
💀
💀
💀
💀
💀
Ayumi mengotak-ngatik ponselnya memesan taksi online karena sore ini dia akan pergi ke toko kue Mamanya.
Ayumi berdiri di depan rumahnya, tidak lama kemudian taksi online yang dipesan Ayumi pun datang. Ayumi segera masuk ke dalam mobil dengan masih mengotak-ngatik ponselnya, dan taksi pun mulai melaju menuju tempat tujuan Ayumi.
"Terima kasih sudah memesan jasa taksi online."
Ayumi mengangkat kepalanya dan betapa terkejutnya Ayumi saat melihat siapa drivernya.
"Kak Dillan."
"Hai Ayumi."
"Ya ampun, gue pikir nama drivernya hanya kebetulan saja sama tapi ternyata memang Kak Dillan. Sejak kapan Kak Dillan jadi driver taksi online?" tanya Ayumi.
"Baru saja satu bulan yang lalu, gue bukan keterununan anak orang kaya jadi gue harus mencari uang buat biaya kuliah gue sendiri, kasihan kalau harus nyusahin orang tua gue terus."
"Ih hebat banget Kak Dillan."
"Kebetulan gue ambil kuliah pagi, jadi dari siang sampai malam gue ngedriver taksi online."
"Bagus Kak, gue dukung usaha Kakak yang penting kan halal."
"Iya Ay, lumayanlah bisa dapat penghasilan sekalian bantuin orang tua."
"Kak Dillan top deh."
Ayumi mengacungkan dua jempolnya kepada Dillan membuat Dillan tersenyum. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Ayumi pun sampai di toko kue milik Mamanya.
"Kak mampir dulu yuk!"
"Bolehlah, mumpung belum ada orderan."
Ayumi pun mengajak Dillan masuk ke dalam toko kue milik Mamanya.
"Mama."
"Hai sayang."
"Ma, kenalkan ini Kak Dillan teman Ayumi."
"Hallo Tante."
"Hallo, silakan duduk Mama bawakan kue dulu untuk kalian nyemil."
"Tidak usah repot-repot Tante, tapi kayanya sama kopinya juga bolehlah Tante," seru Dillan cengengesan.
"Siap, nanti Tante sekalian buatkan kopi untukmu."
"Terima kasih Tante."
Mama Anis pun segera menuju dapur untuk membawakan kue dan kopi untuk Dillan dan Ayumi.
"Ay, tadi malam gue teleponan sama Farrel hebat loh dia, dia belajar keras supaya bisa kembali lagi kesini dan dia juga mengambil kuliah selama dua tahun."
"Iya, gue juga salut sama Kak Farrel orangnya pekerja keras banget."
"Lo beruntung dapetin Farrel karena Farrel anak yang baik dan dia itu belum pernah pacaran baru sama lo doang."
__ADS_1
Ayumi hanya tersenyum, tidak lama kemudian Mama Anis pun datang dengan membawa nampan berisi kue dan kopi.
"Silakan dicicipi, ini kue buatan Tante sendiri loh."
"Wah, terima kasih Tante jadi ga enak."
"Ya sudah, kalian kembali ngobrol lagi soalnya Tante mau layani pembeli dulu."
"Siap Tante."
Dillan dan Ayumi berbincang-bincang, hingga tak terasa waktu pun sudah mulai gelap dan suara adzan maghrib pun sudah berkumandang.
"Kak, kita shalat dulu yuk!" ajak Ayumi.
"Ayo."
Dillan pun memimpin shalat maghrib, setelah selesai shalat tiba-tiba ponsel Dillan pun bergetar dan ternyata ada pesanan taksi onlinenya.
"Ay, ada orderan sepertinya gue pergi dulu ya."
"Oh oke."
"Tante, aku pergi dulu ya terima kasih kue dan kopinya."
"Iya sama-sama."
"Kak hati-hati ya."
"Oke."
Dillan pun segera masuk ke dalam mobilnya, Dillan melihat GPS di ponselnya dan ternyata orderannya ada di persimpangan jalan.
Dillan tampak celingukan, dan dari kejauhan Dillan melihat seorang perempuan dengan gaun merahnya dan terlihat sangat cantik. Dillan pun menghentikan mobilnya dan perempuan cantik itu langsung masuk.
"Jalan Mas."
Dillan pun mulai melajukan mobilnya, Dillan melihat perempuan itu dari spion dan perempuan itu tampak tersenyum ke arah Dillan.
Dillan tersentak dan merasa malu karena dia sudah ketahuan sedang memperhatikannya.
