
đź’€
đź’€
đź’€
đź’€
đź’€
Ayumi terus berlari dan duduk di kursi taman sembari menangis tersedu-sedu.
“Ay....”
“Kenapa dia mesti hadir kembali Yud, kalau hanya akan membuka luka lama. Hati gue sakit Yud, jujur dalam hati gue yang paling dalam gue merasa iri kepada Jenny, dia begitu menyayangi Jenny bahkan selalu antar jemput Jenny sekolah sedangkan dulu dia tidak pernah memperlakukan gue seperti itu,” seru Ayumi dengan deraian airmata.
Perlahan Yuda mengusap pundak Ayumi, memberikan semangat kepada gadis yang dia sukai itu.
“Lo yang sabar, gue yakin lo adalah anak yang kuat.”
Ayumi menyeka airmatanya, sungguh hatinya merasa sakit harus mengalami hal yang menyakitkan itu di dalam hidupnya.
Yuda menemani Ayumi, setelah Ayumi tenang Ayumi pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke toko kue milik Mamanya itu.
Â
***
Dua tahun kemudian....
Akhirnya hari ini adalah hari kelulusan Ayumi dan teman-temannya, tidak terasa waktu dua tahun pun mereka lalui dengan sangat cepat.
Kelulusan kali ini, semua orang tua harus datang ke sekolah untuk mengambil raport anak-anaknya.
Mama Anis baru saja sampai di sekolah dan bersamaan dengan mobil Irawan yang baru sampai juga. Irawan keluar dari dalam mobil bersama Miranda istrinya, Miranda yang melihat ada mantan istri suaminya langsung merangkul lengan Irawan dengan sangat posesifnya.
Mama Anis tidak memperdulikannya dan langsung masuk ke dalam sekolah tanpa menghiraukan Irawan dan istrinya itu. Mereka duduk di kursi yang sudah disediakan oleh pihak sekolah.
“Ga nyangka ya, akhirnya kita lulus juga dan sebentar lagi jadi seorang mahasiswa,” seru Olive antusias.
“Iya, kita kuliah di kampus yang sama kan?” sambung Sasa.
“Pasti dong, kita bertiga kan tidak boleh berpisah harus bersamaan sampai kapan pun,” sahut Ayumi.
“Kalian mau kuliah dimana? Gue juga mau kuliah di kampus yang sama dengan kalian,” seru Denis.
“Dasar ikut-ikutan saja,” ledek Yuda.
“Memangnya lo ga mau kuliah bareng kita gitu?” tanya Olive.
“Mana ada seperti itu, kemana pun Ayumi pergi harus ada gue disana karena gue sudah diamanatkan sama si dugong buat jagain Ayumi,” sahut Yuda.
“Alasan.”
“Eh iya, ngomong-ngomong bagaimana kabarnya Kak Farrel? Ini sudah dua tahun loh, bukanya dia akan kembali lagi kesini setelah dua tahun,” seru Olive.
“Entahlah, sudah satu minggu ini ponselnya ga aktif,” sahut Ayumi sedih.
“Apa? Kurang ajar si dugong, berani-beraninya dia mengingkari janjinya,” kesal Yuda.
__ADS_1
“Jangan emosi dulu, kali aja Kak Farrel lagi sibuk jadi ga sempat hubungi Ayumi,” seru Sasa.
Ayumi dan teman-temannya pun mengikuti acara kelulusan mereka dengan perasaan yang senang.
Hingga beberapa jam pun berlalu, acara kelulusan Ayumi pun selesai. Ayumi dan semuanya memutuskan untuk pulang, tiba-tiba Ayumi menghentikan langkahnya saat melihat Jenny dan kedua orang tuanya.
“Pa, Ma, pokoknya Jenny ingin kuliah di kampus terbaik di Jakarta ini,” seru Jenny.
“Tentu dong sayang, iya kan Pa?” sahut Miranda.
“Iya, bahkan kalau kamu mau melanjutkan kuliah kamu ke luar negeri, Papa sanggup membiayainya,” seru Irawan.
“Ih Papa baik banget sih.”
Jenny pun memeluk Irawan dan Irawan pun membalas pelukan Jenny. Irawan tidak sadar, kalau ucapannya lagi-lagi sudah membuat hati seorang gadis cantik kembali terluka.
“Ayo sayang kita pulang!” ajak Mama Anis.
Irawan yang mendengar suara Mama Anis langsung melepaskan pelukan Jenny dan menatap Mama Anis dan Ayumi dengan tatapan sedihnya.
Perlahan Irawan menghampiri Ayumi. “Ayumi, kalau kamu mau kuliah ke luar negeri biar Papa yang urus semuanya,” seru Irawan.
“Tidak usah.”
Ayumi hendak melangkahkan kakinya tapi Irawan menahan lengan Ayumi membuat Miranda dan Jenny kesal.
“Ayumi, tidak adakah maaf untuk Papamu ini.”
“Papa, sudahlah ngapain Papa minta maaf kepada dia yang ada nanti dia bakalan besar kepala,” ledek Jenny.
