DISINI ADA SETAN

DISINI ADA SETAN
Menolong Lula Part II


__ADS_3

πŸ’€


πŸ’€


πŸ’€


πŸ’€


πŸ’€


Ayumi pun sampai di toko kue milik Mamanya, Ayumi melepaskan pelukkannya.


"Loh, kok aku jadi pelukkin Kakak?" tanya Ayumi polos.


"Memangnya kamu baru sadar kalau dari tadi juga kamu pelukkin aku."


"Astaga, kenapa Kakak ga bilang? maaf ya aku benar-benar ga sadar."


"Santai aja lagi, aku ga apa-apa kok."


"Tapi aku takut Kak Bella marah."


"Bella marah? memang apa hak dia? kenapa dia harus marah?" tanya Farrel.


"Loh, bukannya Kakak pacaran ya sama Kak Bella?"


"Siapa bilang?"


"Kak Bellanya sendiri."


"Jangan di percaya, dia orangnya memang suka halu."


"Loh Sayang, kok kamu sudah pulang sih? jangan bilang kamu bolos sekolah?" seru Mama Anis.


"Tidak Ma, Ayumi tidak bolos sekolah."


"Maaf Tante, Ayumi tadi sakit makannya sekarang dia pulang," sahut Farrel.


"Kamu siapa?" tanya Mama Anis.


"Oh iya, kenalkan Tante saya Farrel temannya Ayumi, saya khawatir kalau Ayumi pulang sendirian makannya saya memutuskan untuk mengantar Ayumi pulang."


"Oh, ya sudah ayo masuk dulu," ajak Mama Anis.


Farrel tampak takjub dengan isi toko kue itu, ada mini caffe juga untuk yang mau menikmati kue di sana dengan di temani kopi.


"Kakak duduk dulu, aku mau ambilkan kue buatan Mama, Kakak harus coba karena rasanya sangat enak," seru Ayumi dengan berlari kecil menuju dapur.


Farrel tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan Ayumi. Tidak lama kemudian, Ayumi pun datang dengan nampan di tangannya, Ayumi membawa dua kue dan dua cangkir teh sangat cocok.


"Ini Kak, silakan di cicipi."


"Hmm..enak sekali kuenya, lain kali aku mau ajak teman-teman buat nongkrong disini ah, boleh kan?"


"Boleh banget."


"Oh iya, masalah Lula bagaimana?"


"Aku juga ga tahu Kak, menurut Kakak bagaimana?"


"Rudi itu selalu nempel kepada Wirda karena Wirda ga boleh dekat dengan teman yang lain entah apa yang membuat Rudi seperti itu lagipula tidak ada yang berani berurusan dengan Rudi karena dia merupakan anggota geng motor yang lumayan paling disegani."


"Terus bagaimana dong?"


"Ay, kalau menurut aku bagaimana pun kita membutuhkan bantuan dari yang lainnya, kita tidak bisa menghadapi masalah ini berdua, kalau teman-teman yang lain tahu itu lebih baik."


Ayumi tampak memikirkan ucapan Farrel...


"Entahlah Kak, aku bingung. Sebenarnya diberikan kemampuan seperti ini membuat aku takut Kak, terkadang melihat sesuatu yang mengerikan itu sangat melelahkan, kalau di suruh memilih aku ingin hidup normal seperti yang lainnya, dan aku berharap kasus ini adalah kasus terakhirku, aku tidak mau berurusan lagi dengan para arwah penasaran."


"Aku ngerti Ay, aku saja yang hanya bisa merasakan kehadiaran mereka suka merinding apalagi kalau aku sampai bisa melihat kaya kamu, entah aku akan kuat apa tidak," sahut Farrel.


Waktu pun berjalan dengan cepat, hingga akhirnya Farrel pun pamit untuk pulang.


***


Keesokkan harinya....


Di jam istirahat, Ayumi mencari-cari sosok Wirda dan hingga akhirnya Ayumi menemukan Wirda sedang makan di kantin bersama Rudi dan teman-temannya.


Ayumi lihat Wirda seperti murung, dia hanya menyantap makanannya dengan diam tidak ada senyum di wajahnya. Ayumi memberanikan diri untuk menghampiri Wirda.

__ADS_1


"Maaf Kak, mengganggu sebentar," seru Ayumi gugup.


Semuanya menoleh ke arah Ayumi, Rudi dan teman-temannya menatap takjub kepada gadis cantik di hadapan mereka.


