Dina-Deni 'Love Story'

Dina-Deni 'Love Story'
Part 51.


__ADS_3

OMG, sudah lama sekali lapak ini tidak aku singgahi. Maaf ya geeesss, aku sudah terlalu lama untuk tidak update part baru. Semoga kalian semua suka dg kelanjutan cerita ini.


"Bagaimana kalau pernikahannya kita laksanakan tiga bulan lagi?" usulan Tante Rini yang terbilang tiba-tiba itu hampir membuat Dina tersedak dari makannya.


Ya, pagi ini mereka sedang sarapan bersama. Duduk melingkari meja makan. Bahkan Desi juga ikut serta mengisi salah satu kursi yang ada di sana. Itu dikarenakan dirinya yang menginap tadi malam, lalu paginya ditahan oleh Tante Rini untuk sarapan pagi dulu bersama mereka. Desi yang merupakan tipikal gadis penurut tentu hanya bisa mengiya-iyakan saja ajakan tersebut.


"Apakah nggak terlalu cepat Ma?" tanya Om Pras setelah menyadari raut wajah Dina yang tampak kaget itu.


"Ini nggak cepat kok Pa. Papa kan tahu sendiri gimana nyinyirnya anak Papa yang satu itu?" sindir Tante Rini sambil melirik sekilas ke arah Deni. Laki-laki itu pura-pura tidak peduli.


"Udah deh Pa, nikahin aja mereka secepatnya, sebelum nih orang berbuat hal yang aneh-aneh dan tidak menyenangkan" tambah Revan sambil tersenyum mengejek ke arah Abangnya.


"Seperti lo aja yang suci, pasti lo lebih aneh lagi dari gue! Ngaku lo?!" timpal Deni sambil sekilas melirik Desi yang tampak biasa saja.


"Nggak usah banding-bandingin deh. Lo ama gue itu beda Bang, jauh banget. Lo yang jauhnya tapi" Revan membela diri, karena emang itu kenyataannya. Mengingat hubungannya dengan Desi, Sepertinya tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Bahkan sejauh ini, dirinya baru mentok pada pegangan tangan, atau sekedar kecup-kecupan kecil pada wajah. Belum sejauh yang dilakukan sang Abang, pikirnya.


"Emang lo tahu sejauh mana yang gue lakuin?" tantang Deni. Dirinya ingin tahu apa yang ada di pikiran adik semata wayangnya itu.


"Pasti lo udah ***-*** kan? Ngaku ga lo?!" ujaran dari mulut tanpa filter itu menggema bebas di ruang makan. Dina yang tadi sempat tersedak malah tersedak kembali. Bahkan juga ditambah batuk-batuk. Om Pras dan Tante Rini sukses melototkan mata bersama. Mereka tidak menyangka kata-kata unfaedah tersebut meluncur bebas dari mulut putra bungsunya.


Desi hanya bisa meringis dan juga merasa sedikit agak malu dengan kedua orang tua pacarnya. Memang ini nggak ada hubungannya dengan dirinya, tapi entah kenapa Desi merasa malu saja.

__ADS_1


Deni tersenyum simpul, karena dirinya sudah berhasil memancing keributan di pagi hari.


Satu.


Dua.


Tiga.


"REVAAAN! Siapa yang ngajari kamu ngomong seperti itu? Hah?!" suara lengkingan Tante Rini membuat nyali seorang Revan menciut. Dirinya seketika memukul pelan mulutnya yang telah sembarangan mengeluarkan kata-kata. "Sini mulutnya biar Mama aja yang mukul. Biar tahu rasa kamu!" Tante Rini segera menarik telinga sebelah kiri laki-laki itu.


"Ampun Ma, ampun!" rengek Revan sambil berusaha melepaskan telinganya dari genggaman sang Mama.


Desi yang namanya disebut-sebut oleh Mama sang pacar hanya bisa tersenyum kikuk. Tapi dalam hati merutuki kebodohan Revan.


"Ih Mama kok gitu? Jangan dengerin ya Beb, nggak guna!" potong Revan cepat. Lalu kembali duduk di tempatnya semula.


"Apanya yang nggak guna? Hah?" Dug. Pukulan dari sendok mendarat di kening Revan.


"Mama dari tadi kok suka sekali sih melakukan kekerasan?" Revan mengusap-usap keningnya sambil mengomel pelan.


"Kenapa? Nggak suka? Makanya jangan cari-cari masalah. Orang bahas apa, kamunya malah bahas apa. Kan ..."

__ADS_1


"Iya Ma, iya. Udah ya ngomelnya. Lihat tuh telinganya Revan udah ada asapnya Ma. Kasihan" Deni yang sedari tadi menikmati drama keluarga tersebut mencoba membuka suara. Dirinya merasa tidak enak juga dengan Desi. Jangan sampai aib-aib keluarganya yang lain diketahui oleh orang luar lainnya, cukup Dina saja yang tahu. Eh, bukan berarti Dina orang luar ya.


"Iya Abang" Tante Rini tersenyum hangat ke arah Deni. Anaknya yang satu ini memang pandai sekali mengambil hatinya.


"Kalau sama Abang pasti manis banget, tapi kalau sama aku ..."


"Diam kamu!" sungutan Revan dipotong Tante Rini cepat.


"Paaaaaaa" rengek Revan ke arah Om Pras. Tapi sayangnya pria paruh baya itu tampak tidak peduli.


Desi yang merasa kasihan langsung mengusap pelan tangan kanan Revan, "Sabar ya, ini ujian" bisiknya yang tidak pelan. Dan itu sukses membuat semua orang yang ada di sana tertawa. Kecuali Revan tentunya, karena laki-laki itu semakin memanyunkan bibirnya.


"Dahlah" rajuknya yang semakin menjadi.





__ADS_1


__ADS_2