
đź’€
đź’€
đź’€
đź’€
đź’€
1 tahun kemudian....
Seperti biasa, Ayumi dan teman-temannya sudah menjadikan Caffe milik Farrel sebagai tempat nongkrong.
Malam minggu ini, mereka kembali nongkrong di Caffe milik Farrel.
“Sayang, minggu depan aniversary kita yang ke tiga loh, kamu mau merayakannya dimana?” tanya Farrel.
“Astagfirullah, aku lupa Kak.”
“Wah, bagaimana kalau kita liburan sembari merayakan anniversarynya kalian,” usul Olive.
“Mantap tuh Liv, aku sudah lama ga liburan otak serasa panas,” sahut Bella.
“Bagaimana Ay?”
Ayumi menoleh ke arah Farrel..
“Boleh, kita liburan kemana?” tanya Farrel.
“Lan, coba kamu searching biasanya kamu paling cepat kalau masalah liburan,” seru Riska.
“Oh jelas dong, bentar aku cari dulu.”
“Bagaimana kalau kita ke Villa Kamboja.”
Semua orang menoleh ke sumber suara, ternyata Venny baru sampai di Caffe itu karena tadi ada sedikit urusan.
“Villa Kamboja? Dimana itu?” tanya Ayumi.
“Aku lupa nama daerahnya, Kak Dillan coba searching dong tempatnya bagus loh ada danau-danaunya gitu, aku pernah lihat dulu,” seru Venny.
Jemari Dillan pun dengan cepat langsung berselancar mencari tahu tentang Villa itu.
“Ketemu, Villanya ada di daerah xxx benar apa yang dikatakan Venny, viewnya bagus banget coba kalian lihat,” seru Dillan dengan menunjukan ponselnya.
“Wah, pasti tempatnya romantis banget,” seru Bella.
“Iya, aku jadi ga sabar pengen cepat-cepat pergi kesana,” sambung Riska.
Ayumi memperhatikan setiap gambar yang ada di ponsel Dillan itu.
“Kok tempatnya menyeramkan sih? Apa tidak apa-apa kita liburan kesana?” seru Ayumi.
“Idih, kamu mah Ay setiap tempat dibilang menyeramkan. Tempat indah dan romantis seperti ini dibilang menyeramkan, justru buat pasangan kekasih lokasinya pas banget mana sepertinya udaranya dingin lagi, pasti tambah romantis,” sahut Olive.
“Fix, minggu depan kita pergi kesana,” seru Bella.
“Setujuuuuuu.”
Semuanya menjawab serempak, hanya Ayumi yang merasakan ragu. Entah kenapa perasaannya tidak enak tapi Ayumi juga tidak mau egois dan tidak mau mengecewakan sahabat-sahabatnya.
Â
***
Waktu pun berjalan dengan cepat, hingga akhirnya waktu keberangkatan Ayumi dan teman-temannya pun tiba.
Mereka memutuskan menggunakan dua mobil yaitu, mobil Yuda dan juga mobil Olive.
__ADS_1
Kedua mobil itu mulai melaju menuju Villa Kamboja yang berada di daerah xxx, selama dalam perjalanan semuanya tampak bahagia dan antusias bernyanyi-nyayi riang gembira.
“Kamu kenapa sayang? Sepertinya kamu tidak bahagia?” tanya Farrel dengan menggenggam tangan Ayumi.
“Ah, tidak apa-apa kok Kak, aku hanya sedikit pusing saja.”
“Hah, pusing apa kamu bawa obat soalnya disini ga ada warung sayang.”
“Tidak apa-apa Kak, aku hanya butuh tidur saja.”
“Ya sudah, sekarang kamu tidur saja nanti kalau sudah sampai aku bangunin.”
Ayumi pun menganggukan kepalanya dan mulai memejamkan mata, sebenarnya Ayumi bukan pusing tapi Ayumi merasa tidak hati.
“Ya Allah, perasaan apa ini? Semoga tidak terjadi kenapa-napa dan kita bisa pulang kembali dengan selamat, amin,” batin Ayumi.
Butuh waktu berjam-jam untuk sampai di Villa Kamboja itu, soalnya tempatnya jauh dari perkotaan bahkan dari rumah penduduk pun terlihat sangat jauh.
Mereka semua sampai di Villa itu menjelang maghrib dan terlihat sudah sangat gelap.
"Akhirnya sampai juga," seru Venny.
"Wah, danaunya indah banget!" teriak Bella.
"Sudah-sudah, ayo masuk sudah mau malam juga kita shalat maghrib dulu," seru Yuda.
Ayumi memperhatikan danau itu dan terlihat di pinggir danau itu ada sebuah sampan, Ayumi merasa memang suasana di Villa itu sangat menyeramkan tapi Ayumi merasa tenang karena di Villa sebelah terlihat lampu menyala, dan Ayumi pikir pasti ada penghuninya.
"Jangan bengong, ayo kita masuk," ajak Farrel dengan menggandeng tangan Ayumi.
"Iya Kak."
Semuanya mulai mengambil air wudhu, karena mereka akan melaksanakan shalat maghrib hanya Bella yang tidak ikut karena dia saat ini sedang ada halangan.
Sementara yang lainnya melaksanakan shalat, Bella duduk termenung di teras Villa. Udara yang sangat dingin, membuat Bella semakin mengeratkan jaketnya.
"Kamu baru datang?" tanya pria itu.
"Iya, aku dan teman-teman baru saja sampai disini," sahut Bella.
"Kenalkan nama aku Rian, aku yang menghuni Villa sebelah."
Rian pun mengulurkan tangannya dan tentu saja Bella membalas uluran tangan Rian.
"Aku Bella."
Tapi Bella dengan cepat melepaskan tangannya.
"Kenapa?"
"Tangan kamu dingin banget."
"Iya, cuaca disini sangat dingin apalagi aku baru saja naik sampan itu jadi tangan aku terasa dingin," sahut Rian.
"Naik sampan kok malam-malam? memangnya kamu tidak takut?" tanya Bella.
"Justru disini paling asyik main sampan malam-malam, kalau siang kurang seru."
"Iyakah?"
"Iya, mau coba?" tawar Rian.
Bella terlihat terdiam, dia merasa ragu-ragu untuk menjawab.
"Pasti kamu takut ya? jangan takut, aman kok. Kalau kamu mau coba, besok malam kita naik sampan itu."
"Boleh."
"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu sampai jumpa besok."
__ADS_1
Pria yang bernama Rian itu akhirnya meninggalkan Bella, dan masuk ke dalam Villa yang terletak di sebelah Villa Bella.
"Woi, ngapain senyum-senyum sendiri?" seru Ayumi dengan menepuk pundak Bella.
"Eh Ay, barusan aku habis ngobrol sama penghuni Villa sebelah namanya Rian dan orangnya ganteng banget," sahut Bella antusias.
"Idih, cepat banget ya kalau masalah cowok ganteng, kenalin dong kali aja dia bawa teman-temannya lumayan kan selama liburan jadi ga terasa bosan," seru Venny.
Bella langsung masuk ke dalam tanpa memperdulikan ocehan Venny, karena memang dari awal Bella tidak suka kepada Venny.
"Kak Bella kenapa sih, kayanya benci banget sama aku," seru Venny.
"Bukan benci, mungkin lagi sensi aja soalnya Bella lagi datang bulan dan biasanya kamu ngerti kan?" sahut Ayumi.
Venny pun menyusul teman-temannya ke dalam Villa, sedangkan Ayumi kembali menoleh ke arah Villa yang ada di sebelah terlihat seorang pria sedang berdiri di balkon Villa dan tersenyum kepada Ayumi.
"Dia manusia apa setan sih? tapi masa iya, setan seperti itu, biasanya setan kalau bertemu dengan aku suka minta tolong dan ini tidak, mudah-mudahan dia memang manusia," batin Ayumi.
Pria yang bernama Rian itu, terus saja tersenyum dan kembali menoleh ke arah danau.
"Aku sudah menemukanmu, dan kita tidak akan terpisah lagi untuk selamanya," gumam Rian.
Rian pun masuk ke dalam Villanya dan Ayumi pun hanya bisa memperhatikannya. Tiba-tiba Ayumi dibuat terkejut karena sebuah tangan melingkar di perutnya.
"Astagfirullah Kak Farrel."
"Kamu sedang apa disini sendirian?"
"Aku sedang lihat-lihat pemandangan saja."
Farrel pun melepaskan pelukkannya, dan membalikan tubuh Ayumi. Lalu Farrel mengeluarkan kotak kecil dari dalam jaketnya, kemudian berlutut di hadapan Ayumi.
"Tidak terasa hubungan kita sudah menginjak tahun ke tiga walaupun di dua tahun awal, kita menjalani LDR. Di hari yang spesial ini, aku ingin hubungan kita semakin serius lagi karena aku sudah memutuskan untuk memilihmu menjadi pendampingku. Jadi maukah kamu menjadi pendampingku dan menemani aku disaat suka maupun duka?" seru Farrel.
Mata Ayumi sudah berkaca-kaca saking bahagianya, hingga tanpa berpikir lagi, Ayumi pun menganggukkan kepalanya.
"Iya Kak, aku mau."
Farrel pun segera memakaikan cincin itu ke jari manis Ayumi, Ayumi tampak bahagia. Farrel pun bangkit dan memeluk kekasihnya itu.
"Terima kasih sayang, I Love You."
"I Love You Too."
Farrel sangat bahagia akhirnya Ayumi menerima lamarannya, tidak ada yang paling membahagiakan untuk Farrel selain bisa bersama Ayumi untuk selamanya.
đź’€
đź’€
đź’€
đź’€
đź’€
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1