
"Maaf Dek. Masih belum ada kabar ya dari dia?" tanya Kak Dila ketika kita sibuk di dapur untuk mempersiapkan makan malam. Ya, 'dia' yang dimaksud Kak Dila adalah Deni.
"Belum Kak" jawabku pelan.
"Semoga secepatnya ada kabar baik ya Dek" Kak Dila berujar sambil mengusap pelan lenganku.
"Aamiin. Doakan yang terbaik ya Kak" mohonku sungguh-sungguh. Bahkan aku meng-aamiin-kan doa Kak Dila puluhan kali di dalam hati.
...
Setelah makan malam usai. Aku segera menuju kamar. Sebelum aku beranjak tadi, aku mendapatkan kabar bahagia dari pasangan suami istri yang lagi berbahagia. Yaitu Bang Angga dan Kak Dila. Kabar tersebut adalah bahwasanya Kak Dila sudah mengandung calon ponakanku yang hampir memasuki minggu ke empat. Aku bersyukur sekali mendengar kabar tersebut. Sama seperti rasa syukur yang dirasakan oleh calon orang tua itu. Bahkan Kakek Ahmad pun sama, ucapan rasa syukur terus terlontar dari mulut beliau. 'Sebentar lagi Kakek punya cicit' kata-kata yang terus beliau lontarkan di sela rasa syukurnya. Alhamdulillah.
Sampai di kamar, aku merencanakan apa yang akan aku lakukan esok hari. Selain membantu Kak Dila untuk beres-beres rumah tentunya.
"Ah iya, sepertinya jalan-jalan sendiri pakai motor Bang Angga keliling kampung, bakalan menyenangkan nih" aku berujar senang. Sudah lama sekali rasanya aku tidak menikmati pemandangan alam di sekitaran sini. Bahkan ketika pulang terakhir kalinya, aku hanya bisa menikmati kesejukan danau kecil yang ada di tengah hutan. Tidak dengan yang lainnya.
Berbicara mengenai danau, tiba-tiba aku kembali teringat kepada Deni. Ya, sosok itu akan selalu muncul dari setiap kenangan yang aku simpan. Karena setiap apa yang aku lalui, Deni selalu ada di dalamnya. Deni selalu mengikutinya.
"Sekarang waktunya tidur Din. Semoga besok lebih baik lagi" aku segera memposisikan tubuh di atas kasur. Lalu menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhku. Takut kedinginan di tengah malam nanti. "Selamat malam Deni" ujarku pelan sebelum benar-benar menutup mata.
...
__ADS_1
"Bang, nanti motornya dipakai nggak?" tanyaku kepada Bang Angga setelah usai sarapan.
"Mau kemana kamu?" tanya Kakek Ahmad yang duduk di sebelah kananku.
"Mau jalan-jalan Kek. Sudah lama rasanya Dina nggak main-main di kampung ini" jawabku yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Kakek.
"Nggak Dek. Nanti pakai aja. Abang sekarang sudah jarang menggunakan motor untuk bekerja" respon Bang Angga akhirnya. "Nanti uang bensinnya minta sama Abang ya" lanjutnya. Aduh, baik sekali Abangku ini.
"Nggak usah Bang. Nanti biar gue aja yang beli" tolakku pelan karena merasa nggak enakan juga.
"Jan sok nolak lo Dek. Biasanya lo yang paling kencang jika ditawari yang gratisan" sindirnya. Sudahlah, Bang Angga memang tahu segalanya tentang aku.
"Haha. Iya Bang. Yang banyak ya duitnya, sekalian buat jajan dan beli baju baru" aku nyengir nggak tahu diri setelah mengucapkan kata-kata tersebut.
"Lo sih mancing-mancing jiwa misquen gue. Kan nggak bisa nolak jadinya" jawabku dengan wajah dibuat mengiba.
"Sudah-sudah. Nanti Kakek tambahin ya buat beli bajunya" potong Kakek ketika Bang Angga hendak membalasku.
