Dina-Deni 'Love Story'

Dina-Deni 'Love Story'
Part 24.


__ADS_3

"Minum nggak?" Dina saat ini sedang membujuk paksa pasiennya yang sedang sakit untuk minum obat.


"Nggak mau. Pahit" tolak sang pasien. Bahkan ini entah bujukan yang keberapa dan hasilnya tetap sama. Tetap ditolak mentah-mentah oleh sang pasien yang katanya calon dokter itu.


"Cemen amat sih. Katanya calon dokter, tapi minum obat aja nggak mau" Dina bersungut-sungut sendiri sedari tadi. Tangannya sudah pegal, yang kiri memegang gelas berisi air dan yang kanan menggenggam beberapa butir obat-obatan.


"Aku nggak suka obat Dina. Pahit" lagi-lagi Deni menolak setiap Dina menyodorkan obat-obatan itu ke mulutnya. Mulutnya dikatup rapat-rapat sambil menggeleng-gelengkan kepala. Persis seperti bocah lima tahun yang dipaksa minum obat yang sudah digiling.


"Namanya juga obat, ya pahitlah. Kalau manis mah janji-janji para buaya" Dina menjawab asal karena sudah terlanjur kesal dengan tingkah bocah yang terperangkap di tubuh orang dewasa itu. "Terserah kamu. Mau minum atau nggak. Capek" Dina meletakkan kembali gelas tadi di atas nakas, begitu juga dengan obat yang ada di genggamannya dia letakkan di atas piring kecil.


"Mau ke mana?" tanya Deni cepat ketika melihat pergerakan Dina yang membereskan barang-barang bawaannya. Berlagak akan pergi.


"Pulang! Percuma juga aku di sini" jawab Dina cuek lalu meraih tasnya yang ada di atas sofa. "Itu aku bawain bubur. Kalau kamu mau, makan aja. Kalau nggak mau, buang" Dina bersiap-siap melangkahkan kaki menuju pintu.


"Jangan pergi!" tahan Deni cepat sebelum Dina benar-benar keluar dari kamar tersebut. "Aku akan minum obatnya. Tapi kamu jangan pergi" ujar Deni tidak yakin. Dia nggak mau minum obat itu, tapi dia juga nggak mau Dina pergi. Ah payah.


Dina berusaha menahan tawanya. Bahkan dirinya sudah tersenyum lebar sebelum membalikkan badan ke arah Deni.


"Kenapa?" tanya Dina dengan wajah Datar. Aktingmu hebat juga ya Din, pujinya sendiri dalam hati.


"Temanin aku, plish?" rengek Deni. Benar yang dikatakan oleh Tante Rini, Deni kalau lagi sakit manjanya lebih meningkat. Dina jadi gemes sendiri melihat tingkah laki-laki ini.


"Baiklah. Tapi ada syaratnya" Dina tersenyum licik dalam hatinya.


"Minum obat? Iya aku minum. Apalagi?"


"Makan bubur itu" tunjuk Dina pada bubur yang ada di atas nakas.


"Selain bubur yaa" lagi, laki-laki itu merengek seperti anak kecil. "Aku nggak suka bubur" Deni merenggut sambil memanyunkan bibirnya.


"Yaudah. Terserah kalau gitu" Dina memutar balik badannya ke arah pintu bersiap-siap untuk pergi.


"Iya iya. Aku makan buburnya. Aku makan obatnya. Puas?" Deni berujar cepat. Sepertinya dirinya kalah dalam tawar menawar kali ini. "Tapi aku ada syarat juga untuk kamu" otak liciknya ternyata masih bekerja meskipun dalam keadaan sakit sekalipun.


"Apaan?" tanya Dina. Dirinya agak merasa curiga dengan apa yang akan dikatakan oleh Deni.


"Kamu nginap di sini. Bareng aku!" benar saja tebakan Dina. Deni berujar sambil tersenyum licik. Dan itu sukses membuat Dina bergidik ngeri. "Otakmu jangan dipakai untuk memikirkan hal yang macam-macam. Cukup pikirkan aku saja" sangkal Deni yang melihat tatapan membunuh dari Dina.


"Siapa juga yang mikir macam-macam" Dina kembali meletakkan tas salempangnya di atas sofa, dan langsung menuju ke samping tempat tidur. Tangannya meraih gelas dan juga obat lalu ikut mendudukkan diri di atas tempat tidur. "Minum!" perintahnya dingin.


"Tunggu dulu. Kamu setuju untuk nginap di sini?" tanya Deni tidak percaya.


"Hmm" gumam Dina pelan.


"Serius? Nggak bohong kan?" lagi-lagi Deni bertanya untuk memastikan.


"Iya ih. Bawel banget kamu. Ayo minum obatnya" Dina merasa jengah juga dengan pertanyaan bertubi-tubi dari laki-laki ini.

__ADS_1


"Aku aja" Deni meraih gelas dari tangan Dina, dan ragu-ragu dia juga menerima beberapa butir obat dari gadis itu. Ditatapnya butiran obat itu lama-lama.


"Ngapain ditatap gitu? Ayo diminum" desak Dina lagi. Ternyata susah juga ya nyuruh ni orang untuk minum obat.


"Ada pisang nggak?" Deni menatap Dina dengan tatapan mengiba. Kasihan juga sih.


"Nggak ada. Kalau nggak kuat semuanya, satu-satu aja dulu" usul Dina. Aduh, badan doang yang besar tapi nyali seperti bayi.


"Aku minum ya" Deni memasukkan semua obat-obat itu ke dalam mulutnya sambil menahan nafas. Lalu dirinya meneguk air yang ada dalam gelas.


