
Setelah resmi menjadi tunangan dari seorang Deni Septia Dirnata, Dina Adistya kembali menjalani rutinitasnya sehari-hari. Yaitu kembali kuliah, dan bertekad menyelesaikan kuliahnya secepat mungkin sebelum mereka menikah.
Duh, jika mengingat kata menikah, seketika tubuh Dina meremang. Gadis itu antara percaya dan tidak bahwa sebentar lagi dirinya bakalan menyandang nama Deni di belakang namanya.
Bahkan tanggal pernikahan pun sudah ditetapkan oleh keluarga Deni dan juga keluarganya. Kurang lebih tiga bulan lagi. Jika dihitung hari itu bertepatan dengan seminggu setelah Dina diwisuda. Bahkan tidak jauh berbeda dengan Dina, Deni, kurang lebih satu bulan sebelum wisuda tunangannya itu, dirinya juga sudah resmi menjadi kepala di rumah sakit orang tuanya, meskipun baru lulus sebagai dokter dan belum resmi menjadi dokter spesialis, karena butuh beberapa tahun lagi untuk mendapatkan gelar tersebut. Om Pras sudah mengamanatkan tugas berat itu kepada Deni, sebagai bentuk tanggung jawab Deni setelah menikah.
Tidak terbayang kan bagaimana sibuknya dua calon pengantin itu? Dina bahkan sangat ngebut sekali dalam mengerjakan skripsinya dibanding Desi. Desi yang baru bab satu, Dina sudah otw bab tiga. Dina juga sudah bimbingan kira-kira dua kali. Tugasnya tinggal beberapa langkah lagi, yaitu menganalisis hasil penelitian yang telah dilakukannya sebelum dirinya memutuskan untuk cuti.
Berbicara mengenai cuti, pengajuan Dina tersebut tidak bisa diproses oleh kampus. Karena perkuliahan sudah hampir berjalan setengah semester. Jadi waktu libur Dina kemaren itu tidak ada pengaruhnya sama-sekali berhubung dirinya yang sudah mulai mengerjakan skripsi, tidak ada jadwal kuliah tatap muka lagi.
"Semangat amat Buk! Mentang mentang mau nikah gitu?" cibir Desi ketika melihat Dina yang sibuk dengan buku-buku di depannya. Sekarang ini mereka lagi ada di kantin kampus. Tidak ada tanggapan dari Dina. Gadis itu tampak sedang menulis sesuatu, sambil sesekali menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Makan sambil nugas ceritanya.
"Nggak usah ganggu deh lo Des" sungut Dina tak terima ketika Desi menarik pulpen yang ada di tangan Dina.
"Berhenti dulu kali Din. Makan dulu yang bener, baru lanjut lagi. Makan nggak membuat lo telat wisuda kok" omel Desi. Desi ini tidak jauh berbeda dengan Deni perihal jika mengingatkan Dina tentang makan. Baginya Dina ini adalah manusia paling cuek yang dikenalinya tentang mengisi lambung. Jauh sekali bedanya dengan dirinya yang suka makan kalau lagi banyak pikiran. Ya seperti saat ini, dalam mengerjakan skripsi. Tidak cukup hanya energi pas-pasan saja. Butuh energi lebih.
"Iya, iya. Gue makan" Dina menjauhkan buku-buku yang ada di depannya sejenak. Tidak salah juga mengindahkan kata-kata sahabatnya itu. "Hmm Des, nanti pulang dari kampus lo ke mana?" tanya Dina di sela-sela kunyahannya.
"Hmm, nggak ke mana-mana deh keknya. Emang kenapa?" Desi menghentikan sejenak aktivitasnya menyendok mi ayam.
__ADS_1
"Nanti temenin gue ke makam Kakek bisa nggak? Kangen gue sama Kakek Des" sudah cukup lama dirinya nggak mampir ke makan sang Kakek.
"Bisa kok. Nanti langsung aja ya dari sini" Dina menyetujui usulan sahabatnya itu.
