Dina-Deni 'Love Story'

Dina-Deni 'Love Story'
Part 19.


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas dini hari. Tapi suasana di kediaman Om Pras dan Tante Rini tampaknya masih rame. Mereka menghabiskan waktu di ruang karaoke sekaligus bioskop mini yang dimiliki oleh keluarga tersebut.


Desi yang semula canggung ketika berhadapan dengan kedua orang tua sang mantan sekarang sudah tidak secanggung tadi. Dia sudah tampak bisa mengakrabkan diri. Terutama kepada Tante Rini yang sangat baik dan keibuan itu.


"Enak keknya ya Pa kalau kita segera memiliki mantu? Apalagi dua sekaligus" celetuk Tante Rini yang sedang menyaksikan Dina dan juga Desi yang sedang bernyanyi bersama. Mereka sesekali tertawa karena salah nada.


"Apaan sih Ma? Aku masih sekolah ya. Jangan ngomongin mantu-mantu mulu deh. Noh si Abang yang udah tua, dia aja. Jangan libatkan aku" bantah Revan panjang kali lebar yang tidak terima dengan celotehan sang Mama.


"Emang kenapa kalau kamu masih sekolah? Bentar lagi kamu bakalan lulus juga kok. Jadi kalau bisa secepatnya kenapa harus ditunda? Iya kan Pa?" lagi-lagi sang Mama sukses membuat anak bungsunya tersebut kesal.


"Iya Ma, haha. Udah, jangan diledekin terus dia Ma" lerai Om Pras sambil menatap putra bungsunya tersebut. "Nanti nangis kita juga yang malu" lanjutnya dengan senyum meledek.


"Papa ih. Kenapa sih nggak ada yang sayang sama aku?" Revan berdiri dari duduknya di samping sang Mama. Dirinya hendak beranjak ke luar dari ruang karaoke mini tersebut.


"Ada, noh si Desi yang sayang sama lo" sambung sang Abang sambil tertawa.


Revan dengan kesalnya melangkahkan kaki menuju pintu, dan melirik sekilas ke arah Desi. Setelah itu dia ke luar dari ruangan tersebut sambil menghempaskan pintu sedikit agak keras.


"Haha dasar bocah, belum dewasa sama sekali" ujar Om Pras. "Yaudah, mari kita tidur. Sekarang sudah tengah malam" lanjut lelaki paruh baya tersebut.


"Iya Om" jawab Dina dan Desi serempak.


Desi digandeng oleh Tante Rini menuju pintu. Om Pras menyusul di belakang. Sedangkan Dina di belakang bersama Deni.


"Tidur yang nyenyak ya Yang" bisik Deni pelan sambil menggenggam tangan Dina.


"Iya. Kamu juga" Dina menatap Deni sambil tersenyum manis. Sekarang mereka sudah berada di depan pintu kamar Dina. Sepertinya Desi sudah masuk terlebih dahulu.


"Yaudah, aku ke kamar dulu" Deni melepaskan genggaman tangannya. Dina hanya merespon dengan anggukan kepala.


Cup.


Kecupan singkat mendarat di kening Dina. Wanita tersebut membelalakkan mata karena terkejut.


Cup.


Belum hilang keterkejutannya yang tadi, kecupan lain mendarat di bibirnya. Astaga Deni.


"Selamat malam" ujar lelaki tersebut sambil melangkahkan kakinya menuju kamar.


Dina segera memegang kedua pipinya yang terasa panas. Lalu dia juga melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Malam ini sepertinya aku bakalan mimpi indah, batinnya.


...


"Ngapain lo?" tegur Revan yang melihat Desi berjalan seperti orang yang sedang ketakutan dan sedikit agak mencurigakan.


"Aaa, astagaa! Lo ngagetin tau nggak sih?" pekiknya, karena terkejut oleh suara yang tidak asing tersebut.


Bagaimana tidak, saat ini dia sedang berada di ujung anak tangga menuju dapur untuk mengambil air minum. Lampu semua ruangan sudah dipadamkan, kecuali lampu di dapur yang masih menyala. Dan dengan tiba-tiba ada yang menegurnya dari belakang. Siapa yang tidak terkejut coba?