"Jangan dimuntahin. Telen semuanya!" Dina mencegah Deni untuk memuntahkan kembali obat-obat yang belum ditelannya itu. "Kalau kamu muntahin, aku pulang!" ancam Dina ketika melihat Deni hendak melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


Seketika langkah kaki Deni terhenti. Dia terdiam cukup lama membelakangi Dina.


"Deni, kamu baik-baik saja?" Dina bertanya dengan nada suara yang sedikit cemas. Kakinya melangkah ke arah Deni yang berdiri membatu.


Deni memutar badannya, dan langsung memeluk tubuh Dina erat. "Aku menelan semua obat-obat itu Din" ujarnya sedikit berteriak. "Ternyata ancaman kamu lumayan juga" tambahnya sambil melepaskan pelukan sepihak itu.


"Haha baguslah. Sekarang mari makan bubur" Dina menarik tangan Deni untuk kembali naik ke atas tempat tidur. "Aku suapin" Dina meraih bubur yang ada dalam mangkuk itu dari atas nakas.


"Tunggu, aku mau minum dulu. Sepertinya masih ada rasa obat tadi" Deni meneguk separuh dari isi gelas yang disodorkan Dina.


"Aku benaran harus makan bubur ini?" tanya Deni pelan sambil menatap lama bubur yang ada di depan Dina.


"Iya harus, jika kamu ingin segera sembuh" ujar Dina. Entah apa alasan laki-laki ini yang begitu enggan untuk memakan bubur ketika lagi sakit. Dina cukup penasaran juga dengan alasannya.


"Bagus" Dina menanggapi sambil tersenyum senang. Akhirnya ni anak nurut juga, batinnya.


"Kamu sudah makan?" tanya Deni ketika Dina dengan sabar menyuapi dirinya. Bahkan sesekali dirinya mengatakan kalau bubur itu tidak enak. Bukan Dina namanya jika tidak bisa memaksa Deni untuk memakan semua bubur itu.


"Sudah" jawab Dina yang tangannya sibuk menyuapi Deni.


"Benaran?"


"Iya ih. Kok kamu bawel banget sih kalau lagi sakit gini?" omel Dina, dan itu sukses membuat Deni tertawa. "Jangan tertawa" bantah Dina cepat, dan dengan patuhnya Deni menutup rapat bibirnya.


"Sudah habis?" tanya Deni melihat mangkuk yang sudah kosong.


"Sudah"


"Waah" Deni merasa takjub dengan dirinya sendiri. Ternyata efek Dina begitu besar bagi dirinya. Mana pernah dia menghabiskan bubur ketika lagi sakit, bahkan untuk mencicipinya saja dirinya enggan. Sekalipun itu bubur buatan sang Mama. Terkutuklah kau Deni.


"Kenapa?" tanya Dina penasaran.


"Kamu tahu sendiri kan kalau aku tidak suka bubur, meskipun Mama yang masakin aku nggak pernah memakannya. Tapi sekarang ini ketika kamu yang memasak aku menghabiskan bubur-bubur itu" jelasnya panjang lebar dengan nada bangga.


"Apaan? Itu juga diancam dulu" sindir Dina.

__ADS_1


"Hehe. Iya juga sih. Ancaman kamu hebat sekali" cengirnya tanpa dosa.


"Sekarang kamu tidur. Biar obatnya bekerja cepat" Dina menyuruh Deni untuk kembali tidur.


"Nggak mau. Nanti kamu pergi, lagi" tolak Deni dengan alasan konyolnya.


"Pergi ke mana sih? Aku akan di sini sama kamu" bujuk Dina pelan. Bahkan dirinya merasa sedang merawat anak kecil dari pada merawat pacar sendiri.


"Benaran?"


"Iyaa"


"Kalau iya, sini tidur bareng aku"


"Hah?"


Deni langsung menarik tubuh Dina untuk berbaring di sebelah tubuhnya. Lalu menarik selimut untuk menutupi setengah tubuh mereka. Laki-laki itu memeluk erat tubuh Dina. Dina dapat merasakan hawa panas dari tubuh Deni.


"Kalau aku ketularan sakit kamu gimana?" tanya Dina menatap wajah yang berada sedikit di atas kepalanya itu.


"Biar aku yang rawat kamu. Seperti yang kamu lakukan" jawab Deni pelan sambil menatap wajah Dina.


"Emang kamu bisa?" tanya Dina lagi. Sepertinya dirinya akan menyesal karena telah bertanya seperti itu setelah mendengar jawaban dari laki-laki yang ada dalam dekapannya tersebut.


"Ya bisalah. Kan aku calon dokter sayang. Kamu lupa?" jawab Deni sedikit merasa bangga.


"Iya, Pak dokter yang minum obat takut. Ketika sakit manjanya bukan main. Bahkan untuk makan bubur saja harus diancam dulu" sindir Dina. "Hahaha. Tangannya jangan nakal ya Mas. Geli tauk" Dina menepuk sedikit agak keras tangan yang berada di pinggangnya.


"Haha maaf. Ayo tidur" Deni mempererat pelukannya pada tubuh Dina. Berusaha untuk memejamkan kedua matanya.


"Cepat sembuh sayang" bisik Dina pelan. Ternyata itu masih didengar oleh Deni. Laki-laki itu tidak berkata apa-apa.


Cup.


Kecupan singkat didaratkannya di kening Dina. Itu sukses membuat Dina tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. 


"Tidur sayang" gumam Deni pelan.


Dina menyurukkan kepalanya lebih dalam lagi di dada bidang Deni. Dia bisa merasakan detak jantung Deni yang berdetak dengan cepat. Sama seperti detak jantungnya yang menggila.


Deni si calon dokter kiyowooo



Dina si gadis sabar


__ADS_1


__ADS_2