..
Setelah menapakkan kakinya di makam, Dina dibuat heran ketika melihat ada satu buket bunga yang terletak di sana. Sepertinya seseorang juga datang melayat. Siapa?
"Keknya tadi ada yang datang juga deh Din" ujar Desi, dan juga meletakkan bunga yang dibawanya. "Nisannya juga masih basah" lanjutnya sambil mengusap batu nisan yang bertuliskan nama Kakek Dina.
"Iya nih. Tapi siapa ya? Nggak mungkin kan keluarga gue yang di kampung?" Dina mencoba menerka-nerka siapa kah orang tersebut. Tapi hasilnya nihil, dirinya nggak menemukan jawabannya.
"Biarin aja deh. Itu berarti orang yang datang juga sayang Din ama Kakek. Mending kita doa dulu" Desi mendudukkan diri di sebelah kiri nisan, dan Dina di sebelah kanan. Lalu mereka berdoa dalam hati.
"Kakek" ujar Dina pelan, tangannya juga mengusap nisan. "Dina sekarang sudah resmi Kek jadi tunangan dari orang yang paling Kakek percayai itu. Mohon doakan semoga apa yang menjadi pilihan Dina ini merupakan pilihan yang terbaik ya Kek. Doakan juga semoga apa yang telah kami rencanakan berjalan lancar. Dina harap Kakek bahagia di sana, di sisi-Nya, seperti yang Dina rasakan sekarang. Doakan Dina ya Kek supaya bisa menjadi istri dan juga Ibu yang baik untuk suami dan anak-anak Dina kelak" tidak ada lagi air mata yang menetes. Karena Dina sudah benar-benar ikhlas melepaskan kepergian sang Kakek.
Desi mengusap pelan bahu Dina. Dirinya ikut terharu ketika mendengar kata-kata yang dilontarkan Dina. Sahabatnya itu ternyata sudah benar-benar ikhlas dalam melepas.
"Dina pulang dulu ya Kek. Maaf karena Dina yang jarang mampir. Dina janji, nanti Dina akan lebih sering lagi mampir ke sini" pamit Dina terakhir kalinya.
__ADS_1
"Desi juga pamit ya Kek. Kakek tenang aja, Desi akan menjaga Dina kok Kek, 24 jam. Selain Deni tentunya, hehe" Desi nyengir di akhir kalimatnya, dan itu sukses membuat Dina terkekeh.
"Ada-ada aja lo. Yok pulang" Dina menggandeng tangan Desi untuk segera meninggalkan area pemakaman.
"Nanti nggak singgah dulu di mana gitu?" tanya Desi memberi kode. Dirinya ingin jalan-jalan, atau nggak belanja. Dina akhir-akhir ini sangat membosankan bagi Desi. Setiap diajak, alasannya selalu sama, 'Gue lagi ngerjain skripsi Des'. Hadeeeh, mengcapek emang.
"Keknya nggak deh. Gue langsung pulang aja" Dina yang tidak paham sama sekali kode yang diberikan Desi, menjawab dengan polosnya.
"Lo mah gitu. Mentang-mentang mau nikah, jadinya buru-buru amat ngerjain skripsinya. Dahlah, gue nggak punya teman lagi kalau kek gini mah" Desi berujar cemberut.
"Bagus dong, itu kan jadi positif support juga Des biar semangat ngerjain skripsinya. Mending lo buru-buru nikah juga deh. Biar semangat kayak gue"
"Nikah pala lo! Nikah sama siapa gue? Hah?
"Revan lah. Siapa lagi emang?"
"Dahlah. Capek ngomong sama lo"
Desi mempercepat langkahnya menuju mobil. Dina yang ditinggal itu hanya bisa tergelak pelan. Dirinya paham sekali kenapa Desi sangat enggan membahas hal yang demikian. Karena kejadian beberapa hari yang lalu itu sudah diceritakannya semua kepada Dina.
__ADS_1