Dina-Deni 'Love Story'

Dina-Deni 'Love Story'
Part 2.


__ADS_3

"Hmm. Btw nama lo siapa? Gue Dina" aku mengulurkan tangan ke arahnya. Karena rasanya aneh saja kita saling diam-diaman seperti ini. Dia terlihat sedikit heran dan ragu untuk membalas jabatan tanganku.


"Oh iya maaf. Gue lupa siapa nama lo. Karena itu suatu kelemahan gue" aku hanya bisa tersenyum simpul ke arahnya mengingat suatu kelemahanku yang tidak bisa ku ubah itu.


"Oh. Gue Deni" dia membalas uluran tanganku sambil tersenyum kecil. Senyum aja kok pelit banget sih, batinku.


Deni ini memiliki tubuh yang lumayan tinggi tapi tidak terlalu berisi. Menandakan kalau dia suka berolahraga. Aku dengan ke-soktauanku wkwk. Kulit kuning langsat, hidung mancung, dan memiliki bulu mata yang lentik. Sebenarnya laki-laki ini begitu sempurna di bagian fisik, hanya saja satu kekurangannya, yaitu kurang berekspresi. Wajahnya datar, tapi tidak membosankan. Aduh, dasar aku.


"Lo kuliah di mana?" Dia menanyaiku. Setelah menyebutkan tempat kuliahku. Aku melihat wajahnya berbinar. Apakah sesenang itu setelah mendengar tempat di mana diriku kuliah? Heran.


"Waah kok bisa ya, gue juga kuliah di sana" ucapnya antusias. Dan satu lagi, wajah datarnya tadi hilang entah ke mana. Ternyata laki-laki ini asyik juga. Lagi-lagi batinku berbicara sendiri.


"Jurusan apa?" entah kenapa obrolan ini semakin nyambung antara aku dan dia. Nyaman.


"Kedokteran. Kalau lo?" tanyanya balik.


"Gue sosiologi"


"Kenapa pilih sosiologi? Kan banyak jurusan lain?"


"Karena gue suka aja berpetualang kayak si Bolang" ucapku pelan sambil menatap mimik wajahnya. Dan itu sukses membuat dia tertawa terbahak-bahak. Alasan yang nggak nyambung sih menurutku.


"Kenapa? Ada yang lucu?" Aku mencoba membuat wajahku seserius mungkin. Mencoba untuk bersikap keren.


"Enggak sih, tapi heran aja" ucapnya.


"Heran kenapa?" Aku melihat matanya sedikit berair. Ketawa kok sampai nangis segala sih? Lucu ni orang.


"Kan banyak alasan yang lain. Tapi lo malah memilih alasan itu. Aneh aja sih me ..." ucapannya tergantung karena Tante Rini (Ibunya) meminta kami untuk segera bergabung kembali di ruang tamu. Aku segera masuk ke dalam, begitu juga dengan Deni yang mengekoriku dari belakang.


"Ternyata kalian sudah mulai dekat aja ya" baru saja pantatku mendarat di sebelah Kakek, Om Pras ayah Deni sudah mulai mengintrogasi dengan tatapan usilnya. Aku juga melihat Tante Rini senyam-senyum nggak jelas ke arah Om Pras. Bagaimana dengan Deni? Dia kembali ke ekspresinya semula. Datar.

__ADS_1


Ada apa ini? Batinku.


...***...


Setelah acara kumpul keluarga tersebut usai. Aku merasa ada yang aneh dengan tingkah Kakek. Bagaimana tidak, setiap mau berangkat kuliah Kakek selalu memaksaku pergi dengan Deni. Aku heran deh sama si Deni, kenapa juga dia mau jemput aku tiap pagi? Kurang kerjaan banget tahu nggak, meskipun kita kuliah di tempat yang sama.


Tapi beruntung juga kalau diantar sama Deni, satu persatu pasukan alai yang sering menggodaku mundur. Mungkin dia mengira kalau Deni itu pacarku. Padahal kan bukan siapa-siapa. Cuma teman yang baru saling mengenal.


"Na. Cowok itu siapa? Pacar lo? Kenalin dong sama gue. Gue kan juga pengen kenal sama cowok kece kayak tu orang" Desi temanku langsung menyerangku dengan berbagai macam pertanyaan. Heran deh sama ni orang, masa iya sih tampang kayak gitu dibilang kece? Lempeng kayak tembok mah iya.


"Kenalan aja sendiri. Lo kan bisa" aku merespon datar ocehan Desi. Karena malas juga pagi-pagi gini sudah ngebahas tu orang. Emang dia siapa?


