadi-jadinya itu memilih untuk menemani Dina. Sampai gadis tersebut tertidur di dalam dekapannya. Wanita paruh baya itu terus berusaha untuk menguatkan dirinya dan juga hatinya, demi keluarganya. Demi Dina.


"Iya Ma" ujar Revan pelan. Lalu dengan hati-hati diangkatnya tubuh Dina, dan dibawa menuju kamar sang Mama.


Setelah tubuh Dina diletakkan di atas tempat tidur, Revan menyelimuti tubuh lemah tersebut dengan selimut tebal. Lalu segera mematikan lampu, dan beranjak keluar menuju kepada sang Mama yang duduk di sofa ruang keluarga.


"Apakah kita perlu mengabari Papamu sekarang Van?" tanyanya kepada sang putra yang baru saja mendudukkan diri di sebelahnya.


Revan tidak langsung memberikan jawaban. Dirinya diam dulu sejenak memikirkan sesuatu. "Besok pagi aja gimana Ma? Revan takut, kalau kita mengabari Papa sekarang, nanti Papa langsung pulang karena khawatir sama kita. Apalagi sekarang sudah tengah malam begini" jelasnya pelan sambil menggenggam tangan sang Mama. Dirinya kurang yakin juga jika sang Papa belum mendapatkan kabar tersebut.

__ADS_1


"Yaudah deh, kalau itu menurut kamu yang terbaik. Sekarang kamu kembali ke kamar ya. Masih lama menuju pagi" Tante Rini melepaskan genggaman tangannya pada Revan. Lalu segera beranjak ke kamarnya.


"Iya Ma" balas Revan sebelum sang Mama menghilang di balik pintu.


Laki-laki tersebut masih merenung di ruang keluarga. Entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Dirinya mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang terjadi saat ini bukanlah mimpi. Tapi dirinya juga berusaha untuk yakin bahwa itu semua belum pasti benar-benar terjadi.


Jam di dinding sudah menunjukkan hampir pukul dua. Revan melangkahkan kaki menuju kamar. Dirinya mendudukkan diri di atas ranjang, lalu meraih ponsel yang ada di nakas.


Revan mencari nama kontak seseorang yang ada di ponselnya, lalu dengan ragu dipanggilnya nomor tersebut. Tidak ada jawaban, hanya suara operator yang terdengar. Berkali-kali Revan mencoba memanggil nomor tersebut, tapi hasilnya tetap nihil.


'Broh', itulah nama kontak yang tertera di sana. Ya, sedari tadi dirinya berusaha memanggil nomor ponsel luar negeri sang Abang. Tapi tidak ada jawaban sama sekali, bahkan nomor tersebut sedang tidak aktif.


Revan berusaha untuk tetap berfikir positif, tapi prasangka buruk itu juga bersamaan hadir menghantuinya.


"Hallo!" seseorang menjawab panggilan yang dilakukannya sekali lagi.


"Van, kamu nggak papa?" karena tidak ada tanggapan dari Revan, orang di seberang sana cukup merasa khawatir juga. Dia bukan Deni, tapi Desi. Revan menelpon gadis tersebut. Entah sengaja atau tidak, tapi panggilan tersebut sudah tersambung.


"Hmm iya, aku oke" jawabnya ragu. suaranya bergetar. Dia ingin sekali menceritakan semuanya kepada Desi. Seseorang yang saat ini menjadi tempat utama untuk dirinya berkeluh kesah mengenai segala hal setelah hubungan mereka cukup membaik.


"Kamu kenapa? Hmm" tanya Desi pelan. Dirinya merasa curiga juga dengan tingkah laki-laki yang sudah berganti status menjadi pacarnya tersebut.


Tidak ada jawaban, hanya terdengar isakan kecil dari Revan. Ya, laki-laki tersebut kembali menangis. Laki-laki yang biasanya selalu bersikap apa adanya itu, sekarang lagi menangis. Menangisi suatu hal buruk yang tengah menimpa sang Abang.


Apakah laki-laki tidak boleh menangis? Jawabannya sama dengan pertanyaan, apakah wanita boleh berkelahi? Ya, jawabannya adalah tentu saja boleh. Tidak ada yang membatasi hal tersebut.


"Van?" tanya Desi lagi, pelan. Jarang sekali laki-laki ini menunjukkan kesedihannya. Tidak ada jawaban. Bahkan suara tangis yang sempat terdengar tadi sekarang sudah tidak ada lagi. Sepertinya Revan sudah menghentikan tangisnya.


"Maaf, aku ganggu kamu" ujarnya serak setelah cukup lama tercipta keheningan.


"Tidak masalah. Kamu boleh ganggu aku kapan pun itu" jawab Desi. Dirinya curiga, pasti ada sesuatu yang terjadi dengan laki-laki ini. Tapi dirinya tidak mau memaksa Revan untuk bercerita sekarang. Apalagi melalu ponsel di tengah malam yang hampir menuju pagi ini. "Sekarang kamu tidur ya? Besok aku ke rumah" Desi berujar seperti sedang menyuruh seorang anak kecil untuk kembali tertidur karena terbangun dari mimpi buruknya, lalu menangis.


"Hmm" ujar Revan pelan. Jika dirinya sedang baik-baik saja, dia tidak akan terima dengan perlakuan Desi yang seperti itu. Tapi untuk kali ini dia biarkankan saja. Bukan waktunya untuk memperdebatkan hal yang tidak berguna.


"Oke. Good night beb" Desi memutuskan panggilan tersebut.


Revan segera merebahkan dirinya di atas ranjang. Mencoba untuk kembali memejamkan mata. Dirinya harus menyiapkan diri untuk menghadapi hari esok. Entah apa yang akan terjadi besok pagi. "Semoga semuanya baik-baik saja" ujarnya sebelum menutup mata.

__ADS_1


__ADS_2