
Setelah pulang ke rumah, Dina segera membersihkan badannya terlebih dahulu. Berbeda dengan Deni yang langsung bergabung di meja makan dengan Revan, sang Adik.
"Laper banget lo Bang?" tanya Revan yang heran melihat sang abang makan begitu rakusnya.
"Hmm" Deni hanya membalas dengan gumaman karena mulutnya terlalu sibuk mengunyah.
Revan hanya mengangkat kedua bahunya dan melanjutkan kegiatannya kembali, yaitu memainkan ponsel.
Ya sedari tadi anak itu tidak makan meskipun sedang duduk di meja makan. Melainkan hanya memainkan ponsel dan ditemani oleh cemilan kesukaannya.
"Bang, Papa dan Mama kapan balik sih?" anak bungsu ini sepertinya sudah mulai rindu dengan sang Ayah dan Ibu yang sudah pergi hampir lima hari ini.
"Kenapa? Lo pen nyusu?" bukannya menjawab, tapi sang abang malah bertanya balik, dan pertanyaannya tersebut sangatlah nggak penting.
"Sembarangan lo. Wajarlah gue nanyain bonyok sendiri. Nanyain bonyok orang baru nggak wajar. Sialan lo" umpat sang adik yang tidak terima dengan pertanyaan sang abang.
Sepertinya kekesalannya sedari tadi siang masih betah bertahan. Selama perjalanan pulang tadi pun Dina juga tidak memberikan penjelasan mengenai apa yang dia tanyakan ketika makan siang itu. Bahkan Dina sepertinya mencoba untuk menghindar ketika Deni sudah memulai membicarakan hal tersebut. Benar-benar aneh.
"Serah lo" Deni melenggang pergi setelah menyelesaikan makanannya. Lalu tiba-tiba dia menghentikan langkah, dan menghadap ke sang adik "Oh iya, nanti teman Dina ada yang mau nginap di sini" ujarnya dan melanjutkan kembali langkah menaiki tangga menuju kamar.
"Apa urusannya sama gue coba? Terserah" Revan pun berlalu ke kamarnya.
...
Dina turun ke lantai satu, tapi dia tidak menemukan siapa-siapa di sana. Tidak ada seorang pun. Baik itu di ruang tamu, ruang makan, maupun di dapur.
"Pada ilang ke mana sih orang-orang?" ujarnya yang tampak bingung. Karena seingatnya, tadi masih terdengar suara orang berbicara sebelum dia masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Tapi setelah turun orang-orang itu sudah tidak menampakkan diri lagi. Bi Iyas pun juga tidak ada.
"Biii, Bi Iyaaas" Dina mencoba memanggil wanita paruh baya itu. Dikarenakan Desi akan menginap, Dina berencana memasak sesuatu yang spesial untuk makan malam mereka. Dan dia butuh bantuan si Bibi.
"Biii, Bibiii" sekali lagi Dina mencoba memanggil sang asisten rumah tangga tersebut.
"Iya Non, ada yang bisa Bibi bantu?" Bi Iyas datang dengan membawa gunting tanaman di tangannya.
__ADS_1
"Eh maaf ya Bi jika Dina mengganggu Bibi" Dina merasa sungkan karena telah mengganggu Bi Iyas yang lagi bekerja.
"Ndak kok Non. Lagian Bibi juga sudah selesai kerjanya" jawan Bi Iyas sambil tersenyum ramah.
"Kok Bibi yang ngerjain di kebun? Bukannya ada yang ditugaskan di bagian itu ya Bi?" Dina merasa heran ketika melihat si Bibi yang sedang memegang gunting tanaman. Karena seingatnya yang dikatakan oleh Mama Deni kalau di rumah ini dikerjakan tiga orang asisten rumah tangga. Satu orang bagian memasak, mencuci dan juga membereskan rumah, dan beliau adalah Bi Iyas. Satu orang lagi sebagai supir pribadi, yaitu pak Tejo. Dan satunya lagi sebagai tukang kebun, tapi Dina belum mengenalnya, karena belum pernah ketemu.
"Iya Non. Tapi untuk beberapa hari ini beliau izin untuk tidak bekerja. Dikarenakan beliau lagi pulang kampung Non. Biasanya yang gantiin pak Tejo sih, tapi karena pak Tejo lagi pergi ke luar kota bersama Tuan dan Nyonya, jadi Bibi aja yang ngerjain, hehe" dari gurat wajahnya tampak kalau Bi Iyas ini sudah sangat kelelahan.
"Yaudah deh Bi. Mulai sekarang biar Dina aja yang bantuin Bibi ya" usul Dina yang merasa iba dengan Bi Iyas. Apa salahnya kalau dia turut membantu pekerjaan rumah ini?
