
Masa-masa berat sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir itu pun akhirnya dirasakan oleh Dina dan Desi. Mereka berdua disibukkan oleh penyelesaikan tugas akhir, alias masa-masa penggarapan skripsi.
Mulai dari mencari judul, bimbingan, penelitian dan sebagainya. Tidak mudah memang. Bahkan mereka rela menunggu kabar dari dosen pembimbing masing-masing di kampus, meskipun pada akhirnya berakhir dengan zonk. Alias tidak ada hasil sama sekali. Itu pun terjadi tidak sekali atau dua kali, bahkan berkali-kali.
Di php-in dosen juga pernah dialami oleh mereka berdua. Dosen yang ketika dichat atau dihubungi via ponsel katanya ada di kampus pada jam tertentu, tapi setelah ditunggu tidak pernah menampakkan batang hidungnya sama sekali. Lalu ketika ditanya jawabannya 'Maaf, saya ada urusan mendadak'. Kalian tahu bagaimana rasanya? Ya, anjim bangetlah. Nggak bisa diungkapkan. Pada saat-saat seperti ini, keinginan untuk 'menikah saja' meningkat dengan drastisnya. Wkwk, ada-ada saja ya tingkah mahasiswa tingkat tua.
Tapi, jika melakukannya dengan sabar dan ikhlas, itu semua bisa dilalui dengan baik. Entah karena kebetulan atau apa, Dina dan Desi mendapatkan Dosen pembimbing yang sama.
Awalnya Dina mendapatkan dosen pembimbing yang dipilihkan oleh jurusannya, yaitu Pak Riyan. Tapi entah alasan apa, Pak Riyan yang dulu pernah menaruh rasa kepada Dina tersebut meminta pembimbing Desi yang menjadi pembimbing Dina sekaligus.
Itu membuat sebuah tanda tanya besar di kepala Dina dan juga Desi. Tidak profesional sekali jika Pak Riyan melibatkan perasaan dalam situasi seperti ini. Seharusnya Pak Riyan bisa memisahkan antara masalah pribadi dan juga masalah di kampus.
Tidak lama setelahnya, beredar kabar bahwa dosen muda yang banyak digilai oleh mahasiswi jurusan sosiologi tersebut akan menikah. Jadi itu alasan Pak Riyan tidak menerima mahasiswa bimbingan terlebih dahulu? Bisa jadi iya, karena dirinya tidak mau fokusnya terbagi.
"Wah, akhirnya Pak Riyan menemukan pujaan hatinya. Gimana perasaan lu Din? Setelah ditinggal nikah oleh gebetan?" tanya Desi iseng waktu ketika dirinya berada di perpustakaan jurusan.
Mereka mendengar kabar angin tersebut di perpust ini. Ternyata selain untuk belajar, perpustakaan juga digunakan sebagai tempat berghibah ria. Asalkan jangan sampai mengganggu pengunjung lain. Jika itu terjadi, maka kamu akan di suruh untuk meninggalkan ruangan, alias diusir dengan cara yang tidak hormat.
"Apaan sih lu. Nggak ada ya hubungannya dengan gue" sanggah Dina. Jangan sampai ada yang mendengar gosip yang tidak mendasar ini, pikirnya. Dina melihat ke sekelilingnya. Orang-orang tampak sibuk dengan urusan masing-masing.
"Haha. Gue bercanda pun" Desi membereskan barang-barangnya. "Yuk pulang. Gue lapar" ujarnya sambil menyandang tasnya. Tangannya memangku dua buah buku yang akan dipinjamnya. Sebagai bahan tambahan untuk skripsinya.
"Bu, saya minjam dua buku ini ya" ujar Desi kepada pegawai perpustakaan yang terlihat masih muda itu. Memang masih muda sih, palingan jarak umur mereka tiga atau lima tahunan saja. Dan dosen tersebut juga masih lajang.
__ADS_1
"Saya satu ini Bu" sambung Dina yang berdiri di sebelah Desi.
"Bu, sudah tahu belum kalau Pak Riyan sudah nikah?" Desi memulai aksi ghibahnya. Entah kenapa gadis ini ingin tahu sekali mengenai kehidupan dosen muda tersebut.
"Tahu. Kenapa?" tanya Bu Tia dengan nada suara lesu. Tangannya sibuk mencatat ini dan itu.
"Nggak kenapa-kenapa sih. Ibu tahu nggak istri Pak Riyan itu seperti apa? Atau profesinya mungkin?" lagi-lagi Desi mengorek semua hal tentang Dosen yang sudah resmi menjadi suami orang tersebut.
"Yang jelas nggak kepo kayak kamu ini. Udah deh, mending belajar yang rajin biar cepat lulus. Bosen saya melihat wajah kamu mulu di perpust ini" jawab Bu Tia dengan nada yang dibuat-buat tidak suka.
"Hahaha. Ibu kenapa sih? Biasanya juga mau-mau aja ketika saya ajak ngegibah. Atau jangan-jangan, Ibu suka ya sama Pak Riyan?" tebakan Desi tersebut membuat wajah Bu Tia memerah. Dina yang sedari tadi diam itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan ajaib sahabatnya.
"Nggak usah perlu tahu ya kamu. Mendingan keluar deh kalian. Pusing kepala saya jadinya" alasan Bu Tia ketika mengusir Desi dan Dina. Lebih tepatnya Desi saja, karena Dina tidak terlibat apa-apa.
