
Gilang melihat Denada yang sibuk setrika baju didalam kamar, sebelum berangkat kuliah membuat Gilang ingat pembicaraan semalam bersama orang tuanya.
" Bunnda, setelah telefon orang tua aku semalam, apa bunda masih menolak pemberian aku lagi?" Tanya Gilang menatap istrinya, yang setrika kemejanya Gilang untuk dipakai ke kampus.
" Aku bingung sayang, mau turutin orang tua atau turutin suami sendiri? aku bener bener tidak tahu harus bagaimana Sayang?" Tanya Denada mau menghargai ucapannya Gilang atau ucapan mertuanya
" Sekarang aku tanya bunda, seandainya kita beneran tinggal di rumahnya bunda Sumini dan aku menjadi tukang kebun, sederhana tapi halal terus tidak direndahkan oleh orang tua aku terus karena tinggal disini, mereka sombong kan karena kita masih dibiayai oleh mereka kan? Kalo mandiri sudah tidak bisa lagi merendahkan kita sesuka hati mereka." Lannjut Gilang rela melepaskan kemewahan yang ada, yang penting bisa bahagia bersama Denada, istri tercinta, dan Gilang bisa menjalankan kewajibannya sebagai kepala keluarga.
" Aku mohon sayang, jangan berhenti kuliah bagaimana masa depan ayah, masa calon pemimpin perusahaan besar, tidak melanjutkan pendidikannya karena aku saja sayang, biarin lah seperti ini sampai lulus kuliah kita yah, aku bahagia kok sayang tidak belanja apapun sayang, yang penting kita masih bisa bersama dan bahagia pun kita yang menciptakan. Jadi aku mohon jangan berhenti kuliah" Lanjut Denada, berusaha tidak membiarkan Gilang kehilangan pendidikannya, dan membuat Gilang semakin jauh dengan orang tuanya.
" Apa sih, rumah tangga macam apa seperti ini terus sayang, aku dilarang beliin apapun untuk bunda dan mertua aku masih dianggap ART, apa tidak merendahkan harga diri mertua aku dan istri aku? pantas saja bunda Sumini panggil aku dengan sebutan nak Gilang terus tidak pernah bilang Gilang saja, Ochi jarang bicara dengan aku pasti bingung mau panggil aku apa? Menurut bunda rumah tangga seperti ini apa sehat? " Tanya Gilang dengan menatap Denada, yang langsung melihat Gilang yang duduk dikasur.
__ADS_1
" Tidak masalah sayang, sudah jangan dipermasalahkan yah, biarin lah bunda Ana menganggap keluarga aku sebagai ART disini, yang penting ayah dan orang tua ayah akur dan tidak jauh cuman karena aku sayang, aku bahagia kok dengan rumah tangga kita seperti ini, yang ada cobaan dari awal sampai sekarang." Lanjut Denada yang tidak emosi membahas prilaku orang tuanya Gilang ke keluarganya.
" Kamu bodoh sekali jadi perempuan, direndahkan seperti itu mau saja, kita menikah untuk bahagia, saling menghargai, bukan direndahkan secara diam diam seperti ini, bahkan sampai kamu menolak pemberian aku selalu menolak aku memberikan nafkah untuk kamu, terus tujuan kita menikah apa?" Tanya Gilang tidak habis fikir dengan Denada, yang rela dihina dan direndahkan oleh orang tuanya.
" Maafkan aku, baik lah sekarang mau ayah apa? tapi jangan berhenti kuliah sayang? baik lah aku akan menerima apapun pemberian ayah sebagai bentuk aku menghargai ayah untuk memberikan aku nafkah, dengan memenuhi kebutuhan aku.?" Tanya Denada pasrah, dari pada melihat suaminya marah terus dan berhenti kuliah juga, kasihan orang tuanya tidak ada penerus perusahaan dan tidak membanggakan orang tua sama sekali, jika Gilang tidak melanjutkan pendidikannya.
" Mau aku, bunda menerima apapun pemberian aku, aku berusaha menjadi suami yang bisa memenuhi kebutuhan istri aku sayang." Lannjut Gilang, Gilang langsung peluk Denada, sejujurnya tidak tega melihat istrinya selama ini direndahkan terus oleh orang tuanya.
" Anak anak, pas weekend besok, ayah ingin sekali ajak kalian jalan jalan ke gunung, sekali kali haiking bareng, kalian suka haiking kan?" Tanya Susanto, yang lagi kepingin haiking bersama Anin dan Andika.
" Duh jangan haiking minggu ini ayah, bagaimana kalo haiking nya minggu depan saja, karena Andika dan Anin mau jalan jalan ke Villa bersama Gilang dan Denada kita sih pulang dan pergi, tidak akan nginep." Ucap Andika yang tidak enak menolak ajakan mertuanya, tapi Andika sudah terlanjur janji dengan Gilang dan Denada.
__ADS_1
" Maaf yah ayah, tidak masalah kan minggu depan kita jalan jalan ke gunungnya? " Tanya Anin yang juga kepingin haiking, sudah lama sekali tidak haiking bersama keluarga.
" Yah sudah anak anak, tidak masalah kok haiking minggu depan juga." Lannjut Susanto ngerti, kalo anak anak nya butuh jalan jalan bersama temen temannya.
" Untung kalian sudah menikah, membuat bunda ijinkan, Andika ajak Anin untuk jalan jalan selama apapun. kalo tidak menikah mana boleh ajak anak orang sampai malam" Ucap Salsa, yang tidak pernah ijinkan Anin pulang malam apa lagi jauh jauh.
" Nah itu dia bunda, tadi Andika juga langsung bersyukur karena pas Gilang ajak ke villa pas Andika dan Anin sudah menikah, kalo belum kan mana boleh ajak Anin dari subuh pulang jam sebelas malam." Lannjut Andika terus terang, karena momentum jalan jalannya pas sekali dengan Andika sudah bebas ajak Anin pergi jauh.
" Bener juga yah, tidak akan dengerin nasehat sepanjang hari bahkan setiap hari dibahas terus.hahahaha alhamdulillah sekali" Lannjut Anin bersyukur karena sudah terbebas dari nasehat panjang kedua orang tuanya.
Salsa dan Susanto kesal mendengar Anin senang tidak dimarahin lagi, setiap diajak jalan Andika bahkan tengah malam pun dibolehkan
__ADS_1