"Mbaknya dari mana? kok malam-malam ada dipersimpangan jalan itu? Mbak ga takut ada orang jahat?" seru Dillan memulai pembicaraan.
"Tidak Mas."
Selama dalam perjalanan, Dillan dan perempuan yang bernama Anggun itu berbincang-bincang dan seketika mereka pun menjadi akrab.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil Dillan pun sampai di tempat tujuan. Dillan tampak melongo melihat rumah Anggun yang besar dan megah itu.
"Terima kasih Mas."
Anggun pun menyerahkan uang kepada Dillan, Dillan tidak sengaja menyentuh tangan Anggun.
"Astaga, tangannya dingin banget kaya es," batin Dillan.
Anggun pun turun dari dalam mobil dan tampak melambaikan tangan kepada Dillan tentu saja Dillan pun membalas lambaian tangan Anggun dengan senyumannya.
Dillan pun mulai melajukan mobilnya tapi disaat Dillan melihat spion ternyata Anggun sudah tidak ada.
"Cepat banget masuknya," gumam Dillan.
Dillan pun tidak mempunyai perasaan apa-apa, dia pun melanjutkan perjalanannya. Selama perjalanan pulang, Dillan terus saja menyunggingkan senyumannya.
"Gila, tuh cewek cantik banget mana ramah pula," gumam Dillan.
Dillan sampai di rumahnya, hari ini Dillan memutuskan menyudahi pekerjaannya soalnya matanya sudah sangat ngantuk.
***
__ADS_1
Keesokan harinya....
Seperti biasa, Ayumi pergi ke sekolah dengan naik bus. Ayumi merasa sangat sedih karena biasanya Disha yang akan menemaninya naik bus.
Sementara itu, Jenny baru saja sampai di sekolah dengan diantar oleh Papanya yang tidak lain Papa Ayumi juga.
"Pa, nanti siang jemput Jenny ya."
"Sepertinya Papa tidak bisa sayang, soalnya Papa ada meeting di kantor kamu naik taksi online saja ya."
"Ih Papa nyebelin, ya sudahlah Papa memang tidak sayang sama Jenny."
Jenny pun segera masuk ke dalam sekolah, sedangkan Papanya hanya bisa menghembuskan napasnya kasar. Jenny memang anak yang manja karena sejak kecil Mamanya sangat memanjakan Jenny.
Papa Jennya yang bernama Irawan itu pun hendak masuk ke dalam mobilnya tapi dari kejauhan Irawan melihat sebuah bus yang berhenti di halte tidak jauh dari sekolah.
Ayumi turun dari bus itu dan membuat Irawan membelalakan matanya.
"Ayumi."
Ayumi pun berjalan dengan cerianya, sembari tersenyum. Hingga akhirnya Ayumi melewati mobil Irawan, Ayumi tidak melihat kalau itu Papanya.
"Ayumi."
Deg....
Ayumi langsung menghentikan langkahnya, tapi Ayumi tidak berniat untuk membalikan tubuhnya. Ayumi tahu kalau itu suara pria yang sudah dengan kejamnya meninggalkan dirinya dan Mamanya.
Perlahan Irawan menghampiri Ayumi dan berdiri di belakang Ayumi.
"Ayumi, kenapa kamu ke sekolah menaiki bus?"
Ayumi mengangkat ujung bibirnya. "Memangnya apa urusannya dengan anda?" sahut Ayumi dingin.
Hati Irawan sangat sakit, bahkan Ayumi sudah tidak mau memanggilnya dengan sebutan Papa.
"Apa kamu butuh kendaraan? biar Papa belikan kamu mobil supaya kamu tidak perlu naik bus lagi, karena itu sangat bahaya kamu naik bus sendirian," seru Irawan dengan lembutnya.
Ayumi pun akhirnya membalikan tubuhnya dan memberanikan diri menatap pria yang sangat dia benci itu.
"Tuan Irawan yang terhormat, terima kasih karena anda sudah perhatian tapi maaf aku tidak butuh apa pun dari anda karena Mama aku sendiri Alhamdulillah masih mampu membelikan aku sebuah mobil. Aku naik bus karena itu keinginan aku sendiri, jadi Tuan tidak usah mengeluarkan uang anda untuk aku," seru Ayimi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Ayumi pun dengan kesalnya segera berlari meninggalkan Irawan yang hanya bisa tertunduk lesu, sungguh Irawan merasa menyesal sudah menyakiti hati puterinya.
💀
💀
💀
💀
💀
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1