
"Halo sayang. Apakah Tante mengganggu waktu kamu?" pertanyaan pertama yang terlontar dari tante Rini setelah Dina menjawab panggilan masuk dari wanita paruh baya tersebut. Dina saat ini sedang memasak di dapur bersama istri Kakak sepupunya.
"Halo Tante. Nggak ganggu kok Tan. Maaf Tan, ada apa ya?" Dina menebak-nebak apa yang ingin dikatakan oleh Tante Rini. Apakah tentang Deni? Dina segera mencuci tangannya yang berlepotan tepung itu.
"Kamu sudah ketemu Deni?" benar saja. Ternyata Tante Rini memang ingin menanyakan mengenai putra sulungnya tersebut. Apa yang harus Dina katakan? Apakah sudah? Atau belum?
"Belum Tan" jawab Dina pelan sambil menggigit bibir bawahnya. Memang benar dia belum ada bertemu dengan laki-laki itu meskipun dia sudah tahu bahwa laki-laki itu juga ada di daerah yang sama dengan dirinya. Bahkan sudah datang juga ke rumah tempat dia menginap ini.
"Belum ya" Tante Rini berujar dengan nada yang terdengar sedikit agak kecewa. "Ada apa sih dengan anak itu? Padahal kemaren katanya mau nyusulin kamu ke sana. Kok belum ketemu sih. Dasar payah. Sekarang pakai sakit segala lagi di kota orang" omel Tante Rini yang ternyata masih didengar oleh Dina.
"Deni sakit Tan?" tanya Dina cepat. Dia cukup khawatir juga dengan laki-laki itu.
"Iya sayang. Sepertinya dia kelelahan. Karena sebelum pergi ke sana, Deni melakukan kegiatan sosial dulu. Padahal Tante sudah bilang perginya pagi aja, tapi dia maksa untuk berangkat saat itu juga. Keras kepala sekali ih"
"Tan, biar Dina aja yang nyusul Deni gimana?" Dina benar-benar khwatir sekarang. Manusia macam apa dia yang mengabaikan kedatangan seseorang dari jauh hanya karena merasa kesal? Bahkan dirinya tidak tahu apa yang dilalui oleh orang tersebut supaya sampai di sana. Terkutuklah kau Dina.
"Tante nggak ngerepotin kamu kan sayang?" Tante Rini bertanya dengan nada sedikit berharap. Berharap semoga Dina tudak merasa direpotkan sama sekali. Karena dirinya begitu khawatir dengan keadaan sang putra.
"Nggak Tan. Dina juga khawatir sama Deni" Dina berusaha menahan tangisnya mengingat apa yang telah dilakukannya kepada laki-laki itu.
"Baiklah. Tante minta tolong ya sama kamu. Tolong rawat Deni di sana. Nanti Tante kirimin alamat lengkapnya. Maaf jika Tante ngerepotin kamu" diam sejenak. Sepertinya Tante Rini juga berusaha menahan tangisnya. "Sebenarnya Deni jarang sekali sakit, tapi jika telah sakit dia akan lama sembuhnya Din. Tante mohon kamu untuk benar-benar menjaganya ya. Karena Tante belum bisa ke sana sekarang" mohon Tante Rini sungguh-sungguh.
"Iya Tante. Dina akan menjaga Deni. Tante jangan cemas ya. Dina siap-siap dulu" Dina meyakinkan wanita tersebut. Bagaimana pun juga, keluarga Deni sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri.
"Baik sayang. Nanti Tante kirim alamat lengkapnya"
"Iya Tan" dan panggilan pun terputus.
"Siapa yang sakit?" pertanyaan dari Dila, istri sepupu Dina.
"Deni Kak" jawab Dina sedikit agak cemas.
"Sekarang kamu masak bubur dulu sebelum pergi. Biar Kakak bantu" Dila mengusap pelan bahu Dina.
