
💀
💀
💀
💀
💀
Keesokan harinya...
Seperti biasa Olive setiap pulang sekolah tidak langsung pulang, Olive dan juga Sasa suka main terlebih dahulu di rumah Ayumi.
Kedua orangtua Olive dan Sasa adalah pekerja kantoran dan selalu pulang larut malam, jadi Olive dan Sasa banyak menghabiskan waktu bersama Ayumi dibandingkan pulang ke rumah yang hanya ditemani oleh ART.
"Ay, apa saat ini Disha ada disini?" tanya Sasa.
"Ada."
"Gue penasaran tahu dengan wajah Disha, bisakah lo nunjukin wajahnya biar kita ga penasaran," sahut Sasa.
"Lo yakin mau lihat Disha?" tanya Ayumi meyakinkan.
"Eh tunggu, wajahnya ga seram kan? kalau seram gue ga jadi lihat."
"Kalau sekarang enggak sih."
"Gue juga mau lihat dong," seru Olive.
"Ya sudah, kalian pegang tangan gue. Disha kamu pegang pundak Kakak ya!"
Disha pun menganggukan kepalanya sembari menghampiri Ayumi.
"Sudah siap?"
Olive dan Sasa menganggukan kepalanya, akhirnya Disha pun memegang pundak Ayumi.
"Hai Kak Olive, hai Kak Sasa!" sapa Disha dengan melambaikan tangannya.
"Ha--hai Dis--disha," sahut Olive gelagapan.
Sementara itu Sasa hanya bisa melongo, menurut pikirannya Disha memang anak yang cantik dengan wajah blasteran Belanda itu, tapi wajah pucatnya tetap saja membiat Sasa dan Olive ngeri.
Keduanya langsung melepaskan tangan mereka, dan Disha pun hilang dalam pandangan mereka.
"Disha memang cantik, tapi wajah pucatnya buat gue ngeri," seru Olive.
"Hooh, setuju."
"Bapaknya sungguh kejam ya, membunuh anak sekecil itu dengan cara yang sadis," seru Olive.
"Dasar ga punya otak," sambung Sasa.
Disha hanya bisa menundukan kepalanya, Bapaknya memang sudah sadis membunuh dirinya tapi Disha tidak pernah marah atau pun dendam kepada Bapaknya, dia hanya ingin menemukan potongan tangannya biar dia bisa pergi dengan tenang.
Tidak terasa waktu sudah menujukan waktu maghrib. Setelah ketiganya shalat berjama'ah, Olive dan Sasa pun pamit pulang.
Seperti biasa, Olive mengantarkan Sasa pulang ke rumahnya dan setelah itu Olive pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Dari kejauhan, Olive pun melihat ada seseorang yang sedang berdiri di pinggir jalan dan lagi-lagi itu Moza.
"Itu kan Moza."
Olive pun menghentikan mobilnya di depan Moza.
__ADS_1
"Lo lagi ngapain?" tanya Olive.
"Lagi nungguin taksi."
"Ayo masuk, gue anterin lo pulang."
"Memangnya ga ngerepotin?"
"Enggak, ayo rumah lo kan searah dengan rumah gue."
Moza pun masuk ke dalam mobil Olive dan Olive pun mulai melajukan mobilnya.
"Lo habis darimana? kenapa setiap gue lewat, lo selalu disana?" tanya Olive penasaran.
"Oh, gue habis bertemu dengan Mama gue."
"Mama lo? memang Mama lo kemana? lagipula itu jembatan loh, memangnya lo ga takut nungguin taksi disitu? nanti supir taksinya bukanya berhenti malah akan mengira lo hantu."
Moza hanya tersenyum tanpa mau menjawab pertanyaan dari Olive. Tidak lama kemudian, mobil Olive pun sampai di depan gerbang rumah Moza.
"Ayo masuk dulu, katanya nanti kalau bertemu lagi mau mampir dulu," seru Moza.
Awalnya Olive tampak ragu-ragu tapi pada akhirnya Olive pun mengiyakan ajakan Moza.
Moza terlihat sangat bahagia saat Olive mau mampir ke rumahnya, disaat Olive masuk ke rumah Moza suasana rumah itu tampaklah sangat menyeramkan.