"Dina! Lo kok tega banget sih sama gue" Desi mendengus kesal ke arahku. Aku hanya cuek melihat wajah Desi yang sudah ditekuk dalam-dalam. Emangny gue pikirin? Ya enggak lah.


Seketika ekspresi Desi berubah senang ketika seorang laki-laki menghampiri meja kami. Baru diomongin, sekarang sudah muncul saja ni orang, batinku.


"Gue boleh gabung?" tanyanya kepadaku dan juga Desi.


"Kenalin gue Desi, sahabatnya Dina" Desi mengulurkan tangannya ke arah Deni sambil memperlihatkan senyuman centil khasnya tentunya.


"Deni" ucap laki-laki itu sekilas sambil membalas uluran tangan Desi. Dasar dingin.


Kulihat ada sedikit raut kecewa di wajah Desi. Apakah karena respon Deni yang terlalu santai? Entahlah. Kamu hanya belum tahu saja Des dia itu laki-laki macam apa. Macam tembok. Datar. Lagi, batinku ngedumel sendiri. Sambil curi-curi pandang ke arah Deni. Dasar aku.


Hanya ada keheningan di antara kami bertiga. Biasanya Desi akan heboh jika ada orang yang baru dia kenal. Tapi sekarang kok beda ya, apakah karena orangnya itu Deni? Dasar Deni.


Entah kenapa, aku sekarang ini suka sekali mengutuk laki-laki yang bernama Deni ini.


"Keknya kalian jodoh deh" aku mencoba membuka suara berharap situasi ini sedikit mencair. Kan aneh diam-diaman seperti tadi.


Dua orang itu seketika menatap ke arahku. "Maksudnya?" tanya Deni heran, wajahnya memperlihatkan kebingungan.

__ADS_1


"Ya, secara kan nama kalian mirip tuh, Deni dan Desi. Mana tau jodoh kan?" ucapku sambil nyengir. Aku melihat ada raut bahagia di wajah Desi, dan sebaliknya di wajah Deni. Kenapa dia kecewa begitu? Apakah barusan kata-kataku menyakitinya? Aku hanya mengangkat kedua bahuku. Bodo amat. Kulanjutkan menyeruput minuman yang tinggal setengah itu.


"Mau ke mana?" tanyaku ketika aku merasakan Deni mulai beranjak dari tempat duduknya. Sepertinya dia mau pergi.


"Ada kelas, gue duluan" ucapnya menatap ke arahku dengan muka datarnya. "Nanti pulang bareng gue" tambahnya dan berlalu. Apaan sih? Suka banget maksa-maksa kayak gitu.


Aku hanya menghembuskan nafas berat setelah kepergiannya.


"Kenapa kecewa gitu? Seperti ditinggal suami Wamil aja" celetuk Desi.


"Apaan sih lo Des. Kebanyakan nonton drama Koreaah nih" Desi hanya terkekeh pelan menanggapi ucapanku.


"Keknya si Deni suka deh ama lo Din" lagi-lagi si Desi berargumen sesuka hatinya. "Kalau dia tidak ada rasa sama lo, kenapa dia mau antar jemput lo tiap hari ke kampus, coba? Biasanya lo kan bareng gue atau naik angkutan umum. Jarang loh ada laki-laki yang rela berkorban seperti ini tanpa ada apa-apanya Din ..." berhenti sejenak sambil menarik nafas, "... dan satu lagi, sekarang ini gue merasa lo selingkuh di belakang gue, tahu nggak? Hiks hiks" lanjutnya panjang kali lebar di akhiri dengan akting menangis. Haha dasar si Desi. Selingkuh apaan coba?


"Jangan asal ngomong. Suka apanya sih? Kita juga baru dua minggu lebih saling mengenal. Nggak mungkinlah" ucapku sedikit keras. Kok aku ngegas sih? Astaga. "Dan gue juga nggak nyelingkuhin lo Des, gue setia kok orangnya" ucapku menegaskan.


"Iya iya, gue tau kok. Tapi lo kok ngegas gitu? Atau jangan-jangan lo lagi yang naksir sama si De ... hmmfft" seketika tanganku membekap mulut Desi.


"Nggak usah banyak ngomong. Mendingan kita ke kelas aja yuk? Bentar lagi masuk nih" aku mengalihkan pembicaraan. Apa iya aku naksir Deni? Aku menggeleng-gelengkan kepala sambil melangkahkan kaki menuju kelas.


Dina



Deni



Desi


__ADS_1


__ADS_2