
Anin periksa jawaban yang sudah dikerjakan oleh Andika, Anin pelan pelan periksa jawaban yang sudah dikerjakan oleh Andika.
" Yes tidur nyenyak, alhamdulillah ada peraturan tidak boleh salah sama sekali, salah satu ternyata dan hebat juga suami aku ini bisa ngerti soal soal ini." Batin Anin lega dan bahagia, jawaban Andika ada yang salah walaupun satu soal, dan Anin bangga dengan Andika yang semakin ngerti soal soal yang selama ini Anin pelajarin.
" Mah, bagaimana jawabannya?" Tanya Andika penasaran, karena ekspresinya Anin mencurigakan sekali.
" Papah hebat, cuman salah satu saja dan semangat yah pah, supaya tidak ada yang salah sama sekali." Ucap Anin, Anin memberikan bukunya Andika dan memberikan ciuman di keningnya Andika.
" Siap bu dosen, bu dosen kok cuman di kening saja sih?, peraturannya diganti dong. Salah satu tetep mendapatkan jatahnya?" Tanya Andika berusaha bujuk Anin, supaya memberikan keringanan untuk Andika.
__ADS_1
" Tidak bisa mahasiswa modus, harus konsekuensi dong, kalo salah satunya sering itu namanya bukan hukuman dong!." Protes Anin kesel, karena Andika berusaha negoisasi dengan Anin.
" Iyah deh bu dosen yang cantik." Lanjut Andika langsung merapihkan bukunya Anin, Andika senang sekali karena semakin lama semakin memahami mata kuliahnya Anin.
Dilain sisi, Gilang seenaknya masuk kedalam ruangan Ayah nya, mau melihat Ayah nya yang masih sibuk kerja.
" Ayah dan bunda, jika kalian tidak ingin Gilang pedulikan kehadiran kalian, biarkan Gilang hidup sendiri tanpa bantuan kalian sama sekali. Selama ini Gilang selalu ingin kalian ada dirumah luangkan waktu untuk anak, karena Gilang sayang dan peduli dengan kalian, tapi kalian tidak berubah juga. lebih baik hidup sendiri tanpa Orang tua membuat tenang dan bahagia!." Tegas Gilang, Gilang sudah cukup sabar membiarkan Orang tuanya menjalankan tanggung jawabnya mencari nafkah, tapi tidak bearti mengabaikan anak terus.
" Kalian bener bener tidak punya hati dan otak, yang kalian tahu cuman uang dan uang saja. semoga disaat kalian mati semua harta kalian yang dikerja secara berlebihan, bisa kalian bawa keliang lahat!." Teriak Gilang penuh emosi, Gilang langsung memutar kursi rodanya untuk meninggalkan kantor ayah. karena bicara baik baik tidak ada gunanya sama sekali.
__ADS_1
Dilain sisi, Andika dan Anin setrika baju masing masing, karena Andika tidak tega membiarkan Anin setrika baju banyak dan Andika tidak bantuin sama sekali.
" Alhamdulillah, tidak ada tugas kasih jatah untuk suami modus ini, jadi bisa setrika baju sebelum tidur." Batin Anin senang, karena disaat waktunya setrika baju membuat Anin sengaja kasih kuis dan tahu Andika pasti ada saja salah isi soal. membuat Anin selalu memanfaatkan waktu untuk setrika baju.
" Baju aku minggu ini tidak banyak, tidak biasanya aku pakai jaket dan kaos dalam saja. " Ucap Andika lega, karena mengurangi tugas setrika baju sendiri.
" Pantesan yah, dasar malas mengurangi kaos sama sekali. Aku tidak tahu jika itu alasannya pakai jaket tebel setiap ke kampus yah." Ucap Anin tidak menyangka, kalo Andika sempet sempetnya berfikir paket jaket demi kurangin jatah cucian minggu ini.
" Iya sayang, soalnya kan kita sibuk keluar terus kan, dari pada aku cape setrika baju yang banyak, yah sudah aku kurangin deh. Eh tapi jangan ambil alih setrika baju karena aku malas minggu ini. Lanjut Andika, berharap jika Anin tetep membiarkan Andika setrika baju sendiri, lagi malas maupun rajin tidak ingin merepotkan Anin sama sekali.
__ADS_1
" Terserah papah saja lah, aku malas komentar." Lanjut Anin dan Anin langsung melanjutkan setrika bajunya karena kesel, Andika bisa-bisanya malas pakai kaos demi tidak banyak cucian.