
Nara segera mengambil ponsel, dia menelepon Kinan. Sebagai wanita yang sudah tiga kali melahirkan dan juga seorang dokter, Kinan pasti paham. Setelah tersambung, dia segera menceritakan apa yang dialaminya pada kakaknya itu. Nara sengaja meloudspeaker agar Septian juga ikut mendengar.
"Itu tanda tanda mau melahirkan Ra. Tapi jangan panik dulu. Karena setiap orang berbeda. Ada yang keluar lendir beberapa saat kemudian melahirkan, ada juga yang beberapa hari atau bahkan beberapa minggu kemudian baru melahirkan. Itu bukan tanda yang signifikan. Tak seperti pecah ketuban atau kontraksi. Jika dua hal itu terjadi, langsung kerumah sakit atau bidan."
"Jadi sekarang aku harus gimana?" Nara masih bingung.
"Santai saja, rileks. Kamu dan Septian jangan panik dulu. Jika beberapa saat nanti kamu merasakan kontraksi atau pecah ketuban, baru kerumah sakit. Untuk saat ini, dirumah saja dulu. Yang penting, Septian harus selalu siaga. Kakak sarankan, lahiran normal saja. Nikmati prosesnya Ra. Kakak yakin, kamu bisa."
Sebuah motivasi kecil namun mampu membuat Nara berkaca kaca. Perasaannya tak karuan, antara senang dan sedikit takut.
Setelah merasa sedikit lega, Nara segera mengakhirinya panggilan teleponnya.
"Banar kata kak Kinan. Santai saja dulu." Septian mengusap pelan perut Nara. Dia lalu mendekatkan wajahnya pada perut buncit itu.
"Hay sayang. Udah gak sabar pengen keluar ya. Sama, ayah dan mama juga sudah tak sabar ingin ketemu kamu. Yang pinter ya keluarnya, jangan bikin mama kesakitan." Septian mencium perut itu beberapa kali. Dia sengaja berlama lama disana, karena mungkin sebentar lagi, dia tak akan melihat perut buncit itu lagi.
Air mata Nara menetes. Entah kenapa, dia mendadak melow. Dia membelai kepala Septian yang berada diperutnya.
"Kamu yakin mau normal?"
Nara mengangguk.
"Dirumah sakit biasanya kita periksa atau dimana?"
"Ditempat Bu bidan Linda saja. Tadi pagi pas abang di balai desa. Aku diajak ibu lihat lihat kesana. Tempatnya enak, nyaman. Kalau dirumah sakit, takutnya lebih tegang. Tapi kata Bu Linda, harus sedia kendaraan. Sebab jika ada emergensi bisa langsung ke rumah sakit. Jadi mending nanti kalau benar benar aku udah mulai pembukaan, kita hubungin mama. Biar nanti ada mobil kalau tiba tiba dibutuhkan. Tapi semoga saja semuanya berjalan lancar, gak perlu kerumah sakit."
"Amin.... "
"Mandi yuk" Ajak Septian sambil mengangkat kepalanya.
"Hah." Nara malah kayak orang bingung.
"Ck, lupa." Septian menunjuk dagu kearah tubuh polos Nara.
Seketika Nara tergelak. Dia sampai lupa kalau baru saja mengarungi samudra kenikmatan. Bahkan mereka berdua masih dalam keadaan polos sekarang.
"Kita mandi bareng. Abang mandiin kamu." Septian memakai celana kolornya lalu mengambil daster Nara dan membantunya memakai.
Septian meletakkan tangannya dilutut dan punggung Nara lalu mengangkatnya.
"Aku masih bisa jalan bang."
__ADS_1
"Gak papa, lagi pengen gendong aja. Habis ini pasti lebih sering gendong baby. Kasian kalau mamanya belum puas digendong."
Nara mengalungkan lengannya di leher Septian. Kalau boleh jujur, sampai kapanpun dia tak akan pernah merasa puas digendong.
Beruntung rumah lagi kosong. Jadi mereka tak malu saat masuk kamar mandi berdua.
Kamar mandi sederhana yang berukuran kecil membuat keduanya agak susah bergerak. Tak ada bathup atau ruang kaca untuk mandi.
Mereka saling membantu menyabuni. Bahkan Septian sudah mengambilkan Nara kursi plastik agar bisa duduk. Dibersihkannya tubuh istrinya itu dengan telaten.
Setelah mandipun, Septian masih saja membantu mengeringkan tubuh dan rambut Nara.
"Kok ngeliatinnya gitu sih Bang?" Tanya Nara saat Septian menatapnya dengan intens.
"Setelah kamu melahirkan. Abang pasti kangen sama tubuh seksi ini." Tutur Septian sambil menyentuh perut Nara.
"Nanti bakalan lebih seksi setelah melahirkan." Goda Nara sambil mengedipkan sebelah matanya.
