
Gilang bahagia melihat Anin, Andika, dan Denada. Jemput Gilang di Bandara dan Gilang langsung peluk Denada saking kangennya dengan istri tercintanya.
" Sayang, aku rindu sekali." Ucap Gilang langsung mencium wajahnya Denada, karena sebulan tidak ketemu sama sekali.
" Pelan-pelan Gilang, nanti Dede bayi Nya kesakitan soalnya Ayah nya terlalu keras peluk Bunda Nya loh." Ucap Anin sengaja, kasih kode untuk Gilang supaya semakin penasaran.
" Apa Dede bayi! Bunda apa ini suprise Nya sayang?." Tanya Gilang kaget, Gilang langsung lepas pelukannya dan melihat perutnya Denada.
" Iyah Ayah, sebentar lagi kita akan punya anak pertama." Ucap Denada bahagia, karena akhirnya bisa merasakan jadi seorang ibu.
" Kalian nginep di rumahnya Anin saja yah, karena besok kita berangkatnya bareng-bareng." Ucap Andika, Andika sudah ngantuk sekali, dan ingin sekali rasanya cepat tidur.
" Iyah hayo, Bunda jalannya pelan-pelan sayang." Lanjut Gilang, Gilang langsung jalan ikutin Anin dan Andika yang sudah jalan duluan dan Gilang gandengan bersama Denada karena dugaannya benar jika suprise yang diberikan Denada kabar Denada sudah mengandung.
Dilain sisi, Salsa minta Bik Nur untuk merapihkan kamar tamu, karena Anin dan Andika minta Gilang dan Denada nginep dirumahnya.
" Bik, Apa kamar tamu sudah bersih dan rapih?." Tanya Salsa melihat Bik Nur, yang baru keluar dari dapur.
" Sudah Nyonya, selain dibersihkan juga sudah saya isi kulkas yang ada didalam kamarnya juga." Ucap Bik Nur, yang sudah bersihkan kamar untuk Denada dan Gilang.
" Terimakasih ya Bik, Bibik bisa istirahat sekarang." Lanjut Salsa lega, karena kamar untuk Denada dan Gilang sudah dibersihkan.
__ADS_1
Dilain sisi, Gilang ajak makan malam Denada, Anin, dan Andika. sebelum pulang ke rumahnya Anin.
" Bunda, harus makan banyak ya sayang, supaya anak kita semakin sehat karena Bunda makan banyak dan tidak boleh takut gemuk yah sayang." Ucap Gilang memandangi Denada, yang semakin cantik apa lagi semenjak mengandung anak pertama.
" Iyah sayang, aku tidak takut gemuk sayang, karena banyak makan juga kan kebutuhan aku dan anak kita juga butuh nutrisi." Ucap Denada tersipu malu, karena Gilang memperhatikan Denada terus.
" Gilang, pas kamu kembali ke US, apa kamu ajak Denada juga? Atau nunggu kita kesana tiga bulan lagi?. " Tanya Andika yang mau tahu kelanjutan nasipnya Denada, karena tidak tega melihat Denada statusnya digantung seperti sekarang.
" Saya langsung ajak Denada, karena tidak tega membiarkan Denada menjalankan kehamilannya sendirian, sekalian saya minta maaf ke orang tuanya Anin yang sudah memberikan biaya pendidikan untuk Denada harus berhenti, karena Denada akan saya ajak pulang karena saya harus tanggung jawab dengan anak dan istri saya." Lanjut Gilang yakin, Gilang sudah tidak peduli lagi dengan orang tuanya yang sudah merusak kebahagiaan dan tidak harus merusak masa depannya bersama anak dan Istrinya lagi.
" Syukur lah kalo itu keputusan kamu, insya allah kita akan ke US ke rumah kalian untuk jalan-jalan bareng." Ucap Anin yang sudah berencana ke US, untuk bulan madu ke US.
" Kemana pun Gilang ajak saya tinggal, saya akan ikut saja karena seorang istri harus nurut apa kata suami selama baik untuk saya dan anak saya tinggal. " Lanjut Denada, Denada yang akan pasrah dimana pun Gilang ajak tinggal nurut saja untuk ikut.
" Alhamdulillah, Seserahannya jadi juga sayang, karena ini pernikahan lanjutan jadi tidak ada acara lamaran dan seserahan jadi kita berikan pas acara ijab kabul besok." Ucap Okta, sambil merapihkan seserahan yang dibelinya beberapa hari yang lalu.
