
💀
💀
💀
💀
💀
Tibalah saatnya Ayumi dan yang lainnya berangkat ke desa Kakek dan Nenek Sasa yang berada di daerah xxx itu.
Mereka memutuskan naik menggunakan kereta api karena kalau mereka membawa kendaraan pribadi tidak akan kuat soalnya letak desa itu sangat jauh.
Mereka sangat bahagia, apalagi mereka baru pertama kali naik kereta api berbeda dengan Disha yang memperlihatkan raut wajah yang sangat khawatir.
"Kamu kenapa, Disha?" tanya Ayumi.
"Disha takut Kak, menurut penglihatan Disha disana akan ada bahaya yang mengicar kalian."
"Jangan berpikiran macam-macam, kita ingat saja kepada Allah Kakak yakin tidak akan ada apa-apa disana."
"Semoga ya Kak, tapi maaf Disha hanya sampai disini saja, Disha ga mau ikut kesana."
"Loh, serius kamu ga mau ikut? Kakak perginya lumayan lama loh, semingguan disana."
"Iya Disha serius."
Tiba-tiba Yuda memiringkan kepalanya membuat Disha terkejut.
"Ckckck hantu apaan kamu, masa setan takut setan," cibir Yuda.
Disha menundukan kepalanya dan langsung menghilang membuat Ayumi menatap tajam ke arah Yuda.
"Hantu cemen."
"Yuda...."
Yuda hanya cengengesan, hingga akhirnya semuanya pun tertidur. Perjalanan mereka kali ini sangatlah panjang, membuat Ayumi dan yang lainnya pun merasa kesal saking lamanya perjalanan.
"Rumah Kakek dan Nenek lo dimana Sa? jauh banget, jangan-jangan letaknya pun ga ada di peta lagi," seru Dillan.
"Enak saja, desa Kakek dan Nenek gue memang jauh banget mana setelah ini kita harus naik ojeg lagi buat sampai disana mangkanya gue males kalau disuruh kesana," sahut Sasa.
"Berarti kita bakalan kemalaman dong sampai disana?" seru Olive.
"Kayanya seperti itu," sahut Sasa.
Benar saja, setelah sampai di stasiun Ayumi dan yang lainnya pun turun dari kereta api itu. Waktu saat ini sudah menunjukan pukul empat sore, dan perjalanan pun masih sangat jauh.
"Sa, habis ini kita naik apa?" tanya Bella.
"Kita harus ke pangkalan ojeg, karena untuk menempuh perjalanan ke desa tempat tinggal Kakek dan Nenek hanya bisa ditempuh oleh motor," sahut Sasa.
"Ya sudah, buruan nanti kita kemalaman lagi," seru Ayumi.
Mereka pun segera menuju pangkalan ojeg, setelah bernegosiasi mengenai ongkos akhirnya mereka pun menyetujui ongkosnya seratus ribu per orang.
Sungguh membuat Ayumi dan yang lainnya tercengang dengan kondisi jalanan yang masih tanah, untung saat itu tidak turun hujan kalau sampai hujan tidak terbayang apa yang terjadi.
Benar saja, mereka kemalaman di jalan. Jalanan yang gelap tanpa penerangan membuat suasana terasa menyeramkan. Selama dalam perjalanan, Ayumi menutup matanya dia tidak sanggup kalau harus melihat penampakan yang sangat mengerikan.
"Aura desa ini sangat pekat akan mistis, sepertinya ilmu hitam disini sangat kuat," batin Yuda.
Yuda sama seperti Ayumi yang melihat berbagai macam penampakan yang sangat menyeramkan hanya saja bedanya Yuda sudah kebal dan sama sekali tidak merasa takut.
__ADS_1
Akhirnya setelah menjalani perjalanan yang sangat panjang, Ayumi dan yang lainnya pun sampai di desa Kakek dan Neneknya Sasa.
"Ayo guys!" ajak Sasa.
Sasa pun masuk ke halaman rumah berbentuk rumah Jawa tempo dulu, rumahnya lumayan besar tapi suasananya lumayan sangat menyeramkan.
Tok...tok...tok...
"Assalamualaikum, Nenek ini Sasa!" teriak Sasa.
Tidak lama kemudian, seorang Nenek pun membuka pintu rumahnya.
"Ya Allah Sasa, Nenek sudah menunggumu dari tadi Nenek sangat khawatir saat kamu belum datang-datang juga," seru Nenek Sasa.
