
Hai, Hai, Hai. Maaf sekali authornya telat update. Jangan lupa mampir di karya author yang lainnya ya. Makasih ❤
.
.
"Selamat pagi Om" sapa Desi ketika langkahnya berhenti di dekat kursi meja makan. Tangannya masih menggandeng tangan Dina.
"Selamat pagi juga Desi. Ayo duduk" Om Pras yang terlihat biasa-biasa saja itu membalas sambil mempersilahkan Desi untuk duduk. Laki-laki paruh baya tersebut tampak handal sekali dalam menyembunyikan kesedihannya.
"Iya Om. Makasih" Desi duduk di sebelah Dina. Di hadapannya ada Revan. Desi memberikan sekilas senyuman kepada laki-laki yang tampak tidak baik-baik saja itu.
"Oke, mari kita sarapan dulu. Desi jangan sungkan ya. Anggap saja seperti rumah sendiri" ujar Tante Rini mempersilahkan orang-orang yang ada di sana untuk memulai sarapan.
"Siap Tan" balas Desi yang sedikit agak canggung. Dirinya merasa sedikit tidak enak kepada Dina.
"Kenapa lo?" bisik Dina ketika mendapati Desi yang terus melirik ke arahnya.
"Nggak kenapa-kenapa" balasnya cepat. Lalu segera menyantap sarapan yang ada di depannya.
Meski pikiran mereka semua sedang tidak berada di tempatnya, tapi mereka berusaha untuk menikmati sarapan di pagi hari. Suasana yang sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi canda atau ledekan yang sering dilontarkan oleh dua orang beradik kakak itu. Tidak seperti biasanya.
Deni, aku rindu kamu. Batin Dina sambil berusaha mati-matian menelan makanan yang ada di dalam mulutnya.
Begitu juga dengan Revan. Dirinya makan dalam diam. Sebenarnya dirinya enggan sekali untuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Namun setelah mendapat ancaman dari sang Papa, barulah dirinya memaksakan diri untuk menelan makanan yang belum sepenuhnya terkunyah itu.
"Jangan membuat Mama bertambah sedih" itulah kira-kira ancaman dari sang Papa. Ya, membuat sang Mama sedih karena dirinya merupakan hal paling terakhir atau bahkan yang tidak akan pernah dilakukannya.
"Jika nanti gue nggak ada, lo jaga Mama ya Van!" titah sang Abang beberapa waktu yang lalu.
"Jangan sembarangan ngomong lo. Merinding nih gue" Revan bergidik ngeri ketika mendengar ujaran Deni tersebut.
"Jangan salah paham dulu ogeb. Mana tau gue kerja jauh kan. Atau keluar negri. Bisa jadi juga gue nanti ikut sama Dina" balas Deni santai. Dirinya hanya sekedar memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
"Ngapain lo ikut Kak Dina? Kan lu yang jadi suami. Di mana-mana, istri yang ikut sama suaminya, bukan suami ikut istri. Suami takut istri baru ada" Revan tergelak sendiri ketika membayangkan bagaimana nasib sang Abang nanti setelah menikah. Apakah benar-benar jadi bucinnya Kak Dina? Batinnya bertanya-tanya.
"Issh, dahlah. Susah ngomong sama bocah kek lo" Deni segera meninggalkan Revan yang ada di ruang tamu itu.
Revan yang tiba-tiba teringat dengan percakapan terakhirnya bersama sang Abang, berusaha untuk menahan air matanya. Jika dirinya sedang sendiri, mungkin Revan sudah menangis sejadi-jadinya. Lagi.
__ADS_1
"Aku duluan" Revan pamit untuk kembali ke kamarnya. Bahkan makanannya masih bersisa.
Papa dan Mamanya tidak menahan sama sekali. Mereka paham betul apa yang dirasakan oleh putra bungsunya tersebut. Sama seperti yang dirasakannya.
"Desi, Dina. Kalian mau nggak ikut sama Om ke rumah sakit nanti?" ajak Om Pras setelah Revan menghilang dari pandangan. Dirinya ragu untuk mengajak serta putranya tersebut.
"Mau Om!" jawab Desi dan Dina serempak. Inilah yang mereka nantikan sedari tadi. Ingin memastikan langsung apa sebenarnya yang telah terjadi. Tidak hanya mendengar dari orang-orang saja.
