
#Dina Pov.
Sudah hampir satu minggu tidak ada lagi kabar mengenai Deni dan rekan-rekannya. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku rasa semua orang tampak menutup-nutupi sesuatu. Bahkan aku sendiri merasa enggan untuk menanyakan hal tersebut secara langsung kepada Om Pras maupun Tante Rini. Karena aku sadar, beliau bahkan merasa lebih kehilangan lagi dari pada aku.
Aku tidak tahu lagi apa yang aku rasakan. Bahkan untuk menangis pun rasanya aku sudah sangat lelah. Karena hampir setiap tengah malam aku meluapkan segalanya di sujud malamku. Memohon dengan sepenuh hati kepada Tuhan untuk mengembalikan lagi dirinya kepada pelukanku. Hanya itu. Namanyalah yang paling banyak aku sebutkan dari nama-nama yang lainnya. Bahkan aku merasa berdosa kepada Ayah, Ibu dan juga Kakek karena sudah mulai sedikit menyebut nama mereka dalam setiap doaku.
Setelah salat subuh, aku memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper. Aku tidak bisa terus-terusan begini. Aku harus melakukan sesuatu. Biar semua pikiran-pikiran buruk yang selalu bersarang di kepalaku ini sedikit lebih berkurang. Meskipun pada akhirnya aku tetap akan merasakan kehilangan itu, dan tetap menangis seperti orang gila. Aku tidak peduli. Yang penting sekarang, bagaimana caranya aku bisa mengalihkan itu semua. Meskipun hanya sementara.
Jika kalian berpikir bahwa aku akan menyusul Deni ke sana, maka urungkan saja pemikiran itu. Karena, aku juga tidak akan pernah bisa melakukannya meskipun aku sangat ingin. Selain meminta izin yang pasti sangat sulit, aku juga tidak memiliki cukup uang untuk bepergian yang sangat jauh itu, jika aku memilih pergi secara diam-diam.
Jam delapan, setelah sarapan dengan keluarga Deni, aku berangkat menuju kampung halamanku. Menuju ke rumah Kakek Ahmad. Meskipun sebelumnya Tante Rini tidak mengizinkanku, tapi setelah aku mengutarakan berbagai alasan barulah izin itu aku dapatkan. Aku ingin menenangkan pikiranku. Dan juga sangat merindukan keluargaku yang ada di sana. Yaitu Kakek Ahmad, Bang Angga dan juga Kak Dila. Kataku.
"Kamu akan kembali lagi kan Sayang?" tanya Tante Rini ketika melepasku yang hendak naik bus. Nada suara beliau bergetar, membuat aku tidak tega saja rasanya pergi di situasi seperti ini.
"Iya Tante. Dina akan kembali kok ke sini. Karena di sini adalah rumah Dina. Tempat Dina akan pulang" ujarku sambil memeluk wanita paruh baya tersebut. Apa lagi yang aku cari? Jika kebahagiaan yang sesungguhnya itu sudah aku temukan.
"Nanti setelah sampai hubungi Tante ya Din. Hati-hati di jalan" pesan terakhir Tante Rini sebelum aku melangkahkan kaki menaiki bus antar kota itu.
__ADS_1
"Iya Tante. Dina pamit ya" aku segera menaiki bus tersebut.
Kamu tenang saja Deni, aku tidak akan pergi. Seperti janjiku. Aku akan tetap ada di sini. Di tempat ini. Hanya saja aku pamit sebentar. Aku butuh sesuatu hal yang baru untuk melupakan sejenak pikiran-pikiran buruk tentang kamu. Aku tahu, kamu pasti akan pulang. Aku akan menunggu. Sampai kapan pun itu. Aku akan tetap menunggu kamu.
Bus yang aku tumpangi perlahan mulai bergerak meninggalkan kota yang sangat bersejarah bagiku ini. Kota yang memberikan banyak pelajaran dan juga banyak cinta dari orang-orangnya beberapa tahun terakhir.
Aku tidak memberi tahu yang lainnya selain keluarga Deni mengenai keberangkatanku yang entah berapa lama ini. Bahkan untuk kuliah pun aku sudah mengajukan surat izin untuk cuti kuliah selama satu semester. Aku tidak mau hal-hal yang tidak diinginkan terjadi dan mengakibatkan suatu hal yang sangat fatal karena pikiranku yang sedang tidak baik-baik saja ini. Aku takut membuat orang-orang yang telah mendukungku kecewa. Makanya aku lebih memilih untuk mengajukan surat izin cuti saja.
"Tumben sekali pulang nggak ngasih kabar" sambut Bang Angga setelah membukakan pintu untukku.
"Gue pulangnya nggak direncanain dulu Bang. Langsung aja" jawabku sambil menarik koper ke dalam rumah. Bahkan Abangku ini tidak membantuku sama sekali. Tega benar jadi Abang.