"Nek, Sasa bawa teman-teman Sasa tidak apa-apa kan?"
"Owalah, tentu saja tidak apa-apa malah Nenek senang karena rumah ini akan rame."
"Malam Nek."
Ayumi dan yang lainnya pun bergantian mencium punggung tangan Nenek Sasa.
"Ya sudah, mari masuk pasti kalian lapar dan capek kan."
"Nenek tahu saja kalau kita lapar," sahut Dillan nyengir.
Hingga akhirnya Riska menginjak kaki Dillan sampai Dillan mengaduh kesakitan.
"Wadaw lo apa-apaan sih, sakit tahu," kesal Dillan.
"Habisnya kalau ngomong tidak tahu malu banget," ketus Riska.
"Ya memang kenyataannya gue lapar kok, ngapain pakai bohong segala bukanya tidak tahu malu," sahut Dillan.
"Sudah-sudah ayo masuk!" ajak Nenek Sasa.
"Kenalkan ini Kakek gue, ini Tante Wulan dan ini suaminya Om Ardi," seru Sasa.
Setelah berkenalan, semuanya pun langsung melahap makanan yang sudah disiapkan itu. Wulan saat ini sedang hamil besar dan diperkirakan beberapa hari ke depan akan melahirkan.
Disaat mereka sedang asyik melahap makanan mereka, Yuda tiba-tiba menghentikan suapannya. Yuda merasa ada sesuatu yang sedang mengintai rumah itu, perlahan Yuda bangkit dari duduknya.
"Yuda, lo mau kemana?" tanya Sasa.
"Sebentar!"
Yuda membuka gorden sedikit, dan tatapan Yuda tertuju kepada pohon mangga yang ada di depan rumah Nenek Sasa itu.
"Astagfirullah, sepertinya malam ini aku harus pasang pagar gaib," batin Yuda.
"Ada apa Yud?" tanya Ayumi.
"Ah, tidak ada apa-apa."
Yuda pun kembali melanjutkan makannya, setelah selesai makan Om Ardi pun mengantarkan semuanya ke kamar masing-masing.
"Ini kamar untuk para laki-laki, dan untuk para perempuan kalian tidur di kamar Sasa saja soalnya kamar Sasa lumayan besar," seru Om Ardi.
"Terima kasih Om."
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam kamar masing-masing.
"Hai curut, tadi lo lihat apa? gue yakin tadi lo lihat setan kan?" seru Farrel.
"Bukan, gue lihat badut," sahut Yuda asal.
__ADS_1
"Hah..badut, masa ada badut? maksudnya pengamen yang pakai baju badut itu ya?" seru Denis polos.
"Astaga."
Yuda, Farrel, dan Dillan pun mengusap wajah mereka sendiri.
"Kalian kenapa? masa ada pengamen malam-malam kaya gini sih?" seru Denis kembali.
"Sudah diam lo, berisik," sentak Yuda.
Yuda pun melangkahkan kakinya keluar kamar.
"Hai curut, lo mau kemana lagi?" tanya Farrel.
Yuda tidak menyahut, dia melanjutkan langkahnya.
"Tunggu, gue ikut!" teriak Farrel.
Farrel pun menyusul Yuda keluar rumah, sedangkan Dillan dan Denis lebih memilih merebahkan tubuhnya.
Yuda melihat ke sekeliling rumah itu. "Ada apa Yud?" tanya Farrel.
"Sepertinya ada yang sedang mengintai rumah ini."
"Hah, kalau begitu kenapa lo ga bilang dari tadi, kita harus segera memberitahukannya kepada Om Ardi biar Om Ardi segera melaporkannya kepada Rt dan Rw," seru Farrel.
Farrel pun hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, tapi dengan cepat Yuda menahan Farrel.
"Ah lu dugong, maksud gue yang ngintai rumah ini itu setan bukan manusia."
"Apa?"
Farrel langsung merapatkan tubuhnya ke tubuh Yuda.
"Apaan sih lo, minggir sana jauhan."
"Gue merinding curut."
"Lepas, gue mau pasang pagar gaib di rumah ini supaya aman."
Akhirnya dengan terpaksa, Farrel pun melepaskan pelukannya kepada Yuda. Yuda memusatkan pikirannya, malam ini Yuda memasang pagar gaib di seluruh rumah Nenek Sasa.
Sedangkan sesuatu yang dari tadi mengintai, langsung pergi entah kemana.
💀
💀
💀
💀
💀
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU