
Andika dan Anin menikmati kuliner malam berdua, Anin ingin sekali makan sate dipinggir jalan, sambil lesehan bersama Andika.
" Bagaimana kuliahnya sayang? apa ada yang nakal degan papah? Tanya Anin melihat Andika, yang lagi menikmati sate
" Ada Sayang, namanya Vivi, dia selalu saja cari perhatian aku sayang, tadi pas mamah lagi di kantin dia lihatin mamah terus pas kita lagi makan sambil ngobrol di kantin kampus." Ucap Andika terus terang, Andika tidak ingin kasih tahu Anin, pas lagi di kampus karena malu juga laki laki cerita langsung ke pacarnya, ada yang cari perhatian ke Andika.
" Ada fotonya, kok aku tidak tahu sih kalo ada yang memperhatikan kita tadi?" Tanya Anin kesel, karena karena yang berani deketin Andika
" Tenang sayang, perempuan dan laki laki hadapi orang orang yang mau merebut pasangannya atau berusaha menolak kan beda beda sayang, malu juga kan dikampus aku cerita ke mamah kalo ada yang berusaha deketin aku, aku juga berfikir dua kali untuk selingkuh karena mamah saja bisa berusaha untuk menolak Oki masa aku tidak bisa kan." Lannjut Andika kasih lihat chat pribadi yang sering di kirim oleh Vivi selama ini ke Andika.
" Papah bener sih, laki laki lebih sering jaim dan berusaha menghindar tanpa ada adu argumentasi, beda dengan perempuan yang langsung labrak dengan emosi, tanpa malu berantem dimana pun." Lanjut Anin, Anin langsung baca chat chat yang dikirim oleh Vivi selama ini ke Andika.
" Pas mamah bilang mau ke kampus, mau temani aku kuliah tidak aku tolak kan, supaya mamah bisa lihat temen temen aku dan tanpa diminta Vivi tahu juga, jika aku sudah punya pacar dan pacar aku ada di kampus hari ini bahkan dari siang." Lannjut Andika, yang tahu bagaimana cara kasih tahu ke Vivi jika Andika beneran sudah punya pacar.
__ADS_1
" Pantas saja papah tidak risih ada aku di kampus, parah nih cewek setiap hari ada saja modusnya ke papah, dan terimakasih yah sayang mau berusaha setia dan menghargai aku sayang" Lanjut Anin mau belajar seperti Andika, yang tenang menghadapi orang yang berusaha merusak hubungannya, tidak pakai emosi yang berlebihan.
Andika ngangguk dan mau belajar menghadapi masalah kecil tanpa ada emosi, karena hubungan bersama Anin tanpa ada masalah sama sekali dan baru ada masalah baru baru ini saja.
Anin bahagia sekali karena Andika bisa nahan godaan dari temen kampus nya, bisa santai menolak keinginannya Vivi tanpa ads emosi sama sekali.
Dilain sisi, Gilang setelah sampai di rumah langsung vidio call bersama kedua orang tuanya, Gilang sengaja nelefon pakai laptop supaya lebih jelas gambar vidio kedua orang tuanya
" Ada apa Andika, tumben sekali telefon kita, apa lagi ada isteri kamu juga?" Tanya Bunda nya Andika tidak suka ada Denada, ikut telefon juga
" Karena bunda tidak sudi punya menantu dan besan seperti mereka, kamu yang cinta dengan Denada tapi kita malu dengan orang orang, apa lagi kamu mau memenuhi kewajiban kamu memberikan nafkah untuk Denada, tentu bunda tolak karena uang yang kamu pakai pun punya ayah dan bunda, enak sekali kamu beliin perempuan tidak tahu itu barang barang mewah dan baju baju untuk Denada pakai, tidak pantas sekali sayang, Denada itu anak ART dan tidak pantss kamu manja, Sumini selama ini masih menjadi ART di rumah, untuk bunda potong gajinya untuk bisa bayar kuliahnya Denada enak sekali mau jadi majikan di rumah kita, yah mana bisa." Tegas Bunda nya Gilang dengan sombong, bunda tidak sudi jika Gilang terus dan terus mempertahankan hubungannya bersama Denada terus yang drajatnya dibawah keluarganya Gilang.
" Lebih baik hidup miskin, bisa memenuhi kebutuhan istri tanpa ditolak dan tanpa harus sakit hati karena hinaan yang kalian sampai kan dengan mudah selama ini ke istrinya Gilang, sepertinya Gilang mau keluar dari rumah mewah ini dan tinggal di rumah nya bunda Sumini hidup sederhana dan saling menghargai dari pada disini tapi bunda sama sekali tidak bisa menghargai pasangan Gilang sama sekali." Lannjut Gilang yang rela hidup susah demi bisa bahagia bersama Denada, Gilang bisa memenuhi kebutuhannya Denada dengan tenang
__ADS_1
" Jika kamu berani keluar dari rumah itu, jangan salah kan kita untuk jemput paksa kamu supaya bisa kuliah di US dan kamu meninggalkan perempuan sampah itu selamanya, karena Denada cuman bisa menjadi beban keluarga saja.ingat itu Gilang. Tegas Ayah nya Gilang, yang tidak akan membiarkan anaknya seenaknya
" Kalian ngatur hidup Gilang terus, yah sudah kali ini Gilang masih turutin tinggal dirumah nereka kalian ini, tapi jika kalian masih sakiti perasaan Denada dan bunda Sumuni, Gilang beneran akan pergi meninggalkan rumah neraka kalian ini, biarin saja hidup susah dan putus sekolah, pekerjaan banyak kok diluar sana tanpa ada ijazah sarjana sama sekali." Tegas Gilang, berusaha untuk mempertahankan wanita yang di cintai nya dan tidak akan rela jika kedua orang tuanya sakitin Denada terus.
Gilang langsung mematikan Laptop-nya, untungnya Gilang setiap hari selalu saja simpan sisa uang jajan yang dikirim oleh ayah nya, ke rekening baru tanpa ayah nya tahu. tidak akan biarkan kedua orang tuanya selalu seenaknya dengan Denada.
Denada mendengar Gilang marah ke orang tuanya, merasa terharu sekali karena Gilang mau sejauh itu untuk belain Denada.
Dilain sisi, Anin dan Andika merasa lega, karena waktu nginep dirumahnya Okta sudah selesai tapi tidak ribet barang bawaan ke rumahnya Anin lagi karena cuman bawa buku kuliah saja.
" Besok kita kembali ke rumah, untungnya barang bawaannya tidak banyak yah sayang, jadi tidak ribet untuk dibawa kembali." Ucap Anin sambil merapihkan buku buku kuliahnya, untuk dimasukin ke dalam kardus isi buku kuliahnya Anin saja.
" Bener sayang, kita paling anti ribet yah sayang, besok aku juga pulang siang sayang, karena diganti oleh kampus kelas besok kembali pagi, jadi setelah selesai Kuliah kita bisa langsung pulang Sayang " Ucap Andika, masukin satu persatu peralatan Kuliah nya kedalam kardus
__ADS_1
" Bener sayang" Lanjut Anin merapihkan kamar sekaligus buku Kuliah nya, karena tidak enak juga meliht kamarnya kotor dan berantakan.