"Iya Bu. Sensi amat sih. Nanti saya tambahkan Ibu ke grup 'Korban Patah Hati Ditinggal Nikah Pak Riyan' ya. Pasti heboh kalau Ibu ikut gabung di sana" ujar Desi lagi sebelum benar-benar keluar dari perpustakaan.
"Maafkan teman saya ya Bu" ujar Dina sambil membungkukkan badannya. Dirinya merasa nggak enak mengenai apa yang telah dilakukan oleh Desi tadi.
"Iya Din. Nggak apa. Sepertinya hanya kamu mahasiswa yang normal di jurusan ini, hahaha" Bu Tia tertawa di akhir kalimatnya. Entah apa yang lucu. Mungkin dirinya mengingat kelakuan mahasiswanya yang nggak normal tadi? Bisa jadi.
"Hmm baik Bu. Saya pamit dulu" Dina menyunggingkan senyuman manisnya, lalu segera melangkahkan kaki keluar dari perpustakaan tersebut. Dirinya tidak menemukan Desi di lobi pustaka. "Kemana tuh anak ngilangnya?" gumamnya pelan sambil melihat ke sekeliling.
"Kok lama lu? Ngapain aja di dalam?" tanya Desi yang entah dari mana.
__ADS_1
"Menurut lu?" tanya Dina balik. Dirinya cukup kesal juga dengan tingkah laku sang sahabat. Keterlaluan, tapi menghibur.
"Haha. Sumpah. Tadi tu lucu banget. Parah-parah. Gue yakin benget kalau Bu Tia itu juga ada rasa sama Pak Riyan. Lihat saja wajahnya, kenapa memerah gitu? Iya kan?" Desi terus saja berujar di saat kaki mereka melangkah menelusuri lorong-lorong kampus.
"Udah deh. Lu kurang kerjaan tahu nggak? Ngapain sih ngurusin hidup orang lain? Mau Pak Riyan nikah kek. Mau Bu Tia suka sama Pak Riyan kek. Ya terserah mereka masing-masing lah. Atau lu juga suka ya sama Pak Riyan?" omel Dina yang sudah lelah mendengar celotehan sahabatnya. Dan pertanyaan terakhirnya sukses membuat langkah seorang Desi berhenti sejenak.
"Siapa sih yang nggak suka sama modelan kek Pak Riyan gitu? Udah ganteng, mapan, pintar, terus dia juga..." ucapan Desi tergantung ketika melihat siapa yang berada di depannya. Berjarak sekitar dua langkah.
"Terus apa? Kenapa nggak dilanjutin?" tanya orang tersebut dengan nada dingin. Dia adalah Revan. "Aku sibuk telponin kamu dari tadi. Khawatir karena kamu tidak menjawab panggilanku, dan juga tidak membalas pesanku. Tapi... kamu malah sibuk membicarakan laki-laki lain? Parah. Ini parah!" ujar Revan. Laki-laki itu menekan setiap kalimatnya.
"Sejak kapan kamu di sini?" tanya Desi berusaha tetap tenang. Dina yang berada di sebelahnya tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya diam tanpa berniat sedikit pun untuk membantu Desi. Emang apa yang bisa dilakukannya?
"Emang penting sejak kapan aku ada di sini? Kenapa kalau aku di sini sudah semenjak tadi?" tanya Revan lagi tanpa menjawab pertanyaan Desi. Sepertinya laki-laki ini sedang salah paham. Lu sih Des, main ngoceh aja tuh mulut lemes.
"Sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Mending kalian selesaikan dulu deh dengan cara baik-baik" saran Dina. Bahkan dirinya merasa terabaikan di sana. Sialan emang. "Gue pamit duluan. Deni sudah menunggu. Bye" lanjutnya sebelum melangkahkan kaki menjauh dari sana. Dirinya enggan untuk terlibat. Bahkan ini tidak kali pertama terjadi. Sudah berkali-kali.
"Hati-hati Kak" balas Revan sebelum Dina benar-benar jauh dari sana. Lalu laki-laki tersebut berjalan ke arah mobilnya yang terparkir. Setelahnya tidak ada satu patah kata pun yang diucapkannya. Bahkan untuk mengajak Desi pulang bareng pun enggan dilakukannya.
Desi masih mematung di sana. Ternyata egonya juga tinggi. Tidak ada yang mau mengalah di antara mereka.
Dengan kesal, Desi segera melangkah ke arah mobilnya yang tidak jauh dari sana. Setelahnya melajukan mobil tersebut meninggalkan perkarangan kampus. Revan yang memperhatikan dari jauh hanya bisa menghembuskan nafas pelan. Kesalahpahaman apa yang sedang dihadapinya saat ini?
Niat awalnya yang ingin menjumpai Desi karena khawatir berubah menjadi pertengkaran kecil. Siapa yang salah? Siapa yang harus mengalah? Sampai kapan kejadian yang seperti ini terjadi? Entahlah. Hanya mereka yang tahu.
__ADS_1
Revan juga segera melajukan mobilnya. Dirinya akan menanyakan terlebih dahulu kepada Dina mengenai apa yang telah didengarnya tadi.
Bisa jadi, dirinyalah yang salah paham kali ini.