
#Author Pov.
Setelah menyelesaikan kegiatannya, yaitu salat dan juga makan siang. Dina kembali melanjutkan apa yang sudah menjadi rencananya. Tujuan Dina berikutnya yaitu mengunjungi danau yang berada di tengah hutan. Danau yang pernah dikunjunginya beberapa kali itu.
Meskipun sempat merasa sedikit agak takut karena danau tersebut yang sangat jarang dikunjungi oleh orang-orang, Dina akhirnya menguatkan hati untuk tetap menginjakkan kakinya di sana. “Huft, akhirnya aku nyampe juga di sini” ujarnya sambil merentangkan tangan.
Terakhir kali ke sini kapan ya? Pikirnya. “Oh iya, itu kan bareng Deni dan yang lainnya. Duh ngapain harus ingat-ingat kenangan itu sih. Kan tujuan ke sini mau melupakan tentang itu sejenak. Termasuk tentang Deni” gumamnya pelan.
Dina melangkahkan kaki mengelilingi danau tersebut. Sebenarnya Dina ingin sekali ke tengah danau. Tapi karena tidak banyaknya orang di sini, Dina akhirnya mengurungkan niatnya itu. Demi keamanan dirinya sendiri. Kembali kamera yang ada di tangannya memotret segala hal yang menurutnya bagus. Sesekali dirinya tampak tersenyum bahagia dengan apa yang dilakukannya itu.
Orang-orang yang datang pun tidak lepas dari tangkapan kameranya. Apalagi yang datangnya berpasangan, Dina sengaja memotret mereka dari arah yang lumayan jauh. “Duh, aku ngenes banget ya Allah. Hanya bisa menikmati ke-uwuan rang-orang” sungutnya setelah mengamati sebentar potret dua sejoli yang sedang berpegangan tangan di dalam kameranya tersebut. Dan dengan senang hati, Dina juga sibuk menawarkan diri kepada pengunjung yang membutuhkan bantuannya untuk mengabadikan moment tersebut. Kurang baik apa lagi wanita yang satu ini?
Karena terlalu sibuk menikmati semua kegiatannya, Dina kembali lupa pada waktu. Sekarang waktu sudah menunjukkan hampir pukul setengah lima sore. Seketika dirinya ingat kalau belum melakukan kewajibannya, yaitu salat asar. Dina segera bergegas untuk keluar dari kawasan danau. Kakinya melangkah cepat di jalan setapak yang berada di tengah hutan tersebut.
Entah kenapa perasaannya menjadi tidak tenang. Seperti ada seseorang yang mengikuti langkahnya dari belakang. Bahkan sedari tadi Dina mulai merasakan gerak gerik aneh tersebut. Seolah-olah ada yang memperhatikan setiap gerak-geriknya semenjak berada di kawasan danau.
Dina sudah tampak cemas. Keringat dingin sudah membanjiri tubuhnya. Tidak ada pilihan lain selain berhenti dan meminta tolong kepada siapa pun. Tapi Dina sempat ragu, karena tidak ada seorang pun yang tampak berada di sekitaran sana selain dirinya dan juga seseorang yang mengikutinya tersebut. Dina bahkan tidak berani jika hanya sekedar untuk melirik ke arah belakang, dan memastikan siapa yang mengikutinya. Dirinya terlalu takut.
Seketika Dina teringat hal serupa yang juga pernah terjadi pada dirinya. Ketika Deni mengikutinya dari arah belakang, dan Dina mengira kalau Deni merupakan orang jahat. Dina segera menggeleng-gelengkan kepalanya. Bukan saatnya untuk mengingat kenangan konyol tersebut, rutuknya dalam hati.
Dina akhirnya memilih untuk berlari. Sayup-sayup dirinya mendengar ada yang memanggil namanya. Karena pikirannya yang tidak fokus, kaki Dina tidak sengaja kesandung akar pohon yang melintang di tengah jalan setapak tersebut. Seketika tubuhnya ambruk ke tangah.
Dina mendudukkan dirinya. Lututnya yang ngilu karena terbentur batu mengeluarkan sedikit darah. Tangisnya pecah. Entah karena takut, atau karena merasakan sakit yang dirasakan oleh tubuhnya. Dina terisak kencang ketika mendengar langkah kaki seseorang yang semakin mendekat ke arahnya.
“Jangan mendekat. Nanti gue teriak!” pekiknya lalu membenamkan wajahnya di lutut yang ditekuk. Tubuhnya bergetar karena menangis sejadi-jadinya.
Dina tidak tahu lagi apa yang akan terjadi pada dirinya. Bahkan tidak ada seorang pun yang bisa menyelamatkannya sekarang.
Memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi, tangis Dina semakin menjadi-jadi. Tubuhnya bergetar kencang.
Dina merasa sedikit lega setelah cukup lama dirinya menangis, tapi tidak terjadi apa-apa. Hal-hal yang ditakutinya tadi tidak terjadi sama sekali. Bukannya dirinya mengharapkan itu terjadi. Hanya saja dirinya tadi sudah yakin sekali bahwa seseorang yang sedang mengikutinya tersebut sudah berada sangat dekat dengan tubuhnya yang bersimpuh di atas tanah.