" Iyah sayang, alhamdulillah yah, pernikahan anak kita langgeng sampai sekarang. Andika juga berhasil menjadi suami yang baik, pernikahan anak kita membuat Andika lebih rajin belajar, dan bisa membuat Anin jadi istri yang rajin juga." Ucap Haikal bangga, karena Anin dan Andika sama sama semakin rajin belajar, sama sama menjadi pribadi yang rajin mengurus dirinya sendiri.
" Betul sayang, alhamdulillah anak kita tidak salah pilih istri yah." Lanjut Okta, Okta bawa pelan-pelan seserahan nya ke dalam mobil, supaya tidak ketinggalan untuk dibawa besok.
Dilain sisi, Gilang bingung melihat Andika, sudah jam sepuluh malam, tidak pulang ke rumahnya.
__ADS_1
" Andika, saya tahu kalian besok nikah, memangnya boleh yah kamu nginep disini dan tidak siap-siap dirumah kamu untuk besok?." Tanya Gilang merasa aneh, melihat Andika betah dirumahnya Anin.
" Kita belum bilang sesuatu yah ke kamu? Baru Denada yang tahu langsung dari orang tua kita?." Tanya Anin melihat Gilang yang penasaran dan bingung dengan ucapannya Anin.
" Bunda tahu sesuatu? Kok tidak bilang Ayah sih?" Tanya Gilang melihat Denada, yang lagi menikmati buah apel.
" Disuruh tante Salsa dirahasiakan sayang, yah sudah aku tidak bilang ke Ayah deh." Ucap Denada yang ingat, waktu Itu Salsa larang Denada cerita ke siapapun jika Anin sebenarnya sudah menikah dengan Andika.
" Kasihannya anak orang yang kebingungan, Dulu kan tahu Gilang, saya dan Anin kan sering pulang malam karena belajar dan jalan-jalan sampai jam makan malam terus kan, nah Bunda dan Ayah tuh setiap hari marah terus melihat saya anterin pulang Anin sampai malam." Lanjut Andika, Andika melihat Anin untuk melanjutkan ceritanya.
" Karena Bunda dan Ayah takut, Andika hilaf anterin saya pulang sampai malam terus, akhirnya besoknya Andika disuruh ajak orangtuanya ke rumah. Untuk melakukan nikah diem diem untuk saya dan Andika, tamu undangannya ketua RT beserta istri, ketua RT disini dan dirumahnya Andika. Nah nikah sekarang karena ada Oki pengganggu rumah tangga kita, yang membuat orang tua Kita kwatir melihatnya yah sudah deh kita akhirnya nurut saja nikah cepet seperti ini." Lanjut Anin terus terang, padahal Anin seneng pernikahannya diam-diam tanpa ada yang tahu.
" Oh pantesan saja, Andika semenjak kelas tiga SMU ke kamu lebih posesif ternyata kamu sudah jadi istrinya toh, dan pantasan saja Andika tidak mau saya main ke rumahnya setelah lulus SMU ternyata Andika sudah tinggal disini." Lanjut Gilang akhirnya mengerti, kenapa Andika lebih posesif ke Anin dan tidak pernah mau lagi Gilang main ke rumahnya untuk main basket dan Playstation bareng.
Andika mendengar Gilang baru tahu statusnya, cuman bisa nyengir sambil merangkul bahunya Anin, walaupun tahu Anin tidak suka tapi Andika cuek saja merangkul bahunya Anin didepan Gilang dan Denada.
Dilain sisi, Leni bingung melihat Oki, setengah sadar di kamarnya, Leni setelah pulang kerja melihat kamar sudah banyak sampah, banyak botol, dan penampilannya Oki berantakan.
" Oki kamu kenapa? Kenapa seperti ini sayang? Apa ada masalah yang membuat kamu seperti ini?." Tanya Leni sambil menatap Oki, yang sudah setengah sadar.
" Tidak kenapa-kenapa sayang, aku butuh kamu sekarang, kita bersenang-senang bersama yuk." Ucap Oki yang tidak mungkin cerita, kalo Oki merasa gagal merebut Anin orang yang dikaguminya selama kuliah.
__ADS_1
" Ya sudah hayo, tapi aku mandi dulu yah sayang, karena aku merasa gerah sekali sayang." Lanjut Leni tidak percaya, jika Oki tidak ada masalah tapi malas banyak tanya, takut membuat Oki marah.
" Ya sudah sana, aku rebahan di kasur sambil menuggu kamu selesai mandi." Lanjut Oki berusaha berdiri, dan jalan menuju kasurnya, walaupun badan terasa tidak enak dan kepala pusing, tapi berusaha jalan ke kasur.