__ADS_1
"Ah iya bubur. Oke Kak" Dina segera menyiapkan segalanya. Setelah buburnya jadi, Dina segera menyiapkan keperluannya yang lain. Tidak banyak. Hanya yang perlu-perlu saja.
Pesan masuk dari Tante Rini setelah Dina selesai berberes. Tertulis alamat lengkap beserta apa-apa saja yang perlu dilakukan oleh Dina setelah sampai di sana.
"Aku akan menyusulmu" gumamnya pelan. Lalu melangkahkan kaki menuju ruang keluarga.
"Bang, aku pamit sebentar ya" Dina berpamitan kepada laki-laki yang sempat ditemui oleh Deni beberapa waktu lalu. Dia adalah sepupu Dina dari keluarga Kakek. Namanya Angga. Angga cucu dari Kakek Ahmad yang merupakan saudara kandung dari Kakek Dina. Angga sudah memiliki keluarga. Dia suami dari Dila. Mereka menikah lima bulan yang lalu. Karena Angga merupakan cucu tunggal, jadinya dialah satu-satunya orang yang merawat sang Kakek.
"Ketemu Deni?" tebak Angga. Dina tidak bisa mengelak. Dia hanya menganggukkan kepala pelan sebagai pembenaran ucapan laki-laki itu. "Oke. Selesaikan masalah kalian dengan cara baik-baik. Bukannya kabur-kaburan" sindir Angga diakhir kalimatnya.
"Ih apa-apaan sih. Nggak ada ya kabur-kaburan. Dahlah. Aku pergi dulu. Bilangin sama Kakek dan Kak Dila juga. Assalamualaikum" pamit Dina buru-buru.
"Haha iya. Waalaikumussalam. Hati-hati" ujar Angga sedikit berteriak. Karena sang adik sudah mulai jauh melangkah.
...
Lima belas menit berikutnya Dina sampai di tempat yang dituju. Sebuah penginapan. Tidak ada hotel bertingkat seperti di kota besar lainnya. Tapi di tempat penginapan ini semuanya tersedia lengkap. Bahkan perlengkapannya tidak kalah mewah dari hotel-hotel yang ada di ibu kota.
Dina melangkahkan kaki masuk ke dalam penginapan tersebut. Terlebih dahulu dia meminta izin kepada sang pemilik. Lalu dengan sedikit berbohong dia mengatakan kalau dirinya adalah adik dari salah satu tamu yang menginap di sini, barulah dirinya diizinkan untuk masuk ke dalam kamar yang ingin ditujunya.
"Deni" ujarnya lemah setelah menemukan sosok Deni yang tergeletak tak berdaya di atas tempat tidur. "Deni bangun!" Dina menarik-narik pelan selimut yang digunakan oleh Deni. Dirinya ikut menaikkan diri ke atas ranjang. Ditatapnya wajah pucat yang terlelap itu.
"Maafin aku, hiks" Dina sudah terisak. Dia menelungkupkan wajahnya di atas dada bidang Deni yang terasa sedikit agak panas itu. "Jangan sakit dong. Katanya kamu calon dokter, kenapa tidak bisa menjaga diri sendiri sih? Ayo bangun. Maafin aku ya. Aku salah. Aku minta maaf" Dina terus meracau. Bahkan dia tidak tahu kalau laki-laki itu sudah bangun dari tidurnya.
"Sayang" ujar Deni sangat pelan. Dia berusaha mengusap kepala Dina yang ada di atas dadanya. Karena ada sentuhan tersebut, barulah Dina sadar bahwa laki-laki itu sudah bangun dari tidurnya.
"Deni, kamu sudah bangun? Apa yang sakit? Kamu sudah makan? Sudah minum obat? Ayo katakan padaku" Dina memburu Deni dengan berbagai macam pertanyaan.
Deni hanya merespon dengan gelengan kepala. Mata sayunya terus menatap ke arah Dina. Dia hanya merasa tidak percaya saja dengan kehadiran tiba-tiba gadis tersebut. Apakah ini mimpi? Batinya terus bertanya-tanya.