"Yes, Alhamdulillah dapat double Ya Allah" teriakku kencang. "Terima kasih Kek. Terima kasih Bang" lanjutku sambil tersenyum lebar. Kakek dan Bang Angga hanya memberikan anggukan dan juga gelengan melihat setiap tingkahku.
"Hati-hati ya Dek, nanti bawa motornya" pesan Kak Dila juga.
__ADS_1
Alhamdulillah, aku masih diberikan kesempatan untuk bisa merasakan kasih sayang yang berlimpah dari keluarga baik ini. Kakek Ahmad, Bang Angga, Kak Dila, dan Deni beserta keluarganya merupakan orang-orang yang sangat paling penting dalam hidupku setelah Kakek dan kedua orang tuaku. Tidak ada selain mereka yang aku punya.
Setelah memastikan semua perlengkapan yang aku bawa, aku segera melajukan motor Bang Angga menelusuri lingkungan asri tersebut. Sudah lama sekali aku tidak pernah berkendara sendiri seperti ini. Bahkan ketika di rumah Deni pun, aku tidak dibolehkan sama sekali oleh Deni untuk membawa motor miliknya. Meskipun hanya sekedar berkeliling di sekitaran komplek. Dasar Deni pelit.
Hampir setengah jam aku menikmati angin sepoi-sepoi menerpa rambutku yang sengaja tidak aku ikat karena menggunakan helm. Meskipun di sini tidak ada polisi, tapi melindungi diri itu penting.
Kawasan puncak yang ditumbuhi ribuan pohon rimbun adalah menjadi tempat tujuan utamaku. Ini merupakan kawasan yang lumayan dekat dari rumah Kakek Ahmad. Hawa sejuk dan berembun menyambut kedatanganku. Karena ini bukan hari libur, kawasan ini cukup sepi untuk saat ini. Hanya ada beberapa orang saja yang datang.
Hari sudah menunjukkan pukul sebelas siang, tapi hawa di sini seperti pagi hari. Cukup dingin. Bahkan matahari sudah bersinar dengan cerahnya.
Setelah memastikan motorku berada di tempat yang aman, aku segera melangkahkan kaki untuk masuk lebih dalam lagi di kawasan tersebut. Sebuah kamera sudah menggantung indah di leherku. Aku siap memotret apa saja yang menurutku layak untuk diabadikan.
Pohon-pohon yang rindang, bunga-bunga yang baru mekar, bahkan kupu-kupu yang beterbangan tidak luput dari jebretan kameraku. Aku tersenyum melihat hasilku tersebut. "Sudah cocok jadi fotografer nih gue" ujarku pelan.
Berjalan lebih jauh lagi, aku sampai di tempat yang paling menjadi ikonnya wisata di sini. Yaitu air terjun. Air terjun di sini terdapat tiga tingkat. Setiap tingkatnya tersebut memiliki makna sendiri yang dipercayai oleh orang-orang yang tinggal di lingkungan sekitar.
Aku melepaskan sepatu, lalu berjalan di tepi-tepi sungai kecil. Bahkan ketika kakiku masuk ke dalam air, rasa dingin langsung menyapa kulitku. Seperti air es yang baru keluar dari lemari pendingin. Jika dibayar sekalipun untuk mandi di sini, aku tidak akan sanggup. Dinginnya langsung nusuk ke tulang.
Aku menghabiskan waktu hampir dua jam berada di sini. Karena terlalu sibuk memotret ini itu aku sampai lupa waktu. Setelah melihat jam tangan, aku segera melangkahkan kaki untuk keluar dari kawasan dingin tersebut. Karena sebelum melanjutkan perjalanan, aku akan salat dan makan siang terlebih dahulu. Musala dan tempat makan terdekat menjadi pilihanku.
#Dina Pov End.
__ADS_1
...
Maaf banget nih jika authornya baru kembali. Terima kasih untuk yang masih setia menunggu. Love u all ❤😚