"Maafin Dina ya Kek. Dina pulangnya nggak direncanain soalnya" ujarku yang masih dalam dekapan Kakek Ahmad. Laki-laki tersebut mengusap punggungku pelan. Sama seperti yang dilakukan oleh almarhum Kakekku.
"Nggak papa. Kamu bebas pulang kapan pun itu. Rumah ini akan selalu terbuka untuk kamu Nak. Jangan sungkan untuk berbagi cerita, baik itu sama Kakek, sama Angga, atau sama Dila juga. Kita semua ada untuk kamu" ujar Kakek Ahmad pelan. Aku masih memeluk tubuh renta itu. Enggan sekali rasanya untuk memberi jarak.
Oh iya, mengenai apa yang terjadi dengan Deni, keluargaku yang di sini sudah tahu. Om Pras mengabari Kakek Ahmad sehari setelah berita itu datang. Kata beliau waktu itu 'keluarga kamu adalah keluarga kita juga'. Ketika Om Pras berkata demikian, tangisku kembali pecah. Aku benar-benar bersyukur karena sudah ditemukan dengan keluarga baik ini. Bahkan sangat-sangat baik.
__ADS_1
"Sekarang kamu istirahat dulu ya Dek. Nanti Abang bangunin ketika makan siang" Bang Angga yang berada di belakang tubuhku berujar. Sudah cukup lama aku berada di posisi ini. Berdiri sambil berpelukan dengan Kakek.
"Iya Bang" balasku pelan. Lalu segera melepaskan pelukanku dari tubuh Kakek. "Dina istirahat dulu ya Kek. Nanti kita cerita-cerita" izinku kepada Kakek Ahmad.
"Siap. Nanti cerita semuanya ya" ujar beliau menganggukkan kepala tanda setuju. Aku juga membalas dengan anggukan kepala berkali-kali. Lalu segera menyusul Bang Angga yang sudah menarik koperku terlebih dahulu. Dasar Bang Angga, tadi aja nggak mau bantu. Sekarang karena ada Kakek, baru mau bantu aku. Huft.
"Kenapa masih berdiri di situ?" tanya Bang Angga yang menyadari diriku masih mematung di depan pintu kamar. Aku menatap sengit ke arahnya.
"Apaan tuh maksudnya? Tadi nggak mau bantu sama sekali. Sekarang karena ada Kakek baru mau bantu. Dasar pencari muka lo Bang" omelku sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar. Di sini aku memiliki kamar sendiri, jika aku lupa memberitahukannya kepada kalian.
"Haha. Nyari muka apaan sih? Muka gue udah ganteng gini. Buat apa lagi?" balas Bang Angga dengan ciri khasnya. Yaitu terlalu percaya diri dengan wajah tampannya itu. Iya, iya. Aku akui itu. Bang Angga merupakan seorang laki-laki yang sangat tampan. Dulu, kalau bukan sepupu sendiri, aku sepertinya sudah hampir jatuh cinta sama wajah tersebut. Itu dulu ya, bukan sekarang. Kalau sekarang jika dibandingkan dengan Deni ... Ya tampanan Deni-lah ke mana-mana. Hahaha ... Aduh, Deni apa kabar ya? Kapan pulang?
Setelah Bang Angga keluar dari kamarku, aku merebahkan diri sejenak di atas kasur dengan posisi kaki yang menjuntai ke lantai. Pikiranku seketika beralih kepada Deni. Aku segera meraih tas yang ada di sebelah tubuhku. Lalu mengeluarkan ponsel dari sana. Aku mencoba memanggil nomor ponsel Deni lagi. Tapi hasilnya masih tetap sama. Masih belum aktif.
"Deni, kamu pasti baik-baik saja kan? Iya kan? Cepat pulang. Aku merindukanmu" gumamku pelan sambil menatap potret Deni pada layar ponselku.
"Nggak-nggak. Aku ke sini untuk menjernihkan pikiran. Bukan menambah beban. Aku harus melakukan sesuatu" ujarku lagi. Setelah mengabari Tante Rini bahwa aku sudah sampai di rumah Kakek Ahmad, lalu aku bangkit dari tempat tidur dan meraih handuk yang ada di lemari. Aku nggak boleh seperti ini. Aku nggak boleh membuat orang-orang yang sayang sama aku merasa khawatir.
__ADS_1
"Bangkit Dina. Buktikan kepada orang-orang bahwa kamu merupakan gadis yang kuat. Gadis yang tidak merepotkan. Kamu harus membuat orang-orang yang sayang sama kamu bangga dengan adanya kamu di hidup mereka. Terutama Deni. Kamu pasti bisa" ujarku kepada diri sendiri di depan cermin kamar mandi.