"Kamu nyata?" tanyanya pelan. Tapi itu cukup terdengar di telinga Dina. Entah kenapa air mata yang sempat terhenti tadi kembali menetes. Dina kembali terisak.
"Aku nyata. Aku ada di sini untuk kamu" Dina mendekatkan wajahnya pada wajah Deni. Lalu mendaratkan sebuah kecupan pada bibir dingin laki-laki itu agak lama. Bibirnya bergetar menahan isakan. "Maafkan aku" ujar Dina pelan setelah menjauhkan wajahnya dari wajah Deni.
__ADS_1
Deni merespon dengan gelengan kepala beberapa kali. "Jangan minta maaf. Kamu nggak salah" ujarnya sambil berusaha untuk duduk. "Sini" Deni menarik tubuh Dina ke dalam dekapannya setelah tubuhnya duduk dengan sempurna. "Jangan nangis. Udah ya. Aku nggak kenapa-kenapa kok" sangkal Deni. Nggak kenapa-kenapa apanya?
"Kamu pikir aku bodoh? Hah?" Dina merasa kesal sendiri dengan alasan laki-laki itu. "Badan kamu panas. Kamu sakit. Jangan bohongi aku!" bentak Dina sambil melepaskan pelukan Deni dengan kasar.
"Kok aku dimarahin sih? Iya aku sakit. Bukannya disayang, tapi dibentak. Dahlah" Deni kembali merebahkan tubuhnya. Tidak lupa juga dia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Pura-pura merajuk.
"Maaf" Dina menatap Deni dengan tatapan penuh sesal. "Kan kamu yang membuat aku kesal" Dina masih tidak mau disalahkan. Dasar keras kepala.
"Mending kamu pulang aja gih. Nanti aku bakal sembuh dengan sendirinya. Ngapain repot- repot datang ke sini segala?" bahkan sedang sakit pun Deni sukses membuat hati Dina tercubit dengan kata-katanya.
"Huuaaa. Kamu kenapa sih? Katanya aku nggak salah. Tapi kok dingin gini responnya sama aku?" Dina kembali menangis. Bahkan sekarang tangisannya lebih kencang dari yang tadi.
Deni segera keluar dari balik selimut. Lalu dengan gerakan cepat tubuh Dina sudah berada dalam dekapannya lagi. Dina masih terisak. "Karena mendengar tangisanmu ini sepertinya aku sudah sembuh deh" ujarnya pelan sambil mengusap-usap punggung Dina.
"Jahat. Kamu jahat" Dina memukul-mukul pelan dada Deni setelah pelukan mereka terurai.
"Kok aku yang jahat sih?"
"Kenapa nggak ngabarin aku kalau kamu sakit? Kenapa?"
"Emang masih peduli? Kan kamu yang nyuekin aku"
"Pedulilah"
"Serius? Kalau peduli, sini peluk aku?"
Dina segera menghambur ke dalam dekapan Deni. Didekapnya tubuh laki-laki itu dengan erat.
"Makasih sayang. Untuk semuanya" ujar Deni yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Dina. "Maafkan aku karena telah ragu sama kamu. Maafkan aku yang sempat marah-marah sama kamu. Maaf kan aku ya. Hmm" lagi-lagi Dina hanya merespon dengan anggukan kepala.
"Aku juga minta maaf sama kamu. Maaf karena telah marah-marah juga. Maaf karena aku perginya tidak minta izin. Maafkan aku ya?" Dina mendongakkan kepalanya menatap Deni. Laki-laki itu menganggukkan kepala berkali-kali sebagai tanggapan.
"Bersamamu, hilang semua gundahku" gumam Dina pelan sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu" bisik Deni di samping telinga Dina.
Tidak ada balasan lagi dari mulut Dina, hanya saja pelukan itu terasa semakin erat.