Keduanya kembali kekamar setelah menyelesaikan ritual mandi. Karena tak ada hairdryer, Septian mengeringkan rambut Nara dengan handuk.
"Bang, kita belum beli perlengkapan bayi." Nara mendadak teringat sesuatu yang penting itu. "Apa aku telepon mama aja ya suruh beliin."
"Gak enak Ra, takut ngerepotin mama. Gimana kalau kita beli online aja, biar kamu bisa pilih pilih sendiri."
Septian mengambil ponsel lalu menyerahkannya pada Nara. "Nanti aku minta bantuan ibu untuk beli kebutuhan dasar buat pas lahiran. Yang lainnya kamu beli online aja. Kalau dibeliin orang, takut tak sesuai selera kamu. Kan kamu mamanya. Anak pertama, kamu pasti masih excited banget."
Benar yang dikatakan suaminya. Sebenarnya sudah sejak dulu Nara ingin belanja perlengkapan bayi. Tapi belum juga kesampaian. Dan sekarang, jika benar dia akan segera melahirkan lebih awal. Dia belum ada persiapan sama sekali.
"Pilih apapun yang kamu suka. Hadiah dari abang karena kamu udah mengandung 9 bulan."
"Emang uangnya ada?"
"Insyaallah ada. Kan gak jadi lahiran sc, jadi uangnya bisa dipakai belanja perlengkapan bayi."
Mendapat lampu hijau dari Septian, Nara segera berburu di market place. Dia membeli semua perlengkapan bayi. Tapi untuk box dan kebutuhan yang lumayan mahal, dia tak beli dulu. Sengaja dia menghemat uang suaminya. Dia akan membeli itu dengan uang gajinya sendiri.
"Ra, kamu gak ngabarin mama dulu?"
"Nanti aja bang, kalau bener bener udah mau lahiran. Kata Kak Kinan belum tentu hari ini juga kan? Jadi nanti saja."
Selesai berbelanja online. Septian menyuruh Nara tidur. Dengan setia dia mengipasi Nara yang kegerahan hingga tertidur pulas dilengannya.
__ADS_1
Mendengar dibawah sedikit berisik, Septian segera turun. Dan benar saja, ibunya dan Sarah sudah pulang.
"Mana Nara bang?" Tanya Ibu.
"Tidur Bu. Oh iya, sepertinya Nara mau lahiran. Tadi keluar lendir yang ada bercak darahnya."
"Udah kamu bawa ke bidan?" Tanya ibu panik.
"Belum Bu."
"Kenapa?"
"Kata Nara gak sakit. Dia belum ngerasa kontraksi."
"Tapi harusnya tetap kamu bawa ke bidan, biar dilihat kondisinya." Sekarang malah Bu Lastri yang lebih panik.
"Sekarang masalahnya, kita gak ada persiapan perlengkapan bayi. Jadi ibu bisa tolong gak beliin baju dan kebutuhan yang lain. Untuk dipakai pas baru lahir saja. Yang lainnya, Nara sudah beli online."
"Ya sudah, ibu belikan di toko yang ada didepan pasar. Ayok Sar temenin ibu."
"Untuk uang yang Septian pinjam, udah disiapin kan Bu. Walau Nara bilang mau lahiran normal. Tapikan harus tetap jaga jaga."
"Iya ibu ngerti. Uangnya udah siap."
"Makasih ya Bu." Septian langsung memeluk ibunya.
Bu Lastri membelai punggung dan kepala Septian. Air matanya meleleh. Rasanya seperti mimpi, sebentar lagi, putra sulungnya akan menjadi ayah. Dan dia, secara otomatis akan menjadi nenek.
Mendadak dia teringat almarhum suaminya. Dulu mereka sering berkhayal bagaimana nanti saat anak anak mereka besar dan menikah. Serta bagaiman nanti saat mereka sudah menjadi kakek nenek. Tapi momen itu tak bisa dirasakan suaminya. Karena Tuhan berkehendak lain.
Bu Lastri dan Sarah segera meluncur ke toko perlengkapan bayi yang ada depan pasar dekat rumah mereka. Tapi sayangnya, toko itu malah tutup. Karena tak tahu mau cari dimana, akhirnya Sarah menelepon Shaila untuk membelikannya. Yang dia tahu, tadi pagi kakaknya itu keluar dengan Diego. Cowok itu pasti dengan senang hati mau mengantarkan Shaila belanja.
"Bang bangun bang." Teriak Nara sambil menepuk lengan Septian yang tidur disebelahnya.
"Ada apa Ra?"
"Basah bang." Nara merasakan celana dallam dan dasternya basah. Bahkan kasur juga ikut basah.
"Kamu ngompol Ra?"
"Ish kok ngompol sih. Ini bukan ompol." Nara menyentuh bagian yang basah dan menciumnya. Jelas jelas ini tak seperti bau ompol.
__ADS_1
"Jangan jangan!" Septian membelalakkan mata..
"Aku pecah ketuban bang."