
💀
💀
💀
💀
💀
Kuliah pertama sangat melelahkan untuk Ayumi dan teman-temannya, karena sore hari baru selesai.
“Ay, sorry aku ga bisa antar kamu pulang soalnya aku ada keperluan,” seru Yuda.
“Iya ga apa-apa Yud, santai saja lagipula antar jemput aku jangan dibuat suatu kewajiban karena aku bisa sendiri kok,” sahut Ayumi.
“Ya sudah, kamu hati-hati ya aku pulang duluan.”
“Oke.”
“Yuda tunggu! Aku ikut dong, rumah kita kan satu arah!” teriak Venny.
“Ga bisa, aku lagi buru-buru.”
Yuda pun segera berlari karena takut Venny ikut dengannya.
“Ih, menyebalkan sekali. Ya sudah guys, aku pulang duluan ya sampai jumpa besok,” seru Venny.
Ayumi, Sasa, Olive, dan Denis pun melambaikan tangannya kepada Venny.
“Kayanya si Venny suka sama Yuda,” seru Denis.
“Bisa jadi,” sahut Sasa.
“Ay, kamu mau pulang bareng siapa? Aku atau sama Olive dan Sasa?” tanya Denis.
“Ya bareng kitalah, ngapain bareng kamu,” ledek Olive.
“Kali aja Ayumi khilaf dan mau bareng sama aku, ya sudah kalau begitu aku duluan ya.”
“Bye....”
Ayumi dan kedua temannya kembali melangkahkan kakinya.
“Eh tunggu!”
“Ada apa Ay?” tanya Sasa.
“Ponsel aku ketinggalan di kelas, aku ambil dulu ya.”
“Kita temenin.”
Ketiga gadis itu pun akhirnya dengan terpaksa kembali lagi ke kelas untuk mengantar Ayumi mengambil ponselnya yang tertinggal.
Suasana kampus yang sudah sepi membuat bulu kuduk ketiganya berdiri.
“Astaga, merinding banget,” gumam Olive.
Sesampainya di depan kelas, Ayumi pun segera berlari masuk ke dalam kelas sedangkan Sasa dan Olive menunggu di depan pintu.
“Ya ampun, kok bisa sih aku sampai lupa sama ponsel aku sendiri,” gumam Ayumi.
Benar saja, ponsel Ayumi tergeletak di atas meja dan Ayumi segera mengambilnya tapi tiba-tiba Ayumi terdiam, arwah Anjani sudah berada di belakang Ayumi membuat Ayumi tidak bisa bergerak sama sekali.
Arwah Anjani pun langsung memegang pundak Ayumi, tubuh Ayumi bergetar seperti tersengat listrik dan seketika kejadian yang menimpa Anjani tergambar di otak Ayumi.
Flash back on....
Kejadian itu terjadi sepuluh tahun yang lalu, seorang gadis manis bernama Anjani menjalani kuliah seperti biasanya.
Anjani termasuk mahasiswi yang pandai, awalnya Anjani adalah seorang anak penjaga kantin di kampus itu karena keterbatasan ekonomi dan Ibunya tidak sanggup membiayai Anjani untuk kuliah.
__ADS_1
Anjani bercita-cita ingin menjadi seorang dokter, akibat cita-cita yang tinggi akhirnya secara diam-diam Anjani suka mengintip dibalik jendela kelas fakultas kedokteran dan mengikuti pelajaran yang berikan oleh Pak Anjas.
Pak Anjas yang tahu akan kelakuan Anjani, akhirnya merasa kasihan dan membiayai kuliah Anjani. Anjani dan Ibunya merasa sangat bahagia akan kebaikan Pak Anjas tanpa merasa curiga apa pun.
Hingga akhirnya kejadian mengerikan itu terjadi, kuliah kedokteran merupakan kuliah terlama dan membutuhkan banyak biaya dan Anjani sangat beruntung mendapatkan beasiswa atas kebaikan Pak Anjas.
Tok..tok..tok..
“Masuk.”
Anjani masuk ke ruangan lab itu, disana terdapat Pak Anjas yang sedang mengerjakan sesuatu.
“Sore Pak!”
“Oh Anjani, ada apa?”
“Ini Pak, aku mau memperlihatkan skripsi yang sudah aku buat.”
“Oh iya, coba sini Bapak lihat.”
Anjani pun menghampiri Pak Anjas dan berdiri di hadapan meja Pak Anjas, sedangkan Pak Anjas terlihat memeriksa skripsi yang sudah dibuat oleh Anjani.
“Bagus.”
Anjani sangat bahagia, tapi berbeda dengan Pak Anjas yang terlihat memperhatikan Anjani penuh minat. Pak Anjas memang sudah hidup menduda selama dua tahun, melihat Anjani membuat hasrat Pak Anjas muncul.
Perlahan Pak Anjas mendekati Anjani dan membelai rambut Anjani membuat Anjani memundurkan langkahnya.
“Anjani, aku sudah lama menyukaimu maukah kamu menikah denganku?” seru Pak Anjas.
Anjani sangat terkejut, mana mungkin dia menikah dengan pria yang seumuran dengan Bapaknya itu.
“Maksud Bapak apa?” tanya Anjani mulai gugup.
“Kamu tahu, kuliah kedokteran itu tidak sebentar dan membutuhkan biaya besar, kalau bukan karena bantuan saya, kamu tidak akan bisa masuk kuliah,” seru Pak Anjas.
“Hah....”
“Di dunia ini tidak ada yang gratis Anjani, seharusnya kamu mengerti dan tahu diri ada imbalan di setiap yang saya lakukan."
