DISINI ADA SETAN

DISINI ADA SETAN
Dr.Herman Part III


__ADS_3

πŸ’€


πŸ’€


πŸ’€


πŸ’€


πŸ’€


Ayumi pun kembali ke ruangan rawat Bu Verra dengan langkah gontai sembari membawa cemilan di kedua tangannya. Ayumi langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, sungguh kejadian barusan sangat menguras tenaganya.


"Lo kenapa, lemes kaya gitu?" tanya Olive.


"Capek gue," sahut Ayumi.


"Capek kenapa?" tanya Sasa.


Ayumi tidak menjawab lagi, saat ini Ayumi justru sibuk memakan cemilan yang barusan dia beli. Ayumi harus mengisi dulu tenaga sebelum nanti Dr.Herman datang dan ingin bertemu dengan Verra.


"Bu, maaf ya Ayumi makan dulu. Apa Ibu mau?"


"Tidak, kamu makan saja."


"Kita yang mau," sahut Olive.


Ketiga gadis cantik itu pun asyik memakan cemilan, tapi tiba-tiba pintu ruangan rawat Bu Verra terbuka dengan kencangnya membuat semuanya kaget dan reflek menoleh pintu.


Ternyata Yuda dan Farrel sedang berebut masuk ke dalam ruangan dan mereka seperti anak kecil yang sama-sama tidak ada yang mau mengalah.


"Minggir, gue dulu yang masuk," seru Yuda.


"Enggak, lo yang minggir seharusnya lo ngalah sama senior," sahut Farrel.


"Lo yang ngalah sama junior," sahut Yuda tidak mau ngalah.


"Astagfirullah, Yuda, Farrel! kalian kenapa pada berebut kaya gitu? satu-satu masuknya bisa kan?" seru Bu Verra.


Brruuggg...


Akhirnya keduanya tersungkur ke lantai membuat semuanya menertawakan tingkah konyol Yuda dan Farrel.


"Kalian ngapain kesini?" tanya Ayumi.


"Mau nyusul kamu," seru Yuda dan Farrel bersamaan.


"Apa?"


Yuda dan Farrel saling pandang satu sama lain. "Apaan sih lo, ikut-ikutan aja," ketus Farrel.


"Yeeee...lo yang ikut-ikutan," sahut Yuda.


Farrel langsung memiting leher Yuda dan Yuda menggelitik pinggang Farrel sehingga keduanya berguling-guling di lantai. Bu Verra hanya bisa geleng-geleng kepalanya melihat tingkah murid-muridnya itu.


"Stooooppp...bisa ga sih sekali saja kalau bertemu itu kalian tidak berantem!" bentak Ayumi sembari berkacak pinggang di hadapan keduanya.


Yuda dan Farrel pun menghentikan kegiatan unfaedah mereka dan dengan cepat berdiri dan merapikan penampilan mereka.


"Maaf Ay, si curut ini yang duluan," seru Farrel.


"Lo yang cari gara-gara dugong," sahut Yuda.


"Diaaaammm...bisa diam tidak? kalau kalian masih berisik, lebih baik kalian keluar dan pergi dari sini!" bentak Ayumi.

__ADS_1


Farrel dan Yuda segera duduk di sofa dan langsung terdiam tidak ada yang bicara, mereka tidak mau sampai pergi dari sana.


Ayumi menghampiri Bu Verra dan duduk di samping Bu Verra.


"Bu, Ayumi mau tanya apa Ibu percaya dengan anak indigo?" tanya Ayumi.


"Percaya, anak indigo itu anak yang diberika kelebihan oleh Allah berupa indera keenam, iya kan?"


"Betul sekali, Ibu percaya tidak kalau Ayumi itu seorang anak indigo?"


"Hah..serius kamu? berarti kamu bisa melihat makhluk tak kasat mata dong?"


Ayumi pun menganggukan kepalanya. "Wah keren," sahut Bu Verra dengan kagumnya.


Tiba-tiba sosok Dr.Herman pun muncul tepat di samping Bu Verra.


"Ay, kok tiba-tiba bau gosong sih?" seru Bu Verra dengan menutup hidungnya.


"Karena di samping Ibu sekarang lagi ada seseorang."


Bu Verra langsung memegang tangan Ayumi. "Jangan nakut-nakutin Ibu, Ay, Ibu itu penakut loh."


"Ibu tahu, yang ada di samping Ibu itu sosok siapa?"


"Mana Ibu tahu."


"Dia adalah Dr.Herman."


"Apa? Mmm--mas Herman, kok bisa?"


"Dr.Herman ingin mengatakan sesuatu kepada Ibu apa Ibu bersedia bertemu dengannya?" tanya Ayumi.


Verra masih tidak mengerti dengan ucapan Ayumi, tapi Ayumi pun segera bangkit dari duduknya dan berpindang menghampiri Dr.Herman.


