Dina-Deni 'Love Story'

Dina-Deni 'Love Story'
Part 18.


__ADS_3

Setelah sampai di ruang keluarga, tampak Deni dan Revan yang sedang main catur bersama. Tumben akrab?


Dina mendudukkan pantatnya di sofa yang berada di belakang tubuh Deni. Deni yang sedang duduk di lantai beralasan karpet berbulu itu segera menyandarkan punggungnya pada kaki Dina yang terjuntai.


Desi duduk di sisi kanan Dina. Tangannya sibuk memainkan ponsel. Dia terlalu acuh dengan situasi yang ada di sekitarnya.


"Sudah selesai?" tanya Deni akhirnya sambil menatap ke arah Dina yang berada di belakangnya. Karena dia merasa aneh saja dengan suasana saat ini. Sunyi nggak jelas.


"Apanya?" Dina juga kembali bertanya, karena dirinya tidak begitu fokus dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh laki-laki itu.


"Kalian sudah selesai curhat-curhatannya?" Deni kembali mengulangi pertanyaannya. Sambil menahan rasa geram tentunya. Dasar Deni, nggak sabaran.


"Sudah" jawab Dina cuek. Tangannya sibuk memasukkan makanan yang ada dalam toples di pangkuannya ke dalam mulut.


"Itu aja?" oke, kesabaran seorang Deni sedang diuji.


"Terus apa lagi?" Dina benar-benar menguji kesabaran laki-laki ini. Hanya Dina yang mampu membuat seorang Deni menahan rasa kesalnya.


"Dahlah. Nggak jadi" Deni kembali berpaling menghadap papan catur. Pura-pura merajuk ceritanya.


"Haha iya iya. Kok kamu seperti anak kecil gini sih?Ambekan" Dina mencoba menggoda laki-laki itu sambil mengelus-elus kepalanya pelan.


Bahkan mereka berdua tidak sadar, atau mungkin pura-pura tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan barusan sudah menjadi tontonan dua orang lain yang ada di sana.


Desi dan Revan memandang dua orang itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Jijik.


"Kalian kenapa? Iri?" Deni memperlihatkan senyuman mengejeknya sambil menarik tangan Dina yang tadi ada di kepalanya, lalu menempelkan ke pipinya sendiri.


"Idiiiih, nggak ada iri-irinya gue. Norak iya lo" Revan melemparkan anak catur yang ada di depannya ke wajah Deni. Dengan sigap laki-laki itu mengelak, maka anak catur tersebut malah mengenai kening Dina yang berada di belakang tubuhnya.


"Kok aku sih yang dilempar?" sungut Dina tidak terima sambil mengusap-usap keningnya sendiri.


"Maaf Kak. Seharusnya pacar alai lo ini yang kena. Tapi dengan sengajanya dia mengelak, bukan ngelindungin lo dari lemparan itu" Revan mencoba mengompori Dina. Mana tahu calon dokter dingin ini kena omel oleh pacarnya, batinnya.


"Jangan mencoba untuk menjadi kompor lo ya" Deni melemparkan anak catur yang lainnya ke arah Revan. Bocah itu segera mengelak. Maka anak catur tersebut berserakan di lantai.


Deni beranjak ke sisi kiri Dina, dan ikut-ikutan mengusap kening Dina yang kena lempar tadi. "Maaf ya Yang, Revan tuh yang salah, bukan aku" ujarnya pelan sambil membela diri. Dina tidak menggubris sama sekali.


"Siapa yang ngomporin sih? Kan emang itu kenyataannya" ujar Revan sambil mendudukkan pantatnya di sofa lain.


"Pacar apaan tuh yang kek gitu? Nggak ngelindungin pacarnya sendiri" ledek Desi yang akhirnya membuka suara setelah lama bungkam.

__ADS_1


Deni menatap perempuan yang duduk di sisi kanan pacarnya tersebut. "Kompak bener lo pada ngeledekin gue. Mendingan kalian balikan aja deh" celetuknya yang seketika merubah raut wajah Desi.


