DISINI ADA SETAN

DISINI ADA SETAN
Mengakhiri Semuanya ( END )


__ADS_3

💀


💀


💀


💀


💀


Malam ini Denis tampak tidak bisa tidur, perutnya terasa sangat lapar.


"Ya ampun, perutku lapar banget ini," gumamnya.


Perlahan Denis bangun, dilihatnya Yuda, Farrel, dan Dillan tertidur dengan lelapnya. Denis bangkit dan keluar kamar secara perlahan karena takut membangunkan teman-temannya.


Lalu Denis menuju dapur dan mengambil mie instan dari dalam tasnya kemudian Denis mulai menyalakan kompor. Sembari menunggu mienya matang, Denis duduk di meja makan sembari menopang dagunya dan Denis tampak masih ngantuk.


Samar-samar Denis seperti melihat seorang wanita yang sedang memasak, Denis melepaskan kacamatanya kemudian membersihkannya dengan bajunya, Denis ingin memastikan kalau itu wanita sungguhan atau hanya halusinasinya saja.


Setelah Denis memakai lagi kacamatanya, ternyata memang ada wanita disana sedang mengangkat mie Denis.


"Ka--kamu siapa?" tanya Denis gugup ketakutan.


Wanita itu diam saja dan tetap membelakangi Denis, Denis sudah sangat ketakutan.


"Tidak boleh ada yang menempati Villa ini, karena Villa ini adalah milikku dan aku sangat membenci setiap pasangan yang datang kesini."


Wanita itu membalikan tubuhnya, wajahnya tampak pucat dan di perutnya masih tertancap pisau dengan darah yang masih mengalir.


"Se--se--setaaaaaannnn!" teriak Denis.


Denis hendak berlari tapi dia justru terjatuh dan entah mengapa tidak bisa bergerak sama sekali. Sosok perempuan itu mendekati Denis, wajah Denis sudah kelihatan sangat ketakutan bahkan wajahnya sudah basah dengan keringat.


Sosok perempuan itu, kemudian mencabut pisau yang menancap di perutnya sehingga darahnya menyembur ke wajah Denis membuat Denis semakin ketakutan.


"Kalian semua harus mati."


"Jangaaaaaannnn!" teriak Denis.


Clebbb....


Sosok perempuan itu menancapkan pisau itu tepat ke dada kiri Denis, Denis pun seketika tewas dengan mata yang melotot. Sementara itu, di kamar perempuan Venny tiba-tiba terbangun dengan mata yang memerah.


Venny bangkit dari tidurnya dan berjalan dengan sendirinya, pandangan Venny kosong dan terus berjalan hingga akhirnya Venny berhenti di bawah pohon besar yang tidak jauh dari danau.


Venny tersentak, dan betapa terkejutnya Venny karena saat ini dia sudah berada di luar.


"Ya ampun, kok aku ada disini?" gumam Venny.


Venny tampak celingukan hingga akhirnya Venny melihat sebuah sampan dan di atasnya ada seorang wanita yang sangat Venny kenal sedang mendayung sampan itu.


"Kak Bella, ngapain malam-malam kaya gini dia naik sampan?" gumam Venny.


Venny pun berlari ke pinggir danau. " Kak Bella, Kakak sedang apa disana?" teriak Venny.


Bella terus saja mendayung sampannya tanpa mendengarkan teriakan Venny.


"Astaga, ada apa dengan Kak Bella? aku harus memberitahukan teman-teman."


Venny hendak melangkahkan kakinya tapi dari dalam danau sebuah tangan muncul dan menarik kaki Venny.


"Toloooong...toloooong."


Venny sekuat tenaga berpegangan ke akar pohon yang berada di sekitar danau sembari terus memberontak tapi lama-kelamaan, tenaga Venny semakin lemah.

__ADS_1


"Siapapun tolong aku," seru Venny dengan deraian airmata.


Pegangan Venny semakin lemah, dan hingga akhirnya, tubuh Venny pun masuk ke dalam danau itu.


Di kamar perempuan, Ayumi tampak gelisah keringat sudah membasahi wajah Ayumi.


"Pulanglah, tempat ini berbahaya."


Ayumi pun tersentak dan langsung bangun, nafasnya memburu lagi-lagi Ayumi mendapat peringatan seperti itu.


Ayumi memperhatikan setiap sudut kamar itu dan yang terlihat hanya Sasa dan Olive yang masih tertidur lelap.


"Loh, Venny, Kak Bella, sama Kak Riska kemana?" batin Ayumi.


Ayumi melihat jam dinding dan baru menunjukan pukul setengah empat subuh, karena merasa curiga Ayumi pun memutuskan untuk keluar. Ayumi mengira kalau ketiga temannya itu sedang diluar ke toilet.


Dengan mata yang setengah mengantuk, Ayumi pun keluar dari dalam kamar dan saat menuju dapur, kaki Ayumi tersandung sesuatu dan Ayumi pun menyalakan lampu betapa terkejutnya Ayumi saat melihat jasad Denis yang melotot dengan pisau tertancap di dadanya.


"Aaaaaaaaaaa......!"


Tubuh Ayumi lemas sampai terjatuh ke lantai, semua orang yang mendengar teriakan Ayumi langsung keluar dari kamar.


"Ayumi, ada apa sayang?"


"Denis Kak, Denis," seru Ayumi dengan tubuh yang bergetar.


Sasa dan Olive menutup mulutnya saking terkejutnya melihat keadaan Denis.


"Astagfirullah, tempat ini sudah mulai tidak beres," seru Yuda.


