
Setelah acara pertunanganan Deni dan Dina, Desi yang juga menginap di rumah Deni akhirnya kembali ke rumahnya pukul sembilan malam, dengan diantar Revan tentunya.
Acara berjalan sangat lancar. Bahkan Desi masih belum percaya bahwa sahabatnya, Dina, kini sudah menjadi tunangan dari seorang Deni Septia Dirnata. Anak dari pemilik rumah sakit ternama yang ada di kota ini. Bahkan laki-laki itu juga akan meneruskan kepemimpinan di rumah sakit milik ayahnya itu nantinya.
Bukan karena apa Desi sulit percaya, karena dirinya cukup tahu juga bagaimana perjuangan sahabatnya itu dalam menjalani hari-hari. Jadi tidak yakin saja rasanya jika Dina sebentar lagi akan menyandang gelar Septia di belakang namanya.
"Akhirnya Dina tunangan juga. Kok aku bahagia ya Van?" ujar Desi berbinar kepada Revan yang ada di sebelahnya. Laki-laki itu sedang mengemudi.
"Aku juga bahagia kok Beb. Apalagi kalau kita yang tunangan, duh bakalan berlipat ganda rasa bahagiaku" Revan membalas sambil membayangkan dirinyalah yang telah bertunangan dengan Desi. Gadis itu diam tidak menanggapi. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang ingin dilontarkannya. "Kenapa?" tanya Revan yang cukup heran dengan diamnya Desi.
"Eh, hmm ... Nggak apa-apa kok" Desi menjawab sedikit tergagap. Lalu memperlihatkan senyuman manisnya.
"Kamu nggak mau tunangan sama aku?" pertanyaan tiba-tiba dari Revan membuat Desi seketika kelabakan. Dirinya belum siap jika ditanyai hal sejauh itu. Iya, bagi Desi hal seperti yang ditanyakan oleh Revan tadi sangatlah jauh. Bahkan dirinya belum sedikit pun terpikirkan ke arah situ. "Kenapa diam?" tanya Revan lagi, karena belum mendapat tanggapan dari Desi.
"Hmm, harus ya ini dibahas sekarang?" Desi melihat perubahan wajah Revan. Sepertinya laki-laki ini sedikit kecewa. Tapi mau gimana lagi, Desi benar-benar belum siap.
Bukannya dirinya meragukan Revan yang masih awal-awal kuliah itu. Hanya saja Desi takut fokus Revan akan terbagi. Bahkan laki-laki itu baru memulai langkahnya.
"Van, aku pikir kita masih banyak memiliki waktu deh. Nggak perlu buru-buru Van. Nikmati saja prosesnya ya. Aku akan menunggu kamu. Jadi mending kamu fokus ke kuliah kamu dulu aja, jangan ..."
"Jadi karena aku yang masih kuliah ini yang membuat kamu ragu?" potong Revan cepat. Desi langsung menggelengkan kepalanya.
"Bukan Van. Aku nggak ragu sama sekali. Apalagi itu kamu, nggak ada keraguan sedikit pun buat aku" Desi mencoba berbicara sesantai mungkin. Karena dirinya cukup paham bagaimana laki-laki ini jika sedang merasa kesal, pasti akan meledak-ledak.
"Bohong!" desis Revan cepat. Dirinya enggan menatap Desi. Matanya menatap hamparan bintang yang terbentang di langit malam. Karena sedari tadi mereka berhenti di tepi jalan.
__ADS_1
Sebenarnya apa yang dilakukannya tersebut cukup berbahaya. Bisa saja mereka akan digrebek warga, atau lainnya.
"Aku nggak bohong Van. Aku serius. Karena aku sayang sama kamu. Masa muda kamu itu masih panjang. Aku nggak mau karena kita yang buru-buru, lalu salah satu dari kita akan merasa terluka. Meskipun aku tahu itu tidak akan mungkin terjadi, tapi apa salahnya kita pikirkan dari sekarang" ujar Desi panjang lebar memberikan pemahaman kepada Revan.
Laki-laki itu tampak masih diam saja. Tapi diam-diam dia juga mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Desi. Inilah yang membuat Revan semakin yakin untuk mempertahankan Desi, karena kedewasaannya ini. Dan karena ini juga Revan semakin takut jika Desi berpaling darinya. Pasti banyak sekali laki-laki baik di luaran sana yang menginginkan gadis pintar dan dewasa seperti Desi ini sebagai pendamping hidup mereka.
"Aku takut" gumam Revan pelan, lalu menundukkan kepala.
"Kamu takut kenapa sih? Hmm" Desi mengusap bahu Revan lembut dengan tangan kanannya. Lalu tangan kirinya beralih mengusap pelan kepala Revan.
"Aku takut kamu bakal berpaling dari aku. Menemukan laki-laki yang lebih dewasa dari aku, yang lebih sukses dari aku iuga, yang lebih baik, yang lebih segalanya dari aku. Aku takut kamu bakalan pergi. Apalagi jarak usia kita yang cukup terpaut jauh, aku takut kamu bakalan mencari seseorang yang lebih dewasa dari kamu, bukannya yang seperti aku" Revan kesal juga dengan apa yang dikatakannya itu. Bagaimana jika itu benaran terjadi? Dirinya nggak bisa membayangkan kalau itu benar-benar terjadi pada dirinya.
"Kamu ngomong apa sih Van? Kan kamu tahu kalau aku itu mencintai kamu, Revan Givano Dirnata. Hanya kamu. Nggak ada yang lain!" Desi menekankan setiap katanya. Meyakinkan laki-laki yang masih tertunduk di depannya itu. "Sekarang angkat kepalanya coba, kan aku pengen lihat wajah kamu juga" Desi mencoba menegakkan kepala Revan. Laki-laki itu menurut saja. Matanya memerah, menandakan kalau dirinya sedang menahan tangis.
Wkwk, pacar berondong dong.
Revan tidak memberikan tanggapan, namun langsung menghambur ke dekapan Desi. Dirinya malu.
Tawa Desi semakin menjadi ketika Revan menyembunyikan wajahnya di ceruk lehernya.
"Nggak usah ketawa deh!" sungut Revan tidak terima. Enak aja dirinya diketawain, bahkan itu di depannya langsung lagi.
"Kalau kek gini terus, kamu kapan dewasanya sih? Nanti benaran loh aku bakalan cari yang lebih dewasa dari kamu" Desi mencoba menggoda pacarnya itu.
"Coba aja kalau berani!"
__ADS_1
"Lah, kamu nantangin aku nih?"
"Nggak. Nggak jadi!"
"Hahaha, kok kamu lucu sih Beb" Desi melepas dekapannya. Menatap Revan lama-lama. Masih dengan tawa yang belum reda tentunya.
"Apa? Mau ngeledek lagi?" sepertinya laki-laki ini masih kesal.
"Nggak kok. Siapa juga yang mau ngeledek kamu" jawab Desi setelah tawanya reda. Desi meraih tangan Revan, lalu menggenggamnya erat. "Kamu mau tau sesuatu nggak?" tanya Desi.
"Apa?" Revan menjawab tanpa minat. Masih ada sedikit rasa kesal dalam dirinya.
"Kamu kalau kek gini lebih mirip adikku ketimbang pacarku deh Van" ujaran Desi tersebut membuat Revan menarik tangannya kasar. Apaan tuh maksudnya?
"Oh, yaudah sih. Mending aku jadi adik kamu aja kalau gitu" rajuk Revan.
"Benaran nih? Kita jadi adek-kakakan aja dari pada pacaran?" Desi memperhatikan raut wajah Revan yang berubah-ubah itu. Lucu sekali pacarnya ini.
"Nggak ih, enak aja" wajah Revan berubah memelas, lalu tangannya meraih tubuh Desi. Mendekapnya erat, lagi. "Tetap seperti sekarang aja. Nggak perlu jadi apa-apa" bisiknya tepat di telinga Desi.
Gadis itu tersenyum geli. Lalu membalas pelukan hangat pacar berondongnya itu. "Love you" balasnya sambil berbisik juga.
"Aku juga" Revan semakin mempereratkan pelukannya di tubuh Desi. "Janji nggak bakalan tinggalin aku?" tanyanya lagi. Desi menjawab dengan menganggukkan kepala berkali-kali.
Itu sudah cukup kok bagi Revan.
__ADS_1