Yuda dan Farrel dengan sigap ikut menghampiri Ayumi.


Dengan penuh tanda tanya, Verra pun akhirnya mengikuti apa kata Ayumi untuk memegang tangannya.


"Dokter, anda bisa pegang pundak aku!" seru Ayumi.


Dr.Herman pun memegang pundak Ayumi dan seketika Verra bisa melihat sosok Dr.Herman. Sedangkan Sasa dan Olive sudah saling berpelukan karena merasa takut dengan kemunculan sosok Dr.Herman.


"Hallo Verra!" sapa Dr.Herman.


Mata Verra berkaca-kaca. "Kenapa Mas meninggalkan aku? kenapa Mas justru menikah dengan wanita lain?" tanya Verra dengan airmata yang sudah menetes tanpa bisa ditahan.


Dr.Herman menggelengkan kepalnya. "Aku tidak pernah meninggalkanmu dan aku tidak pernah menikah dengan siapa pun," sahut Dr.Herman.


"Terus foto itu, foto dimana Mas sedang melakukan ijab kabul dengan wanita lain."


Ayumi tampak oleng, untung saja Yuda dan Farrel sigap segera menahan tubuh Ayumi.


Akhirnya Dr.Herman pun menceritakan semua kejadian yang menimpanya membuat Verra terkejut dan membelalakan matanya.


"Maafkan aku Verra, sampai kapan pun cintaku hanya untukmu. Aku hanya ingin kamu tahu kenapa aku tidak datang ke acara ijab kabul kita dan alasannya itu, aku berharap ke depannya kamu bisa mendapatkan pendamping yang jauh lebih baik daripada aku tapi bukan Doni, aku sangat mencintaimu Verra."


Perlahan sosok Dr.Herman pun menghilang dan Ayumi pun lemas untung dua cowok di belakang Ayumi sigap menangkap tubuh Ayumi. Sementara itu, Verra hanya bisa menangis dia tidak menyangka kalau Doni bisa sejahat itu.


Tok..tok..tok..


"Selamat sore sayang, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Doni dengan mengusap kepala Verra.


Verra menepis tangan Doni. "Jangan sentuh aku Mas!"

__ADS_1


"Kamu kenapa sayang?"


"Sekarang aku sudah tahu semuanya, ternyata Mas Herman itu bukanya selingkuh dan kabur tapi Mas Herman itu sudah meninggal dan kamu yang sudah membunuhnya!" bentak Verra.


Doni membelalakan matanya, darimana Verra tahu masalah yang berbulan-bulan ini dia simpan dengan rapi.


"Ma--maksud kamu apa sayang?"


Verra pun melepaskan cincin tunangannya dan melemparnya ke arah Doni.


"Aku sudah memutuskan untuk membatalkan pertunangan kita, aku tidak mau menikah dengan pembunuh seperti kamu!" bentak Verra.


Doni geram dan mencengkram wajah Verra membuat semua orang yang ada disana terkejut. Yuda segera menghampiri Dr.Doni dan melepaskan cengkraman tangan Dr.Doni.


"Jangan pernah berbuat kasar kepada guru kami, lebih baik sekarang anda menyerahkan diri ke polisi dan renungkan dosa-dosa anda," seru Yuda.


"Kurang ajar, anak kecil jangan pernah ikut campur!" bentak Dr.Doni.


Dr.Doni hendak melayangkan tinjunya ke arah Yuda tapi tiba-tiba polisi datang. Secara diam-diam, Olive menghubungi polisi untuk datang ke rumah sakit.


"Saudara Doni jangan bergerak!"


Dr.Doni tidak bisa berbuat apa-apa saat polisi menghampiri Dr.Doni dan langsung memborgol tangan Dr.Doni.


"Terima kasih Dek, kami memang sedang mencari pelaku yang sudah membakar mobil saudara Herman."


"Sama-sama Pak."


Polisi pun langsung menyeret Dr.Doni, dia hanya bisa pasrah tanpa perlawanan. Sementara itu, Verra hanya bisa menangis tersedu-sedu mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


"Terima kasih Ay, kamu sudah memberitahukan yang sebenarnya," seru Bu Verra.


"Sama-sama Bu," sahut Ayumi yang masih lemas.


Ayumi menoleh ke sudut ruangan, disana Dr.Herman sudah berdiri dengan senyumannya.


"Terima kasih anak baik, sekarang saya bisa pergi dengan tenang."


Ayumi pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, sosok Dr.Herman pun langsung menghilang.


πŸ’€


πŸ’€


πŸ’€


πŸ’€


πŸ’€


Hallo guys, ini up Author yang terakhir ya karena Authornya mau libur lebaran dulu jangan lupa selalu setia menunggu up Author selanjutnyaπŸ™πŸ™


MINAL AIDZIN WALFAIDZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATINπŸ™πŸ™


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2