Dillan dan Farrel hanya bisa terdiam, mereka tidak menyangka kalau temannya akan tewas dengan cara yang mengenaskan.


"Jangan ada yang menyentuh jasad Denis," seru Yuda.


Ayumi, Sasa, dan Olive saling berpelukan sembari menangis.


"Kita harus cari mereka, Lan tolong kamu hubungi polisi," seru Farrel.


"Oke..."


Dillan pun segera menghubungi polisi, disela-sela menunggu kedatangan polisi mereka pun mencari keberadaan teman-temannya lain.


Entah kenapa selama berada di Villa itu, kekuatan Yuda dan Ayumi seakan menghilang bahkan keduanya tidak bisa membedakan mana hantu dan mana manusia.


Mereka pun memeriksa setiap ruangan yang ada di Villa itu, hingga akhirnya Dillan melihat kakinya yang basah dengan air.


"Air...."


Dillan melihat ke arah kamar mandi yang berada di pojok dapur dan dari sela-selanya keluar air. Perlahan Dillan menghampiri kamar mandi itu, dan dengan tangan yang bergetar Dillan mulai memegang gagang pintu.


Ceklek...


Mata Dillan seketika melotot melihat Riska yang berada di bak air dengan mata yang melotot.


"Riskaaaaa!"


Semua orang langsung menghampiri Dillan, dan lagi-lagi mereka terkejut melihat jasad Riska. Ayumi, Sasa, dan Olive langsung menangis histeris.


"Tidak, tidak mungkin, kenapa teman-teman kita seperti ini," seru Ayumi.


Waktu pun berjalan dengan cepat, dan polisi pun akhirnya tiba. Polisi memeriksa jasad Denis dan Riska tapi tidak ada sidik jari disana, sedangkan yang lainnya duduk di sofa dengan mata yang kosong mereka sangat syok menyaksikan kematian teman-temannya.


"Pak, dua teman kami belum ditemukan," seru Farrel.


"Baiklah, anak buah saya akan menyisir tempat ini."

__ADS_1


Farrel memeluk Ayumi yang dari tadi terus menangis, begitu pun dengan Yuda yang berusaha menenangkan Sasa, Dillan pun sama menenangkan Olive.


Waktu sudah menunjukan pukul 06.00 pagi dan matahari sudah mulai menampakan diri, tiba-tiba dua orang polisi datang.


"Maaf Komandan, kami menemukan dua jasad perempuan mengambang di danau."


"Apa?"


Semuanya langsung menuju danau, lagi-lagi Ayumi, Sasa, dan Olive menangis histeris karena jasad yang ditemukan adalah jasad Bella dan Venny. Bahkan saat ini Yuda, Farrel, dan Dillan pun ikut meneteskan airmata, mereka tidak menyangka kalau liburan mereka kali ini berakhir dengan kehilangan empat sahabat mereka.


"Kalian harus segera meninggalkan tempat ini, keempat jasad ini biar ambulance yang membawanya."


"Pak, apa Bapak tidak mencari tahu siapa yang membunuhnya?" seru Yuda.


"Maaf Dek, tempat ini memang terkenal dengan keangkerannya dan kami sudah sering menangani kasus kematian misterius di Villa ini dan menurut cerita yang beredar, itu namanya danau keabadian dan arwah penunggu danau itu selalu mencari orang untuk menemaninya jadi untuk keselamatan adek-adek semua lebih baik sekarang kalian kembali pulang dan biar kami yang mengawal kalian."


Akhirnya semua pun kembali pulang dengan membawa kabar berita, Villa kamboja dengan danau keabadian di dalamnya resmi ditutup dan tidak boleh ada yang datang kesana lagi.


***


Satu bulan pun berlalu, semenjak kejadian mengenaskan itu Ayumi dan teman-temannya memutuskan untuk mengakhiri semuanya dan tidak mau lagi berurusan dengan makhluk-makhluk tak kasat mata itu.


Ayumi dan teman-temannya pun butuh waktu berminggu-minggu untuk menyembuhkan rasa trauma mereka.


Saat ini mereka sedang berada di makam keempat sahabat mereka, semuanya terdiam sejenak mengingat kenangan bersama saat suka maupun duka.


"Selamat jalan sahabat-sahabatku, semoga kalian tenang disana dan kami akan selalu mendo'akan kalian," seru Ayumi.


Setelah selesai mendo'akan, mereka pun bangkit dan memutuskan untuk pergi dari makam itu. Baru saja beberapa langkah, mereka menghentikan langkahnya dan semuanya menoleh ke belakang.


Terlihat Bella, Riska, Denis, dan Venny berdiri dan melambaikan tangan kepada semuanya. Dengan senyum yang disertai tangisan, Ayumi dan yang lainnya membalas lambaian tangan mereka.


Seketika angin berhembus dan membawa tubuh keempatnya menghilang.


"Yuk, kita pulang. Sudah saatnya kita move on karena mereka pun sudah bahagia," ajak Farrel.


Semuanya pun tersenyum dan pergi meninggalkan makam keempat sahabatnya itu.


( END )


💀


💀


💀


💀


💀


HALLO PARA READER, AKHIRNYA CERITANYA SELESAI JUGA. TERIMA KASIH YANG SUDAH MAMPIR DI CERITA RECEH AUTHOR, CERITA INI HANYA KARANGAN AUTHOR SEMATA JADI APABILA ADA KESAMAAN ATAU KEMIRIPAN ITU HANYA FAKTOR KEBETULAN SEMATA.


SAMPAI JUMPA DI CERITA AUTHOR SELANJUTNYA, SUN HANGAT UNTUK KALIAN SEMUA😘😘😘


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOU


__ADS_2