
"Lo ngapain ke sini? Tumben" sapa Revan ketika melihat si sepupu duduk di ruang tamu. Lalu dirinya juga ikut mendudukkan diri pada sofa.
"Nggak sopan amat lo nyambut gue. Heran. Baru pulang nih gue" jawab Wahyu sedikit agak sensi juga menghadapi sepupunya yang satu ini. Bukannya menyambut dirinya yang baru kembali ke Indonesia, tapi malah dijutekin oleh semua orang. Emang dirinya salah apa?
"Terus hubungan kepulangan lo dengan gue apaan? Nggak ada juga. Lagian lo pulangnya udah lama ya ogeb. Ngapain baru nongol lo sekarang?" seingat Revan sepupunya ini sudah dua minggu berada di Indonesia. Tapi kenapa malah minta penyambutan untuk kembalinya sekarang?
"Haha. Maaf-maaf. Gue sibuk soalnya. Jadinya belum sempat mampir" bela Wahyu yang merasa sedikit tersindir.
"Sibuk apaan lo? Godain anak orang? Haha. Lo emang nggak pernah berubah ya Bang" Revan tergelak sendiri di akhir kalimatnya. Entah apa yang lucu.
"Mau minum apa? Biar aku buatin" Dina muncul dari balik pintu. Dirinya merasa kurang sopan jika mengabaikan tamu yang datang. Meskipun itu keluarga Deni sekalipun.
"Nggak usah Kak. Biar dia yang ngambil sendiri" sela Revan cepat sebelum Wahyu membuka mulutnya. Itu sukses membuat Wahyu bete. Padahal kan dirinya ingin berbicara dengan Dina.
Revan yang menyadari bahwa Abang sepupunya tersebut gagal memodusin Dina, hanya tersenyum mengejek ke arah Wahyu. Sambil berujar 'Jangan modus lu anjir' tanpa suara.
"Baiklah. Aku pergi dulu" Dina segera membalikkan badannya. Namun langkahnya tiba-tiba berhenti ketika ada yang mengucap salam dari arah pintu utama. Dirinya tidak asing dengan suara ini.
"Eh lo Shill. Tumben datang ke sini?" Wahyu menyambut kedatangan seseorang tersebut. Dia adalah Shilla. Teman Deni. Sepertinya mereka berteman baik. Termasuk Deni juga.
"Tumben apaan? Gue sering kali Way main ke sini" balas Shilla melewati Dina yang sedang berdiri begitu saja. Bahkan dirinya enggan untuk menyapa terlebih dahulu. Dina berusaha memperlihatkan senyumannya meskipun itu dipaksakan. "Kapan lo pulang? Kok gue nggak tau" lanjutnya mendudukkan diri di sebelah Wahyu. Bahkan belum ada yang mempersilahkan dirinya untuk duduk.
Revan yang memperhatikan itu semua hanya bisa terdiam. Dirinya tidak terlalu mengenali teman Wahyu atau teman Abangnya yang bernama Shill Shill ini. Bahkan dirinya belum pernah bertemu gadis yang seperti ini. Tidak punya sopan santun.
"Kak Dina, mending ikut duduk aja. Bentar lagi Mama turun" Revan yang sadar ternyata masih ada Dina yang berdiri mematung langsung menarik tangannya untuk duduk di sebelahnya. "Apa cuma gue yang nggak kenal siapa dia?" sindirnya seakan-akan bertanya kepada Dina. Bahkan gadis asing tersebut tidak menyapanya ketika masuk ke rumah tadi. Sialan. Dirinya kan juga tuan rumah di sini.
"Maaf. Kamu adiknya Deni ya? Kenalin aku Shilla. Temannya Deni. Teman dekatnya" ujar Shilla sengaja menekankan pada kalimat akhirnya.
"Oh. Gue Revan. Adik kandungnya Deni. Anak pemilik rumah ini kalau lo belum tau. Calon Adik ipar dari wanita cantik ini juga" Revan menunjuk Dina. Dirinya sengaja melakukan hal tersebut supaya gadis asing itu tidak bersikap semena-menanya saja. Bahkan dirinya mengabaikan tangan Shilla yang menjulur ke arahnya. Tanpa berminat sedikit pun untuk menjabatnya.
Shilla hanya bisa menanggapi ucapan pedas Revan dengan senyuman kecut. Lalu segera menurunkan tangannya. Ternyata adiknya Deni pedas juga mulutnya, sialan. Rutuknya dalam hati.