"Moza, kok rumahnya sepi? memangnya lo tinggal sama siapa disini?" tanya Olive.
"Gue tinggal sendirian disini, gue sangat kesepian maka dari itu gue sangat senang saat kenal sama lo, gue jadi punya teman. Lo duduk saja dulu, gue ambilkan minuman dulu."
Olive pun dengan ragu-ragu duduk di sofa yang dirasa sangat dingin itu, Olive memperhatikan setiap sudut rumah yang lumayan besar itu.
"Si Moza kok berani sih tinggal disini sendirian, serem banget gini," batin Olive.
"Astagfirullah."
"Maaf sudah ngagetin lo, ini minumannya diminum dulu," seru Moza.
"Ah iya."
Olive hanya memperhatikan minuman yang berwarna merah itu, rasanya Olive enggan meminum minuman itu.
Moza pun duduk di samping Olive. "Kok malah dilihatin, ayo diminum dulu," seru Moza.
"I--iya."
Perlahan Olive pun mencicipi minuman itu tapi Olive langsung mual karena menurut Olive bau minumannya sangat aneh.
"Kenapa?"
"Kok minumannya aneh ya?"
"Masa sih? itu minuman biasa kok."
Olive pun menyimpan minuman itu di atas meja dan kembali memperhatikan rumah yang terasa dingin dan lembab itu.
"Lo ga takut tinggal sendirian disini?" tanya Olive.
"Enggak, gue sudah biasa."
"Orangtua lo kemana?"
"Mama gue sudah ga ada disini, dan Papa gue juga sudah ga ada disini."
"Maksudnya?"
__ADS_1
Lagi-lagi Moza hanya tersenyum misterius membuat Olive semakin merinding, akhirnya Olive pun berpamitan kepada Moza. Selama dalam perjalanan Olive merasa kalau Moza aneh.
***
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, semenjak saat itu Olive selalu bertemu dengan Moza di jembatan itu dan setiap Olive bertanya, Moza selalu menjawab kalau dia habis menemui Mamanya.
Aneh memang, soalnya jarak perumahan ke jembatan itu lumayan jauh dan masa iya Moza jalan dari perumahan hanya untuk mencari taksi, padahal kan Moza bisa saja memesan taksi online atau pun menunggu taksi di perumahan saja kenapa mesti ke jembatan.
Hal-hal aneh itu mulai berseliweran di otak Olive, Olive mulai curiga dan berpikiran yang aneh-aneh.
"Woi, lo kenapa dari tadi melamun terus? nanti lo kesambet loh," seru Ayumi.
"Gue lagi mikirin teman baru gue," sahut Olive.
"Teman baru lo?" seru Ayumi dan Sasa bersamaan.
"Iya, gue punya teman baru tapi menurut gue dia aneh."
"Aneh? aneh bagaimana maksud lo?" tanya Sasa.
"Gue bertemu dia kalau gue pulang lewat maghrib, tapi kalau gue pulang siang gue ga pernah lihat dia di jembatan."
"Di jembatan? maksud lo apa sih gue ga ngerti?" tanya Ayumi.
Olive pun akhirnya menceritakan awal mula dia bertemu dengan Moza, dan itu membuat Ayumi dan Sasa mengerutkan keningnya.
"Jangan-jangan dia setan, Liv," seru Sasa.
"Ga mungkin Sa, dia itu kaya kita bahkan gue juga sempat mampir ke rumahnya tapi memang dia aneh sih, gue suka merinding kalau dekat dengan dia. Dan yang lebih membuat gue aneh, kalau dia setan gue ga mungkin bisa lihat dia, gue kan bukan anak indigo kaya Ayumi," sahut Olive.
"Benar juga."
"Tunggu, memang rumah dia dimana?" tanya Ayumi.
"Di daerah xxx dan kalau ga salah rumahnya itu no 13," sahut Olive.
"Supaya lo ga penasaran, bagaimana kalau pulang sekolah nanti kita ke rumahnya? sekalian gue juga ingin ketemu sama teman baru lo itu," seru Ayumi.
"Setuju," sahut Sasa.
"Boleh, nanti pulang sekolah kita ke rumahnya."
💀
💀
💀
💀
💀
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1