Apakah orang tersebut berubah pikiran karena tahu Dina hanya seorang gadis miskin? Jadi tidak ada yang bisa dirampok dari tubuhnya tersebut, selain ponsel dan juga kamera. Pikiran-pikiran konyol terus saja singgah di kepalanya. Bahkan Dina tidak berani untuk mengangkat kepalanya sama sekali. Dan juga masih terdengar isakan-isakan kecil dari mulutnya.
“Dina!” panggil seseorang yang sangat dekat dengannya. Bahkan jarak mereka mungkin tidak lebih dari setengah meter.
__ADS_1
Tubuh Dina seketika menegang ketika mendengar suara yang tidak asing tersebut. Suara itu sudah cukup akrab di telinganya selama beberapa tahunan ini. Tapi, hampir tiga bulanan ini juga Dina tidak mendengar lagi suara yang sangat dirindukannya itu.
“Sayang!” karena terlalu sibuk dengan apa yang ada di kepalanya, Dina tidak sempat merespon pada panggilan pertama. Setelah panggilan kedua tersebut, Dina langsung mengangkat kepalanya. Dina tidak akan pernah lupa dengan suara berat ini. Suara yang selalu memanggilnya dengan lembut. Suara Deni.
Seketika tubuh Dina membatu ketika matanya beradu pandang dengan mata orang yang tadi mengikutinya. Orang yang membuat dirinya setengah mati menahan rasa takut. Dan orang yang juga menjadi penyebab dirinya bersimpuh tidak berdaya di atas tanah. Seperti saat sekarang ini.
“Hiks. Huuaaaaa” lagi, Dina kembali terisak setelah menyadari siapa yang berada di depannya. Orang tersebut adalah Deni. Orang yang sangat dirinya rindukan selama beberapa bulan ini. Orang yang selalu menjadi beban pikirannya. Sekarang orang tersebut menatapnya tanpa merasa bersalah sedikit pun. Seperti tidak ada yang terjadi sama sekali. Bagaimana bisa?
Dina tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Yang pasti dirinya sangat bahagia karena masih bisa melihat orang yang sangat dirindukannya tersebut ada di depannya. Tapi dengan bodohnya, gadis tersebut masih saja menangis. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Pertemuan macam apa ini?
...
“Sudah selesai nangisnya?” tanya Deni setelah tangis Dina reda. Bahkan laki-laki tersebut dengan sabar menunggu tangis Dina reda sendirinya. Dina mengangkat wajah lusuhnya. Menatap Deni dengan tatapan tidak percaya. Seolah-olah tatapan tersebut menunjukkan tanda tanya. Ini nyata? Aku tidak bermimpi kan? Deni benaran pulang? Deni ada di sini?
Deni yang paham arti dari tatapan gadis yang ada di depan wajahnya tersebut, menganggukkan kepala berkali-kali. Bahkan dirinya berusaha mati-matian menahan air matanya supaya tidak menetes ketika melihat respon Dina untuk pertama kali. Rindu sekali dirinya dengan gadis ini.
Diraihnya wajah yang semakin tirus tersebut, lalu diusapnya jejak-jejak air mata yang ada di wajah Dina. Tapi bukannya mengering, air mata tersebut kembali menetes. Dina menatap Deni dengan tatapan tidak percaya sama sekali. Bahkan pandangannya sudah mengabur karena air mata.
Dina tidak peduli dengan air mata yang terus menetes itu. Kedua tangannya menjulur menggapai wajah Deni. Lalu mengusap pelan wajah tampan yang ditumbuhi cambang-cambang halus. Dirinya ternyata memang tidak lagi bermimpi. Deni benaran nyata. Benaran ada di depannya.
Tangan Dina yang berada di wajahnya digenggamnya erat. Seolah-olah menunjukkan kepada Dina bahwa dirinya nyata. Bukan hanya sekedar khayalan gadis tersebut.
Dina yang mendapatkan respon seperti itu, langsung menghambur memeluk tubuh Deni dengan sangat erat. Seolah-olah tidak ingin melepaskannya sama sekali. Deni juga membalas pelukan Dina tidak kalah erat. Dihirupnya aroma yang sudah sangat dirindukannya itu. Aroma gadisnya.
Tak terasa Deni juga meneteskan air mata. Dirinya juga ikut terharu dengan apa yang telah terjadi pada hidupnya.
“Terima kasih karena sudah pulang. Terima kasih karena kamu baik-baik saja. Terima kasih karena telah menjadikan aku sebagai rumahmu. Hiks” racau Dina di dalam dekapan Deni. Deni semakin mempererat dekapannya pada tubuh gadis tersebut.
“Terima kasih juga karena sudah menungguku. Terima kasih juga karena telah khawatir padaku. Dan terima kasih juga karena telah bersedia menjadi rumah tempat aku pulang. Aku merindukanmu” balas Deni.
Tangis Dina masih saja terdengar. Dina membenamkan wajahnya di ceruk leher Deni. Tubuhnya masih bergetar karena berusaha menahan tangis yang tidak mau berhenti itu.