"Oke. Nanti jam sepuluh kita berangkat ya" ujar laki-laki paruh baya tersebut. Lalu kakinya beranjak meninggalkan ruang makan karena sudah selesai dengan sarapannya.
Dina beserta Desi segera membersihkan meja makan tersebut. Meskipun sudah dilarang oleh Tante Rini, namun kedua gadis tersebut tetap kekeuh untuk melakukannya. Bahkan mereka berdua juga menyuruh Bi Iyas untuk tetap duduk saja bersama Tante Rini. Dan kebetulan sekali, tadi Bi Iyas juga ikut bergabung sarapan bersama mereka semua. Meskipun sebelum-sebelumnya Bi Iyas juga sering ikut serta, tapi lebih sering juga wanita yang hampir memasuki usia senja tersebut menolak dengan berbagai alasan.
...
"Kalian mau ke mana?" tanya Revan ketika melihat Dina dan Desi yang hendak beranjak keluar rumah.
"Kita mau ke rumah sakit. Kamu mau ikut?" Dina mencoba mengajak calon adik iparnya tersebut.
"Nggak usah Kak. Aku benci rumah sakit" tolaknya langsung, dan segera meninggalkan dua orang wanita tersebut.
Dina maupun Desi tampak cengo dengan respon Revan yang tidak seperti biasanya itu.
"Eh, iya Om" jawab Desi sedikit kaget karena kemunculan tiba-tiba dari ayah sang pacar.
"Mari kita berangkat" Om Pras segera malngkahkan kaki menuju ke arah mobil yang ada di bagasi. Dina dan Desi mengikuti dari arah belakang.
"Kok dua-duanya duduk di belakang? Om berasa jadi supir nih" celetuk Om Pras tiba-tiba ketika Dina hendak menyusul Desi masuk mobil bagian penumpang.
Seketika gerakan Dina terhenti. Lalu melirik ke arah Desi. Gadis tersebut menganggukkan kepala soalah-olah paham apa yang ditanyakan Dina dari lirikannya tersebut.
"Hehe, maaf Om" Dina berujar setelah mendudukkan dirinya di sebelah Om Pras.
"Haha, its oke" balas Om Pras. Lalu segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah.
Sebenarnya Dina juga mengajak serta Tante Rini untuk ikut ke rumah sakit bersama mereka. Tapi karena merasa khawatir dengan keadaan Revan, wanita paruh baya tersebut lebih memilih untuk tetap tinggal di rumah bersama Revan. Meskipun dirinya tidak yakin jika putra bungsunya tersebut akan melakukan hal-hal yang aneh. Tapi sebagai seorang Ibu, merasa khawatir itu sudah menjadi makanan wajib sehari-hari.
...
Sesampainya di rumah sakit, Om Pras segera mengajak Dina dan Desi ke ruangannya. Di ruangan kepala tersebut tampak sudah berkumpul beberapa orang. Sepertinya orang-orang tersebut menunggu kedatangan si pemilik rumah sakit ini, yaitu Pras Dirnata. Ayah dari dua orang bersaudara Deni dan Revan.
__ADS_1
Kehadiran Dina dan Desi disambut baik oleh pihak-pihak rumah sakit. Bahkan Om Pras juga memperkenalkan mereka berdua sebagai calon menantunya. Siapa yang tidak bangga coba? Bahkan Desi masih tidak percaya dengan kata-kata yang diucapkan oleh Om Pras tersebut. Mengingat dirinya yang masih menyembunyikan hubungannya dan Revan.
"Kalian mudah terbaca" bisik Dina di sebelah Desi yang tampak masih bingung detengah linglung.
Hampir satu jam duduk di ruangan besar tersebut. Dina dan Desi hanya diam menyimak setiap apa yang dibahas oleh laki-laki yang rata-rata sudah berumur itu. Mereka sama sekali tidak membuka suara, selain berbisik antara satu dan yang lain. Alias hanya mereka berdua yang saling berinteraksi. Ya itu jelas sekali. Karena yang sedang dibahas tersebut bukanlah bidang mereka sama sekali.
"Ada sedikit harapan. Karena menurut informasi mereka semua aman. Hanya saja akses kita untuk menuju ke sana ditutup untuk sementara waktu. Jadi tidak ada yang bisa untuk memastikan apakah kabar tersebut benar adanya, atau hanya sekedar harapan palsu belaka" ujar seseorang yang tampak lebih muda dari yang lainnya. Laki-laki tersebut duduk berhadapan dengan Om Pras. Mereka hanya dibatasi sebuah meja.