Perempuan itu kesel sendiri dengan celetukan si calon dokter alai tersebut. Sialan, kenapa jadi gue sih? Batinnya.


"Ide bagus tuh. Mending kalian balikan aja deh. Kalian tuh cocok tau" Dina dengan santainya ikut berpendapat tanpa memperhatikan raut wajah sang sahabat. Dasar Dina.


"Din, kok lo juga ikutan si Deni sih? Lo ini teman gue atau bukan, hah?" Desi menatap Dina lekat-lekat.


"Haha, ya iyalah lo sahabat gue. Kan gue cuma berpendapat Des. Menurut gue sih lo emang cocok ama Revan" Dina dengan segala kepolosannya. Bahkan Revan semenjak tadi ternganga sendiri di sudut sofa ketika mendengarkan celotehan si calon Kakak ipar.


"Kamu setuju kan kalau sahabatmu balikan lagi sama Adekku?" Deni menambah-nambahkannya. Sekalian balas dendam yang tadi, pikirnya.


"Setuju banget. Emang kamu setuju?" tanya Dina balik. Mereka benar-benar melupakan keberadaan dua orang lagi di ruangan ini.


Deni menjawab dengan anggukan kepala. "Sahabatku ini bar-bar loh orangnya. Nanti kamu nyesel punya ipar seperti dia" tambahnya. Dina mencoba menahan tawanya ketika menatap Desi yang menatapnya garang.


"Dinaaaaa!!" ujar Desi geram. Dan seketika tawa menggema di ruangan keluarga tersebut. Kecuali dari Revan. Anak itu masih diam, pura-pura tidak peduli. Padahal dia mendengarkan semua yang dilontarkan oleh Abang dan calon Kakak iparnya itu.


"Ada apa nih rame-rame?" suara asing tersebut menghentikan gelak tawa Dina dan juga Deni. Mereka semua serempak menoleh ke sumber suara.


"Papa! Mama!" ujar Deni dan Revan serempak.


"Om! Tante!" disusul oleh Dina.


Desi tampak sungkan dan bingung ketika hendak menyapa dengan panggilan apa. Karena ini baru pertama kali dirinya bertemu dengan orang tuanya si mantan (wkwk, lu masih dianggap ternyata Van).


"Kamu siapa sayang?" tanya Mama Revan lembut. Wanita paruh baya itu selalu baik kepada siapa pun.


"Malam Om, Tante. Kenalin aku Desi, teman kampusnya Dina" Desi menyalimi tangan Om Pras dan Tante Rini bergantian.


"Juga sebagai mantan dari anak bungsu Mama!" Deni dengan sengajanya kembali memperkeruh keadaan. Dina dengan refleks langsung menginjak kaki laki-laki bermulut ember itu. "Aduh" ujar Deni pelan sambil menatap Dina dengan pandangan yang mengiba.


"Serius?" tanya Tante Rini dengan raut wajah kagetnya. Dina tidak memberikan tanggapan apa-apa. Dirinya juga bingung mau menjelaskan apa wkwk. Biarkan Revan dan Desi saja yang mengambil alih situasi saat ini, pikirnya.


"Wah hebat juga ya anak bungsu Papa! Bisa macarin mahasiswa, padahal lulus SMA aja belum" ujar Om Pras dengan sedikit meledek anak bungsunya itu.


"Paaa! Siapa juga sih yang pacaran? Nggak ada yaa. Udah selesai juga!" Revan dengan nada manjanya merengek di samping sang Papa.


"Sepertinya karena anak Om yang masih bertingkah seperti anak kecil gini deh kamu memilih untuk mutusin dia" Om Pras dengan argumennya sendiri. Sambil menghadap ke arah Desi.