"Wuidih, cantik banget kok gue baru tahu ya kalau ada siswi secantik lo," seru teman Rudi.


"Duduk sini, gabung bareng kita," seru teman Rudi yang lainnya.


Rudi tidak bicara sedikit pun hanya menatap Ayumi penuh minat, membuat Wirda mendengus kesal. Sedangkan Farrel dan yang lainnya melihat dari kejauhan merasa kesal Ayumi digoda seperti itu tapi dia hanya bisa menahannya.


"Tidak, terima kasih aku hanya ingin berbicara dengan Kak Wirda saja," sahut Ayumi.


"Mau bicara apa?" akhirnya Wirda membuka suaranya.


"Bisa Kakak ikut aku, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Kakak," sahut Ayumi.


"Siapa yang ingin bertemu dengan Wirda?" tanya Rudi dengan tatapan tajamnya.


"Aku ga bisa kasih tahu Kakak disini, ayo Kak dia sudah menunggu," ajak Ayumi dengan menarik tangan Wirda tapi Rudi menghentikannya.


"Lo jangan macam-macam, Wirda tidak boleh bertemu dengan siapa pun," bentak Rudi.


"Woi..woi..woi...santai bro jangan bentak-bentak seperti itu," seru Farrel yang langsung menghampiri Ayumi dia tidak tahan lagi saat melihat Ayumi di bentak oleh Rudi.


"Wah, ada ketua OSIS kita muncul, kenapa bro apa perempuan ini cewek lo?" seru Rudi dengan sinisnya.


"Sudahlah, Ayumi tidak mau cari masalah disini dia cuma ingin mempertemukan Wirda dengan sahabatnya," sahut Farrel.


Wirda melotot mendengar kata sahabat, selama ini hanya Lula yang menjadi sahabatnya.


"Sahabatnya? siapa?" tanya Rudi.


"Makannya Kak Wirda ikut aku."


"Gue juga harus ikut," seru Rudi.


"Baiklah, itu akan lebih baik."


Rudi dan Wirda pun mengikuti Ayumi dan Farrel menuju toilet.


"Woi, kenapa kalian bawa kita ke toilet jangan macam-macam kalian," bentak Rudi dengan mencengkram kerah baju Farrel.


"Itu dia yang ingin bertemu dengan kalian," tunjuk Ayumi.


Rudi dan Wirda celingukkan mencari seseorang yang di tunjuk Ayumi.


"Mana, ga ada siapa-siapa? lo mau mempermainkan kita ya," betak Rudi.


"Bisakah Kak Rudi dan Kak Wirda memegang pundak aku," seru Ayumi.


"Buat apa?" tanya Wirda.


"Lakukan saja," sahut Farrel.


Rudi dan Wirda pun memegang pundak Ayumi, dan seketika mereka berdua terperanjat melihat sosok Lula berada di hadapannya. Tubuh Rudi mulai bergetar hebat, dia hendak lari tapi Farrel langsung memeganginya supaya tidak lari.


"Lu--lula ti--dak mung--kin," seru Rudi tergagap.


Berbeda dengan Rudi, Wirda tidak merasa takut sedikit pun kepada Lula bahkan saat ini airmatanya sudah menetes.


"Lula, ada apa? kenapa kamu ingin bertemu denganku?" tanya Wirda.


"Jangan dekati dia," sahut Lula datar dengan menunjuk ke arah Rudi.


"Kenapa?"


"Dia jahat, dia yang sudah membunuhku, dia hanya memanfaatkanmu saja supaya keinginannya terpenuhi, dia tidak mencintai kamu. Maafkan aku karena aku sudah mengkhianatimu, aku jalan dengan Rudi di belakang kamu bahkan kita sudah melakukan hal yang melebihi batas, aku takut hamil dan memintanya untuk jujur kepadamu tapi dia malah membunuhku di toilet itu, maafkan aku Wirda," seru Lula.


Wirda menutup mulutnya dengan tangan tidak percaya dengan apa yang sudah menimpa sahabatnya itu.


"Tidak, gue tidak membunuh lo, lo jangan ngarang-ngarang cerita," bentak Rudi.


"Aku hanya ingin mengucapkan itu kepadamu, setelah kamu tahu semuanya aku akan pergi dengan tenang, sekali lagi maafkan aku Wirda," seru Lula.


