
💀
💀
💀
💀
💀
1 bulan pun berlalu....
Semenjak acara ulang tahun Venny, Farrel tidak pernah bertemu lagi dengan Papanya dan Farrel berharap tidak dipertemukan lagi dengan orang yang tidak punya perasaan itu.
Pagi ini seperti biasa, Farrel mengantarkan Ayumi berangkat ke kampus. Dan tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya motor sport milik Farrel pun sampai di halaman kampus Ayumi.
"Nanti pulang jam berapa?" tanya Farrel.
"Belum tahu Kak, nanti aku kasih kabar lagi sama Kakak kalau mau pulang."
"Oke, kalau begitu aku pergi dulu. Ingat, jangan macam-macam kalau ada laki-laki yang menggoda kamu bilang saja kamu sudah punya suami biar ga ada yang gangguin kamu."
"Idih ngarang, tenang saja tanpa diberi tahu pun aku ga bakalan macam-macam justru Kakak yang harus jaga pandangan dan hati, soalnya tatapan Kakak itu selalu membuat para gadis menjerit histeris."
Farrel mencubit kedua pipi Ayumi dengan gemasnya. "Buat apa cari gadis lain, kalau aku sudah punya gadis yang jauh segala-galanya."
"Dasar...."
"Sudah sana masuk, nanti kesiangan lagi."
"Ya sudah, aku masuk dulu ya."
Ayumi pun mulai melangkahkan kakinya dan Farrel pun tampak melambaikan tangannya. Setelah melihat Ayumi menghilang, Farrel pun mulai melajukan motornya meninggalkan kampus itu.
Ayumi berjalan dengan senyuman yang mengembang di wajah cantiknya itu, dari kejauhan Ayumi melihat Ariel yang berjalan di depannya dengan menundukan kepala seperti ada masalah yang sedang dialaminya.
Ayumi pun berlari menyusul Ariel. "Pagi Ariel!"
"Eh Ayumi, pagi juga Ay," sahut Ariel lemas.
"Aku lihat dari tadi kamu murung, ada apa Riel?"
"Ah tidak apa-apa kok Ay, aku hanya lagi memikirkan sesuatu saja."
Ayumi hanya tersenyum, Ayumi penasaran dengan hal yang sedang dipikirkan Ariel tapi Ayumi sadar kalau Ayumi juga tidak berhak kepo dengan urusan orang lain.
Tapi dari pengamatan Ayumi, Ariel sedang mengalami masalah yang berat.
"Kalau kamu butuh teman untuk bercerita jangan sungkan-sungkan cerita saja sama aku, karena kalau masalah dipendam itu tidak akan bagus."
"Iya Ay, terima kasih."
Ayumi dan Ariel pun masuk ke dalam kelas, selama proses belajar Ayumi terus saja memperhatikan Ariel dan Ariel terlihat melamun dan tidak fokus mengikuti mata kuliah kali ini.
"Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan Ariel? sepertinya ada sesuatu yang sangat berat yang sedang dia pikirkan," batin Ayumi.
Hingga mata kuliah pun berakhir, Ariel masih terlihat melamun. Ariel mengusap wajahnya kasar dan beberapa kali menghembuskan nafasnya.
__ADS_1
Waktu pulang pun tiba...
Seperti biasa Ariel pulang menggunakan angkot, dan tidak membutuhkan waktu lama Ariel pun sampai di sebuah rumah berlantai dua dengan plang yang bertuliskan Panti Asuhan Mutiara.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Kak Ariel!"
Seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Ratna itu langsung memeluk Ariel, wajahnya yang pucat membuat Ariel selalu saja ingin menangis setiap melihat Ratna.
Ariel dan Neneknya tinggal di sebuah panti asuhan milik kerabatnya dan Ratna adalah salah satu penghuni panti yang menjadi kesayangan Ariel.
Ariel dan Neneknya awalnya tinggal di kampung, tapi kerabat jauh Ariel yang tinggal di Jakarta tiba-tiba pulang kampung dan mengajak Ariel serta Neneknya untuk pindah ke kota bahkan kerabatnya itu yang bernama Om Tio membiayai sekolah dan kuliah Ariel secara cuma-cuma.
"Ratna sudah makan?" tanya Ariel.
"Sudah Kak, tadi Om Tio memberikan Ratna makanan yang enak," sahut Ratna.
Mata Ariel tampak berkaca-kaca melihat tubuh Ratna yang semakin hari semakin kurus.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? bagaimana cara aku menolong Ratna?" batin Ariel.
Ariel pun mengusap kepala Ratna dengan penih kasih sayang, Ariel sudah menganggap Ratna seperti adiknya sendiri.