Ketika mendengar kalimat pertama yang diucapkannya, seketika hati Dina menjerit rasa syukur sekencang-kencangnya. Namun di detik berikutnya kembali dihempaskan oleh kenyataan yang dia dengar. Itu belum pasti. Kabar itu belum benar adanya. Masih bersimpang siur.
"Tapi pemerintahhan kita masih berusaha mencari jalan lain supaya bisa menuju ke sana. Semoga kita bisa diberi jalan untuk menjemput mereka semua" lanjut laki-laki tersebut.
"Masih ada harapan" bisik Desi sambil menggenggam tangan Dina erat.
Setelah rapat usai, Om Pras pamit sebentar kepada Dina dan Desi karena ada sesuatu yang hendak diurusnya. Dirinya juga menitip pesan untuk menunggu.
Dina dan Desi melangkahkan kaki menuju kantin rumah sakit. Karena mereka sepakat untuk menunggu di sana saja. Di lorong rumah sakit langkah mereka berdua dihentikan oleh seorang laki-laki.
"Yang mana pacarnya Deni?" tanya laki-laki yang masih memakai jas dokter tersebut secara tiba-tiba. Dina dan Desi mengerutkan kening ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu. Dasar dokter aneh.
"Hebat juga tuh si manusia es. Tiba-tiba sudah memiliki calon istri" lanjut si dokter aneh tersebut, meskipun orang yang diajak berbicara tidak memberikan tanggapan sama sekali.
Mereka berdua mengenali laki-laki ini. Ya, dia adalah laki-laki yang sama di ruang rapat tadi. Hanya dia satu-satunya yang masih muda di sana. Selebihnya sudah hampir berumur.
"Kenalin dulu. Nama gue Wahyu" laki-laki yang mengaku namanya Wahyu tersebut mengulurkan tangan ke arah Dina. Tapi Dina tidak memberikan respon apa-apa. Desi yang menyaksikan hal tersebut hanya bisa cekikikan nggak jelas di sebelah Dina.
Ketika laki-laki tersebut mengalihkan tangannya ke arah Desi, dirinya langsung menolak "Nggak dulu salaman sama orang baru. Ada salaman seseorang yang gue jaga" ujarnya yang membuat laki-laki tersebut tersenyum kecut. Lalu segera menurunkan tangannya.
"Calon mantu Om Pras luar biasa juga ya ternyata" celetuknya sambil menahan tawa ketika menyadari kebodohan dirinya di hadapan dua wanita ini.
Wahyu bersidekap di depan wanita tersebut. Mencoba bersikap keren meskipun sudah dipermalukan. Ah sial. Wibawanya sebagai seorang dokter ternyata tidak ada pengaruhnya bagi dua orang wanita ini.
"Kok manggil Om? Nggak sopan banget lo" sungut Desi yang menganggap panggilan tersebut tidak pantas diucapkan oleh seorang bawahan. Nggak ada sopan-sopannya.
"Emang kenapa? Ada yang salah?" tanya laki-laki itu balik. Kerena menurutnya panggilan tersebut tidak ada salah sama sekali. "Om Pras emang Om gue kok. Kan gue ponakannya" lanjutnya, secara tidak langsung menyebutkan hubungan antara dirinya dan Om Pras. Lalu laki-laki tersebut memperhatikan raut wajah wanita itu satu-satu. Hanya Desi yang tampak terkejut. Dina masih terlihat biasa-biasa saja. Wanita yang menarik, batinnya.
"Oh. Nggak salah sih. Kita pergi dulu" Desi berusaha memperlihatkan sikap biasa saja. Pantang sekali bagi dirinya terlihat merasa bersalah atau malu dengan apa yang telah dilakukannya. Memang wanita keras kepala.
"Baiklah. Sampai jumpa lagi Dina" Wahyu berusaha untuk menggoda Dina. Tapi apalah daya, wanita itu tidak bergeming sama sekali. Namun berbeda dengan Desi yang tampak dongkol dengan sikap si Wahyu Wahyu tersebut.
__ADS_1
"Awas aja lo gangguin sahabat gue" ancam Desi sambil memperlihatkan kepalan tangannya. Lalu segera menarik Dina dari sana. Jangan sampai bertemu lagi dengan laki-laki ini, batinnya sambil melangkahkan kaki menjauh dari lobi rumah sakit.