Rudi melepaskan tangannya dan langsung kabur tapi Dillan dan Denis datang dan menghalangi Rudi dan kemudian menangkapnya.


"Minggir kalian, lepasin gue," teriak Rudi.


Wirda menghampiri Rudi, sedangkan Ayumi tampak lemas dan terduduk di lantai untung ada Farrel yang dengan sigap memegangi pundak Ayumi.


Plaaaakkkkk ....

__ADS_1


Wirda menampar Rudi dengan sangat kerasnya..


"Brengsek kamu Rudi, jadi selama ini kamu hanya manfaatin aku dan yang lebih parahnya kamu yang sudah membunuh Lula, keterlaluan kamu. Mulai sekarang kita putus, dan aku akan laporkan kamu ke polisi," seru Wirda yang langsung berlari meninggalkan semuanya.


"Jangan Wirda jangan lakukan itu," teriak Rudi.


Rudi menginjak kaki Dillan dan Denis sehingga mereka berdua meringis kesakitan dan otomatis melepaskan pegangannya. Rudi dengan cepat berlari mengejar Wirda.


"Lan, susul Rudi takutnya dia nekad dan melakukan hal yang aneh-aneh kepada Wirda," teriak Farrel.


"Kakak juga susul mereka, aku ada Oliv dan Sasa disini."


"Ya sudah kalau begitu, aku susul dulu mereka."


Farrel, Dillan, dan Denis mengejar Rudi sedangkan Oliv dan Sasa memapah Ayumi dan membantu Ayumi berdiri.


Wirda terus berlari keluar sekolah...


"Wirda berhenti," teriak Rudi.


Wirda segera menyetop taxi dan dengan cepat masuk ke dalam taxi itu, Rudi mengejar Wirda tanpa melihat jalan sehingga di saat Rudi hendak menyebrang ada sebuah mobil yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi.


"Rudi awaaaaassss..." teriak Farrel dan Dillan bersamaan.


"Aaaaaaaaa......"


Bruuuuuuukkkkkk....


Tubuh Rudi terpental sampai beberapa meter dari tempat kejadian, tubuh Rudi bergetar hebat dengan darah mengalir memenuhi wajahnya dan Rudi tewas seketika.


Semua murid berteriak dan berhamburan keluar untuk melihat kejadian. Ayumi dan kedua tangannya tampak menutup matanya, mereka tidak berminat untuk melihat jasad Rudi. Tidak lama kemudian, mobil polisi datang dan membawa jasad Rudi beserta kepala sekolah untuk di mintai penjelasan.


"Masuk semuanya jangan berdesakkan di jalan, kalian hanya akan membuat jalanan macet," teriak Bu Vera.


Semua siswa masuk ke dalam sekolah dan dengan sigap satpam langsung mengunci gerbang supaya tidak ada siswa yang keluar lagi.


"Rudi tewas di tempat," seru Farrel.


"Astaga."


"Ya sudah ayo semuanya masuk, Bu Vera sudah teriak-teriak tuh," seru Dillan.


Mereka pun melangkahkan kakinya menuju kelas masing-masing, tapi baru saja beberapa langkah, Ayumi menghentikan langkahnya dia merasa ada sesuatu di belakangnya. Perlahan Ayumi membalikkan tubuhnya, dilihatnya Lula dan Rudi sudah berdiri disana.


"Terima kasih Ayumi, sekarang aku bisa pergi dengan tenang dan yang pastinya aku bisa pergi bersama Rudi, mungkin ini hukuman yang pantas untuk Rudi," seru Lula dengan senyumannya.


"Sampaikan permintaan maaf gue sama Wirda," sambung Rudi.


Ayumi menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Tiba-tiba sinar yang menyilaukan mata Ayumi muncul sehingga membuat Ayumi menyipitkan matanya, perlahan cahaya itu memudar dan bersamaan dengan menghilangnya Lula dan Rudi.


"Ay, ngapain lo diam disitu? ayo masuk," ajak Sasa.


"Ah iya..."


Ayumi pun berlari dan menyusul sahabat-sahabatnya untuk masuk ke dalam kelas. Entah kenapa ada perasaan bahagia saat Ayumi berhasil membantu para arwah penasaran itu.


πŸ’€


πŸ’€


πŸ’€


πŸ’€


πŸ’€


Ayo dong mana dukungannya biar Author semakin semangat lagiπŸ™πŸ™


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2