DIPAKSA MENIKAH MUDA 2

DIPAKSA MENIKAH MUDA 2
Yah Gol


__ADS_3

Lima bulan kemudian, Andika dan Anin siap-siap ke US, karena akan menghadiri pernikahannya Gilang dan Denada yang dilaksakan diluar negeri. Andika melihat Anin pucat langsung merasa kwatir melihatnya.


" Mamah kenapa? Kok terlihat pucat sekali sayang?, Apa kita ke rumah sakit dulu baru ke bandara? Kita masih ada waktu untuk Mamah diperiksa?." Tanya Andika kwatir, melihat kondisinya Anin yang tiba-tiba pucat.


" Boleh Pah, badan Mamah tidak enak sekali sayang, mual terus dan sakit kepala yang tidak berhenti dari kemarin sayang." Ucap Anin dengan lirih, Anin sejujurnya tidak kuat untuk berdiri terlalu lama.


" Yah sudah sayang, kita sekarang ke rumah sakit yah, diperiksa dulu sebelum kita perjalanan jauh." Lanjut Andika, Andika langsung kasih jaket untuk Anin dan dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa.


Dilain sisi, Haikal dan Okta, tidak setuju jika pernikahan resmi orang tua tidak boleh ikut apa lagi kondisinya Sumini dan suaminya kondisi sehat untuk ikut ke luar negeri.


" Kalian nurut sekali, dilarang ikut ke sana, beneran tidak ikut, dan kalian rela yang ganti posisi Ayah nya diganti orang lain?." Tanya Haikal, yang tidak habis fikir, betapa jahatnya orang tuanya Gilang, merendahkan orang tuanya Denada karena perbedaan status sosial.


" Biarin saja Pak, Kita tidak ingin melawan demi ketenangan anak kita Pak, supaya tidak disakitin oleh orang tuanya Nak Gilang karena kita nekat kesana Pak." Ucap Sumini, yang rela tidak dihargai yang penting, anaknya bisa bahagia bersama suami dan anaknya.


" Kamu benar sih, jika dipaksakan kesana, takutnya Denada yang disakitin selama tinggal disana kan." Ucap Okta yang tidak tega, membiarkan Denada merasa sedih karena disakitin oleh mertuanya, cuman karena Sumini dan suami tetep datang.


Dilain sisi, Salsa ikut Andika ke rumah sakit, karena kondisi Anin tiba-tiba sakit seperti sekarang.


" Anin, apa yang kamu rasakan sekarang Nak?." Tanya Susanto cemas, melihat anaknya lemah sekali.


" Mual dan pusing sekali Ayah, rasanya tidak kuat untuk berdiri." Ucap Anin merasa lemah sekali, dan tidak kuat menahan sakit di perutnya.


" Kamu sudah berapa lama, telat datang bulan?." Tanya Salsa, yang menduga anaknya sedang mengandung.


" Sudah dua bulan Bunda, memangnya Kenapa tanya soal datang bulan?." Tanya Anin, yang tidak mengerti Maksudnya Salsa.

__ADS_1


" Yah Gol, Karena tiga bulan yang lalu, Anin dan Andika, pas jalan-jalan ke rumahnya Gilang, tidak pernah ingat minum jamu dan obat Bunda untuk Anin, karena kita terlalu senang jalan-jalan." Ucap Andika, baru ingat soal obat dan Jamu, yang wajib Anin minum selama liburan.


Anin langsung pegang perutnya, setelah dengar ucapannya Andika, berbeda dengan Salsa dan Susanto langsung jewer telinganya Andika yang bisa-bisanya lupa kasih Anin obat dan jamu yang seharusnya Anin minum.


Dilain sisi, Bunda Nya Gilang, senyum sinis melihat Denada yang lagi dirias Karena sebentar lagi akan menikah dengan Gilang.


" Orang kampung tidak tahu diri, pasti bangga dan puas sekali bisa berhasil mendapatkan Gilang sebagai suaminya yah, bisa kaya mendadak yah, bisa pamer ke orang-orang kampung." Ledek Bunda Nya Gilang, karena tidak ikhlas melihat anaknya, menikah dengan orang kampung, yang selamanya akan menjadi aib bagi keluarganya, karena Gilang mendapatkan istri dari orang susah sama sekali.


" Saya tidak pamer ke siapapun Bunda, karena pamer itu tidak baik untuk dilakukan." Ucap Denada berusaha tenang, setiap mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan mertunya yang selalu membuat sakit hati.


" Dengar! Kamu panggil saya Bunda, cuman didepan Gilang saja dan dibelakang Gilang panggil saya Nyonya besar dan suami saya Tuan besar. Sampai kapan pun kamu akan menjadi ART saya, saya tidak sudi punya menantu perempuan sampah seperti kamu!." Tegas Bunda Nya Gilang, Langsung pergi, karena malas bicara lama-lama dengan Denada.


" Apapun sebutan ke kalian, tidak jadi masalah sama sekali. Yang penting bisa nikah resmi sudah bahagia bersama Gilang dan membesarkan anak bersama Gilang, Tua bersama sambil membesarkan anak kami." Batin Denada berusaha tegar, tidak ingin banyak berfikir, takut kenapa-kenapa jika banyak berfikir akan berakibat dengan kondisi anaknya.


Dilain sisi, Andika kedua telinganya, terasa panas sekali, karena dijewer terus oleh Salsa dan Susanto, karena lupa memberikan obat dan jamu untuk Anin.