"Sorry. Lo ngapain jalan kek gitu? Mau maling ya?" tuduh Revan. Meskipun dirinya bercanda, tapi entah kenapa Desi sedikit kesal juga mendengar tuduhan laki-laki yang katanya bocah itu.


"Sembarangan lo! Gue haus. Gue mau ke dapur" jelas Desi. "Tapi gue takut" tambahnya dengan suara pelan.


Sebenarnya dia ingin sekali membangunkan Dina yang sedang terlelap itu untuk turun ke bawah. Tapi entah kenapa, perasaan tidak tega itu mengalahkan semuanya. Dan berakhirlah dirinya berada di bawah ini sendirian karena sudah tidak tahan lagi dengan rasa haus yang dia rasakan.


"Yaudah ayok. Gue temanin" ujar Revan pelan sambil melangkahkan kaki menuju dapur. Desi dengan ragu mengikutinya di belakang. Setelah sampai di dapur, dirinya masih diam mematung di dekat pintu sambil menatap laki-laki yang ada di depannya itu sedang sibuk mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih.


"Lo ngapain masih di situ? Katanya mau minum. Sini minum" Revan meletakkan satu gelas air di atas meja kecil yang ada di dapur. Meskipun terdengar sedikit menyebalkan, tapi entah kenapa setiap perlakuan Revan tersebut mampu menimbulkan perasaan aneh dalam diri Desi.


Desi duduk di sebuah kursi. Tangannya meraih gelas yang tadi telah diisi oleh Revan. "Makasih" ujarnya pelan, lalu meneguk seluruh isi gelas tersebut. Sepertinya Desi benaran haus.


"Mau nambah?" tanya Revan yang semenjak tadi memperhatikan gadis tersebut. Yang sepertinya kehausan sekali. Emang habis ngapain sih? Batinnya. laki-laki tersebut hendak meraih gelas yang ada di depan Desi, tapi langsung ditolak.


"Kenapa? Apa yang sakit?" Revan sudah ikut berjongkok di depan Desi. Tangannya meraih gelas yang ada di tangan Desi tadi, lalu meletakkannya di meja. "Coba gue lihat?" Revan menjauhkan tangan gadis tersebut dari kakinya. Tampak sedikit memar di bagian yang terbentur tadi.


Revan membantu Desi untuk duduk kembali di kursi tadi. "Tunggu sebentar" ujarnya. Setelah itu dirinya melangkahkan kaki meninggalkan dapur.


Dua menit kemudian Revan kembali dengan membawa sebuah kotak di tangannya. Tanpa aba-aba dirinya langsung berjongkok di depan Desi yang sedang duduk di kursi itu.


"Mau ngapain?" tanyanya sedikit terkejut.


"Udah, lo tenang aja" Revan mengeluarkan sebuah obat berupa salep dari dalam kotak. Lalu dioleskannya ke kaki Desi yang terlihat sedikit agak kebiruan itu. "Ini pereda nyeri" ujarnya lagi.


Setelah selesai, Revan berdiri dari setengah duduknya. Lalu meletakkan kotak yang ada di tangannya di atas meja. Setelah itu dia meraih gelas yang ada di dekat Desi, dan mengisinya dengan air lagi. "Minum. Sepertinya tadi lo masih haus" ujarnya pelan.


Dengan sedikit ragu Desi meraih gelas tersebut. Lalu meneguk isinya sedikit. "Makasih" ujarnya setelah meletakkan gelas di atas meja.


"Untuk apa?" tanya laki-laki yang ada di depannya. Sepertinya Revan mencoba untuk mempermainkan gadis yang sedang menahan rasa sakit di kakinya itu. Jahat.


"Karena udah bantuin gue" Desi tidak mau lagi berdebat, setidaknya dalam waktu saat ini.

__ADS_1


"Sama-sama" ujar laki-laki itu. "Sekarang mendingan lo balik lagi ke kamar. Nanti Kak Dina nyariin" tambahnya.


"Kok lo ke Dina manggilnya Kak sih? Tapi sama gue manggilnya lo gue-an? Kan gue seumuran sama Dina" entah kenapa Desi sangat penasaran dengan hal ini. Apakah dikarena dia mantannya? Mangkanya lelaki ini enggan memanggilnya dengan panggilan Kak? Entahlah. Tapi dirinya cukup penasaran juga.


"Kenapa? Lo cemburu?" goda lelaki tersebut sambil menaik turunkan alisnya.


"Ya nggaklah" ucap Desi cepat. Seketika dia merutuki pertanyaan bodoh yang dirinya lontarkan tadi.


"Ya atau nggak nih?" goda Revan lagi. Sepertinya laki-laki ini lagi senang-senangnya menggoda sang mantan.


"Nggak!" tegas Desi cepat.


"Hahaha, suka-suka gue-lah manggil lo siapa" tanggapnya setelah cukup terhibur dengan tingkah Desi. "Lo mau dipanggil Kak juga?" godanya lagi sambil mendekatkan wajahnya ke arah Desi. Seketika gadis tersebut memundurkan kepalanya.


"Ng ... Nggak juga, terserah lo" Desi tergagap ketika menghadapi sikap Revan tersebut. Ni anak kenapa sih? Batinnya.


"Oke deh. Kak Desi cantiiik, masakin aku mi dong! Aku lapeer" rengeknya seperti anak kecil.


"Idiih. Apaan sih. Jangan kek bocah" Desi bergidik ngeri ketika melihat tingkah bocah kelas tiga SMA yang sedang merayunya itu.


"Emang aku masih bocah kok Kak. Mangkanya aku minta tolong sama kamu. Masakin mi ya? Ya?" lagi-lagi Revan membuat Desi tak bisa berkutik.


"Iya iya. Gue masakin" tegasnya cepat. "Mana minya? Bawa sini!" Desi perlahan berdiri, dan menuju ke arah peralatan dapur. Tangannya meraih wajan kecil dan mengisinya dengan air. Lalu menghidupkan kompor, dan meletakkan wajan tersebut di atas kompor yang sudah menyala.


"Ini minya" Revan menyerahkan satu bungkus mi instan ke arah Desi. "Bahkan mi instan pun dimasak dulu baru bisa dimakan. Hmm. Kenapa harus dikasih nama instan coba? Jika tidak bisa langsung dinikmati" celoteh Revan yang berdiri di sebelah Desi.


Mengabaikan Revan dengan segala argumennya, gadis tersebut mengeluarkan bumbu-bumbu yang ada di dalam bungkus mi, lalu memasukkannya ke dalam wajan yang berisi air yang hampir mendidih itu.


Dua menit berikutnya Desi memasukkan mi ke dalam wajan yang airnya sudah mendidih, lalu dua menit kemudian dia mematikan kompor.


"Mana tempatnya? Sudah matang ini" ujarnya pada Revan yang langsung sigap menyodorkan satu mangkuk kecil.


"Benaran udah jadi? Kok cepat banget" ujar lelaki itu tidak yakin.


"Ngapain harus lama-lama coba. Kalau bisa cepat" Desi menuangkan mi tersebut ke dalam mangkuk. "Nih, silahkan menikmati" lanjutnya sambil menyodorkan satu mangkuk mi rebus yang sangat sederhana dari segi penampilannya itu. Lalu gadis tersebut melangkahkan kaki menuju arah pintu dapur.


"Mau ke mana?" tanya Revan cepat.


"Tidur" jawabnya cuek, lalu melangkah kaki pelan-pelan menuju anak tangga.


"Pantesan cepat. Modalnya cuma air doang" omel Revan setelah memperhatikan penampilan mi rebus yang ada di depannya itu.

__ADS_1


Desi berusaha menahan tawanya, ketika sayup-sayup dia mendengar laki-laki tersebut ngedumel pelan.


__ADS_2