"Jangan Non, saya nggak enak sama Tuan dan Nyonya" tolak Bi Iyas karena merasa tidak enak dengan majikannya. Bagaimanapun juga, Dina merupakan seorang tamu di rumah ini. Bahkan tamu yang sangat spesial.
"Nggak apa Bi. Jangan sungkan. Aku sudah biasa melakukan itu semua kok, hehe" Dina memperlihatkan senyuman manisnya untuk meyakinkan Bi Iyas terhadap usulannya tersebut.
"Tapi jangan dipaksakan ya Non. Bibi takut nanti Non Dina merasa nggak nyaman tinggal di sini" entah kenapa si Bibi belum yakin dengan keputusannya.
"Siap Bi. Dina mengerjakan apa yang Dina sanggup aja kok. Sekarang mari kita memasak" Dina menggandeng tangan Bi Iyas menuju dapur. Bi Iyas seketika merasa takjub dengan sikap Dina. Gadis baik hati. Tidak heran jika Tuan dan Nyonya di rumah ini memilih gadis yang sedang menggandeng tangannya tersebut sebagai seorang calon menantu mereka. Menantu idaman sekali.
...
Sebelum jam makan malam, Desi sudah sampai di kediaman Deni. Gadis tersebut datang dengan mengendarai mobil kesayangannya.
"Siapa?" tanya Revan yang ditugaskan untuk membuka pintu.
"Elo?" pertanyaan juga dilontarkan oleh Desi ketika melihat siapa yang ada di balik pintu bercat putih tersebut, ditambah dengan wajah yang sulit diartikan.
"Lo ngapain di rumah gue?" Revan juga tak kalah terkejutnya ketika melihat siapa yang bertamu disenja hari.
"Gue mau ke rumah Deni. Ini rumah Deni kan? Minggir lo!" Desi masuk menerobos pintu sambil mendorong tubuh Revan yang ada di tengah-tengah jalan.
"Ini juga rumah gue bego. Lo ngapain sih magrib-magrib datang ke rumah orang? Nggak sopan banget tau nggak. Pergi lu!" Revan tidak terima dengan perlakuan si tamu bar-bar tersebut. Enak aja dia, ini kan juga rumah gue, batinnya.
"Lo ngusir gue? Kurang ajar ni anak. Sini lo kalau berani!" Desi menunjuk laki-laki remaja tersebut sambil menampakkan wajah judesnya.
__ADS_1
"Gue nggak takut. Mau apa lo?" bukannya takut, Revan malah mendekatkan tubuhnya.
"Kalian ngapain?" sebelum adegan selanjutnya terjadi, kegiatan adu mulut dua orang tersebut terhenti.
"Kalian ngapain?" sekali lagi pertanyaan itu dilontarkan oleh Deni. Dirinya juga geram melihat tingkah dua orang beda usia yang ada di depannya itu.
"Jadi dia yang lo maksud teman kak Dina Bang?" akhirnya Revan membuka suara setelah mengerti situasi yang dihadapinya.
"Iya. Kenapa emang?" Deni bertanya karena heran juga dengan sikap sang bocah.
"Semoga kak Dina nggak salah pilih teman deh, kasihan gue" ujar bocah tersebut sebelum berlalu.
"Ngomong apa lo barusan?" Desi merasa tersindir dengan apa yang dilontarkan oleh Revan.
"Kenapa? Lo ngerasa?" Revan menghentikan langkahnya dan tersenyum mengejek ke arah Desi. "Baguslah" lanjutnya.
Sedangkan Deni berusaha mati-matian mencoba mencerna apa yang telah terjadi saat ini. Apa yang sudah dia lewatkan? Tapi sayang, otak gantengnya gagal untuk bekerja. Dirinya hanya bisa terdiam sambil berpangku tangan menyaksikan perdebatan unfaedah yang dilakukan dua orang tersebut.
"Kalian sudah selesai?" tanyanya setelah tercipta keheningan di antara mereka.
"Sudah!" jawab Desi dan Revan serentak dengan nada sedikit bentakan. Ngeri anjir. Dia yang salah dia yang galak wkwk.
"Oke. Silahkan beranjak dari depan pintu ini, dan segeralah menuju ke ruang keluarga" titah Deni, dan entah kenapa dua orang yang tadi sempat adu emosi tersebut menurutinya dengan patuh.
"Sialan. Ngapain dia yang ngatur gue sih" umpat Desi tersadar setelah beberapa langkah kakinya menuju ruang keluarga.
"Kok jadi lo yang ngatur-ngatur sih Bang?" tanya Revan yang tidak terima setelah mulai paham dengan apa yang dihadapinya.
"Serah gue dong. Nurut aja kalian. Jangan banyak bacot" titah Deni lagi.
"Iyeee Tuan" Desi dan Revan menjawab serempak.
"Sialan" umpat Deni pelan.
__ADS_1