"Ya sudah, sekarang Ratna istirahat ya Kak Ariel mau mandi dulu."
"Iya Kak."
Ratna pun akhirnya menuruti perintah Ariel dan masuk ke dalam kamarnya.
"Ariel, kamu sudah pulang Nak?"
"Ya sudah, kamu makan dulu sana karena Nenek sudah memasakan makanan kesukaan kamu."
"Ariel mandi dulu ya Nek, sekalian shalat dzuhur baru habis itu Ariel makan."
"Ya sudah, Nenek juga ke kamar dulu soalnya Nenek juga belum shalat."
Ariel dan Nenek pun masuk ke kamar masing-masing, Ariel duduk di ujung tempat tidurnya.
"Benar apa yang dikatakan Ayumi, sepertinya aku tidak kuat kalau harus menanggung beban ini sendirian. Sepertinya aku harus menceritakan semua ini kepada Ayumi, aku lihat Ayumi gadis yang baik pasti dia nanti punya jalan keluar untuk menyelesaikan masalahku ini," gumam Ariel.
Setelah sekian lama berpikir, Ariel pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
***
Disisi lain...
Saat ini Ayumi dan teman-temannya sedang berada di Caffe Farrel.
"Mas Farrel, ada yang ingin bertemu dengan Mas Farrel," seru salah satu pelayan disana.
"Siapa?" tanya Farrel.
"Sepertinya, itu Bapak-bapak orang tua gadis yang satu bulan lalu mengadakan acara ulang tahun disini."
Farrel menoleh ke arah Ayumi, dan Ayumi pun terlihat menganggukan kepalanya sembari tersenyum.
__ADS_1
"Temuilah, aku yakin semuanya akan baik-baik saja," seru Ayumi.
Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Farrel pun mengikuti ucapan Ayumi. Dia pun pergi untuk menemui Hikmal yang tidak lain adalah Papa kandungnya.
Hikmal terlihat duduk di meja yang ada di pojokan Caffe itu.
"Ada apa anda mencari saya?" seru Farrel.
Hikmal mendongakan kepalanya dan bangkit dari duduknya saat melihat Farrel sudah berdiri di hadapannya.
"Bisakah kita bicara sebentar."
"Baiklah, silakan duduk."
Saat ini Farrel dan Hikmal sudah duduk berhadap-hadapan.
"Apakabar Farrel? bagaimana kabarmu? Papa bangga karena sekarang kamu sudah tumbuh menjadi anak yang sukses bahkan memiliki Caffe sendiri."
"Terima kasih atas pujiannya, dan kabar saya baik-baik saja."
"Farrel, apa kamu masih marah kepada Papa?"
"Apa saya harus menjawabnya? saya rasa anda tahu apa jawabannya."
"Maafkan Papa Nak, dulu Papa terpaksa meninggalkan kalian karena Papa merasa Mama kamu tidak pernah perhatian sama Papa sampai akhirnya Papa bertemu dengan Mamanya Venny, dan dia memberikan perhatian yang selama ini tidak pernah Mama kamu berikan kepada Papa."
Farrel menatap tajam ke arah Hikmal dengan senyuman sinisnya.
"Anda sangat keterlaluan, apa anda tahu seberapa besar pengorbanan Mama untuk keluarga? tidak ada yang menginginkan hidup pindah-pindah Negara, anda tahu betapa tersiksanya hidup saya harus menjalani hidup seperti ini? Mama tidak punya pilihan lain, keahlian Mama hanya itu disaat Mama ingin melepaskan rasa lelahnya dengan pulang ke rumah, anda dengan asyiknya bercinta dengan wanita lain apa anda tidak memikirkan perasaan kami? masih untung saya tidak gila, karena diusia saya yang masih sangat muda harus mengalami hal yang sangat berat!" seru Farrel dengan emosinya.
"Apa anda memikirkan bagaimana psikis saya? pada saat itu mental saya dihajar terus-terusan dengan masalah kehidupan, apa anda berpikir bagaimana saya harus beradaptasi dengan semua keadaan?"
Farrel pun bangkit dari duduknya. "Terima kasih anda sudah meluangkan waktu untuk datang kesini dan menanyakan kabar saya, maaf kalau begitu saya pamit karena saat ini saya sedang sibuk."
Farrel pun langsung meninggalkan Hikmal yang saat ini masih terdiam dengan menundukan kepalanya.
Penyesalan memang selalu datang di akhir cerita, tapi itulah yang namanya hidup setiap perbuatan yang kita lakukan pasti ada sebab akibatnya.
💀
💀
💀
💀
💀
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU