Dina-Deni 'Love Story'

Dina-Deni 'Love Story'
Part 9.


__ADS_3

Sudah tiga hari Kakek Dina dirawat di rumah sakit. Dina tidak pernah meninggalkan Kakeknya sebentar pun. Bahkan untuk membersihkan dirinya sendiri Dina melakukannya di rumah sakit. Beruntung sekali dia yang difasilitasi langsung oleh Om Pras, dan diberikan kamar rawat kelas atas.


Bahkan pakaian gantinya sendiri Deni langsunglah yang turun tangan untuk mengambilkannya ke rumah. Sebenarnya Dina merasa tidak enak karena telah merepotkan keluarga Deni. Tapi mau bagaimana lagi, hanya keluarga Denilah yang dia kenali sekarang ini. Dina tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia tidak dipertemukan dengan keluarga baik itu.


Mama Deni juga sering membawakan makanan untuk Dina yang berada di rumah sakit. Melihat perlakuan keluarga Deni ini, Dina bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga yang seutuhnya. Ditambah dengan sikap Om Pras yang sangat kebapakan dan juga hangat itu melengkapi kebahagiaan yang telah lama ia idam-idamkan.


Ditinggalkan oleh kedua orang tuanya dari kecil, terkadang membuat Dina merasakan rindu dengan sosok yang sering ditangisinya tengah malam. Meskipun Dina masih memiliki seorang Kakek yang juga sangat menyayanginya itu, tapi tidak menutup kemungkinan juga jika rasa ingin lebih memiliki itu ada. Apalagi ketika melihat teman-temannya yang selalu ditemani oleh orang tua lengkap dan juga mendapatkan kasih sayang yang utuh.


Sepertinya Dina lebih sedikit bersyukur dari orang-orang yang ada di luaran sana yang tidak memiliki kedua orang tua, bahkan sanak keluarga sekali pun.


Huft, berhentilah mengeluh dan perbanyaklah bersyukur Din. Ingatnya pada diri sendiri.


"Assalamualaikum Sayang" Mama Deni sudah menampakkan dirinya di balik pintu.


"Waalaikumussalam Tante" Dina langsung menghampiri wanita paruh baya tersebut dan mencium punggung tangannya.


"Bagaimana Kakek kamu Sayang? Apakah sudah ada kemajuan? Deni menemani kamu kan di sini? Kamu sudah makan atau belum?" pertanyaan beruntun keluar dari mulut Mama Deni.


"Kakek Alhamdulillah sudah lebih baik kok Tan. Deni juga nemanin Dina kok di sini, sekarang dia lagi ke kampus. Kalau masalah makan, Tante jangan khawatir. Tadi Deni sudah membelikan makanan sebelum dia berangkat kok" senyuman terpancar di wajah Mama Deni ketika dia mendengar jawaban dari Dina. Baguslah.


...***...


Lima hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Kakek Dina diperbolehkan pulang juga oleh dokter yang khusus menangani Kakek selama di rumah sakit. Dina pulang diantar oleh Deni menggunakan mobilnya. Awalnya Dina menolak, dan memilih naik taksi saja karena merasa tidak enak selalu merepotkan keluarga Deni. Tapi akhirnya Dina tidak bisa berkutik lagi setelah Om Pras langsung yang memerintah. Tidak ada seorang pun yang bisa membantah setiap ucapan yang keluar dari mulut laki-laki paruh baya itu. Bahkan anak-anaknya sekaligus.


"Deni, makasih ya karena udah anterin aku dan Kakek pulang" saat ini mereka berdua sedang berada di ruang tamu setelah mengantarkan Kakek ke kamar terlebih dahulu.

__ADS_1


"Iya sama-sama. Kalau ada apa-apa jangan sungkan ya. Kamu tahu kan minta tolong sama siapa?" Deni menatap Dina dalam.


"Iya. Aku tahu kok. Aku juga minta maaf karena sudah terlalu banyak ngerepotin keluarga kamu" ucap Dina tulus.


Deni langsung menggelengkan kepalanya tanda dia tidak suka dengan apa yang diucapkan oleh gadis itu barusan.


"Kamu tidak ngerepotin kok. Sudah kewajiban aku untuk ngebantu kamu selagi aku mampu" ucap Deni pelan dan dalam. Karena dia tidak merasa direpotkan sama sekali. Dan entah kenapa jika ada masalah yang menimpa gadis yang ada di depannya ini, seolah-olah masalah itu juga menjadi masalahnya. Dia merasa mempunyai kewajiban untuk membantu dan menyelesaikannya selagi dia mampu.


"Hmm Deni. Kamu serius dengan ucapan kamu yang waktu itu?" Dina mencoba bertanya kembali mengenai apa yang dikatakan oleh Deni di pantai waktu itu. Karena dia harus memastikan kembali apakah itu benar atau hanya sekedar di bibir laki-laki itu saja.


"Yang mana?" Deni mengerutkan keningnya, karena bingung juga ucapannya yang mana yang Dina maksud.


"Di pantai" ucap Dina pelan sambil menggigit bibir bawahnya dan menatap Deni dengan ragu. Gugup dan cemas bercampur jadi satu. Dina hanya berharap semoga pertanyaannya ini tidak salah.


Deni tersenyum sekilas ketika dia paham ke arah mana pertanyaan Dina kali ini. "Iya. Aku serius. Bahkan sangat serius" ucapnya penuh penekanan. "Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku Din. Apalagi itu tentang kita. Aku dan kamu" lanjutnya sambil tersenyum hangat. Mata itu memancarkan kesungguhan dan binar yang tidak biasa dari sebelumnya.


"Emang kenapa? Apakah kamu sudah mulai jatuh cinta padaku?" tanya Deni lagi sambil memperlihatkan senyum jahilnya. "Kalau iya, pernikahan kita dipercepat aja ya? Hmm?" tambah lelaki itu dengan seringai jahil yang tercetak di bibir merah muda miliknya.


Dina hanya mengerjap-ngerjapkan matanya ketika mendengar Deni berucap demikian. Bahkan fokusnya sempat teralihkan pada bagian tubuh Deni yang sangat menggoda menurutnya itu.


Arrgh, apa-apaan sih ni otak, jangan memikirkan hal-hal bodoh. Rutuknya dalam hati.


"Belum" ucapnya cepat. Dan itu sukses mengeluarkan kekehan kecil dari mulut Deni.


"Kalau belum, berarti ada kemungkinan untuk iya dong ya?" tanya Deni jahil di akhir kekehannya sambil menaik turunkan alisnya yang lebat itu. Ini alis kenapa membuat alisku insecure aja sih. Rutuk Dina dalam hati lagi.

__ADS_1


"Issh apaan sih" balas Dina datar. Mencoba mengalihkan kebodohannya. Bodoh. Lagi-lagi Dina merutuk dalam hati. Ampuni dia Tuhan, karena sering merutuk ini.


"Hahaha ya udah deh. Aku pamit dulu ya Sayang, badanku udah lengket banget nih pengen mandi" Deni sengaja menekan kata 'sayang'nya dan itu sukses membuat pipi Dina memerah. Salah tingkah.


"Itu pipinya kagak usah dimerah-merahin juga" diam sejenak. "Oh iya satu lagi, jangan dibiasakan merutuk dalam hati ya, nggak baik" tambah Deni dan segera melangkahkan kakinya ke luar dari rumah Dina. Dina hanya diam di tempat tanpa mengantarkan tamunya ke luar rumah. Sampai pada akhirnya Dina tersadar setelah mendengar klason mobil Deni yang sudah mulai beranjak dari halaman rumahnya. Segera dia menyentuh pipinya yang terasa panas itu. "Argh, maluuu" jeritnya sambil berlari ke dalam kamar.


...***...


"Diiinaaa. Assalamualaikuuumm" suara cempreng Desi menggema di perkarangan rumah Dina.


"Waalaikumussalam. Lo gila ya?" Dina ke luar dari rumah sambil menampakkan wajah masamnya. "Kakek gue masih sakit coy" tambahnya.


"Hehe maaf. Ni gue sekalian mau jengukin Kakek lo kok" sekarang Desi sudah mendudukkan pantatnya di ruang tamu rumah Dina. Tanpa disuruh. Dasar Desi.


"Hmm thanks ya, udah dateng. Emang lo mau ngasih kabar apaan?" seingat Dina sahabatnya ini datang karena ada yang ingin dia sampaikan.


"Itu. Cuma mau bilang kalau mingdep itu kita ada tugas sosialisasi tentang lingkungan hidup di luar kota. Tugasnya itu selama lima hari dan kita diwajibkan untuk menginap" jawab Desi yang diangguki paham oleh Dina.


"Tapi Kakek gue gimana ya?" gumam Dina pelan.


"Itu yang gue cemasin. Karena Kakek lo baru pulang dari rumah sakit, tidak mungkinkan ditinggal sendiri" jeda sejenak. "Aha, bagaimana kalau minta tolong keluarga Deni saja? Selama lo pergi, keluarga Deni dulu yang jagain Kakek di rumah" entah kenapa Dina tidak pernah sedikit pun terpikirkan untuk meminta tolong ke keluarga Deni lagi.


"Jangan deh. Nggak enak gue. Keluarga Deni itu sudah terlalu banyak ngebantuin gue. Gue takut hutang budi" elak Dina. Karena bagaimana pun juga dia tahu diri.


"Hmm. Yaudah deh. Ntar gue minta tolong orang gue aja buat ngejagain Kakek selama kita pergi" Desi akhirnya mencari jalan tengah.

__ADS_1


Dina tampak menganggukkan kepalanya tanda setuju. Desi, lo itu sahabat terbaik guelah. Batin Dina.


__ADS_2