"Maaf ya Yu. Tadi Tante tinggal dulu sebentar" Tante Rini datang entah dari mana bak oasis di padang tandus. Mencairkan suasana yang sempat menegang tadi. Bahkan Wahyu yang biasanya tidak bisa diam itu dibuat tak berkutik oleh Revan. Bocah yang beberapa bulan lalu baru lulus dari SMA.
__ADS_1
"Iya Tan. Nggak papa" balas Wahyu sambil memperbaiki duduknya.
"Eh ada Shilla juga ya? Udah lama Shill?" ujar Tante Rini setelah mendudukkan dirinya di sebelah Dina. Jadilah gadis itu diapit oleh Revan dan juga Tante Rini.
Shilla yang melihat keakraban Dina dengan tuan rumah hanya bisa diam dengan hati dongkol. Seharusnya dirinyalah yang duduk di sana. Seharusnya dirinyalah yang diperlakukan seperti itu.
"Iya Tante. Baru beberapa menit yang lalu kok Tan. Tante gimana kabarnya? Sehat? Rasanya sudah lama Shilla nggak main ke rumah ini" balas Shilla yang dari nada suaranya sengaja diimut-imutkan. Idih, caper.
Revan menguap lebar di akhir kalimat yang dilontarkan oleh Shilla. "Maaf" ujarnya ketika merasa tidak sopan. Padahal dirinya sengaja melakukan hal tersebut.
...
Setelah cukup lama berkumpul di ruang tamu tersebut. Wahyu dan Shilla akhirnya pamit juga untuk undur diri. Bahkan Tante Rini tidak sedikit pun mengajak wanita tersebut bicara. Dirinya hanya berbicara kepada Wahyu dan sesekali kepada Dina dan juga Revan. Shilla sama sekali tidak nampak di sana.
Sikap Tante Rini yang demikian dikarenakan bahwa sedari Shilla muncul dengan tiba-tiba tadi dirinya sudah memperhatikan dari jauh. Sudah mendengar semua percakapan yang terjadi di ruang tamu. Dari Shilla yang mengabaikan Dina. Bagaimana sensinya Revan ketika nggak dianggap sama sekali. Dan sebagainya.
"Lo dari dulu nggak pernah berubah ya Shill" ujar Wahyu ketika dirinya diantarkan oleh Shilla ke rumah sakit. Bahkan dirinya terlebih dahulu memaksa gadis tersebut untuk mengantarkannya untuk menjemput mobilnya yang tertinggal.
"Masih aja ngejar-ngejar Deni. Sudah punya calon juga dia. Ngapain sih lo buang-buang waktu aja" Wahyu heran dengan pemikiran gadis cantik ini. Dirinya tahu sekali bahwa sebenarnya Shilla ini adalah gadis baik-baik dan juga manis. Karena dirinya sudah lama mengenali gadis tersebut. Tapi entah sejak kapan gadis tersebut berubah menjadi seseorang yang tidak seperti biasanya. Apakah karena cinta kita akan melakukan segalanya?
"Kan lo tau Way, kalau gue itu pantang menyerah. Apa yang ingin gue miliki, maka gue harus mendapatkannya" ujar Shilla. Wahyu yang mendengar hal tersebut hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Tapi nggak harus punya orang juga. Masih banyak loh laki-laki lain Shill. Mungkin ada juga yang diam-diam mencintai lo. Tapi melihat bagaimana usaha lo untuk memperjuangkan cinta lo itu, dirinya yang semula ingin maju menjadi ragu. Kenapa harus mengejar orang yang entah sadar atau nggaknya lo ada di hidupnya sih. Kenapa?" Shila terdiam sesaat mencerna kalimat yang keluar dari mulut Wahyu tersebut.
"Jangan terlalu fokus sama seseorang yang belum tentu bisa lo miliki Shill. Tapi coba juga fokus sama seseorang yang berusaha untuk bisa memiliki lo juga"
"Siapa? Siapa orang itu Way? Selama ini gue berusaha mengejar apa yang gue mau karena setidaknya nanti gue tidak menyesal dengan pilihan gue sendiri. Lo kan juga tau Way, gimana hancurnya gue dulu ketika ditinggal oleh seseorang yang katanya hanya gue satu-satunya yang ada di hidupnya"
"Gue. Gue Shill. Guelah orang tersebut. Yang diam-diam memohon kepada Tuhan supaya lo melihat sedikit saja ke arah gue. Memberikan gue kesempatan. Tapi buktinya, setelah waktu berlalu kesempatan itu belum juga gue dapatkan. Bahkan lo masih berusaha meraih sesuatu yang secara nyata sudah sangat mustahil untuk lo miliki"
Ucapan Wahyu tersebut membuat Shilla seketika membulatkan mata terkejut. Dirinya tidak menyangka sama sekali dengan apa yang diucapkan oleh laki-laki yang ada di balik kemudi ini.