“Papa kan sudah janji, saat Papa menikahi Mama, Papa janji tidak akan berurusan lagi dengan mereka," seru Miranda.
"Tapi aku tidak mau kamu lebih perhatian sama dia dibandingkan sama Jenny, karena untuk saat ini yang harus Papa perioritaskan adalah Jenny bukanya anak ini!" bentak Miranda.
Ayumi menghempaskan tangan Irawan, dan berlari keluar sekolah.
"Ayumi tunggu!" teriak Irawan dan Mama Anis bersamaan.
Irawan dan Mama Anis pun mengejar Ayumi, begitu pun dengan teman-teman Ayumi yang ikut mengejar juga.
"Ayumi tunggu Nak!" teriak Irawan.
Ayumi berlari sembari menyeka airmatanya hingga Ayumi pun menyebrang jalanan dan Irawan pun terus menyusul Ayumi, tapi Irawan tidak lihat kiri-kanan saat hendak menyebrang hingga akhirnya sebuah mobil dengan kecepatan tinggi tidak sempat menginjak rem dan menghantam tubuh Irawan.
Bruuuaaakkkk....
Suara hantaman itu terdengar sangat nyaring, Ayumi menghentikan langkahnya begitu pun dengan yang lainnya.
"Papaaaaa....." teriak Jenny dan Miranda bersamaan.
Ayumi segera membalikan tubuhnya dan betapa terkejutnya Ayumi saat melihat tubuh Irawan tergeletak di tengah jalan dengan tubuh penuh darah.
Airmata Ayumi pun seketika mengalir dengan derasnya tapi Ayumi masih terdiam mematung.
"Papa, bangun Pa!" teriak Jenny dan Miranda.
Seketika orang-orang langsung berkerumun, Mama Anis menutup mulutnya saking terkejutnya. Dengan airmata yang terus keluar dari matanya, Ayumi berjalan perlahan menghampiri kerumunan orang-orang itu.
Ayumi tampak membelalakan matanya saat melihat keadaan Papanya itu. Ada perasaan bersalah dalam hati Ayumi, tidak lama kemudian mobil ambulance pun datang dan segera membawa Irawan ke rumah sakit.
__ADS_1
Tapi ada satu hal yang membuat Ayumi kembali membelalakan matanya, arwah sang Papa sudah berdiri di pinggir jalan dengan menatap Ayumi dengan tatapan sedihnya.
"Papa...." lirih Ayumi.
Untuk pertama kalinya Ayumi memanggil Irawan dengan sebutan Papa, Ayumi perlahan menghampiri arwah Papanya itu membuat semua orang heran kecuali Yuda yang memang sudah tahu.
"Ayumi kamu mau kemana, Nak?" teriak Mama Anis.
Mama Anis hendak menyusul Ayumi tapi Yuda menahannya.
"Biarkan Ayumi Tante, dia hanya ingin bertemu dengan Papanya untuk yang terakhir kalinya," sahut Yuda.
"Maksudnya?"
Sesaat Mama Anis berpikir, tapi sesaat kemudian Mama Anis sadar akan kelebihan Ayumi.
"Berarti Papanya Ayumi?"
Yuda menganggukan kepalanya dan seketika Mama Anis kembali meneteskan airmatanya.
"Innalillahiwainaillaihi roji'un," gumam Mama Anis.
"Ayumi puteriku, Papa sangat merindukanmu Papa cuma ingin meminta maaf kepadamu dan Mamamu karena sudah membuat kalian sedih dan menderita. Papa sudah melakukan kesalahan, tapi asalkan kamu tahu, selama ini Papa tidak pernah bisa melupakanmu, Papa selalu dihantui perasaan bersalah dan sekarang Papa harus meninggalkanmu, Papa hanya ingin kamu mau memaafkan Papa supaya Papa bisa pergi dengan tenang. Apa kamu mau memaafkan Papamu ini?"
"Ayumi sudah memaafkan Papa," sahut Ayumi dengan bibir yang bergetar.
"Terima kasih Nak, oh iya Papa sudah mengirimkan uang untuk biaya pendidikan kamu ke ATM kamu, kemarin Papa sempat memaksa Mamamu untuk mengirimkan nomor rekening ATM kamu, jadilah anak yang berbakti kepada Mamamu, jagalah dia baik-baik, Papa sayang kalian berdua. Selamat tinggal Ayumi, sampaikan permintaan maaf Papa kepada Mamamu."
Perlahan bayangan Irawan pun mulai memudar dan lama-kelamaan menghilang, Ayumi terduduk di trotoar dengan tangisannya yang pecah membuat Mama Anis dan teman-temannya menghampiri Ayumi.
"Sayang."
"Mama."
Ayumi memeluk Mamanya dengan tangisan yang tersedu-sedu sehingga membuat teman-temanya pun ikut merasakan kesedihan yang Ayumi rasakan.
đź’€
đź’€
đź’€
đź’€
đź’€
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1