"Membutuhkan waktu bertahun-tahun supaya kamu bisa melunasinya, tapi sayangnya saya tidak membutuhkan uangmu cukup kamu mau menjadi istriku."
Anjani menggelengkan kepalanya. "Ti--tidak Pak, aku tidak bisa menikah dengan Bapak karena aku sudah menganggap Bapak seperti Bapak aku sendiri."
"Oke, kalau kamu tidak mau menikah dengan saya, sekarang juga kamu harus membayar biaya yang sudah saya keluarkan selama ini."
Anjani membelalakan matanya, sungguh Anjani sangat menyesal menerima bantuan dari Pak Anjas kalau akhirnya akan menjadi seperti ini.
Pak Anjas kembali menghampiri Anjani dan mengelus pipi mulus Anjani tapi Anjani menepis tangan Pak Anjas. Anjani menggenggam erat ponsel jadulnya sehingga tanpa sengaja Anjani menekan tombol rekam sehingga semua ucapan mereka terekam di dalam ponsel itu.
"Maaf Pak, kalau aku tahu Bapak akan meminta imbalan seperti itu, aku tidak akan menerima bantuan dari Bapak. Biarlah aku tidak menjadi seorang Dokter kalau pada akhirnya aku harus menikah dengan Bapak!" bentak Anjani dengan deraian airmata.
Pak Anjas merasa geram dan mencengkram wajah Anjani sehingga Anjani meringis kesakitan.
"Jadi kamu lebih memilih mengorbankan karir kamu yang sudah di depan mata itu karena kamu tidak mau menikah dengan saya?"
"Ma--af Pak, a--ku ti--dak bi--sa."
Pak Anjas sangat emosi, Pak Anjas akhirnya berusaha ingin melecehkan Anjani. Suasana sore di kampus itu sangat sepi karena semua mahasiswa sudah pulang, sehingga teriakan Anjani tidak bisa terdengar oleh siapa pun.
Ponsel Anjani terlempar dan masuk ke dalam kolong meja lab.
"Lepaskan aku Pak, tolong jangan lakukan itu," mohon Anjani.
Tapi Pak Anjas yang memang sudah dikuasai hawa nafsu tidak mendengarkan rengekan Anjani. Hingga akhirnya dengan sekuat tenaga Anjani menendang perut Pak Anjas sehingga Pak Anjas terjungkal ke belakang.
Anjani segera bangkit dan hendak keluar dari ruangan lab itu tapi Pak Anjas dengan cepat berdiri dan menangkap tubuh Anjani. Pak Anjas kembali memaksa Anjani dan menyudutkan Anjani ke dinding dekat jendela.
Anjani berusaha melawan dan memberontak sehingga tangannya berusaha membuka kunci jendela, Anjani berpikiran lebih baik lompat dari jendela itu daripada harus dilecehkan oleh Dosennya itu.
Setelah jendela terbuka, Anjani kembali mendorong tubuh Pak Anjas dan dengan cepat Anjani melompat dari jendela lantai dua itu.
"Tidaaaakkkk...." teriak Pak Anjas.
__ADS_1
Anjani tewas seketika dengan tulang leher patah dan tengkorak kepala hancur membuat Pak Anjas merasa ketakutan. Pak Anjas segera pergi dari kampus itu dan membiarkan jasad Anjani begitu saja.
Flash back off....
Tubuh Ayumi lemas dan tergeletak di lantai, tapi sebelum mata Ayumi tertutup Ayumi masih mendengar samar-samar suara Anjani.
"Tolong aku!"
Akhirnya Ayumi pun tak sadarkan diri, Sasa dan Olive melihat ke dalam kelas karena Ayumi merasa sangat lama.
Betapa terkejutnya mereka saat melihat Ayumi tergeletak tak sadarkan diri.
"Ayumi!" teriak Sasa dan Olive bersamaan.
"Ay, bangun Ay kamu kenapa?" seru Olive.
"Bagaimana ini Liv, kita ga bakalan kuat mengangkat tubuh Ayumi," seru Sasa.
Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar mendekat, membuat Sasa dan Olive merasa ketakutan.
"Liv, itu suara langkah kaki siapa?"
"Aku juga ga tahu."
Keduanya sudah sangat ketakutan sampai-sampai mereka memejamkan matanya saking ketakutannya.
"Loh, kalian lagi ngapain disini?"
Sasa dan Olive membuka matanya. "Ariel..." seru Sasa dan Olive bersamaan.
"Ayumi kenapa?"
"Ga tahu Ril, tiba-tiba dia pingsan tolong dong bawa Ayumi ke mobilku."
Akhirnya Ariel pun mengangkat tubuh Ayumi dan membawanya ke mobil Olive.
"Terima kasih ya Ril."
"Sama-sama."
"Oh iya, ngomong-ngomong kok kamu belum pulang Ril?" tanya Sasa.
"Tadinya mau pulang, tapi tadi aku lihat kalian balik lagi ke kelas jadi aku susul kalian. Terus kalian mau ngapain balik lagi ke kelas?" tanya Ariel.
"Ponsel Ayumi ketinggalan di kelas jadi kita temenin Ayumi balik lagi ke kelas, tapi tidak tahu kenapa Ayumi tiba-tiba pingsan," sahut Olive.
"Ya sudah, kalian cepat-cepat bawa Ayumi ke klinik takutnya terjadi kenapa-napa sama Ayumi."
"Baiklah, kalau begitu kita duluan ya Ril."
Olive pun segera melajukan mobilnya meninggalkan kampus.
💀
💀
💀
💀
💀
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU