
đź’€
đź’€
đź’€
đź’€
đź’€
Di dalam perjalanan, Ayumi tampak sadar membuat Olive segera menepikan mobilnya.
“Alhamdulillah, kamu sadar juga Ay.”
“Sebenarnya tadi kamu kenapa? Kok bisa pingsan segala?” tanya Sasa sembari menyodorkan air mineral kepada Ayumi.
Ayumi pun mulai duduk dan menyandarkan tubuhnya di kursi mobil, kemudian meminum air mineral yang diberikan oleh Sasa.
“Tadi aku bertemu dengan Arwahnya Anjani.”
“Apa?” seru Sasa dan Olive bersamaan.
“Terus, dia mau apa?” tanya Olive.
“Ternyata Anjani bukan bunuh diri karena gagal skripsi seperti asumsi para mahasiswa itu.”
“Terus apa dong?” tanya Olive.
Ayumi mulai menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, kemudian Ayumi menceritakan semuanya kepada dua sahabatnya itu.
“Gila, ternyata dibalik wajah yang berwibawa itu ada sifat menjijikan yang Pak Anjas sembunyikan,” geram Sasa.
“Terus bagaimana cara kita menolong Anjani? Satu-satunya alat buktinya ponsel Anjani yang terjatuh di dalam ruangan itu,” seru Olive.
“Iya, dan yang jadi masalahnya bagaimana caranya kita bisa masuk ke dalam ruangan lab itu? Kalau kita meminjam kuncinya kepada penjaga kampus, pasti mereka akan curiga dan banyak tanya juga,” seru Ayumi.
“Ya sudah, besok kita obrolin lagi sama anak-anak kali aja mereka ada yang punya ide,” sahut Sasa.
“Betul itu,” sambung Olive.
Akhirnya Olive pun kembali melajukan mobilnya.
Â
***
Di taman kampus....
Ayumi dan teman-temanya sudah berkumpul, mereka sengaja janjian pagi-pagi sebelum Venny sampai di kampus.
Semuanya tampak terkejut dengan penjelasan Ayumi.
“Gila, tuh Dosen sungguh sangat menjijikan,” geram Bella.
“Terus langkah selanjutnya bagaimana? Kasihan loh arwah Anjani pasti selama sepuluh tahun ini dia gentayangan karena ingin melihat pembunuhnya dihukum,” seru Riska.
“Ya sudah, bagaimana kalau malam ini kita selesaikan misteri ini?” usul Denis.
“Ay, aku kan sering bilang sama kamu jangan pernah kamu berurusan sama para setan itu,” seru Yuda.
“Tapi mereka yang menghampiri aku Yud, dan setiap para arwah penasaran itu memperlihatkan bagaimana caranya dia meninggal, aku selalu kasihan dan ingin membantunya,” sahut Ayumi.
“Memangnya kenapa sih Yud, kalau Ayumi bantuin para arwah itu? Kan ini juga suatu kebaikan,” seru Bella.
“Iya, tapi aku takut aja Ayumi terkena bahaya,” sahut Yuda.
“Kalau aku dalam bahaya, kan ada kamu yang nolongin aku,” goda Ayumi.
Blush...
Seketika wajah Yuda memerah...
“Ya sudah, supaya misteri ini cepat selesai nanti malam kita kesini lagi,” seru Yuda.
“Oke, kita kumpul disini jam delapan malam,” sahut Dillan.
“Setuju.”
Akhirnya Ayumi dan teman-temannya memutuskan malam ini mencoba membantu arwah Anjani yang sedang menuntut keadilan.
Â
__ADS_1
***
Malam pun tiba...
Sesuai janji, tepat jam delapan malam mereka berkumpul di gerbang kampus.
Dillan meminta izin kepada satpam untuk masuk karena ada barang-barang mereka yang ketinggalan di kelas dan dengan mudahnya si satpam membiarkan Ayumi dan yang lainnya masuk.
“Sekarang tinggal minta kunci labnya kepada penjaga kampus ini,” seru Denis.
“Biar aku yang handle,” sahut Dillan.
Dillan pun menghampiri Pak Wardi, selaku penjaga kampus dan yang memegang kunci setiap kelas di kampus itu.
Tidak lama kemudian, Dillan kembali menghampiri teman-temannya dengan memperlihatkan kunci yang sudah berhasil dia bawa.
“Gila, jago benar kamu kok bisa Pak Wardi dengan mudah memberikan kunci itu?” tanya Bella.
“Aku sogok dia sama rokok dan duit, hari gini gitu loh mana ada yang bakalan nolak kalau disuguhi duit,” sahut Dillan.
“Tumben otamu encer,” ledek Yuda.
“Ah, sembarangan otakku dari dulu memang encer,” sahut Dillan dengan menoyor kepala Yuda.
“Dasar kampret.”
“Sudah-sudah, ayo jalan ini bukan saatnya untuk bertengkar,” kesal Ayumi.
Mereka pun mulai melangkahkan kakinya menuju ruangan lab itu, Bella, Riska, Sasa, dan Olive mulai saling berpegangan karena merasa takut.