" Iyah Dokter tenang saja, saya pasti akan menjaga anak saya dengan baik-baik selama sembilan bulan." Ucap Anin, yang optimis akan menjaga dengan baik-baik anak pertamanya.


Anin senang sekali, karena akhirnya bisa punya anak pertama juga, Anin akan ikutin saran apapun demi kesehatan Anin selama mengandung sembilan bulan.


Dilain sisi, Denada menahan amarahnya, saat melihat orang bayaran orang tuanya Gilang, dengan lantang mengucapkan Ijab kabul didepan Gilang dan para tamu undangan.


" Semoga pernikahan kalian langgeng sampai tua bersama, menjalankan kehidupan bersama, dan bahagia bersama." Ucap Orang suruhan, orang tuanya Gilang.


" Amin-amin." Ucap Para tamu undangan kompak.

__ADS_1


" Silahkan kalian bisa menikmati hidangan, yang sudah siap dinikmati untuk kalian semua." Ucap Ayah Nya Gilang, Khusus pernikahan Gilang tidak ada sungkem ke orang tua sama sekali.


" Sayang, maafkan Bunda dan Ayah, yang menggantikan posisi Ayah kamu, dengan orang suruhannya. Aku juga marah sayang tapi jika aku menolak maka pernikahan kita batal." Ucap Gilang dengan lirih, karena kedua orang tuanya bener-bener jahat sekali, tidak menghargai Sumini dan suaminya sebagai besannya.


" Tidak usah minta maaf sayang, aku mengerti dan aku menerima sayang, sudah jangan sedih, ini kan hari bahagia kita dan kita siap-siap untuk acara resepsi pernikahan." Ucap Denada berusaha tegar, tidak menunjukan emosi sama sekali, karena tidak akan membuat keadaan lebih baik.


Gilang nurut saja diajak Denada untuk siap-siap buat acara resepsi pernikahan, Gilang tahu Denada pasti marah sekali dengan apa yang dilakukan kedua orang tuanya sungguh keterlaluan, tapi jika melawan pernikahannya akan dipersulit kembali.


Dilain sisi, Salsa, Susanto, Haikal, dan Okta. Tidak menyangka sebentar lagi akan menjadi Kakek dan Nenek, ini semua karena Andika yang lupa memberikan jamu dan obat untuk Anin minum selama liburan kemarin.


" Anak muda, memang sering mengabaikan ucapan orang tua, bisa-bisanya lupa barengan yah, sudah begini yah cuman bisa ikhlas melihat Anin haris berhenti kuliah disaat usia kandungan sudah delapan bulan, saat memberikan ASI pun selama dua tahun. Jika Anin mau ulang yah dari anak usia lima tahun pas sudah sekolah, baru bisa kuliah lagi." Ucap Haikal yang sidah tahu, konsekuensi punya anak disaat masih kuliah.


" Andika harus siap sendirian, setelah lulus kuliah langsung pegang dua perusahaan yang berbeda sekaligus, sebagai konsekuensi lupa Kalian." Ucap Susanto, sejujurnya kesel karena lupa tidak minum obat dan jamu, membuat Anin gagal menjadi wanita karir disaat lulus kuliah bersama Andika.


" Semuanya, Maafkan Andika yang lupa, memberikan obat dan jamu untuk Anin minum, tapi kalian seneng kan, akhirnya punya cucu juga." Ucap Andika sedikit merasa bangga, karena bisa memberikan cucu juga untuk orang tuanya.


" Insya allah Andika sanggup pegang dua perusahaan sekaligus, sebagai konsekuensi Andika, dan sebagai pembisnis hebat harus mampu menjalankan dua perusahaan berbeda sekaligus." Sambung Andika optimis, disaat lulus kuliah bisa menjalankan perusahaan Haikal dan perusahaan Susanto sekaligus sendirian.


" Iyah seneng, tapi kan kasihan Anin, kuliahnya harus ngulang disaat anak kalian sudah besar, ngulang dari awal lagi. Bener-bener kamu ini Andika. "Ucap Salsa kesel, tidak tega melihat Anin putus kuliahnya disaat usia Anin sudah besar.


" Sudah terlanjur juga, yang bisa dilakukan sekarang yah menerima kehadiran cucu pertama kita, dengan rasa bahagia dan bersyukur, tidak usah salahkan kelalaian mereka berdua." Ucap Okta yang tidak tega, salahkan Anin dan Andika yang lupa kewajiban minum obat, Okta berusaha menerima kehadiran cucu pertamanya dengan ikhlas.


" Jangan salahkan Andika terus, kasihan juga kan. mungkin ini takdir Tuhan memberikan Anin dan Andika anak sekarang, insya allah kita siap menjadi orang tua, dengan bantuan dan bimbingan kalian insya allah bisa urus anak sendiri." Ucap Anin yang tidak ingin, sepenuhnya salahin Andika, Karena Anin sendiri pun lupa minum jamu dan obat, padahal selalu menjalankan kewajiban suami istri setiap hari.


Andika mendengar pembelaan Anin, merasa senang sekali karena istrinya belain Andika didepan orang tuanya dengan lantang, walaupun Anin juga salah karena sama-sama lupa.

__ADS_1


TAMAT.............TAMAT............TAMAT


Terimakasih sudah baca cerita saya sampai selesai semua.


__ADS_2