Deni memberikan usapan-usapan lembut pada punggung Dina. Berharap gadis tersebut tenang, dan berhenti menangis.
Sepuluh menit, akhirnya tangis Dina benar-benar reda. Deni memberi jarak pada tubuhnya dan juga tubuh Dina. Ditatapnya mata sayu tersebut. Lalu dirapikannya rambut-rambut Dina yang berantakan.
__ADS_1
Dina hanya diam menikmati setiap perlakukan Deni. Dirinya terlalu sibuk menerka-nerka apa yang telah terjadi pada Deni. Dan karena terlalu sibuk dengan pikirannya, Dina seketika dibuat kaget dengan apa yang telah dilakukan oleh Deni.
Cup.
Bibir mereka bertemu. Dina seketika membulatkan matanya karena terlalu terkejut. Tapi akhirnya gadis tersebut juga ikut memejamkan mata. Tidak ada yang terjadi selain saling menempel saja. Setelahnya Deni menjauhkan wajahnya, lalu menatap wajah Dina dengan tatapan yang sulit diartikan.
Dina mengalungkan kedua tangannya pada leher Deni. Lalu menatap mata laki-laki tersebut lama. “Aku pikir, aku tidak bisa lagi merasakan bibir ini” gumamnya sambil mengusap pelan bibir merah muda milik Deni. Lalu mengecupnya pelan. Lagi, air mata itu kembali menetes dari mata indahnya yang terlihat sayu karena terlalu sering mengeluarkan air.
“Hidung ini” lanjutnya, lalu juga mengecup hidung mancung Deni lembut. “Mata ini” lalu beralih mengecup kedua mata Deni dengan cara bergantian. Dan terakhir Dina mengecup kening Deni lama sambil memeluk kepala laki-laki tersebut.
Deni yang diperlakukan seperti itu hanya bisa diam tanpa kata. Bahkan air matanya juga menetes tanpa henti. Ditariknya tubuh Dina untuk kembali menghadap ke arahnya, setelah diam-diam mengusap air matanya sendiri.
Lalu dirinya juga melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Dina barusan. Mengecup bibir, hidung, mata, dan juga kening Dina. Setelahnya Deni menatap bibir dan juga mata Dina secara bergantian. Seolah-olah meminta izin untuk melakukan sesuatu.
Tumben? Biasanya langsung nyosor.
Dina yang paham dengan tatapan tersebut memejamkan matanya. Seolah-olah itu adalah jawaban yang diharapkan oleh Deni. Lagi, bibir mereka kembali bertemu untuk yang kesekian kalinya. Kali ini bukan hanya sekedar kecupan, tapi juga *******-******* lembut. Seolah-olah itu menggambarkan bagaimana rasa rindu yang dirasakan oleh mereka berdua, dan sekarang adalah waktunya untuk membayar rasa rindu tersebut.
Cukup lama mereka hanyut dalam kegiatan dosa yang terlanjur nikmat itu. Dina sadar akan sesuatu. Lalu segera menjauhkan wajahnya dari wajah Deni. Lalu melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Sudah menunjukkan pukul lima sore, dan dirinya belum melakukan salat asar. Aduh, berdosa sekali dirinya yang lebih mengutamakan zina dari pada ibadah.
“Kenapa?” tanya Deni yang melihat raut wajah Dina seketika berbeda, dan juga tampak gelisah.
“Aku belum salat asar” cicitnya sambil menggigit bibir bawahnya. Deni yang mengerti maksud Dina hanya bisa tersenyum gemes. Ternyata gadisnya ini benar-benar ajaib. Ingat ibadah ketika lagi melakukan dosa? Emang ada wanita seperti gadisnya ini di dunia ini?
“Sepertinya kita harus segera menikah Yang” ujar Deni sambil tersenyum mesum ke arah Dina. “Biar apa yang kita lakukan tidak berdosa lagi, tapi ibadah” lanjutnya.
Dina tidak memberikan tanggapan apa-apa. Hanya memutar bola mata malas. Lalu berusaha untuk berdiri dari duduknya. Dirinya cukup terkejut dengan ujaran Deni barusan. Mudah sekali bagi laki-laki ini mengatakan hal seperti itu.
“Aww” pekiknya setelah berusaha untuk berdiri dengan bantuan Deni.
“Kamu bisa jalan?” tanya Deni setelah memeriksa luka ringan di kaki Dina. Tapi bukan itu penyebab utama Dina merasakan sakit pada kakinya. Melainkan kakinya yang tiba-tiba mati rasa karena terlalu lama berada di posisi duduk.
“Hmm, bisa kok” jawab Dina sedikit ragu. Tapi, dengan tiba-tiba Deni sudah berjongkok di depan Dina. Dirinya tidak tega membiarkan Dina berjalan dengan kaki yang sedang sakit tersebut.
“Ayo naik. Kamu aku gendong saja Yang” ujarnya setelah melirik sekilas ke arah Dina. Dina dengan ragu naik ke punggung Deni. Kapan terakhir kali Deni menggendongku seperti ini ya? Tanyanya dalam hati.
__ADS_1