“Astaga, serem banget nih kampus kalau malam hari,” seru Dillan dengan menarik baju Yuda.
“Astaga lepasin kampret, baju aku ini mahal nanti sobek kalau kamu tarik-tarik kaya gitu,” kesal Yuda.
Akhirnya mereka pun sampai di depan ruangan lab itu, suasana berubah menjadi sangat menyeramkan apalagi bulu kuduk mereka tiba-tiba berdiri.
Ayumi pun segera membuka gembok itu, dan pintu pun terbuka. Yuda menyalakan senternya dan mencari saklar untuk menghidupkan lampu.
Setelah ketemu, Yuda pun segera menghidupkan lampunya. Suasana di dalam ruangan sangat dingin dan terlihat peralatan lab yang sudah tidak terurus lagi dan penuh debu.
Semuanya memperhatikan setiap ruangan tersebut, sedangkan Ayumi langsung menuju meja yang ada dalam bayangan Ayumi.
Ayumi mencoba mencari ponsel Anjani yang terjatuh ke kolong meja.
"Memangnya ponsel itu masih bisa hidup? sudah sepuluh tahun loh Ay," seru Yuda.
"Entahlah kita coba saja," sahut Ayumi.
"Ya sudah, ayo kita keluar dari ruangan ini perasaanku sudah ga enak ini," seru Dillan.
Mereka semua pun keluar dari ruangan lab itu dan kembali menguncinya, sosok Anjani muncul dan terlihat tersenyum. Setelah mengebalikan kunci ke penjaga kampus, semuanya pun meninggalkan kampus itu.
Mereka mampir ke sebuah restoran dulu, Ayumi tampak mengotak-ngatik ponsel milik Anjani.
"Mati."
"Kayanya butuh di carz deh," seru Sasa.
"Sini aku saja yang bawa, nanti aku benerin dulu ke counter teman aku mudah-mudahan masih hidup karena ini adalah satu-satunya barang bukti," seru Dillan.
Akhirnya malam ini mereka pun kembali ke rumah masing-masing, sungguh malam ini adalah malam melelahkan bagi mereka.
***
Dua hari kemudian....
"Guys, ponselnya sudah diperbaiki dan Alhamdulillah masih bagus," seru Dillan.
Ayumi segera mengambilnya dan memeriksa rekaman di ponsel jadul itu, dan ternyata rekaman itu masih ada dan sangat jelas.
"Idih, najis menjijikan sekali itu Dosen," cibir Bella.
"Nanti pulang kuliah kita harus ke kantor polisi dan serahkan bukti-bukti ini," seru Denis.
"Setuju."
"Apanya yang setuju," seru Venny.
"Ah, tidak ada apa-apa," sahut Ayumi.
"Eh guys, ada caffe baru loh tidak jauh dari kampus ini dan kata anak-anak pemiliknya masih muda, tampan lagi, bagaimana kalau nanti pulang kuliah kita kesana," seru Venny.
__ADS_1
"Maaf Ven, ga bisa soalnya nanti pulang kuliah kami ada urusan jadi ga bisa ikut sama kamu," sahut Ayumi.
"Urusan apa? ih kok aku ga diajak sih."
"Bukan urusan yang penting kok Ven," sahut Olive.
"Lagian, kamu ga perlu kepo kali sama urusan kami," ketus Bella.
"Maksud kamu apa?" kesal Venny.
"Sudah-sudah, yuk kita ke kelas sebentar lagi mata kuliah kita dimulai," seru Ayumi.
Ayumi dan teman-temannya pun pamit kepada Bella, Riska, dan juga Dillan.
Waktu pulang pun tiba...
Sesuai janji, Ayumi dan teman-temannya datang ke kantor polisi untuk memberikan laporan mengenai misteri kematian Anjani sepuluh tahun yang lalu.
Dengan berbekal barang bukti ponsel yang berisi percakapan antara Pak Anjas dan Anjani, polisi pun segera meluncur ke rumah Pak Anjas.
Ayumi dan yang lainnya mengikuti polisi itu menuju ke rumah Pak Anjas, tidak ada perlawanan dari Pak Anjas setelah polisi mempelihatkan barang buktinya, Pak Anjas hanya bisa pasrah karena dia tidak bisa mengelak lagi.
Polisi pun segera membawa Pak Anjas ke kantor polisi.
Bella bertos ria dengan Riska. "Akhirnya si tua bangka itu di tangkap juga, syukurin," cibir Bella.
"Akhirnya aku bisa memecahkan misteri arwah Anjani yang melegenda itu," batin Ayumi.
"Tos dulu dong," seru Sasa dengan mengulurkan tanganya.
Semuanya tersenyum dan menautkan tangan mereka satu sama lain.
"Berhasil!" teriak semuanya.
Akhirnya Ayumi berhasil memecahkan misteri ruang kosong dan arwah Anjani yang melegenda itu. Ada perasaan bahagia dan bangga dalam diri Ayumi, karena sudah membantu menyelesaikan masalah walaupun yang dibantu Ayumi bukanlah manusia melainkan para arwah penasaran.
đź’€
đź’€
đź’€
đź’€
đź’€
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
__ADS_1
Â
Â