Wahyu tampak menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan di atas setir mobil. Bahkan dirinya sudah menepikan mobil yang dikendarainya tersebut sejak perdebatan tadi di mulai.
__ADS_1
"Wahyu" Shilla mencoba meraih tangan laki-laki tersebut. Tapi Wahyu tidak bergeming sama sekali. "Lihat aku Way" Shilla dengan paksa menarik tangan Wahyu hingga tubuhnya kembali terduduk. Raut wajahnya tampak tidak baik-baik saja.
"Kenapa nggak bilang? Kenapa nggak bilang kalau lo juga menyukai gue? Kenapa? Kenapa lo sepengecut ini?" Shilla memukul tubuh Wahyu dengan kepalan tangannya. Dirinya kesal juga dengan sikap lamban temannya ini.
"Maksudnya?" tanya Wahyu tidak paham sama sekali apa yang dikatakan oleh Shilla. Tangannya memegang kedua tangan Shilla yang terus memukulnya dengan erat.
"Dari dulu aku sudah ada rasa sama kamu Wahyu. Tapi ketika melihat kamu yang selalu main-main sama wanita membuatku jadi ragu. Bahkan rasa suka itu ada sebelum aku jadian dengan laki-laki brengsek itu" jelas Shilla sambil menundukkan wajahnya.
"Kita ini kenapa ya? Sama-sama mencoba menghindar dari apa yang kita rasa. Bahkan aku bersikap seperti itu supaya bisa melupakan kamu yang tidak bisa aku miliki Shill. Dan kamu juga melakukan hal yang sama. Menerima seseorang yang tidak kamu sukai demi melupakan laki-laki yang sudah jelas-jelas sudah memiliki hatimu" dengan percaya dirinya Wahyu mengatakan hal tersebut. Shilla mengerutkan kening ketika mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Wahyu.
"Apaan tuh maksud kalimat kamu yang terakhir? Jangan kepedean ya Anda" sanggahnya tidak terima. Tahu apa Wahyu mengenai hatinya?
"Terus apa?" tanya Wahyu sambil menghadap sepenuhnya ke arah Shilla. Tangan gadis tersebut sudah dilepaskannya sedari tadi.
"Nggak tau" jawab Shilla cepat. Karena dirinya juga bingung untuk menjawab apa.
"Lihat aku Shill" ujar Wahyu pelan. Karena sedari tadi Shilla berusaha menghindari tatapan matanya bertemu dengan Wahyu.
"Kenapa?" tanya Shilla setelah dirinya dengan berani menatap laki-laki tampan yang ada di depannya. Dirinya tidak salah untuk menyukai laki-laki ini.
"Aku tahu ini mendadak. Tapi aku tidak mau lagi menundanya. Jadi, Shilla, kamu mau nggak menjadi alasanku semangat menjalani hari? Menjadi tempatku untuk berkeluh kesah. Rela mendengarkan cerita konyolku. Rela menj..."
Cup.
Ucapan Wahyu terpotong ketika dengan tiba-tiba Shilla mengecup pelan bibirnya. Setelahnya gadis tersebut menganggukkan kepala berkali-kali tanpa mengeluarkan suara.
Wahyu yang mendapat perlakuan tersebut diam mencerna apa yang telah terjadi. Dirinya tiba-tiba tidak mempunyai stok kata lagi. Otak pintarnya tidak bisa mencerna dengan baik.
"Kenapa diam? Aku bilang aku mau loh Way. Tapi ken..."
Sekarang giliran Shilla yang mendadak bungkam ketika Wahyu langsung ******* pelan bibir tipisnya tersebut. Itu menandakan bahwa mereka sudah saling menerima perasaan masing-masing.
Jika ada seseorang yang mau menerima kamu setulus hati, kenapa harus mencari lagi? Bahkan kamu belum tahu apakah orang yang kamu harapkan mati-matian itu juga memiliki rasa yang sama denganmu. Bisa jadi tidak.
__ADS_1