"Eh, nggak kok Om. Bu ... Bukan gitu" Desi menjawab sedikit terbata-bata. Karena dia juga bingung harus mengatakan apa. Masa iya dia harus mengatakan yang sebenarnya? Gila. Nggak akan.

__ADS_1


"Siapa sih yang masih kecil?" tanya Revan tidak terima dengan ujaran sang Papa.


"Kamu!" jawaban serempak dari semua orang, kecuali Desi. Wanita tersebut hanya menatap Revan dalam. Entah apa yang ada di pikirannya.


"Sialan" umpat Revan pelan. Dan tidak sengaja matanya juga menatap ke arah Desi. Cukup lama mereka saling tatap seperti itu. Sebelum Deni memutuskan tali yang tak kasat mata tesebut.


"Kalian ngapain tatap-tatapan seperti itu? Nanti jatuh cinta lagi loh" ujarnya seenak hati.


"Bagus dong. Kan Mama jadinya mempunyai dua anak perempuan yang cantik-cantik" oke, sepertinya Deni salah memberikan ide.


"Kita gimana?" dengan polosnya si anak bungsu menanyakan hal tersebut.


"Kalian payah. Nggak bisa diajak kerja sama" ujar sang Mama dengan entengnya. "Kan Mama jadinya ada teman buat belanja kalau gini. Ketika Dina nggak bisa, masih ada Desi yang nemanin Mama. Iya kan Sayang? Emangnya kalian, yang suka banyak alasan" celoteh Tante Rini panjang kali lebar sambil menatap tajam ke arah kedua putranya.


"Jadi posisi kita sudah digantikan nih ceritanya?" entah kenapa Deni sedikit tertarik dengan perdebatan yang nggak jelas ini. Memang benar, semenjak kedatangan Dina beberapa hari yang lalu, dia merasa kasih sayang sang Mama sudah terbagi, haha. Mama selalu mengutaman Dina. Tapi tidak apa, karena dia mencintai gadis itu. Tapi itu tidak menutup kemungkinan ditambah dengan kedatangan Desi kali ini. Jangan sampai, pikirnya. Meskipun itu tidak benar-benar akan terjadi.


"Iya!" jawab sang Mama mantap.


"Idih, apaan sih? Nggak jelas banget" sungut Revan.


"Apanya yang nggak jelas sih Van? Hubungan kamu dengan Desi? Ya diperjelas dong. Gimana sih kamu" lagi-lagi sang Mama kembali memperkeruh suasana.


"Maaaa! Nggak gitu ya" rengek Revan lagi yang sudah mulai jengkel. Sepertinya jiwa anak-anak benar-benar masih menetap di tubuh bocah kelas tiga SMA ini.


"Terus apa? Lo mau nyusu? Noh, silahkan nyusu. Mama udah pulang tuh" ledek sang Abang lagi. Revan dengan kesalnya melempari sang Abang dengan bantal. Bantal tersebut berhasil ditangkis oleh Deni, dan jatuh tak berdaya di lantai. Abang sialan, umpatnya dalam hati.


"Sudah sudah. Sekarang mari kita ke dapur dulu. Mama ada membawa sesuatu buat kalian" Tante Rini menggandeng tangan Desi dan Dina. Masing-masing di sebelah kiri dan kanan tubuhnya.


"Pa, gandeng kita juga dooong!" rengek Revan seolah-olah dirinya cemburu melihat keakraban sang Mama dengan dua gadis tersebut.


"Jalan sendiri!" ujar sang Papa telak. Lagi-lagi tawa kembali menggelegar di ruang keluarga ini.


Suasana yang sudah sangat lama dirindukan oleh Dina. Yaitu dikelilingi oleh orang-orang tersayangnya. Selain sang Kakek tentunya.


Begitu juga dengan Desi, karena kedua orang tuanya yang sibuk bekerja, dia jarang sekali merasakan suasana seperti ini.


Rasanya seperti benar-benar berada di rumah. Batin mereka berdua.



__ADS_1




__ADS_2