Dina-Deni 'Love Story'

Dina-Deni 'Love Story'
Part 3.


__ADS_3

Setelah mengantarkanku pulang, Deni langsung pamit tanpa ku suguhi minuman terlebih dahulu.


Selepas kepergian Deni aku kembali masuk ke dalam rumah, dan mendapati Kakek yang sudah duduk di kursi tamu. "Dina. Kakek mau bicara sama kamu" suara serak Kakek memintaku untuk mendekat.


"Kakek kenapa ke luar? Kan belum sembuh" aku mendudukkan pantat di sebelah Kakek. Tiba-tiba Kakek menggenggam tanganku sedikit erat dan juga bergetar. Aku merasa tangan Kakek dingin tidak hangat seperti dulu lagi.


"Ada yang ingin Kakek katakan" sesekali Kakek menarik nafas beratnya dan juga terbatuk-batuk. Aku membalas genggaman Kakek.


"Ada apa Kek?" tanyaku pelan.


Sebelum menyampaikan apa yang ingin dikatakannya, Kakek terlebih dahulu menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan.


"Kamu sudah Kakek jodohkan dengan nak Deni" ucap Kakek tiba-tiba.


Seketika otakku berhenti bekerja, dan jantungku rasanya berhenti berdetak. Bagaimana ini bisa terjadi? Aku dijodohkan dengan Deni? Ya Tuhan, ada apa ini?


"Kakek mengerti kalau kamu tidak suka dengan keputusan Kakek yang tiba-tiba ini. Tapi Kakek harap kamu bisa menerima keinginan terakhir Kakek sebelum Kakek pergi. Kakek tidak ragu lagi harus kepada siapa meminta tolong ngejagain kamu setelah Kakek pergi nanti. Hanya nak Deni yang Kakek kenali sedari dulu. Kakek juga yakin nak Deni itu orang yang baik, karena dia berasal dari keluarga yang Kakek kenali dengan baik" ucap Kakek sambil terbatuk-batuk.


Aku sudah terisak memeluk Kakek. Aku tidak bisa menolak keinginan Kakek tersebut. Aku tidak mau membuat Kakek kecewa atas apa yang telah Kakek lakukan untukku. Aku harus bisa mewujudkan keinginan terakhir Kakek, yaitu menerima perjodohan ini. Entah apa yang terjadi selanjutnya, aku tidak tahu.


Bismillah "Iya Kek. Dina menerima keputusan Kakek" ucapku pelan sambil melepaskan pelukanku dari Kakek.

__ADS_1


Tampak raut bahagia dari wajah Kakek, aku lega karena bisa mewujudkan keinginan Kakek tersebut. "Terima kasih Dina, karena telah mewujudkan keinginan terakhir Kakek" ucap Kakek pelan.


"Dina yang seharusnya berterima kasih Kek. Kakek yang selama ini jagain Dina, ngerawat Dina sampai sebesar ini. Terima kasih Kek karena sudah menjadi Ayah sekaligus Ibu untuk Dina. Dan maaf, Dina belum bisa menjadi cucu yang baik untuk Kakek" aku kembali terisak di pelukan Kakek.


"Jangan bicara seperti itu, Kakek ikhlas melakukannya untuk kamu Nak. Karena kamulah satu-satunya keluarga yang Kakek miliki saat ini" Kakek mengusap-usap punggungku pelan.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Aku segera beranjak dan melihat siapa yang datang sambil mengusap sisa air mata yang ada di pipi. Ternyata itu adalah Deni. Setelah mengucap salam Deni masuk dan langsung melangkah ke ruang tamu, di sana masih ada Kakek. Bahkan aku sempat terpaku lama di pintu mengingat dirinya yang sudah berganti pakaian.


"Kakek bagaimana keadaannya?" tanya Deni sopan setelah menyalami tangan Kakek.


"Sudah berangsur nak Deni. Silahkan duduk" Kakek mempersilahkan Deni duduk. Dengan berbagai macam pertanyaan yang muncul di kepalaku, aku beranjak ke dapur untuk membuatkan Deni minum. Karena Kakek menolak untuk dibuatkan sesuatu jadilah aku hanya membuat satu gelas saja.


"Makasih" jawab Deni menatapku sekilas.


"Hmm Kakek duluan ya nak Deni. Mau istirahat" setelah diangguki oleh Deni Kakek beranjak menuju kamarnya. Kok aku merasa Kakek sengaja melakukan ini ya? Sengaja memberi aku dan Deni waktu.


Cukup lama kami terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku bingung harus ngomong apa. Dan aku juga benci situasi seperti ini.


"Ke luar sebentar yuk?" Deni memulai pembicaraan setelah cukup lama kita terdiam.


"Eh, mau ke mana?" ucapku sedikit kaget, karena baru sadar dari lamunan nggak jelasku. Deni hanya tersenyum ke arahku.

__ADS_1


"Ke mana saja" ucapnya ambigu. Sepertinya dia juga bingung mau ke mana. "Sepertinya ada seseorang yang sedang dalam suasana hati buruk saat ini, dan sepertinya juga butuh hiburan" tambahnya, seolah-seolah menyindirku.


"Yaudah. Tunggu sebentar, aku siap-siap dulu" jawabku akhirnya. Karena sepertinya aku memang butuh udara segar untuk menenangkan pikiranku yang kusut marut ini.


Tiba-tiba Deni menatapku. Seperti ada tanda tanya di wajahnya. Aku hanya menganggukkan kepala merasa paham apa yang ingin ditanyakannya. Setelah itu aku melangkahkan kaki menuju kamar untuk bersiap-siap mengganti pakaianku.


Sepuluh menit kemudian, aku kembali menemui Deni di ruang tamu. "Yuk" ucapku datar.


Deni yang sedang sibuk dengan ponselnya seketika menoleh ke arahku sambil menganggukkan kepala. Dia melangkah ke luar terlebih dahulu, tanpa berpamitan kepada Kakek karena Kakek sudah terlelap. Aku menutup pintu pelan-pelan dan menyusul Deni yang sudah membukakkan pintu mobilnya untukku. Aku hanya sedikit heran, tadi ke kampus dia membawa motor gede-nya, dan saat ini dia membawa mobil. Sebegitu kayanya kah dia?


Mobil melaju membelah keramaian kota. Dan lagi-lagi kita hanya diam tanpa ada yang memulai pembicaraan. Aku melirik sekilas ke arah Deni yang ada di depan kemudi. Dia terlihat begitu tampan dengan baju santai yang dia kenakan dan dilapisi jaket kulit berwarna hitam. Jarang sekali aku melihat dia berpakaian seperti ini, karena setiap bertemu di kampus dia selalu memakai kemeja, dipadukan dengan celana dasar, dan jangan lupakan jas dokternya yang selalu menempel di tubuhnya. Satu lagi yang tidak biasa dari dirinya, yaitu kaca mata. Saat ini dia tidak mengenakan benda tersebut.


Dia yang biasanya terlihat lebih dewasa dan berwibawa di kampus, berbeda sekali dengan dirinya yang saat ini. Lebih seperti anak muda pada umumnya. Santai tapi cool.


Jujur. Aku terpesona.


"Jangan menatapku lama-lama. Nanti kamu suka" suara itu membuatku segera mengalihkan kepala ke sisi jendela mobil. Gila, aku malu.



__ADS_1


__ADS_2